bc

Metodologi Cinta

book_age16+
428
IKUTI
1.9K
BACA
love-triangle
possessive
family
tomboy
drama
mxb
humorous
city
wife
husband
like
intro-logo
Uraian

Tentang sebuah pernikahan dari pasangan Mayyada Cantika dan Rega Demian awali dengan saling mengenal satu sama lain. Ketika menemukan kekurangan pada pasangan, tetap terimalah—lengkapi dengan kelebihan—saling menyempurnakan bukan mencari yang sempurna. Karena jodoh itu cerminan diri. Yang terpenting dari hubungan ini adalah saling percaya bukan menaruh curiga, bersikap dewasa bukan egois yang berkuasa. Saling belajar satu sama lain. Beratnya suatu masalah itu untuk dihadapi bukan beralih pergi. Kedatangan Sabrina Angeline—mantan Demian membuat Mayyada meragukan cinta sang suami lantaran Demian lebih percaya dan membela sang mantan daripada istrinya. Bahkan ada tuduhan selingkuh yang ditujukan Demian pada Mayyada ketika ia berpergian ke luar kota. Dengan keadaan yang tengah hamil akankah Mayyada mempertahankan atau meruntuhkan pernikahannya yang masih dibilang seumur jagung itu? Karena sakit yang dialami Mayyada tak semudah dengan perkataan maaf Demian. Mari simak kisah mereka, ikuti alur dan nikmati dramanya.

Cover : edit versi cartoon

Font : Bakso sapi

chap-preview
Pratinjau gratis
Metode – Satu
Bersatunya kita atas kehendak–Nya, takdir yang tak bisa ditolak untuk mengelak. Jangan janjikan aku bahagia, buktikan dengan selalu bersama bukan mendua.    Tak disangka, ketika gadis yang kini bekerja di sebuah jasa keuangan. Ada seseorang yang merubah statusnya menjadi istri dan itu adalah teman masa kecilnya sendiri. Takdir memang mengejutkan, tak bisa diduga apalagi diatur sesuai dengan keinginan kita. Mayyada Cantika, yang biasa disapa dengan sebutan Mayyada itu menikah dengan Rega Demian—seorang karyawan di salah satu perusahaan manufaktur ternama. Mengingat kata menikah, bukan hanya sah di mata hukum agama tapi juga negara. Bukan juga hanya menyatukan dua kepala dengan jenis yang berbeda. Melainkan, menyatukan dua keluarga yang tentunya memiliki pemikiran yang berbeda. Setelah itu, apa yang ada di dalam diri pasangan kita harus menerimanya—baik itu kurang maupun kelebihannya. Pada dasarnya, di dunia ini tak ada makhluk yang sempurna. Akan tetapi, dengan menyatukan dua perbedaan itulah yang menjadikannya sempurna. Seperti pelangi, banyak warna yang berbeda tapi bisa bersatu. Menghasilkan pemandangan yang tampak indah. Menikah, bukan hanya mengucapkan ijab qabul lalu selesai, tidak. Tapi itulah awal mula kehidupan yang sesungguhnya. Penempuhan hidup baru, bahagia dan duka akan selalu menemani. "Hwek.. hwek.. uhk." Saat Mayyada sedang berperang dengan peralatan dapurnya. Ia mendengar sesuatu, lebih tepatnya suami Mayyada itu muntah-muntah. Mayyada pun segera menghampiri Demian lantas tangannya bergerak memijat tengkuk suaminya itu dengan gerakan lembut. "Aku anterin ke Dokter, ya?" tawarnya. Demian menggeleng dan masih terus saja muntah, walaupun tak ada yang keluar. "Buatin wedang jahe aja," sahutnya kemudian. Mayyada pun mengundurkan diri dan segera membuatkan permintaan Demian—wedang jahe. Setelah itu Mayyada membawakan secangkir minuman tersebut kepada Demian yang terlihat pucat. Mayyada tak tega melihatnya. "Wedang jahenya," ujar Mayyada saat memberikannya pada Demian dan langsung meminumnya. Kemudian ia duduk di samping Demian. "Kalau nggak mau dianter ke Dokter, nggak usah kerja dulu." "Nggak bisa, dong. ‘Kan udah kewajibannya." Mayyada menghela napasnya pelan "Apa udah mendingan?" Demian mengangguk dan tersenyum ke arah Mayyada. Lalu mencium pipi Mayyada singkat. Setelah itu Demian bergegas untuk segera pergi bekerja. Karena waktu sudah menunjukkan pukul 6.26 ada jadwal masuk pagi hari ini—ada meeting dengan kantor pusat. Kepergian Demian membuat Mayyada menghembuskan napasnya. Dasar keras kepala. Gumam Mayyada dalam hati. Selang sepuluh menit, Demian keluar kamar dengan pakaian rapi—batik berlengan pendek dan celana bahan berwarna hitam. Lalu tas ransel di pundaknya sebelah kanan. "May, aku berangkat dulu." Demian menghampiri istrinya yang sedang membereskan hasil cuci perabotan setelah digunakannya untuk memasak tadi. "Nggak sarapan?" Demian melihat pergelangan tangan kirinya, jam berwarna hitam itu menunjukan pukul 6.36. Lalu Demian menatap istrinya dan menggeleng. "Ada bongkaran barang." "Aku bawain bekal, ya?" ujar Mayyada seraya mengambil kotak makan dan segera menyiapkan bekal untuk suaminya. Mayyada memberikan kotak makan dan botol minum pada Demian. "Kudu sampe abis, aku masaknya pakai cinta." Demian terkekeh. "Kamu gombalin aku?" Mayyada memukul lengan suaminya. "Rese banget suaminya Mayyada!" "Tapi ganteng." "Idih, pede." Mayyada kini yang terkekeh mendengar ucapan suaminya. Begitulah kehidupan Mayyada dan Demian. Maklum, pernikahan mereka baru berusia empat bulan. Tiga bulan mereka tinggal di atap yang sama membuat mereka belajar untuk saling mengerti terhadap sikap pasangan. Alasan mereka baru tinggal seatap karena setelah menikah Demian masih hidup di kos. Demian tak ingin memBimaong istrinya untuk tinggal di kos. Selain itu, pihak orang tua melarang mereka untuk tinggal sendiri sebelum usia pernikahan mereka genap satu bulan. Jadi, selama satu bulan mereka tinggal di atap yang berbeda membuat keduanya menahan rindu. Walaupun jarak tempuhnya tak terlampau jauh untuk bertemu namun berbeda jika seperti ini. Dan rumah yang ditempati mereka ini adalah rumah kontrakan. Keduanya masih menabung untuk rumahnya sendiri, nanti. Ini pun masih menyicil pasir, batu bata dan genteng. Tanah yang mereka beli tak jauh dari tempat tinggalnya sekarang. Hanya memakan waktu lima belas menit saja. "Aku berangkat dulu, ya." Demian mengulurkan tangannya yang langsung diterima oleh Mayyada dan mencium punggung tangannya. Lalu Demian mencium kening Mayyada. "Hati-hati, Kak." "Assalamu'alaikum." "Wa'alaikumussalam." Setelah itu, Mayyada melanjutkan acara bersih-bersihnya. Menjemur pakaian, menyapu dan terakhir merapikan kamarnya. Tak sengaja matanya menatap kalender yang terpapang di dinding kamarnya. Matanya melebar lalu melangkahkan kakinya—mendekat. Mayyada terdiam, lama. Lalu tiba-tiba tangannya menyentuh perut. *** Mayyada mengigit bibir bawahnya, binar matanya menunjukkan bahagia. Tangan kanannya mengelus perutnya sementara tangan kiri memegang alat pengecek kehamilan, tespack. Air matanya luruh, ia sungguh bahagia saat ini. Otaknya berpikir sejenak tiga hari lagi adalah ulang tahun Demian. Ia akan menjadikan tespeck itu sebagai hadiah. Nanti Mayyada akan memperiksakannya untuk memastikan bahwa dirinya tengah mengandung. Mayyada jadi mengingat sesuatu, Demian yang beberapa hari ini mual-mual tidak jelas berarti dikarenakan Mayyada mengandung. Mayyada tersenyum dan mengelus perutnya. "Ternyata kamu ada disini, Sayang," Mayyada berujar dengan calon bayinya. "Makasih, ya. Udah hadir diantara kami." Setelah itu Mayyada menyimpan tespecknya dan ia pun memilih untuk menonton film di laptopnya. Mayyada ini bukan wanita penggila drakor atau yang berbau Korea. Tapi untuk menonton saja Mayyada juga pernah. Karena tinggal di rumah ini, Mayyada masih belum memiliki perabotan dan barang elektronik. Piring dan gelas saja, Demian membeli sabun dan kopi yang berhadiah. Kreatif ‘kan Demian? Sementara barang elektronik—Demian hanya membeli mesin cuci, rice cooker dan kulkas. Itupun kulkas yang berukuran kecil. Mayyada dan Demian benar-benar membangun rumah tangganya dimulai dari nol. Walaupun kedua orang tua mereka orang yang kaya dan terpandang tapi bukan berarti Mayyada dan Demian menikmati harta orang tuanya. Itu kesempatan keduanya dari sebelum menikah. Dan inilah yang terjadi. Sementara matanya menatap layar laptop, mulut Mayyada mengunyah camilan. Menikmatinya penuh hikmat. Hingga akhirnya mata Mayyada tertutup, ia tertidur dengan laptop yang masih menyala. Ck, masih saja sama. *** Tepat pukul 12 siang Mayyada terbangun dari alam mimpi yang dihampirinya secara tak sengaja. Ketiduran, maksudnya. Ia pun meraih ponselnya dan menghubungi suaminya melalui aplikasi yang berwarna telepon hijau. Me: Udah makan? Mayyada pun beranjak bangkit dan membereskan laptop serta toples camilannya. Setelah itu mengambil air wudu untuk laporan wajibnya sebagai muslim. Kemudian melihat chatnya yang dikirim tadi. Dapat balasan dari suami, buru-buru Mayyada membalasnya. Suami Mayyada: Udah. Kamu udah makan?                                                                   Me: Coba kasih gambarnya. Ini mau otewe makan, barusan salat dulu. Udah salat? Demian menuruti permintaan Mayyada, ia mengambil gambar kotak makannya yang telah ludes. Suami Mayyada: Enak banget, sayang :)  udah                                                                 Me: Ya udah, lanjutin kerja gih! Jaga hati, ya. Jangan terpana apalagi tergoda Suami Mayyada: Mayyada kan akhir hayatnya Demian :*                                                                          Me: Jangan membagi hasilkan cintaku, aku menitipkan hati untuk dijaga bukan untuk dibagi Suami Mayyada: Cinta kamu, Mayyada-ku Me: Aku tau :) Setelah itu tanpa menunggu balasan, Mayyada langsung menuju dapur untuk makan. Dalam diam ia tersenyum, sekarang dirinya berbagi makan dengan janinnya. Besok ia akan bekerja kembali, satu hari ini ia mengambil cuti. Dengan alasan menemani suaminya periksa namun ternyata yang diantar malah menolaknya. Usai makan, Mayyada mengambil jemuran yang sudah kering lantas segera melipatnya dan memisahkan beberapa pakaian yang perlu untuk disetrika. ***

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

B̶u̶k̶a̶n̶ Pacar Pura-Pura

read
155.9K
bc

TERNODA

read
199.1K
bc

Dinikahi Karena Dendam

read
234.0K
bc

Hasrat Meresahkan Pria Dewasa

read
30.9K
bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
189.2K
bc

Setelah 10 Tahun Berpisah

read
66.1K
bc

My Secret Little Wife

read
132.3K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook