"Ustaz!" teriak Ana sembari melotot.
Gadis itu segera mendorong tubuh Furqon saat menyadari bibir ustaz tampan itu menempel pada bibirnya. Gadis itu berkali-kali mengusap bibirnya yang tanpa sengaja bersentuhan dengan bibir sang suami. Sementara Furqon yang merasakan perasaan aneh berusaha menetralkan detak jantungnya.
"Cepat ambil air wudhu dan tahajud," titah Furqon tanpa melihat ke arah Ana. Terus terang ustaz tampan itu mulai tidak nyaman dengan perasaan aneh yang tiba-tiba muncul terhadap Ana.
"Tapi aku masih ngan--"
"Mau aku cium lagi, hmm?" Ana membulatkan matanya mendengar pertanyaan Furqon. Entah kenapa Si duda kutub alias kanebo kering yang sok cool ini kenapa tiba-tiba jadi genit begini? Hal itu membuat Ana menjadi ngeri. Tentu saja dia tidak mau si mantan duda yang kini jadi suaminya itu menyentuh tubuhnya, meskipun mereka sudah sah sebagai suami istri.
Ana masih berharap bahwa semua yang terjadi hari ini adalah sabuah mimpi, sehingga esok hari dia bangun dan semua sudah kembali seperti semula. Ah, gadis itu menggembungkan kedua pipinya dengan kesal, lalu beranjak dari ranjang menuju kamar mandi untuk mengambil air wudhu. Sepertinya Furqon tidak main-main dengan ancamannya.
Biasanya saat tidur di asrama putri, Ana bisa membohongi petugas jaga malam. Ana tidak pernah ikut salat tahajud, melainkan hanya ikut apel malam. Namun, saat ini sepertinya dia tidak bisa membohongi si mantan duda kutub. Bisa-bisa kanebo kering itu benar-benar menciumnya atau bahkan melakukan hal-hal yang lebih dari sekadar mencium.
"Aku mau mengontrol para santri apel malam. Kamu tahajud yang benar dan jangan tidur lagi. Kalau sampai kamu tidur lagi, aku pasti menghukummu," ucap Furqon setelah Ana keluar kamar mandi. Gadis itu hanya mendengkus kesal tanpa menjawab ucapan lelaki yang sudah menjadi suaminya itu.
Furqon melangkah keluar kamar setelah Ana menggunakan mukena. Ustaz tampan itu melangkah menuju asrama putra untuk mengontrol apel malam.
Saat Furqon datang ke asrama putra, dua orang ustaz yang kebetulan bertugas piket mengawasi kegiatan tahajud santri putra itu serempak terdiam. Padahal tadinya mereka sedang kasak kusuk membicarakan Furqon yang tiba-tiba menikahi santri putri bernama Ana.
Terlebih lagi semua itu terjadi kerena sebuah skandal. Mereka menyayangkan reputasi Furqon sebagai seorang putra Kiai pengasuh pesantren bisa tergoda dengan gadis piyik seperti Ana. Padahal sebelumnya, ustaz tampan yang sudah menduda hampir lima tahun lamanya itu belum pernah tertarik pada wanita.
"Assalamualaikum," sapa Furqon setelah mengikis jarak dengan dua ustaz itu. Putra Kiai Iskandar itu menyadari kalau suasana jadi hening saat dirinya datang.
"Waalaikumsalam," jawab Zaky dan Farhan hampir bersamaan. Kedua ustaz itu tidak lagi melanjutkan percakapan mereka. Keduanya tidak menyangka kalau Furqon yang harusnya menikmati malam pengantin malam ini malah datang ke asrama putra untuk mengontrol kegiatan tahajud para santri.
"Apa ada kendala malam ini, Ustaz?" tanya Furqon.
"Alhamdulillah, semua lancar, Ustaz.
"Ustaz, boleh saya tanya sesuatu?" tanya Zaky ragu. Ustaz muda itu sebenarnya ingin langsung tabayun pada Furqon tentang tragedi di kamar mandi, agar jelas dan tidak simpang siur. Zaky takut, jika berita yang diterima santri salah, maka akan berakibat pada nama baik pesantren.
Bagaimana kalau para orang tua santri tahu jika salah satu ustaz di pesantren Al Falah, apalagi putra Kiai Iskandar mempunyai skandal dengan salah satu santri putri hingga dinikahkan. Bukankah itu akan memperburuk citra pesantren di mata masyarakat?
"Silahkan, Ustaz. Mau bertanya apa?" balas Furqon sembari duduk di hadapan dua ustaz itu. Sekilas, Zaky menatap ke arah Farhan, lalu Farhan mengangguk sebagai isyarat agar Zaky meneruskan pertanyaannya.
"Saya ingin tahu bagaimana kejadian yang sebenarnya antara Ustaz dan Ana tadi pagi. Berita yang beredar di pesantren simpang siur sehingga perlu diluruskan agar tidak timbul fitnah," ucap Zaky memberanikan diri. Mendengar pertanyaan dari rekannya, Furqon menghela napas berat. Apa yangn dikatakan Zaky ada benarnya. Mengapa dia tidak memikirkan ini sebelumnya? Bagaimana jika terjadi gosip yang memperburuk citra pesantren?
"Maaf, Ustaz. Besok saya akan mengumpulkan semua santri dan para ustaz ustazah di Aula untuk konfirmasi masalah ini. Saya juga tidak ingin hal ini menjadi konsumsi publik di luar pesantren. Insya Allah semua akan saya jelaskan," balas Furqon dengan ekspresi tenang, meskpun sebenarnya dadanya sudah berdetak kencang.
"Alhamdulilah kalau begitu, Ustaz. Kami semua menunggu," ucap Farhan. Beberapa saat kemudian para santri yang sudah selesai melaksanakan tahajud berkumpul untuk apel malam, lalu mereka kembali ke kamar masing-masing. Begitu juga Furqon. Ustaz tampan itu kembali ke kamar dan terkejut melihat sang istri sudah tertidur di atas sajadah dengan masih berbalut mukena.
"Astaghfirulloh, Ana. Kamu itu benar-benar tukang tidur, ya," gumam Furqon sambil menggelengkan kepala. Ustaz tampan itu kemudian tersenyum melihat wajah polos Ana saat tertidur.
Setelah memastikan Ana tertidur pulas, Furqon mengangkat tubuh istrinya yang masih berbalut mukena dan merebahkannya di atas ranjang. Hatinya kembali berdebar saat berada di posisi sangat dekat dengan Ana. Ah, perasaan aneh itu muncul lagi. Ustaz tampan itu kemudian duduk di sofa dan mengambil mushaf Al Qur'an, lalu bertilawah sebentar sambil menunggu waktu subuh.
Tubuh Ana menggeliat saat mendengar kumandang azan subuh. Beberapa hari tinggal di pesantren telinganya sudah mulai peka dengan panggilan salat itu, apalagi beberapa saat sebelumnya dia sudah melaksanakan salat tahajud. Gadis itu terhenyak saat menyadari dirinya sudah berada di atas ranjang dan masih dengan memakai mukena. Padahal seingatnya dia tertidur di lantai saat tahajud tadi.
"Jangan-jangan--" belum selesai ucapan Ana, pintu kamar mandi terbuka. Furqon yang baru saja berwudhu keluar kamar mandi dalam keadaan segar dengan kepala yang masih sedikit basah dan meneteskan air. Entah mengapa pemandangan itu membuatnya terlihat dua kali lebih tampan. Ana tidak mengingkari itu.
"Sudah bangun, Ana? Cepat berwudhu dan ke masjid," titah Furqon membuat Ana menggembungkan kedua pipinya karena kesal. Wajah tampan Furqon yang tadi sempat membuat Ana terpesona kini kembali berubah jadi kanebo kering yang menyebalkan.
"Ustaz yang menggendong saya ke ranjang?" tanya Ana mendelik.
"Memang siapa lagi? Kamu pikir jin yang mindahin kamu?" balas Furqon terkekeh.
"Ustaz gak ngapa-ngapain aku, kan?" tanya Ana lagi. Gadis itu membuka mukenanya dan memeriksa bajunya apakah ada yang terbuka. Dia menyangka Furqon akan mengambil keuntungan saat dia tertidur.
"Aku gak akan ngapa-ngapain kamu selama kamu patuh, Ana. Tetapi jika kamu melawan apa yang aku perintahkan, maka saat itu juga aku akan mengambil hakku sebagai suami darimu," ucap Furqon sembari tersenyum, lalu berjalan ke luar kamar.. Sementara Ana hanya terbengong mendengar ucapan ustaz tampan itu.
"Cepat ke masjid dan jangan sampai terlambat salat berjamaah. Kalau kamu sampai terlambat akan ada hukuman khusus dariku," ucap Furqon sebelum benar-benar keluar.
"Hukuman? Apa Ustaz akan menyuruhku membersihkan kamar mandi lagi?" tanya Ana membuat Furqon menghentikan langkah. Ustaz tampan itu berbalik dan menatap Ana dengan tatapan tak biasa.
"Karena kamu sekarang sudah jadi istriku, maka hukumannya adalah hukuman yang enak. Kamu mau, kan, hmm?" Furqon menaikkan satu alisnya membuat Ana mengernyit. Kanebo kering dari kutub ini benar-benar sudah berubah ganjen.
"Enggaaaaaak!" teriak Ana sembari berhambur ke kamar mandi. Melihat hal itu, Furqon hanya terkekeh dan melanjutkan langkahnya menuju masjid.
Beberapa saat kemudian, Ana sudah melangkah menuju masjid untuk melaksanakan salat subuh berjamaah. Namun, gadis itu merasakan ada yang lain dengan orang-orang di sekitarnya. Setiap orang yang dia temui tampak berbisik dan menatapnya dengan tatapan yang aneh membuat Ana menjadi bingung.
'Ada apa dengan mereka?' batin Ana.