Bab 9-Cium

1068 Kata
Berada di jarak yang begitu dekat dengan gadis piyik secantik Ana membuat d**a Furqon berdebar hebat. bahkan junior kecil di bawah sana langsung memberikan reaksi dengan menegang minta penyaluran. Sementara Ana, juga terhipnotis dengan kehangatan peluk tubuh lelaki yang sudah sah jadi suaminya itu. Namun, rasa gengsi membuatnya buru-buru melepaskan pelukan Furqon. "Ustaz mau berbuat m***m, kan? Gayanya aja sok cool kalau di luar. ternyata ustaz tak jauh beda sama lelaki pada umumnya," cibir Ana setelah berhasil lepas dari pelukan Furqon. Ustaz tampan itu masih bergeming di posisinya semula dan mencoba menetralkan detak jantungnya yang kian cepat. Untuk pertama kalinya setelah lima tahun, Furqon merasakan hal ini. Apakah itu artinya dia telah jatuh cinta pada gadis piyik ini? Ah, rasanya mustahil, mengingat Ana sangat jauh dari kriteria wanita idamannya. "Mau ke mana, Ana?" tanya Furqon saat melihat Ana beranjak. "Ganti baju di kamar mandi," jawab Ana sembari mengayunkan langkah menuju kamar mandi yang memang tersedia di dalam kamar Furqon. "Kamu ganti di sini saja, biar aku keluar kamar." Nampaknya Furqon harus menghindar dari Ana untuk sementara waktu, agar bisa menidurkan junior kecil yang ada di bawah sana. Tidak mungkin juga malam ini dia langsung memberikan nafkah batin pada Ana karena gadis itu pasti akan menolak. Furqon sendir juga merasa belum siap untuk melakukannya. Semua serba mendadak. "Nggak mau, ah. Nanti Ustaz ngintip lagi." "Terserah kamu," ucap Furqon sembari beranjak keluar kamar, lalu duduk di teras rumah yang sudah sepi. Ustaz tampan itu malas berdebat dengan istri piyiknya itu. Mengapa takdir yang harus ia jalani akhirnya seperti ini? Lima tahun berharap move on dari Zahira agar mendapatkan wanita yang tepat dan tentunya lebih baik dari almarhumah istrinya, tetapi ternyata Allah mengirimkan jodohnya seperti Ana. "Belum tidur, Kak?" tanya Syifa membuat Furqon terhenyak dari lamunannya. "Gerah, Dek. Lagi cari angin saja." "Pengantin baru malah cari angin di luar. Harusnya kan sekarang lagi hot-hotnya di kamar," goda Syifa membuat Furqon melotot. "Jangan meledek," sahut Furqon sebal sementara Syifa hanya terkekeh. "Mau aku buatkan kopi?" "Boleh, Dek." Furqon berpikir tidak ada salahnya dia ngopi sebelum kembali ke kamar untuk menenangkan pikiran dan menunggu juniornya kembali tertidur. Syifa melangkah ke dapur untuk membuatkan kakaknya kopi. Tak berapa lama, gadis itu sudah kembali dengan secangkir kopi panas. "Abah dan Umi sudah tidur?" tanya Furqon saat adik perempuannya itu meletakkan kopi di atas meja teras. "Sudah, Kak. Sepertinya Abah dan Umi sangat kelelahan setelah acara nikahan Kakak tadi." "Hmm, begitu." "Kakak yang sabar, ya. Aku yakin suatu saat nanti, Kakak bisa merubah Ana bisa jadi istri yang baik, meskipun semua pasti tidak akan mudah." Sebenarnya Syifa merasa kasihan pada kakaknya. Dia tahu kalau Furqon sangat terpaksa menerima pernikahan ini. Namun, gadis itu pun tidak bisa berbuat apa-apa selain membesarkan hati Kakaknya. Syifa tidak menyangka kalau kakaknya akan begitu saja pasrah menerima pernikahannya dengan Ana setelah lima tahun menduda. Padahal yang dia tahu, kakaknya itu sangat selektif dalam memilih calon istri. Sudah banyak ustazah yang berusaha mendekatinya, tetapi semua tidak ada yang ditanggapi. "Aamiin. Doakan saja." "Syifa ke kamar dulu, ya, Kak." "Hmm, iya. Terima kasih kopinya." Furqon menyeruput kopi buatan Syifa beberapa saat setelah gadis itu berlalu dari hadapannya. Setelah berdiam beberapa saat dan junior kecilnya pun sudah kembali tertidur, akhirnya Furqon memutuskan untuk kembali ke kamar. Kedua mata Furqon membulat sempurna saat memasuki kamarnya dan melihat Ana sudah tertidur pulas dengan mengenakan baju yang sangat seksi. Juniornya di bawah sana yang tadinya sudah tertidur kembali bereaksi melhat pemandangan indah itu. "Astaghfirulloh," gumamnya lirih sembari memalingkan pandangan. "Ya Allah ... mengapa aku begitu berhasrat saat melihat Ana berpakaian seperti itu? Tolong kendalikan nafsuku, ya Allah," ujar Furqon bermonolog. Ustaz tampan itu kemudian tersenyum melihat dua guling yang di pasang Ana di tengah-tengah ranjang sebagai pembatas. Furqon mengambil mushaf Al Qur'an, lalu duduk di sofa yang ada di kamarnya. Beberapa saat kemudian sudah terdengar suara merdu ustaz tampan itu melantunkan ayat-ayat suci. Begitulah caranya untuk mengalihkan pikiran dari nafsu yang kini tengah menguasai diri akibat melihat tubuh seksi Ana. Furqon tidak ingin tenggelam dalam hasrat yang kini sedang dia rasakan. Meskipun Ana telah halal baginya, tetapi Ustaz tampan itu tidak ingin memaksa. Setelah beberapa menit membaca ayat-ayat Al Qur'an, kedua mata Furqon pun akhirnya mengantuk. Dia merebahkan tubuhnya di samping Ana, lalu tak berapa lama kemudian kedua matanya sudah terpejam. Furqon terjaga saat merasakan tangan seseorang melingkar di tubuhnya. Ustaz tampan itu membuka kedua matanya dan terkejut melihat Ana sudah memeluknya. Sedangkan dua guling yang tadi berada di tengah ranjang sebagai batas keduanya sudah berpindah tempat entah ke mana. Untuk sesaat, Furqon tertegun merasakan hangat pelukan Ana. Ustaz tampan itu bisa menghindu harum tubuh Ana yang kembali membangkitkan syahwatnya. Kedua matanya melirik ke arah jarum jam yang menunjukkan pukul 02.30 dini hari. Sudah waktunya tahajud. Furqon bermaksud melepaskan pelukan Ana, tetapi gadis piyik itu malah terbangun dengan kedua mata melotot karena tanpa sengaja tangannya menyentuh Junior Furqon yang sudah sangat menegang. "Ustaz? Ustaz udah ngapain aku tadi?" tanyanya sembari duduk dan menjauhi Furqon. Kedua mata Ana melirik ke bagian bawah ustaz tampan itu yang tampak menegang membuat Ana berpikir yang tidak-tidak. "Aku gak ngapa-ngapain. Kamu yang peluk-peluk aku," jawab Furqon sembari menutup bagian tubuh bawahnya dengan selimut. Ustaz tampan itu menyadari kalau Ana sedang melirik ke arah juniornya yang menegang. Dia merasa malu jika Ana tahu kalau saat ini dirinya sedang sangat berhasrat. "Ih, Ustaz jangan pura-pura, ya. Aku tahu pikiran ustaz itu m***m," tuduh Ana. "Terserah kamu. Aku mau tahajud dulu," pungkas Furqon malas berdebat. Ustaz tampan itu beranjak ke kamar mandi untuk mengambil air wudhu, lalu mengerjakan salat tahajud. Sedangkan Ana malah kembali tertidur pulas. "Ana, bangun. Ayo tahajud dulu," ucap Furqon sembari mengguncang tubuh Ana. Namun, gadis itu tetap bergeming. Sebenarnya Ana mendengarkan suara Furqon, tetapi rasa kantuk mengalahkannya. "Ana, ayo bangun tahajud. Kalau kamu tidak bangun, aku cium, nih," ancam Furqon. Namun, Ana tetap bergeming meski sebenarnya dia mendengar ucapan ustaz tampan itu. Furqon kemudian mendekatkan wajahnya dalam posisi yang siap mencium gadis piyik itu. "Oke, kalau kamu tidak mau bangun juga. Aku hitung sampai tiga, aku bakal cium kamu. Satu ... dua ... ti--" Pada hitungan yang ketiga, Ana langsung bangun dan berniat duduk, sehingga tanpa sengaja bibirnya malah menyentuh bibir Furqon yang memang sudah berada di posisi sangat dekat sebelumnya. Kembali d**a ustaz tampan itu berdesir saat benda kenyal dan dingin itu menempel di bibir dan membuatnya teringat kejadian beberapa hari yang lalu saat hal serupa sengaja dilakukan oleh Ana.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN