Furqon menghempaskan bobot tubuhnya di ranjang kamar yang telah dihias oleh Syifa dengan beraneka bunga. Lelaki tampan yang beberapa menit yang lalu telah melepas status dudanya itu menghela napas berat, lalu mengusap kasar wajahnya. Dia sama sekali tidak pernah membayangkan sebelumnya, kalau takdir cintanya akan berlabuh pada gadis piyik yang begitu liar seperti Ana.
Sudah sekian banyak ustazah yang mencoba merebut hatinya, menggantikan posisi Zahira yang hingga saat ini masih berada di tahta paling tinggi. Namun, tak satu pn di antara mereka yang bisa menerobos benteng kokoh di hati putra Kiai Iskandar itu. Bahkan Nabila yang mempunyai wajah delapan puluh persen mirip dengan sang mantan istri pun tidak mampu menggeser posisi wanita itu dari hatinya.
Ah, hidup memang terkadang rumit. Namun, jika Allah berkehendak apa yang bisa kita perbuat. Bila sudah ada kalimat KUN terucap maka FAYAKUN. Apa yang dikehendaki Allah terjadi pastilah terjadi. Sebagai manusia, Furqon hanya bisa pasrah menerima takdir ini.
Sebenarnya tragedi di kamar mandi tempo hari tidak harus berakhir di pernikahan. Banyak solusi yang bisa ditempuh. Namun, Kiai Iskandar memutuskan untuk menikahkan Furqon dengan Ana dan itu bukanlah tanpa alasan.
"Bah, kenapa Furqon harus menikahi Ana? Furqon bisa pindah mengajar di pesantren lain, jika Abah takut akan terjadi dosa yang lebih besar lagi di antara kami. Meskipun sebenarnya semua itu tidak akan terjadi. Saya tidak melakukan apa-apa pada Ana. Dia menjebak saya untuk membuat skandal agar bisa dikeluarkan dari pesantren. Pernikahan itu bukan solusi, Bah. Furqon tidak mencintai Ana," protes Furqon tadi pagi, beberapa saat setelah sidang istimewa selesai. Tentu saja hal itu dia kemukakan saat di rumah dan hanya berdua dengan sang abah. Mendengar penuturan putranya, Kiai Iskandar tersenyum tipis, lalu menepuk pundak duda tampan itu.
"Fur, kamu ingat kalau tadi Abah memperkenalkanmu dengan Pak Prabu Wijaya?"
"Iya, Bah. Memang kenapa?"
"Sebelumnya Pak Prabu sudah menceritakan semua tentang Ana. Saat melihatmu, beliau tertarik dan meminta Abah untuk menikahkanmu dengan putrinya. Pak Prabu sudah melamar kamu, Fur." Penjelasan Kiai Iskandar tentu saja membuat Furqon terkejut. Bagaimana mungkin seorang pengusaha kaya seperti Prabu Wijaya melamar dirinya untuk putri semata wayangnya. Kalau mau, Prabu bisa saja mencarikan Ana suami yang sekelas dengannya. Namun, mempertimbangkan akhlak Ana yang masih sangat membutuhkan bimbingan, pilihan Prabu jatuh pada Furqon.
"Kebetulan tadi ada insiden di kamar mandi itu. Sebenarnya Abah percaya kamu sudah berkata jujur dan Ana lah yang berbohong. Maaf kalau Abah memanfaatkan momen ini untuk menikahkan kalian," jelas Kiai Iskandar membuat Furqon terdiam. Memang Kiai Latif lah yang mengusulkan pernikahan antara Ana dan Furqon, tetapi semua itu atas permintaan Kiai Iskandar dan Prabu Wijaya tentunya.
"Fur, sudah berapa ustazah yang diajukan Latif untukmu? Semua kamu tolak, bahkan Nabila yang sudah seperti Zahira pun kamu masih ragu untuk menikahinya. Mau cari istri yang seperti apa kamu? Zahira sudah pergi lima tahun yang lalu dan kamu harus ikhlas. Perjalanan hidupmu masih panjang. Kamu harus bisa lepas dari bayang-bayang masa lalu."
"Iya, Bah. Tetapi kenapa harus Ana?"
"Abah yakin kamu bisa membimbingnya. Pada dasarnya dia gadis yang baik. Abah percaya kamu tidak akan mengecewakan Abah maupun Pak Prabu. Tolong niatkan semua untuk ibadah, Fur. Insya Allah, Allah akan mempermudah semuanya."
Furqon menghela napas panjang mengingat perbincangannya dengan sang abah tadi pagi. Apa daya semua sudah terjadi. Mau gak mau ustaz tampan itu akan menjalani semuanya meskipun tidak akan mudah.
Furqon beranjak dari ranjang dan melepas baju koko warna putih yang menempel di tubuhnya. Baju yang menjadi saksi saat dia mengucapkan ijab kabul yang sah secara agama. Namun, tiba-tiba pintu kamar terbuka. Seorang gadis cantik dengan kebaya putih menyembul dari balik pintu kamar. Melihat Furqon telanjang d**a, gadis itu melebarkan matanya sejenak karena terkejut, lalu membalikkan tubuhnya. Entah karena malu atau apa, yang jelas semua itu membuat Furqon tidak nyaman. Ustaz tampan itu segera mengambil kaos oblong putih dan memakainya.
"Lain kali kalau mau masuk kamar orang, ucapkan salam dulu atau paling tidak ketuk pintu," ucap Furqon setelah memakai kaos oblongnya.
"Pak Kiai bilang ini kamar aku, bukan kamar orang," balas Ana sewot sembari membalikkan tubuhnya menghadap Furqon yang sudah memakai kaos oblong ketat berwarna putih. Meski sudah tidak telanjang d**a, tetapi kaos ketat yang dipakai Furqon membuatnya terlihat seksi. Hal itu membuat Ana membuang pandangan.
"Kamar kita," ralat Furqon membuat Ana mendecih lirih.
"Bilang saja ustaz mau pamer tubuh sama aku. Gak ngefek, ya. Jangan tebar pesona karena aku gak bakal pernah suka sama ustaz," ucap Ana geram sembari masuk kamar.
"Memangnya aku suka sama kamu? Kepedean," balas Furqon kesal.
"Ustaz jangan munafik. Aku tahu ustaz senang bisa menikah denganku. Tapi ingat satu hal, Ustaz. Jangan berani-berani menyentuhku," ancam Ana.
"Buat apa aku menikahimu kalau tidak boleh menyentuh, hmm?" Furqon menatap Ana dengan tatapan menyeringai. Dia sepertinya telah menemukan kelemahan Ana dan akan menggunakannya untuk membuat gadis itu patuh terhadapnya.
"Ustaz mau ngapain? Jangan dekat-dekat!" Ana melotot saat Furqon menatapnya dengan tatapan tak biasa dan semakin mendekat.
"Aku cuma mau bantu kamu melepas kebaya itu," balas Furqon dengan senyum culas membuat Ana semakin mundur dan akhirnya menempel di tembok kamar.
"Ternyata benar kalau kamu ini ustaz m***m, ya."
"Tidak ada larangan untuk m***m pada istri sendiri, Ana."
"Stop, Ustaz. Jangan mendekat lagi atau aku teriak," ancam Ana membuat Furqon terbahak. Ternyata saat ketakutan, wajah Ana benar-benar menggemaskan. Sepertinya ustaz tampan itu sekarang punya mainan baru yang bisa membuatnya tertawa.
"Teriak saja, Ana. Palingan juga kamu sendiri yang akan malu. Kita sudah menikah dan aku berhak melakukan apa pun atas dirimu," ucap Furqon membuat Ana semakin terpojok.
"Gak, aku gak mau. Ustaz aku mohon, jangan. Aku, aku--"
"Bukankah kamu yang membuat masalah sehingga akhirnya kita terjebak dalam situasi ini, hmm? Kita sudah menikah, Ana. Kita sudah terikat janji suci dan aku tidak mau kamu menganggap pernikahan ini hanyalah permainan."
"Tapi aku tidak cinta sama Ustaz."
"Kamu pikir aku cinta sama kamu? Sama, aku juga terpaksa. Jadi, jangan merasa menjadi orang yang teraniaya karena pernikahan ini."
"Kalau begitu, Ustaz ceraikan saja aku dan semua selesai. Gampang, kan? Kenapa harus dibikin ribet, sih?"
"Jaga ucapanmu, Ana. Seorang wanita yang meminta cerai pada suaminya itu haram mencium baunya surga," balas Furqon membuat Ana terdiam beberapa saat.
"Ah, terserah Ustaz. Gini amat punya suami Ustaz. Belom apa-apa udah kenyang dengan ceramah," ucap Ana sembari beranjak menghindari Furqon. Gadis itu berniat ke kamar mandi untuk berganti pakaian karena dia sudah malas berdebat lagi dengan ustaz tampan itu.
Tanpa disadari, kaki Ana tersandung kaki Furqon, hingga gadis itu terpelanting ke arah belakang. Namun, dengan sigap tangan kanan Furqon meraih pinggang ramping Ana hingga tubuh keduanya kini berada dalam jarak yang begitu dekat, bahkan nyaris tak berjarak. Wajah keduanya hanya menyisakan jarak beberapa senti, sehingga masing-masing bisa merasakan deru napas lawannya. Entah kenapa jantung keduannya terpompa lebih cepat dari biasanya. Untuk beberapa saat keduanya terjebak dalam keheningan.