"Menikah?" tanya Furqon dan Ana hampir bersamaan. Keduanya tidak pernah menyangka kalau Kiai Latif akan memberikan usulan semacam itu.
"Kamu tidak mau menikah dengan Ana, Fur?" tanya Kiai Latif terhadap Furqon..
"Saya tidak mau," jawab Furqon tegas.
"Ana, kamu mau menikah dengan Furqon?" tanya Kiai Latif sembari mengalihkan pandangan pada Ana.
"Amit-amit, saya tidak mau, Kiai."
"Kalau kalian tidak mau dinikahkan, kalian harus sepakat tentang pernyataan siapa yang benar. Cerita Furqon atau Ana," lanjut Kiai Latif lagi.
"Saya tetap pada pernyataan saya. Saya berkata jujur dan Ana lah pembohongnya," balas Furqon tegas.
"Saya berkata jujur, Kiai. Ustaz Furqon yang berbohong," ucap Ana kukuh. Gadis itu tidak mungkin menjilat ludah sendiri dengan mengakui kebohongannya. Dia yakin papinya tidak akan membiarkannya dinikahkan di usia muda, apalagi dengan lelaki yang jauh lebih tua seperti Furqon.
"Bagaimana ini, Mas?" tanya Kiai Latif kepada Kiai Iskandar. Pengasuh pesantren Al Falah itu menarik napas panjang lalu mengalihkan pandangan ke arah Prabu Wijaya.
"Pak Prabu, bagaimana menurut Anda? Apa Anda mengijinkan seandainya saya menikahkan putri Anda dengan Furqon?" tanya Kiai Iskandar mulai mengambil keputusan.
"Saya merasa sangat senang sekali jika Kiai mau mengambil putri saya yang sangat minim ilmu agama sebagai menantu. Saya tidak keberatan bahkan merasa tenang karena saya percaya Ustaz Furqon akan mampu membimbing Ana menjadi pribadi yang lebih baik." Jawaban Prabu Wijaya sontak membuat Ana terkejut. Gadis itu tidak menyangka papinya akan dengan mudah melepaskannya kepada lelaki yang jauh lebih tua seperti Furqon. Apalagi saat ini dia masih kuliah.
"Papi! Kenapa Papi setuju? Ana belum mau menikah, Pi. Apa lagi dengan duda. Ana masih mau kuliah." Ana kembali mengguncang kedua tangan Prabu Wijaya.
"Apa kamu mengakui kalau kamu yang berbohong, Ana?" tanya Syifa menyela. Gadis itu percaya kalau Furqon sudah berkata jujur.
"Tidak, Ustazah. Saya berkata jujur," jawab Ana tetap dalam kebohongannya.
"Baiklah, kalau begitu. Syifa, temani Furqon ke Pasar Raya untuk mencari cincin pernikahan. Malam ini juga Abah akan menikahkan mereka," titah Kiai Iskandar disusul anggukan kepala Syifa. Sementara Furqon hanya bisa pasrah menerima keputusan dari abahnya.
"Pi, Papi beneran mau menikahkan Ana dengan Ustaz Furqon? Papi bercanda, kan?" tanya Ana gelisah. Gadis itu terlalu gengsi untuk menarik kembali ucapannya. Ana tidak mau membuat Furqon besar kepala. Niatnya untuk menjatuhkan nama baik Furqon malah berakhir mengenai dirinya sendiri bagaikan senjata makan tuan.
"Papi serius, Ana."
"Tapi kuliah Ana--"
"Kamu akan tetap kuliah. Tidak masalah."
***
"Apa benar berita yang saya dengar kalau nanti malam Ustaz akan menikah dengan Ana?" tanya seorang gadis dengan gamis merah maroon saat Furqon hendak ke Pasar Raya membeli cincin pernikahan untuk Ana. Ustaz tampan itu menoleh ke arah Syifa yang berdiri di sampingnya.
"Nabila, maafkan aku," ucap Furqon lirih sembari melirik gadis yang dipanggil Nabila. Kedua mata gadis itu sudah dipenuhi kristal bening.
Nabila adalah adik kandung Zahira, almarhumah istri Furqon. Sebelum meninggal, Zahira sangat berharap kalau Furqon bisa menikah dengan adiknya setelah dirinya tiada nanti. Namun, cinta Furqon yang teramat dalam pada sang istri membuatnya belum sanggup untuk menikahi Nabila.
Nabila yang sudah sangat jatuh hati pada Furqon sudah menolak banyak lelaki shalih yang melamarnya karena dia yakin suatu saat Furqon akan membuka hati untuknya. Namun, kabar berita yang dia dengar hari ini sungguh telah menghancurkan harapan yang telah dia pupuk sejak beberapa tahun ini.
"Tidak ada yang perlu dimaafkan, Ustaz. Aku yang salah karena berpikir kamu akan membuka hati untukku. Aku hanya tak habis pikir, banyak ustazah yang ingin menggantikan posisi Mbak Zahira, kenapa harus Ana? Kenapa harus ada insiden seperti ini," ucap Nabila sembari menghapus bulir bening yang hampir terjatuh di pipinya.
"Nabila, ceritanya panjang dan aku tidak ingin membahasnya. Sekali lagi maafkan aku." Furqon beranjak meninggalkan gadis dengan gamis merah maroon itu.
"Sabar ya, Mbak. Anggap saja Mbak gak berjodoh dengan Kak Furqon. Semua sudah takdir Allah," ucap Syifa sembari memeluk Nabila. Gadis itu kemudian mengekor di belakang Furqon setelah melepas pelukan dari Nabila.
Sepanjang perjalanan ke Pasar Raya, Furqon merasa gelisah. Apakah dia yakin melepas status dudanya dengan menikahi Ana? Gadis yang selalu membuatnya naik darah dengan kelakuan minusnya. Padahal beberapa bulan terakhir ini, Furqon sudah mulai bisa melupakan almarhumah sang istri dan ingin melaksanakan keinginan Zahira yakni menikahi Nabila. Namun, kenapa kejadiannya harus seperti ini?
"Kakak yakin mau menikah dengan Ana?" tanya Syifa memecah keheningan.
"Menurutmu, apa aku bisa menghindari ini?" Furqon menghembuskan napas kasar sembari fokus menyetir.
"Kak, sebenarnya Paman Latif tadi hanya menggertak Ana agar dia mau jujur. Tapi kami semua gak nyangka kalau ternyata gadis itu tetap teguh dalam pendiriannya dan yang lebih membuat aku heran adalah Pak Prabu langsung setuju," ucap Syifa membuat Furqon sontak menoleh.
"Kamu percaya, kan. Kalau Kakak jujur?"
"Iya, aku percaya, Kak. Mungkin Kakak tidak bisa menghindar dari pernikahan ini. Ikhlaslah, Kak. Aku yakin Allah punya rencana yang lebih dibalik semua kejadian ini. Aku juga yakin, Kakak bisa membimbing Ana. Syaratnya harus sabar," tutur Syifa sambil tersenyum.
"Kamu sekarang sudah pintar dan bijak, ya. Doakan saja stok kesabaranku tidak habis," balas Furqon.
***
"Saya terima nikah dan kawinnya Amanatus Sholihah Wijaya binti Prabu Wijaya dengan maskawin tersebut dibayar tunai."
"Bagaimana para saksi, sah?"
"Sah."
"Alhamdulillah. Barokallohu lakuma wa baroka alaikuma wa jama'a bainakuma bil khoir." Prabu Wijaya dan istri merasa lega setelah Kiai Iskandar selesai membacakan doa. Malam itu Ana memakai kebaya putih dan riasan sederhana karena hanya berlangsung acara ijab kabul secara agama. Sedangkan ijab kabul KUA sekaligus pesta pernikahan akan digelar dua pekan kedepan.
"Ustaz senang kan bisa menikahi gadis muda sepertiku? Dasar ustaz m***m," bisik Ana kesal. Sejak awal acara ijab kabul, wajah gadis itu ditekuk.
"Sebenarnya aku atau kamu yang m***m, ha? Siapa yang ingin membuat skandal? Bukankah ini yang kamu mau? Siapa suruh bicara bohong," balas Furqon tak kalah kesal.
"Kalian sedang membicarakan apa? Ayo pakaikan cincinnya, Fur," ucap Kiai Iskandar membuat keduanya serempak terdiam. Dengan wajah masam, Furqon memakaikan cincin yang tadi dibelinya bersama Syifa ke jari manis Ana.
"Nah, Ana. Sekarang jabat tangan suami kamu dan cium punggung tangannya," titah Kiai Iskandar.
"Harus ya, Kiai?" tanya Ana lirih. Kiai Iskandar mengangguk. Dengan sangat terpaksa, Ana meraih tangan Furqon, menjabat dan mencium punggung tangannya. Entah kenapa ada debaran hebat di hati Ana saat tangan dingin lelaki itu menempel di bibirnya, padahal ini bukan kali pertama Ana bersentuhan dengan lelaki. Hal yang sama pun dirasakan Furqon. Dadanya berdebar kencang saat gadis yang kini sah menjadi istrinya itu mencium punggung tangannya.
"Sekarang, kalian berdua telah sah menjadi suami istri. Abah harap, kalian bisa memenuhi hak dan kewajiban masing-masing," tutur Kiai Iskandar.
"Ana, mulai malam ini, tanggung jawab Papi terhadapmu sudah digantikan oleh Ustaz Furqon. Jadi, kamu harus patuh kepadanya. Ingat, sekarang suamimu adalah jalan surgamu." Ganti Prabu Wijaya memberikan nasehat pada putrinya.
Ana melirik ke arah Furqon yang tersenyum menyeringai. Sepertinya pria kutub itu merencanakan sesuatu. Tapi Ana tidak takut. Dia sudah siap menghadapi Furqon nanti.
Kedua orang tua Ana pulang setelah acara ramah-tamah. Ana sempat menangis saat kedua orang tuanya berpamitan pulang, seolah akan berpisah lama. Gadis itu memasuki kamar Furqon yang kini menjadi kamar mereka berdua dengan d**a berdebar. Bagaimana jika ustaz kutub itu berbuat m***m padanya? Tetapi bukankah mereka sudah halal?
Perlahan Ana membuka kamar Furqon, bertepatan dengan itu sebuah pemandangan indah menyambut dan memanjakan matanya. Kedua mata gadis itu melebar saat melihat Furqon telanjang d**a.