"Abah."
"Papi."
Furqon dan Ana berucap hampir bersamaan. Wajah Kiai Iskandar terlihat merah padam karena malu mendapati putra sulungnya berduaan di kamar mandi dengan salah satu santri yakni Ana. Padahal saat itu kebetulan orang tua Ana sedang berkunjung.
Tadinya Kiai Iskandar hanya mau mengantar Prabu Wijaya yang hendak ke kamar kecil. Namun, lelaki paruh baya itu malah menyaksikan kejadian yang benar-benar mencoreng wajahnya.
"Bah, semua ini tidak seperti yang Abah pikirkan. Furqon bisa jelaskan," ucap Furqon sebelum Kiai Iskandar berucap.
"Kiai, tadi Ustaz Furqon menyuruh saya membersihkan kamar mandi di sini. Ternyata dia ingin berbuat kurang ajar pada saya," bohong Ana membuat Furqon langsung menatap tajam ke arahnya.
"Untung Kiai dan Papi cepat datang, sehingga saya tidak kenapa-kenapa," lanjut Ana bohong.
"Enggak, Bah. Ini semua nggak benar. Tadi itu Ana yang menarik Furqon masuk dan dia--"
"Papi ... Papi percaya sama Ana, kan? Ana gak mau tinggal di pesantren lagi. Ustaznya m***m. Ana takut, Pi," ucap Ana sambil berhambur memeluk Prabu Wijaya yang sejak tadi hanya diam menyimak. Lelaki paruh baya itu syok melihat kejadian pagi ini dan tidak tahu harus berkomentar apa.
"Ana! Kamu jangan mengarang cerita. Jelas-jelas tadi kamu yang menarik tanganku dan mengunci pintunya. Kenapa jadi memutarbalikkan fakta?" bantah Furqon geram.
"Sudah cukup! Ana, pakai kembali jilbab kamu. Kalian berdua ikut aku ke private room," titah Kiai Iskandar dengan wajah murka.
"Maaf atas ketidaknyamanan ini, Pak Prabu. Jika Anda berkenan, mari ikut kami ke private room untuk sidang istimewa guna meluruskan masalah ini," ucap Kiai Iskandar. Prabu Wijaya mengangguk, lalu mereka menuju private room di lantai dua kantor.
Kiai Iskandar memanggil beberapa pengurus pesantren termasuk Syifa untuk ikut dalam musyawarah mendadak ini. Tanpa mereka sadari seorang santriwati yang tidak sengaja melihat kejadian itu menyebarkannya ke seluruh antero pesantren sehingga menjadi hot news.
"Apa? Jadi ustaz Furqon berbuat m***m dengan Ana di kamar mandi kantor?" tanya Astri seraya melebarkan mata saat Feni menyampaikan berita yang ia dengar saat membersihkan halaman depan tadi.
"Feni, kamu jangan menyebar fitnah. Dosa besar," ujar Ema mengingatkan.
"Aku tidak menyebar fitnah, Ema. Aku dengar dari santri yang bertugas membersihkan kantor tadi pagi. Bahkan sekarang Kiai Iskandar sedang mengelar sidang istimewa di private room," balas Feni membuat Astri dan Ema saling memandang.
"Pasti Ana yang kecentilan menggoda Ustaz Furqon. Kita tahu sendiri kan bagaimana dinginnya ustaz Furqon terhadap wanita. Bahkan Ustazah Nabila yang cantik dan jelas-jelas menyukai Ustaz Furqon saja dicuekin. Tidak mungkin dia punya pikiran m***m kalau tidak Ana yang menggodanya," cibir Astri.
"Sudah ... sudah. Istighfar. Jangan lanjutkan ghibah kalian. Meskipun semua itu benar, kita tidak berhak menghakimi Ana. Kita belum tahu kejadian yang sebenarnya. Biarkan Kiai Iskandar dan para pengurus pondok yang menyelesaikan. Kita tidak perlu menambah dosa dengan mengghibahkan mereka," ucap Ema bijak. Memang diantara tiga teman sekamar Ana, hanya Ema yang bijak dalam menghadapi apapun. Selain itu Ema juga bukan tipe pendendam. Meskipun sikap Ana tidak baik terhadapnya, tetapi Ema tidak pernah membalasnya dengan kejelekan.
Sementara itu di privat room sudah berkumpul beberapa orang penting di pesantren. Musyawarah pimpin langsung oleh Kiai Iskandar. Ada Kiai Latif, adik kandung Kiai Iskandar yang memegang peran penting dalam pembinaan santri-santri pesantren Al Falah. Ada Syifa sebagai ketua pondok putri. Ada Prabu Wijaya selaku orang tua Ana serta Ana dan Furqon. Semua berkumpul untuk menyelesaikan masalah yang dibuat Ana pagi itu.
"Ana, sekarang kamu ceritakan bagaimana bisa kamu dan Furqon berada di dalam kamar mandi berdua," ucap Kiai Latif memulai persidangan.
Ana kemudian menceritakan semua mulai kejadian tadi malam saat Furqon menghukumnya menyalin hadits hingga akhirnya membersihkan kamar mandi kantor. Semua Ana ceritakan dengan benar kecuali kejadian saat Furqon datang untuk mengeceknya di kamar mandi.
Ana berbohong dan mengatakan kalau Furqon tiba-tiba masuk ke kamar mandi pada saat dirinya membersihkan bilik ke empat kamar mandi yang ada di belakang kantor itu. Ana mengatakan kalau tadinya dia melepaskan jilbab karena gerah dan berpikir tidak ada orang di sana, lalu Furqon tidak sengaja masuk dan melihatnya sudah tidak berjilbab dan timbul keinginan dan bisikan syetan sehingga ingin melakukan hal-hal yang tidak sopan terhadapnya. Beruntung Kiai Kiai Iskandar dan Prabu Wijaya datang sehingga Furqon belum sempat melakukan apa-apa.
Mendengar cerita Ana, Furqon menghembuskan napas kasar. Bisa-bisanya gadis itu berucap dengan lancar tanpa ada kegugupan saat menceritakan kebohongan yang sengaja dikarang untuk menjatuhkan dirinya.
Semua peserta sidang terdiam dan menyimak ucapan Ana tanpa menyela. Mereka tidak tahu, harus percaya dengan ucapan Ana ataukah tidak. Mereka mengenal Furqon sebagai lelaki yang dingin dan anti terhadap wanita. Rasanya mustahil jika duda tampan itu berbuat kurang ajar terhadap Ana. Namun, yang namanya manusia pasti ada khilafnya. Sebagai seorang duda yang sudah lima tahun ditinggal mati sang istri, mungkin saja Furqon khilaf. Apalagi melihat Ana yang semakin cantik dan menarik saat melepaskan jilbabnya, begitu yang ada dalam pikiran Syifa, Kiai Latif maupun Kiai Iskandar.
"Sekarang giliran kamu menjelaskan, Furqon," titah Kiai Latif sembari memandang ke arah Furqon.
"Semua yang diceritakan Ana itu benar kecuali kejadian di kamar mandi. Saya memang menghukum Ana karena dia sering terlambat dan juga ketiduran di kelas saya. Tapi untuk kejadian di kamar mandi itu, semua tidak benar. Saya bermaksud mengecek kerja Ana karena saya tidak melihatnya ikut apel pagi. Namun, saat sampai di kamar mandi, Ana tiba-tiba menarik saya dan mengunci pintu kamar mandi. Bahkan dia memeluk saya. Saya tidak mengingkari, sebagai lelaki normal kalau saya sempat tergoda oleh Ana. Tetapi demi Allah saya tidak melakukan hal-hal yang dilarang agama. Ana yang memaksa saya dan mengatakan kalau dia ingin membuat skandal agar dikeluarkan dari pesantren," jelas Furqon panjang lebar sembari menatap tajam ke arah Ana yang tersenyum licik.
Suasana sedikit riuh setelah Furqon menyelesaikan penjelasannya. Ana sibuk meyakinkan papinya kalau semua yang dikatakan Furqon itu tidak benar.
"Saya tidak meminta kalian percaya pada penjelasan saya. Tetapi saya sudah berkata jujur dan saya siap jika harus menanggung resiko apapun," tambah Furqon tegas.
"Pi, Papi percaya Ana, kan? Ana gak mau tinggal di sini, Pi. Ana takut Ustaz Furqon akan berbuat kurang ajar lagi pada Ana," bisik Ana sembari mengguncang lengan papinya. Namun, Prabu Wijaya masih diam seribu bahasa.
"Baiklah, kita sudah mendengarkan pengakuan dari masing-masing. Baik Ana maupun Furqon telah menceritakan kejadian menurut versi mereka. Aku sebagai orang tua Furqon, tahu betul bagaimana keseharian Furqon. Tetapi yang namanya manusia kadang juga bisa khilaf. Jadi, aku juga tidak sepenuhnya menyalahkan Ana dan mengatakan kalau Ana telah menggoda Furqon. Jadi, menurut Pak Prabu bagaimana?" Akhirnya Kiai Iskandar angkat bicara.
"Saya sebagai orang tua Ana, sudah tahu bagaimana keseharian putri saya sejak bayi. Saya juga tidak lantas membenarkan ucapan Ana dan menyalahkan Ustaz Furqon. Untuk masalah ini, saya serahkan sepenuhnya pada pengurus pondok. Konsekuensi apapun akan saya terima asalkan untuk kebaikan bersama," ucap Prabu Wijaya.
"Kalian tidak sampai berzina, kan?" Pertanyaan Syifa sontak membuat semua mata memandang ke arah gadis itu.
Kiai Iskandar langsung menoleh ke arah Furqon. Duda tampan itu menggeleng pelan membuat lelaki paruh baya itu lega.
"Alhamdulilah kalau begitu, kalau memang kalian berdua tidak berbuat zina. Menurut saya, daripada kedepannya Ana dan Furqon berpotensi melakukan dosa besar, bagaimana kalau mereka kita nikahkan saja." Ucapan Kiai Latif sontak membuat semua peserta sidang terkejut termasuk Ana dan Furqon yang terlihat sangat syok.