Bab 5-Skandal

1265 Kata
Sepanjang perjalanan ke asrama putri, Ana mengerucutkan bibirnya karena kesal. Bisa-bisanya Furqon menghukumnya dengan menyalin hadits hingga seratus halaman. Sepertinya malam ini dia tidak akan bisa hangout di klub malam bersama teman-temannya. "Ana, jangan lupa selesaikan tugas dari Kak Furqon. Jangan keluar asrama putri di malam hari, apalagi sampai keluar pesantren. Ingat, Ana. Kamu sedang dalam pengawasan. Lagipula besok hari minggu dan kuliah kamu libur. Jadi, selesaikan hukumanmu dan jangan membuat Kak Furqon semakin marah," pesan Syifa sebelum meninggalkan asrama putri. "Iya, Ustazah," balas Ana, lalu masuk ke kamarnya. Gadis itu melihat tiga teman sekamarnya sudah tertidur pulas. Ana duduk dilantai dan mulai membuka mushaf hadits yang diberikan Furqon kepadanya. "Dasar duda kutub nyebelin. Suka banget dia menghukum gue. Awas saja, gue pasti balas semua," gumam Ana kesal. Meskipun begitu, gadis itu tetap menyalin hadits seperti yang diperintahkan Furqon. Walau Ana tak yakin kalau dirinya mampu menyalin hadits itu hingga seratus halaman, tetapi dia tidak mau duda kutub itu menghukumnya lebih berat lagi esok hari. Ana sudah pasrah kalau harus begadang malam ini untuk menyelesaikan tugas dari Furqon. Terpaksa Ana tidak bisa ke klub malam, padahal malam ini weekend dan teman-temannya pasti sudah menunggu kedatangannya. "Sial ... kenapa gue musti ketemu ustaz yang nyebelin kayak Furqon? Huh, pantes aja gak laku-laku, galak dan kaku kayak kanebo kering. Ih amit-amit," gerutu Ana sambil mulai menyalin kalimat-kalimat dalam mushaf itu. Namun, beberapa menit kemudian, gadis itu terus menguap dan akhirnya tertidur beralaskan buku tulis tempatnya menyalin. "Ana, bangun. Sudah waktunya tahajud. Kenapa kamu tidur di sini?" Suara Ema membangunkan membuat Ana terlonjak kaget. "Tahajud? Astaga ... gue ketiduran," ucap Ana panik. Dia bahkan belum menyelesaikan satu halaman pun. "Ayo Ana, kita apel malam. Jangan sampai kamu terlambat," ajak Ema. Sementara Astri dan Feni sudah berangkat tahajud. Ana segera mengambil air wudhu dan mengikuti serangkaian kegiatan tahajud dan apel malam bersama para santri yang lain. Tepat jam tiga dini hari, semua santri kembali ke kamar masing-masing. "Ana, tugas menyalin kamu ditunggu Kak Furqon sehabis subuh. Jadi, jangan lupa nanti dibawa ke masjid, ya," ucap Syifa saat Ana hendak kembali ke masjid. "Iya, Ustazah." Ana mempercepat langkahnya menuju kamar. Gadis itu hendak menyelesaikan tugas menyalin hadits, tetapi kemudian dia berpikir bahwa tidak mungkin bisa menyelesaikannya karena waktu subuh tinggal satu jam lagi, sehingga gadis itu malah berniat untuk tidur lagi. Ana tidak peduli jika dia harus menerima hukuman yang lebih berat lagi dari Furqon. Syukur-yukur kalau dirinya dikeluarkan dari pesantren, maka akan lebih baik bukan? Ana tersenyum, lalu menarik selimutnya. *** "Jadi, dalam waktu semalam kamu hanya bisa menyalin segini?" tanya Furqon saat memanggil Ana di kantor sekretariat selepas kelas subuh sembari melihat buku tulis Ana yang bahkan tulisannya tidak sampai satu halaman. "Maaf, Ustaz. Saya ketiduran," balas Ana santai. Sementara Syifa yang menemaninya hanya bisa menggelengkan kepala. "Kamu sudah tahu konsekuensinya kalau tidak menyelesaikan tugas ini, bukan?" tanya Furqon sembari melirik Ana dengan sorot mata tajam. Namun, Ana malah tersenyum. "Saya siap menerima hukuman yang lebih berat, Ustaz. Kalau pun saya harus dikeluarkan dari pesantren pun tidak masalah," jawab Ana membuat Furqon terkejut. Ustaz tampan itu kini tahu apa tujuan Ana selalu membuat masalah. Rupanya dia ingin dikeluarkan dari pesantren. "Baiklah. Di kantor ini empat kamar mandi khusus tamu. Tolong kamu bersihkan semuanya dan selesaikan sebelum apel pagi," titah Furqon membuat kedua mata Ana membulat sempurna. "Ap-apa? Membersihkan kamar mandi?" tanya Ana memastikan. Gadis itu terlihat syok. Seumur-umur, belum pernah dia membersihkan kamar mandi. Tentu saja karena sudah ada asisten rumah tangga yang mengerjakannya. Tiba-tiba Ana merasa jijik, bukankah kamar mandi itu kotor dan banyak kumannya? "Iya, kerjakan sekarang," titah Furqon membuat Ana menoleh ke arah Syifa. Gadis itu barharap Syifa membantunya bicara pada sang duda kutub agar memberikan hukuman yang lain. Namun, ustazah cantik itu malah mengangguk sebagai isyarat agar Ana segera mengerjakan apa yang diperintahkan Furqon. "T-tapi, Ustaz. Saya tidak pernah dan tidak bisa membersihkan kamar mandi," protes Ana. "Syifa, antarkan Ana ke kamar mandi kantor dan tunjukkan padanya apa yang harus dia kerjakan," ucap Furqon tanpa memperdulikan perkataan Ana. Gadis itu menggembungkan kedua pipinya dengan perasaan kesal. "Ayo, Ana," ajak Syifa. Ana terpaksa mengekor ustazah cantik itu menuju kamar mandi kantor. Setelah menjelaskan apa saja yang harus dikerjakan Ana, Syifa meninggalkan gadis itu seorang diri. "Dasar, duda kutub kejam. Masak gue disuruh bersihin kamar mandi, sih? Awas saja, secepatnya harus bisa balas kekejamannya. Gue akan buat reputasinya sebagai ustaz hancur. Gue gak akan puas sebelum melihatnya malu," ujar Ana bermonolog. Di dalam pikirannya tiba-tiba terlintas ide gila. *** "Furqon, kemarilah," panggil Kiai Iskandar saat ustaz tampan itu hendak keluar kantor. "Njih, Bah. Ada apa?" tanya Furqon setelah mengikis jarak dari abahnya. Seorang lelaki paruh baya berjas hitam tampak sedang berbincang dengan pembina pesantren Al Falah itu. "Fur, kenalkan ini Pak Prabu Wijaya, orang tua Ana. Pak Prabu, ini putra sulung saya, Furqon," ucap Kiai Iskandar memperkenalkan keduanya. Furqon dan Prabu saling berjabat tangan. "Furqon ini yang langsung berhubungan dengan pembinaan Ana di pesantren, Pak. Jadi, kalau Pak Prabu ingin menanyakan perkembangan Ana selama di pesantren, Bapak bisa tanya padanya," tambah Kiai Iskandar. "Oh begitu. Apa Ana menyusahkan, Ustaz?" tanya Prabu Wijaya. "Eum, Ana--" "Terus terang kami sudah kualahan untuk mendidiknya. Semua memang salah kami, dari awal kurang memberikan perhatian pada Ana. Saya mohon Ustaz mau bersabar menghadapi kenakalan Ana." Prabu memotong ucapan Furqon. "Insya Allah, Pak." Sejenak,Furqon berbincang dengan Prabu dan Kiai Iskandar. Namun, ustaz tampan itu kemudian berpamitan karena harus mengontrol kegiatan apel pagi. Sedangkan dua lelaki paruh baya itu masih betah berbincang. Furqon tidak melihat Ana saat apel pagi. Duda tampan itu bertanya pada adiknya tentang keberadaan Ana, tetapi menurut Syifa, kamar asrama putri sudah kosong dan tidak ada Ana di sana. 'Jangan-jangan Ana ketiduran di kamar mandi kantor,' pikir Furqon. Ustaz tampan itu bergegas ke kamar mandi yang ada di belakang kantor sekretariat. Timbul rasa khawatir jika terjadi sesuatu pada Ana, mengingat gadis itu belum pernah mengerjakan pekerjaan membersihkan kamar mandi. "Ana," panggil Furqon begitu sampai di kamar mandi yang terletak di belakang kantor. Tidak ada sahutan. Ustaz tampan itu membuka satu persatu bilik kamar mandi. Namun, dia tidak menemukan Ana di tiga bilik, hingga akhirnya pada bilik ke empat seseorang menariknya masuk ke kamar mandi dan mengunci pintunya. "Ana, apa yang kamu lakukan?" tanya Furqon gugup. Kedua mata ustaz tampan itu melebar saat melihat Ana sudah tidak memakai jilbabnya. Rambut hitam bergelombang yang indah menjadi daya pikat tersendiri bagi seorang Ana hingga membuat Furqon kesulitan menelan ludahnya. Segera duda tampan itu membuang pandangan dan berulang kali mengucapkan istighfar. "Ana, pakai jilbabmu dan buka pintu kamar mandinya," titah Furqon sembari membelakangi Ana. "Saya tidak mau," balas Ana santai sambil mengikis jarak dari Furqon. "K-kamu mau ngapain? Jangan gila," ucap Furqon saat Ana semakin mendekat. "Saya ingin kita membuat skandal karena saya ingin dikeluarkan dari pesantren," ucap Ana membuat Furqon membalikkan tubuhnya. Tanpa membuang waktu, Ana memeluk duda tampan itu. "Ana lepaskan." Furqon berusaha melepaskan pelukan Ana. Meski jujur sebagai lelaki normal dia sangat menginginkan pelukan itu. Harum wangi tubuh Ana membuat otak Furqon mulai kehilangan kewarasan. Namun, dia berusaha menepis bisikan syetan dan mendorong tubuh Ana. "Ana, kita tidak boleh begini. Ini dosa. Cepat buka pintunya," titah Furqon setelah berhasil melepaskan pelukan Ana. Samar-samar terdengar suara langkah kaki dari luar kamar mandi. Ana tersenyum menyeringai, lalu membuka kunci pintu kamar mandi. Namun, setelah pintu terbuka, Ana menarik tangan Furqon hingga tubuh lelaki itu merapat padanya. Pada saat yang sama dua lelaki paruh baya berdiri di depan kamar mandi dengan kedua mata melebar. "Ana, Furqon, apa yang kalian lakukan di sini?" tanya salah satu lelaki itu membuat Furqon melepaskan diri dari pelukan Ana.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN