Bab 4-Dihukum

1399 Kata
"Ana! Kamu jangan kurang ajar," bentak Furqon sembari mendorong tubuh gadis itu darinya. Duda tampan itu segera mengusap bibirnya yang baru saja bersentuhan dengan sesuatu yang tidak halal untuknya. Sementara Ana malah tertawa puas melihat sang duda kutub itu berulang kali mengucapkan istighfar. "Ini bukan lelucon, Ana. Kamu bukan saja sudah melakukan dosa besar, tetapi rasa takdim kamu terhadapku sebagai gurumu sudah tidak ada lagi. Kamu harus dihukum yang berat agar jera," ucap Furqon geram. Baru kali ini ada santri yang kurang ajar dan bahkan berani menciumnya. Selama ini belum ada seorang santri pun apalagi santri putri yang berani terhadapnya sampai berbuat kurang ajar. Sudah lima tahun sejak kepergian sang istri, ustaz tampan putra Kiai Iskandar itu tidak pernah mendapatkan sentuhan dari wanita. "Bilang saja ustaz menikmati ciuman saya," balas Ana mencebik. "Kamu!" Furqon menghentikan tangannya yang sudah mengepal di udara, kemudian beristighfar lirih. Tidak ada gunanya meladeni Ana. Kalau gadis kurang ajar ini nekat dan melakukan hal seperti tadi, bisa-bisa semua jadi runyam. Belum sehari semalam gadis itu tinggal di pesantren, tetapi sudah mengacaukan ketenangannya. Sebaiknya dia berdiskusi dengan abahnya agar mengeluarkan Ana dari pesantren. Perbuatan gadis itu sudah tidak bisa ditolerir lagi. Ana sama sekali tidak punya etika. Furqon akan memakai perginya Ana secara diam-diam malam ini lewat tembok belakang sebagai alasan yang kuat untuk mengeluarkannya dari pesantren. Ana tersenyum puas saat melihat Furqon kembali ke paviliun dengan rasa kesal. Gadis itu menyangka sang duda kutub tidak akan berani menghukumnya. Dengan langkah ringan, Ana menuju asrama putri. Bertepatan dengan itu, petugas jaga yang bertugas membangunkan tahajud sedang keliling asrama putri. "Ana, kamu sudah bangun? Dari mana saja kamu?" tanya Syifa yang kebetulan malam itu terjadwal jaga malam. "Saya barusan jalan-jalan, Ustazah. Cari angin, gerah," jawab Ana bohong. "Lain kali kalau jalan-jalan cari angin di malam hari, jangan keluar dari asrama putri, ya," tutur Syifa. "Iya, Ustazah," balas Ana dengan senyum miring. Gadis itu merasa senang karena Syifa begitu mudah percaya terhadapnya tidak seperti si duda kutub yang menyebalkan itu. Sementara itu, di paviliun, Furqon masih khusyuk melaksanakan salat taubat. berulang kali ustaz tampan itu mengusap bibirnya yang sudah ternoda karena ciuman Ana. Namun, entah kenapa putra sulung Kiai Iskandar itu malah terus terbayang kejadian itu. "Astaghfirulloh. Kenapa aku tidak bisa melupakan ciuman Ana? Sepertinya otakku sudah tidak waras. Ampuni aku, ya Allah," gumamnya sembari mengusap wajah dengan kasar. Rasa dingin dan kenyal bibir Ana seperti masih terasa di bibirnya, membuat duda keren itu berulang kali mengucapkan istighfar, lalu kembali mengerjakan salat sunah. *** "Jadi, Ana tadi malam kabur keluar pesantren dan baru kembali jam setengah dua dini hari?" tanya Kiai Iskandar memastikan setelah Furqon menceritakan kejadian tadi malam. "Benar, Bah. Selain itu, Ana juga tidak punya rasa takdzim terhadap para guru. Saya rasa, kita tidak perlu mempertahankan santri seperti dia di pesantren ini. Dia bisa membawa dampak buruk pada teman-temannya. Dia juga suka kasar pada santri yang lain," jelas Furqon menambahkan. Ustaz tampan itu ingin agar abahnya mengeluarkan Ana dari pesantren. Sebelumnya, Furqon telah menanyai Ema, Atrid dan Feni sebagai teman satu kamar Ana. Ketiga gadis itu pun menceritakan sikap Ana terhadap mereka apa adanya. Hal itu menambah keinginan Furqon untuk mengeluarkan Ana dari pesantren. "Furqon, Ana itu baru sehari di sini. Jadi wajar kalau dia masih liar. Kalau soal dia keluar pondok malam hari tanpa ijin, itu merupakan kesalahan dan tanggung jawab kita. Sebagai pengurus pondok, bagaimana mungkin kita bisa kecolongan seperti itu? Bagaimana kinerja para petugas jaga malam? Kenapa kamu bisa berpikir picik untuk mengeluarkan Ana dari pesantren, sedangkan kita belum memulai untuk mendidiknya?" "Tapi, Bah. Dia sangat kurang ajar dan tidak takdim terhadap saya," balas Furqon masih mengotot. "Kurang ajar yang seperti apa yang kamu maksudkan? Coba jelaskan pada Abah." Pertanyaan Kiai Iskandar membuat Furqon kesulitan menelan ludahnya yang terasa mengental di tenggorokan. Kejadian tadi malam yang hingga saat ini masih mengganggu pikirannya kembali terlintas dalam benaknya. Sekali lagi, duda tampan itu beristighfar lirih. "Furqon." Panggilan Kiai Iskandar membuyarkan lamunan Furqon. Lelaki dengan balutan baju koko putih itu hanya mendesah panjang. "Maaf, Bah. Mungkin saya yang terlalu keras dan berlebihan terhadap Ana. Baiklah, saya setuju dengan pendapat Abah. Kita akan berusaha membimbing Ana terlebih dahulu. Namun, jika dalam waktu satu minggu dia masih belum berubah sedikit pun, maka saya mohon Abah bisa mengambil keputusan yang tegas," ucap Furqon akhirnya. Ustaz tampan itu tidak mungkin menceritakan pada Abah Kiai kalau tadi malam Ana telah menciumnya. Ah, rasanya dia benar-benar malu. Apalagi kejadian itu membuatnya semalaman tidak bisa tidur. Sungguh menyebalkan, bukan? "Ya sudah, Abah setuju." Kiai Iskandar menepuk bahu putranya. Sementara Furqon berencana memberikan hukuman yang berat untuk Ana agar gadis itu jera dan tidak berani kurang ajar terhadapnya. "Syifa, tolong panggilkan Ana," ucap Furqon saat Syifa datang ke kantor sekretariat untuk absen pagi. "Ana sedang kuliah, Kak. Tadi pagi sopir pribadi Pak Prabu Wijaya datang menjemput." "Oh, begitu. Jam berapa dia pulang kuliah?" "Jam dua siang. Kenapa, Kak?" "Nggak papa. Pastikan nanti malam dia tidak terlambat," pesan Furqon sebelum beranjak meninggalkan kantor untuk mengajar. Sementara itu, Ana yang sedang dalam perjalanan ke kampus, tertidur pulas di dalam mobil karena tadi malam gadis itu hampit tidak tidur sama sekali. "Neng Ana, bangun. Kita sudah sampai di kampus," ucap Agus, sopir pribadi keluarga Prabu Wijaya saat mobil yang dia kendarai sudah berhenti di depan kampus. "Duh, Pak Agus. Ana ngantuk nih. Ana bolos dulu hari ini." "Tapi, Neng--" Agus tidak meneruskan ucapannya karena dengkuran halus dari Ana sudah terdengar. Lelaki paruh baya itu kemudian menghubungi seseorang. Beberapa menit kemudian, Prabu Wijaya sudah sampai di depan kampus, lalu membangunkan Ana. "M-maaf, Pi. Ana ngantuk sekali karena tadi malam ikut jaga malam dengan para santri," bohong Ana. "Papi gak peduli. Kamu tetep harus kuliah. Nanti biar Papi bilang sama Kiai Iskandar agar kamu tidak ikut jaga malam karena paginya kamu harus kuliah," balas Prabu Wijaya membuat Ana melebarkan matanya. "Eh, jangan, Pi. Ana senang kok ikut jaga malam. Baiklah, Ana masuk kuliah dulu. Bye Papi." Ana segera keluar dari mobil dan memasuki area kampus. Prabu Wijaya hanya menggelengkan kepala melihat kelakuan putrinya. Dia sangat tahu kalau Ana berbohong karena saat membawa Ana ke pesantren, Kiai Iskandar sudah mengatakan kalau Ana tidak akan terkena jadwal jaga selain saat weekend agar tidak mengganggu kuliahnya. Malam harinya saat kelas malam, Ana tidak lagi datang terlambat karena Syifa secara khusus mengontrol jadwal Ana agar gadis itu tidak terkena hukuman kakaknya. Pelajaran Fiqih yang disampaikan Furqon malam itu berjalan lancar, hingga suara dengkuran Ana yang duduk di kursi paling belakang mengalihkan perhatian ustaz tampan itu. Serentak pandangan semua santri tertuju pada Ana yang tertidur pulas di bangku paling belakang. "Ana, bangun. Ana," ucap Ema sambil mengguncang tubuh gadis itu. Meski Ana sering bersikap tidak baik, tetapi Ema tidak dendam. Sebagai teman satu kamar, tentu saja Ema tidak ingin Ana dihukum oleh Furqon. "Biarkan saja dia tidur. Tidak perlu dibangunkan," cegah Furqon saat Ema hendak membangunkan Ana lagi. "Kita lanjutkan pembahasan selanjutnya," ucap Furqon membuat semua santri kembali fokus pada materi. Hingga kelas malam berakhir, Ana masih tertidur pulas. Semua santri sudah kembali ke asrama putri, kecuali Ana. Furqon memperhatikan gadis itu, lalu menggeleng pelan. Duda tampan itu kemudian menelepon Syifa dan menceritakan kejadian itu. Tak berapa lama, adik Furqon itu sudah datang ke tempat itu. Tanpa di suruh, Syifa membangunkan Ana. Gadis itu tampak gelagapan saat tahu kelas sudah sepi dan hanya tertinggal dirinya bersama Furqon dan Syifa. "Karena kamu sudah tidur saat kelas saya berlangsung, maka kamu harus dihukum," ucap Furqon membuat Ana gelisah. "Dihukum apa, ya, Ustaz?" tanya Ana santai sambil mengedipkan sebelah matanya seolah mengingatkan Furqon akan kejadian kemarin malam. Ustaz tampan itu segera memalingkan pandangan dari gadis resek itu, lalu memberikan sebuah mushaf hadits kepada Ana. "Salin hadits itu sampai halaman seratus. Selesaikan malam ini juga, kalau kamu tidak menyelesaikannya maka besok pagi hukumannya akan aku tambah." Ucapan Furqon membuat Ana melongo. Bagaimana mungkin dia bisa menyalin seratus halaman hadits dalam waktu satu malam? Ana merasa Furqon sengaja mengerjainya. "Syifa, antar dia kembali ke asrama putri dan pastikan dia mengerjakan tugasya. Jangan sampai dia kelayapan malam-malam dan keluar pesantren lagi," titah Furqon membuat gadis berbaju syari itu mengangguk. Ustaz tampan itu sengaja membuat Ana sibuk agar tidak bisa lagi hangout dengan teman-temannya di klub malam. "Baik,Kak. Ayo, Ana," ajaknya sembari beranjak meninggalkan kelas. Ana menatap Furqon penuh kebencian. 'Lihat saja, Ustaz. Gue akan balas semua. Ustaz akan menyesal telah menghukum gue,' batin Ana kesal sembari mengekor di belakang Syifa.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN