Bab 3-Duda Kutub

1253 Kata
"Ana!" panggil Furqon dengan suara tinggi setelah panggilan yang pertama tidak dihiraukan oleh gadis itu. Ana yang sedang tidur terlelap di kursi yang terletak di depan kelas itu terkejut dan langsung duduk sambil mengucek kedua matanya yang masih lengket. "Ustaz bikin saya jantungan aja," balasnya tanpa dosa sambil menguap membuat Furqon semakin kesal. "Bukannya tadi aku hukum kamu untuk berdiri dan baca istighfar seribu kali, lalu kembali ke kelas. Kenapa kamu tidak kembali dan malah tidur?" tanya Furqon sembari mencoba menahan emosi. "Maaf, Ustaz. Saya ngantuk," balas Ana enteng sambil menggaruk kepala yang tidak gatal. "Kamu ini--" "Kak, Ana adalah santri baru. Mungkin dia belum paham aturan pesantren. Jadi, untuk hari ini, kasih dia toleransi. Insya Allah besok aku usahakan dia tidak terlambat mengikuti kelas lagi," ucap Syifa memotong ucapan Furqon. Ustazah cantik yang juga adik kandung Furqon itu ingin melindungi Ana dari hukuman yang lebih berat yang mungkin akan diberikan Furqon. "Hmm, jadi dia santri baru? Ya sudah, besok malam jangan sampai terlambat lagi," balas Furqon sambil membuang napas kasar, kemudian berlalu meninggalkan dua wanita itu. "Ana, besok kamu jangan sampai terlambat lagi, ya. Kamu hanya ikut kelas malam dan habis subuh, karena kalau pagi dan siang kamu harus kuliah. Makanya usahakan jangan sampai terlambat atau ketiduran seperti tadi," tutur Syifa setelah Furqon berlalu. "Baik, Ustazah." "Dan satu lagi yang perlu kamu ingat, Ana. Kamu jangan pernah absen salat berjamaah di masjid. Untuk tadi masih saya maklumi, mulai saat ini kamu harus mengikuti aturan-aturan yang ada di pesantren. Kamu mengerti?" tanya Syifa setelah memberi penjelasan panjang lebar. Ana mengangguk, kemudian kembali ke kamar dengan wajah kesal. Ternyata tinggal di pesantren tak semudah yang dia bayangkan. Hanya terlambat masuk kelas dan tidak salat di masjid saja dia bisa kena hukuman. Benar-benar menyebalkan. Jarum jam menunjukkan pukul sepuluh malam saat Ana hendak memasuki kamar. Gadis itu menghentikan langkah di depan pintu kamar saat mendengar ketiga gadis teman sekamarnya sedang bergosip tentang seseorang yang baru saja membuatnya sangat kesal. Ema, Astri dan Feni tengah membicarakan tentang Furqon dengan penuh kekaguman, sehingga membuat Ana muak. "Huh, apa hebatnya ustaz kutub itu," gumam Ana kesal. Dia mendengar ketiga temannya sangat mengagumi Furqon. Dari pembicaraan ketiganya, Ana baru tahu kalau Furqon adalah seorang duda yang sudah lima tahun yang lalu ditinggal mati istrinya. 'Cowok galak dan dingin kayak kutub gitu, pantes aja gak laku-laku,' batin Ana sembari mencebik. Mungkin hanya Ana satu-satunya santri putri yang sama sekali tidak memiliki kekaguman terhadap Furqon dari segi apa pun. "Hmm." Ana berdehem sembari melangkah masuk kamar. Ketiga gadis itu menghentikan obrolan mereka saat melihat Ana masuk. "Ucapkan salam, Ana. Jangan cuma berdehem," ucap Astri mengingatkan. "Jangan ceramah melulu. Kalian tukang ghibah belum tentu juga lebih baik dari pada gue," balas Ana cuek membuat Astri tersinggung. Namun, Ema mencekal lengan gadis itu agar tidak meladeni ucapan Ana. Dengan perasaan kesal, Astri pun bersiap tidur di ranjang diikuti Feni. "Ana, sebaiknya kamu cepat tidur supaya nanti jam dua malam tidak terlambat bangun tahajud. Kamu bisa dihukum kalau sampai tidak bangun lagi," ucap Ema yang tempat tidurnya di bawah Ana. "Iya, bawel," balas Ana kesal. Gadis itu merasa semua orang di pesantren sangat bawel dan suka menceramahinya. Ana membuang napas kasar setelah beberapa saat ketiga temannya sudah terbuai mimpi. 'Jadi, jam dua malam ada kegiatan bangun tahajud? Berarti gue harus kembali sebelum jam dua malam,' batin Ana sembari tersenyum menyeringai. Asalkan masih bisa dugem dengan fasilitas kartu kredit papinya, tinggal di pesantren pun sepertinya tidak masalah menurutnya. Ana membuka koper dan mengambil satu stel baju seksi yang sengaja dia selipkan di dalam koper tadi siang. Dia tidak mungkin ke klub malam dengan baju syari, sehingga dia membawa beberapa baju seksinya tanpa diketahui oleh sang papi. Ana segera berganti baju seksi dan melapisinya dengan baju syari, lalu mengambil tas dan mengecek isinya. Tentu saja kartu kredit jangan sampai ketinggalan. Setelah memastikan ketiga temannya tertidur pulas, Ana keluar kamar dengan mengendap-endap. Suasana pesantren sudah sepi karena memang sudah jam istirahat. Ana berniat pergi ke klub malam lewat pintu belakang pesantren. Tadi siang saat Syifa mengajak jalan-jalan keliling pesantren, dia sempat melihat kalau tembok belakang pesantren tidak begitu tinggi, sehingga memungkinkannya untuk melompat keluar dari sana. Lagipula tempat itu sangat sepi, jauh dari kamar asrama maupun ruang kelas. Hanya ada satu bangunan kecil semacam paviliun yang tampak di sana dan itu pun sepertinya sepi tidak berpenjaga. Setelah sampai di pintu belakang pesantren, Ana segera melompat tembok setelah sebelumnya menaiki beberapa batu bata dan genteng bekas yang tersusun rapi di dekat tembok. Gadis itu tersenyum puas saat berhasil melompat keluar tambok. Tanpa dia sadari, sepasang telinga milik seorang lelaki yang sedang khusuk berdzikir di paviliun mendengar suara pecahan genteng akibat injakan kaki Ana. "Astaghfirulloh. Apa aku salah dengar, ya? Tadi seperti ada suara seseorang yang melompat keluar," guman lelaki bersorban merah yang tidak lain adalah Furqon. Sudah sejak lima tahun terakhir setelah sang istri meninggal dunia karena penyakit Leukimia, ustaz tampan itu suka menyendiri di paviliun untuk mendekatkan diri pada Allah. Furqon masih sangat terpukul dengan kepergian sang istri sehingga masih belum bisa jatuh cinta pada wanita lain, meskipun banyak sekali ustazah yang bersedia menjadi pengganti almarhumah istrinya. Namun, hati Furqon belum bisa menerima kehadiran wanita lain, sehingga dia berubah menjadi pria yang dingin. Bahkan julukan Duda kutub pun tersemat untuknya dari para kaum hawa yang gagal mendekatinya. Furqon keluar paviliun dan mengecek asal suara yang tadi dia dengar. Ternyata dugaannya benar, ada beberapa genteng yang pecah akibat injakan kaki seseorang. "Apakah ada pencuri?" gumam Furqon lirih. Ustaz tampan itu kemudian menghubungi petugas yang berjaga malam itu untuk lebih waspada, kemudian dia kembali ke paviliun. Sementara itu Ana yang berhasil keluar dari pesantren tersenyum puas. Setelah mendapatkan taksi, gadis itu pergi ke klub malam tempatnya biasa dugem dengan teman-temannya. Namun, sebelumnya dia melepas baju syari dan memasukkannya ke dalam tas. "Jadi, lo sekarang tinggal di pesantren?" tanya Candy, salah satu teman Ana di klub malam dengan ekspresi terkejut. Ana hanya mengangguk sambil menikmati segelas whisky yang baru saja dituang gadis itu dalam gelasnya. "Gila, lo, An. Kalau lo tinggal di pesantren, gimana lo bisa sampai ke sini?" tanya Sherly, teman Ana yang lain. "Udah ... kalian jangan tanya-tanya kayak polisi. Yang penting malam ini kita happy, gue tetep bisa nongkrong di sini sama kalian. Ayo kita senang-senang karena waktu gue gak banyak. Gue harus balik sebelum jam dua malam," ucap Ana sambil menghabiskan minuman itu. Malam ini, Ana tidak boleh mabuk agar tidak ketahuan kalau dia diam-diam keluar pesantren. "Oke, baiklah," balas teman-teman Ana serempak. Mereka kemudian berbaur dengan yang lain dan berjoget mengikuti musik. Tepat pukul satu dini hari, Ana memesan taksi untuk kembali ke pesantren. Di dalam taksi, gadis berbaju seksi itu memakai baju syari yang tadi dia lipat di dalam tas. Sungguh penyamaran yang sempurna meski kelakuan gadis itu sempat membuat sopir taksi menggelengkan kepala. Dua puluh menit kemudian, Ana sudah sampai di pintu belakang pesantren. Setelah membayar taksi, gadis itu segera memanjat pagar tembok yang tidak terlalu tinggi itu, lalu melompat ke dalamnya. Namun, kedua matanya membulat saat lelaki bersorban merah sudah berdiri di depannya dengan kedua tangan dilipat di d**a. "Dari mana saja kamu?" tanya lelaki yang tidak lain adalah Furqon itu dengan penuh penekanan. Ana hanya menelan ludah yang terasa mengental di tenggorokan saat lelaki itu menatapnya dengan sorot mata tajam. Gadis itu bingung, apa yang harus dia lakukan agar bisa lolos dari hukuman manusia kutub ini. Kedua mata Furqon membulat sempurna saat tiba-tiba sebuah benda dingin dan kenyal menyentuh bibirnya bersamaan dengan merapatnya tubuh Ana, sehingga keduanya hampir tidak berjarak sedikitpun.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN