"Tidakk! Ana tidak mau tinggal di pesantren," tolak Ana histeris.
"Mi, tolong katakan pada Ana. Papi cuma bercanda, kan?" tanya Ana sembari mengguncang kedua tangan Ameera. Wanita paruh baya itu hanya diam seribu bahasa sembari menoleh ke arah sang suami.
"Papi memberikan kamu dua pilihan. Tetap tinggal di rumah ini, tetapi semua fasilitas termasuk mobil dan kartu kredit Papi cabut atau tetap bisa menikmati fasilitas Papi, tetapi tinggal di pesantren. Bagaimana?" Pilihan yang diajukan Prabu membuat Ana melongo. Jelas saja keduanya tidak menguntungkan bagi Ana.
"Tapi, Pi. Ana--"
"Papi tunggu keputusanmu sampai jam makan siang," ucap Prabu memotong perkataan Ana, lalu berbalik meninggalkan dua wanita beda generasi itu.
"Mi, tolong Ana, Mi. Tolong bujuk Papi. Ana gak mau tinggal di pesantren dan Ana juga gak mau Papi mencabut semua fasilitas yang sudah biasa Ana nikmati," ucap Ana memelas. Berharap sang mami bisa membantunya meluruhkan hati Prabu yang sekeras baja.
"Maaf, Ana. Kali ini Mami gak bisa bantu kamu. Ini semua Papi lakukan untuk kebaikan kamu. Kalau boleh Mami sarankan, sebaiknya kamu turuti permintaan Papi untuk tinggal di pesantren," balas Ameera membuat Ana terdiam.
Apa yang dikatakan sang mami ada benarnya. Setidaknya dengan tinggal di pesantren, Ana masih bisa memiliki kartu kredit yang no limit. Sedangkan jika memaksa tinggal di rumah, dia tidak akan bisa bersenang-senang tanpa memiliki uang. Ana sadar, teman-temannya pun tak kan ada yang setia menemani jika dirinya tidak memiliki uang karena pada hakikatnya mereka berteman dengan Ana hanya karena harta yang dimiliki gadis itu.
Jika Ana memilih tinggal di pesantren, dia tak pernah yakin akan sanggup. Ana yang biasa hidup bebas tanpa kekangan tiba-tiba harus tinggal di pesantren yang pastinya mempunyai banyak peraturan. Dia yakin akan sangat tertekan.
"Ana, menurut Mami, kamu coba dulu barang beberapa minggu. Nanti kalau kamu benar-benar tidak betah tinggal di sana, kamu bisa bilang sama Papi. Untuk saat ini, jangan membantah perintah Papi," lanjut Ameera. Ana hanya mengerucutkan bibirnya, lalu menghembuskan napas berat. Sepertinya gadis itu tidak punya pilihan lain selain menuruti perintah sang papi. Apa yang diperintahkan Prabu laksana sabda maha raja yang harus dipenuhi oleh Ana, jika dia masih ingin hidup dalam kemewahan.
"Baiklah, Mi. Ana akan tinggal di pesantren. Ana mandi dulu," ucapnya sembari beranjak ke kamar mandi.
***
Mobil lamborghini merah milik keluarga Wijaya memasuki area pesantren Al Falah saat matahari mulai tergelincir ke barat. Mobil mewah itu berhenti di depan kantor sekretariat pesantren. Dua wanita turun dari jok belakang setelah sopir membukakan pintu diikuti lelaki paruh baya yang turun dari jok depan. Ketiganya berjalan masuk ke kantor, sedangkan sopir keluarga mengeluarkan koper berukuran sedang dari bagasi mobil.
Kedatangan Prabu Wijaya disambut hangat oleh Kiai Iskandar, pengasuh pesantren Al Falah. Prabu mendapatkan rekomendasi dari Kiai Umar untuk memasukkan Ana ke pesantren itu. Sementara Prabu dan Ameera berbincang dengan Kiai Iskandar, seorang ustazah ditugaskan untuk mengantar Ana ke kamar asrama putri. Ustazah bernama Syifa yang juga putri bungsu dari Kiai Iskandar itu membawakan koper Ana dan mengantarkan gadis itu ke kamarnya.
"Ana,perkenalkan saya Syifa. Kamu bisa panggil saya Ustazah Syifa dan ini kamar kamu. Di pesantren ini setiap satu kamar dihuni oleh empat santri. Jadi, nanti akan ada tiga teman kamu yang tidur di kamar ini. Kalian harus saling membantu satu sama lain," ucap Syifa seraya meletakkan koper Ana di dekat ranjang tidur. Sementara Ana masih syok melihat kamar barunya.
Kamar yang luasnya sekitar tiga meter persegi dengan dua tempat tidur susun dan empat lemari kecil itu membuat Ana mendecih kesal. Tidak bisa kah papinya memilihkan pesantren yang jauh lebih bagus dari ini? Bukankah mereka memiliki banyak uang?
"Ustazah, apa gak ada kamar yang lebih besar? Aku gak biasa tidur di tempat seperti ini, apalagi untuk berempat. Mana gerah banget, emang gak ada ac, ya?" tanya Ana sambil mengipas tubuhnya yang gerah dengan tangan. Gadis itu belum terbiasa menggunakan baju syari apalagi berjilbab.
"Maaf, Ana. di pesantren ini tidak ada kamar yang seperti kamu maksudkan. Jadi, kamu harus belajar menyesuaikan diri. Teman satu kamar kamu adalah, Ema, Astri dan Feni," ucap Syifa sambil memperkenalkan tiga gadis teman sekamar Ana.
"Kalian bisa ngobrol untuk mengenal satu sama lain. Nanti malam kamu sudah harus ikut kelas. Jangan sampai datang terlambat ya. Sekarang saya tinggal dulu, kamu bisa mulai membereskan pakaianmu. Masukkan ke lemari yang itu," lanjut Syifa panjang lebar sambil menyerahkan kunci lemari kepada Ana. Gadis itu hanya mendengkus kesal, sementara Syifa beranjak mennggalkan kamar itu.
"Ada yang bisa kami bantu, Ana?" tanya gadis bernama Ema menawarkan diri sembari mendekat.
"Kalian jangan sok baik sama gue. Tinggalkan gue sendiri," bentak Ana kesal. Tiga gadis itu saling memandang, lalu meninggalkan Ana seorang diri.
"Kenapa nasib gue jadi seperti ini? Mana agak boleh bawa ponsel," gerutu Ana kesal. Namun, tiba-tiba dia tersenyum memikirkan sebuah ide. Tangannya mengeluarkan sebuah kartu kredit dari dalam tas, lalu menatap benda kotak itu dengan senyum menyeringai.
"Asal ada kartu ini, gue tetap bisa dugem. Gue harus bisa kabur nanti malam," ujarnya bermonolog.
***
"Ana mana?" tanya Syifa kepada Ema, Astri dan Feni saat ketiga gadis itu berjalan menuju kelas malam. Ketiganya saling memandang sebelum menjawab pertanyaan ustazah mereka.
"Ana masih tidur, Ustazah. Kami sudah membangunkannya, tetapi dia tidak mau dan malah marah-marah," jawab Astri.
"Dia juga tidak salat Asar, Magrib maupun Isya. Semenjak datang, dia tidur dan selalu marah kalau kami bangunkan salat," tambah Feni.
"Astaghfirulloh. Baiklah. Kalian lanjut saja ke kelas biar saya yang membangunkan Ana," ucap Syifa.
"Baik, Ustazah." Ketiga gadis itu segera masuk kelas. Beberapa menit kemudian seorang lelaki tampan dengan baju koko putih dan surban merah memasuki kelas. Lelaki yang tidak lain adalah Furqon, seorang ustaz pengajar ilmu faroid, bahasa arab dan fiqih yang juga merupakan putra sulung Kiai Iskandar itu segera memulai pelajaran setelah mengucapkan salam. Setelah beberapa menit berlalu, Ana baru tiba di kelas langsung masuk dan duduk tanpa meminta ijin. Hal itu tidak terlepas dari pantauan Furqon.
"Yang barusan datang, tolong berdiri di depan," titah Furqon membuat Ana yang masih setengah mengantuk mendecih kesal. Namun, gadis itu tetap cuek dan tidak memperdulikan perintah ustaz tampan itu.
"Hei, kamu! Kamu dengar tidak apa yang saya suruh?" tanya Furqon dengan suara sedikit meninggi. Dengan rasa malas, Ana berdiri dan berjalan ke depan sambil membuang napas kasar.
"Siapa nama kamu?" tanya Furqon saat Ana sudah berdiri di depan.
"Ana," jawab Ana singkat.
"Kenapa terlambat?" tanya Furqon lagi.
"Ketiduran, Pak Ustaz," jawab Ana sekenanya.
"Ketiduran? Sekarang kamu berdiri di luar sambil baca istighfar seribu kali. Setelah itu kamu baru boleh masuk," titah Furqon. Tanpa banyak bicara, Ana berjalan ke luar. Namun, hingga pelajaran Furqon selesai, Ana tidak juga kembali ke kelas. Ustaz tampan itu syok saat keluar kelas dan mendapati Ana tidur di kursi lorong kelas.
"Anaaa!" bentak Furqon membuat Ana terbangun dan terkejut.