Suasana dalam mobil hening. Syifa dan Nabila yang duduk di jok belakang melempar pandangan ke luar jendela, sementara Furqon fokus menyetir. Sesekali ustaz tampan itu melirik ke arah Nabila lewat spion depan. Kedua mata gadis itu masih dipenuhi kristal bening sehingga Furqon tidak berani bertanya apapun.
Mobil Toyota Alpard putih yang dikendarai Furqon berjalan membelah jalanan kota Yogyakarta hingga akhirnya memasuki kawasan Nglipar, Gunung Kidul. Kendaraan roda empat itu berhenti di sebuah rumah loji dengan nuansa kejawen yang halamannya begitu asri karena ditumbuhi beraneka macam bunga. Furqon memarkir mobilnya di bawah pohon mangga yang rindang.
Seorang wanita paruh baya keluar dari pintu depan rumah menyambut kedatangan mereka. Ternyata Nabila sudah memberitahukan kedatangan mereka.
"Assalamualaikum, Bu Lek," ucap Nabila sembari mengulurkan tangan, menjabat dan mencium punggung tangan wanita paruh baya itu.
Assalamualaikum." Furqon dan Syifa juga mengucapkan salam.
"Waalaikumsalam. Furqon, Syifa, ayo silahkan masuk," ajak wanita yang dipanggil Bu Lek itu. Syifa menjabat tangan wanita paruh baya itu, sementara Furqon menelangkupkan kedua tangannya.
Nabila langsung masuk membawa kopernya sementara Syifa dan Furqon duduk di teras.
"Ayo diminum dulu, habis perjalanan pasti haus," ucap Yuli sembari mengangsurkan dua gelas es teh kepada Furqon dan Syifa.
"Wah kebetulan banget, Bu lek, saya haus banget pingin yang seger-seger,'" ucap Furqon, lalu meminum es teh itu hingga setengah gelas. Begitu juga Syifa.
"Bagaimana kabar Abah Kiai dan Bu Nyai, Fur? Sehat?" tanya Yuli sembari duduk di depan keduanya.
"Alhamdulilah, Abah dan Umi sehat, Bu Lek. Oh iya. Paman Andi di mana?" Furqon menanyakan keberadaan suami Yuli.
"Kalau jam segini ya masih di kedai. Sebentar aku panggilkan, ya," ucap Yuli sembari beranjak dari duduk.
"Eh, nggak usah, Bu Lek. Biar saya ke kedai saja menemui beliau," cegah Furqon.
"Iya, Bu Lek, sekalian saya mau jalan-jalan sebentar ke danau. Mumpung sampai di sini," sahut Syifa senang.
"Oalah, ya sudah kalau begitu. Mau jalan kaki apa bawa mobil?" tanya Yuli.
"Jalan saja, Bu Lek. Sekalian olah raga," jawab Syifa bersemangat. Sudah beberapa bulan terakhir ini mereka memang tidak sempat refresing karena kepadatan jadwal di pesantren. Jadi, mumpung mengantar Nabila, Syifa tidak ingin menyia-nyiakan waktu menikmati keindahan alam Gunung Kidul.
"Ya sudah kalian duluan, ya. Nanti Bu Lek dan Nabila nyusul," ucap Yuli. Furqon dan Syifa mengangguk, lalu keduanya berjalan menuju kedai yang ada di dekat pintu masuk danau.
"Dek, kamu mau ke mana?" tanya Furqon saat Syifa tidak membelok ke arah kedai tempat Andi, suami Yuli membuka usaha.
"Aku mau jalan-jalan dulu, Kak. Kakak ke kedai saja dulu ngobrol sama Paman Andi," balas Syifa.
"Ya sudah terserah kamu," ucap Furqon sembari berjalan menuju kedai, sedangkan Syifa memasuki jalan menuju danau. Gadis itu tampak senang bisa jalan-jalan menikmati keindahan danau. Meskipun matahari mulai meninggi, tetapi cuaca di sana tidak terasa panas. Angin bertiup sepoi-sepoi membuat jilbab syari yang dipakai Syifa berayun-ayun mengikuti angin.
Gadis itu berlari-lari menuju tepi danau sambil sesekali mengabadikan keindahan alam di sana melalui kamera ponselnya. Beberapa pengunjung sudah mulai berdatangan, tetapi tidak begitu banyak karena hari kerja. Saat berada di tepi danau dan hendak mengabadikan ketenangan air danau, tiba-tiba kaki Syifa tergelincir. Tubuh ramping putri Kiai Iskandar itu hampir saja terhuyung jatuh ke danau. Namun, tangan seseorang tiba-tiba menahan pergelangan tangan Syifa.
"Astaghfirulloh," ucap Syifa spontan. Gadis itu memegangi dadanya yang berdebar kencang karena terkejut hendak jatuh ke danau.
"Hati-hati, Mbak. Jangan terlalu ke pinggir," ucap seseorang yang memegang pergelangan tangan Syifa.
Sejenak Syifa terhenyak menyadari pergelangan tangannya dipegang seorang lelaki asing. Lelaki bertubuh tinggi besar dan bercambang tipis dengan sebuah kamera terkalung di lehernya itu menarik tangan Syifa agar tidak terjatuh di danau. Saat menyadari hal itu Syifa segera melepaskan tangannya dari pegangan pria itu.
"Maaf, Mbak. Saya tidak bermaksud kurang ajar. Saya cuma ingin menolong," ucap lelaki itu saat menyadari kalau Syifa tipe gadis yang tidak mau disentuh lelaki lain.
"Eum, iya. Terima kasih, Mas." Syifa membuang pandangan saat lelaki itu menatapnya intens. Ada rasa tak nyaman karena kedua mata lelaki itu seolah begitu menikmati kecantikan wajahnya. Untuk sejenak, keduanya tenggelam dalam keheningan.
Suara dering telepon di ponsel Syifa memecah keheningan. Panggilan dari Furqon. Gadis itu segera menggeser tombol hijau di layar ponselnya.
***
"Ana, gue ke toilet dulu, ya," pamit Candy setelah mendapatkan chat dari Sultan.
"Gue temenin lo, Ndy. Takutnya lo nyasar gak bisa balik," tambah Sherly setelah mendapatkan kode dari Candy.
"Ya sudah. Jangan lama-lama," balas Ana tanpa rasa curiga. Dua gadis itu segera pergi meninggalkan Ana dan Dewa yang duduk d sudut kedai sambil menikmati indahnya pemandangan danau dari jendelanya.
Candy dan Sherly tidak benar-benar ke toilet, melainkan menemui Sultan yang masih di parkiran. Kedua gadis itu membulatkan kedua matanya saat Sultan memberikan kartu kredit milik Dewa kepada mereka.
"Di dekat sini ada Mall. Kalian naik taksi online aja dan belanja sepuasnya. Nanti balikin ke Dewa. Gue mau jalan-jalan ke danau buat ambil foto," ucap Sultan. Sahabat Dewa itu memang suka dengan dunia fotografi. Kemanapun dia pergi tak lupa membawa kamera. Kebetulan sekali Dewa mengajaknya ke danau. Jadi, dia bisa mengambil beberapa gambar sebagai tambahan koleksinya.
Sultan berpikir, daripada menemani Sherly dan Candy belanja, lebih baik dia menikmati keindahan alam danau. Toh kedua gadis matre itu bakal merasa bebas tanpa ada dirinya, asal kartu kredit no limit milik Dewa sudah ada di tangan mereka.
"Wah ... thanks banget, Tan. Tau banget lo kalau kami butuh shopping," balas Candy seraya menyahut kartu kredit itu dari tangan Sultan.
"Makasihnya ntar sama Dewa aja. Itu kartu kan punya dia. Ingat, jangan kalap kalau belanja," ucap Sultan membuat kedua gadis itu memutar bola matanya dangan malas. Lelaki bercambang tipis itu kemudian mengalungkan kamera di lehernya dan berjalan menuju danau. Sementara Candy dan Sherly segera memesan taksi online.
Sementara itu, di dalam Kedai, pandangan Ana berkali-kali menoleh ke arah lorong menuju toilet tempat dua sahabatnya terakhir kali terlihat sebelum menghilang. Ana mulai tidak nyaman ditinggalkan berdua saja dengan Dewa.
"Candy dan Sherly mana, sih? Lama banget ke toilet," ucap Ana kesal. Gadis itu baru sadar kalau sedang dikerjai dua sahabatnya.
"Mungkin mereka sengaja ninggalin kita, Ana." Dewa pura-pura tidak tahu.
"Si Sultan juga ke mana? Kok pada ngilang sih," gerutu Ana sambil mengerucutkan bibirnya membuat Dewa menjadi gemas. Sebenarnya lelaki itu sudah lama menyukai Ana, hanya saja belum ada kesempatan untuk mendekati gadis itu.
"Sultan tadi bilang mau foto-foto pemandangan di sini. Elo tahu kan dia hobinya gitu," balas Dewa santai.
"Ih, sengaja nih mereka ninggalin kita berdua."
"Kita nikmati aja, Ana. Ya sudah kita makan dulu, terus nanti nyusul mereka jalan-jalan ke danau. Bagaimana?"
"Terserah kamu, deh."
Dewa memesan makanan, lalu keduanya makan sambil sesekali ngobrol. Dewa memang tipe cowok yang ramah dan pandai bicara, sehingga Ana merasa nyaman ngobrol dan membahas berbagai macam hal.
"Ana, eum gue pingin ngomong sesuatu. Tapi lo jangan marah, ya," ucap Dewa setelah keduanya selesai makan.
"Ngomong aja, Wa. Dari tadi kita juga udah ngobrol," balas Ana. lalu menyesap jus jeruk di hadapannya.
"Ana, eum ... gimana ngomongnya, ya?" Dewa menggaruk tengkuknya yang tidak gatal untuk menghilangkan grogi.
"Mau ngomong apa, sih?" Ana jadi penasaran. Tiba-tiba tangan Dewa memegang tangan Ana membuat gadis itu terkejut dan salah tingkah.
"Ana, sebenarnya gue sayang sama lo. Gue ... gue dah lama memendam perasaan ini. Gue ingin lo jadi pacar gue. Lo mau, kan?" Pertanyaan Dewa membuat Ana sontak melebarkan kedua matanya. Gadis itu tidak menampik pesona seorang Dewangga Pratama Putra. Anak salah satu konglomerat terkemuka di Yogyakarta yang tajir melintir. Ketampanan wajah lelaki itu pun diatas rata-rata dan menjadi idola cewek-cewek di kampus Universitas Atma Jaya.
Ana sama sekali tidak menyangka kalau lelaki itu menaruh hati kepadanya. Namun, gadis itu juga tidak ingin terlalu terbuai dengan ucapan Dewa, karena cowok itu terkenal playboy.
"Lo serius, Wa? Bukannya gue gak percaya, tetapi cewek lo kan banyak. Gue gak mau kalau cuma jadi salah satu korban elo," balas Ana sambil tertawa kecil menutupi keterkejutannya.
"Kalau elo mau jadi pacar gue, gue bakal putusin mereka semua dan setia hanya sama elo. Gue cinta sama elo, Ana," ucap Dewa serius sambil meremas tangan Ana. Mendengar itu tubuh Ana meremang. Gadis itu melihat kesungguhan di mata Dewa. Namun, seketika Ana teringat bahwa saat ini dirinya sudah terikat pernikahan dengan Furqon.
"Gimana, An. Elo mau kan jadi pacar gue?" Pertanyaan Dewa membuyarkan lamunan Ana. Sejenak gadis itu terdiam dalam kebimbangan. Sementara Dewa semakin mempererat pegangan tangannya.
"Apa yang kamu lakukan di sini, Ana?" Suara bariton seorang lelaki sontak membuat Ana menoleh. Reflek, gadis itu melepaskan genggaman tangan Dewa pada tangannya.