Seorang lelaki tampan bertubuh tinggi besar tampak sibuk membidik pemandangan indah di danau dengan kameranya. Sesekali lelaki itu tersenyum puas melihat hasil jepretannya. Namun, tiba-tiba pandangannya terfokus pada seorang gadis yang memakai dress warna hitam dengan jilbab lebar bermotif bunga-bunga berjalan sendirian menuju tepian danau.
"Cantik," gumam lelaki yang tidak lain adalah Sultan itu. Berkali-kali sahabat Dewa itu membidikkan kameranya ke arah gadis yang telah menyita perhatiannya itu sambil sesekali tersenyum melihat foto hasil bidikannya.
Sultan berjalan mendekat, mengikis jarak dengan gadis itu. Namun, saat jarak mereka sudah sangat dekat, tiba-tiba kaki gadis itu tergelincir dan hampir terjatuh ke danau. Untung saja tangan Sultan reflek menangkap pergelangan tangan gadis itu, lalu menariknya agar tidak jatuh.
"Maaf, Mbak. Saya tidak bermaksud kurang ajar. Saya hanya ingin menolong," ucap Sultan saat gadis itu melepaskan pegangan tangannya.
"Iya, Mas. Terima kasih," sahutnya singkat sembari membuang pandangan dari Sultan. Namun, dasar Sultan tak tahu diri, dia malah menatap intens gadis di depannya tanpa berkedip membuat gadis itu salah tingkah. Beberapa saat keduanya terjebak dalam kebisuan, hingga dering ponsel gadis itu memecah keheningan.
"Assalamualaikum, Kak. Pulang? Kenapa buru-buru? Kita kan baru sampai. Baiklah, waalaikumsalam," ucap gadis itu, lalu mengakhiri panggilan di ponselnya.
"Maaf, Mas. Saya permisi," pamit gadis itu kepada Sultan.
"Tunggu, Mbak," cegah Sultan membuat gadis itu menghentikan langkah dan berbalik.
"Saya Sultan, nama kamu siapa?" tanya Sultan sembari mengulurkan tangannya.
"Syifa." Gadis itu menelangkupkan kedua tangannya tanpa menyambut uluran tangan Sultan membuat lelaki itu salah tingkah dan kembali menarik tangannya.
"Maaf, Mas. Saya harus segera pulang. Kakak saya sudah menunggu. Assalamualaikum." Gadis yang ternyata adalah Syifa itu berbalik dan melangkah meninggalkan Sultan yang masih terkagum.
"Waalaikumsalam," balas Sultan sambil tersenyum. Tangannya kembali mengangkat kamera dan kembali membidikkannya ke arah Syifa.
"Cantik, anggun, salihah. Benar-benar bidadari dunia," gumam Sultan lirih. Pandangannya tidak lepas melihat sosok Syifa hingga tubuh ramping gadis itu menjauh dan tidak lagi tampak.
***
"Assalamualaikum, Paman Andi," sapa Furqon setelah sampai di Kedai tempat suami Yuli membuka usaha.
"Waalaikumsalam, Furqon. Masya Allah. Angin apa yang membawamu mengunjungi Paman, hmm," balas Andi sembari memeluk ustaz tampan itu. Lima tahun terakhir semenjak Zahira meninggal, Furqon sudah jarang mengunjungi lelaki paruh baya itu. Bukan karena tidak mau, tetapi kesibukan di pesantren membuatnya tidak bisa sering-sering berkunjung.
"Paman apa kabar?" tanya Furqon setelah menjabat tangan lelaki paruh baya itu.
"Alhamdulillah, sehat. Abah dan Umi kamu sehat juga, kan?"
"Alhamdulillah sehat, Paman. Tadi kebetulan saya mengantar Nabila ke sini. Mau menginap dua minggu di sini katanya," jelas Furqon.
"Hmm, iya ... iya. Kemarin Nabila sudah cerita, kok. Ayo masuk dulu mumpung belum banyak pengunjung. Jadi, kita bisa mengobrol sebentar," ajak Andi. Furqon mengangguk dan mengekor di belakang lelaki paruh baya itu memasuki kedai.
"Kamu berdua saja dengan Nabila?" tanya Andi dengan tatapan heran.
"Oh, tidak. Saya mengajak Syifa juga. Tetapi sekarang dia sedang ke danau," jawab Furqon. Andi pun menganggukkan kepala. Kedua lelaki beda generasi itu kemudian berbincang sembari menikmati makan.
Furqon mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru kedai yang tidak begitu ramai. Ada beberapa pengunjung yang kebetulan sedang makan di sana. Namun, kedua mata ustaz tampan itu membulat saat melihat sosok yang begitu dia kenal.
"Ana," gumamnya lirih. Kedua tangan Furqon mengepal dan rahangnya mengeras saat tahu Ana, istri kecilnya itu bolos kuliah dan malah pergi berdua bersama laki-laki. Kemarahan Furqon memuncak saat dia melihat lelaki itu meremas tangan istrinya, sedangkan Ana hanya diam dan tidak berusaha melarangnya.
"Paman, sepertinya saya harus segera pulang ke Sleman. Masih banyak hal yang harus saya kerjakan hari ini," pamit Furqon.
"Kok yo terburu-buru, Fur. Tapi ya gak papa lah. Kamu mau mampir saja Paman sudah senang. Titip salam untuk Abah dan Umi kamu, ya."
"Njih, Paman. Insya Allah. Saya pamit dulu, Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam." Ustaz tampan itu menjabat tangan Andi, lalu lelaki paruh baya itu kembali masuk ke dapur kedai. Sementara Furqon berjalan mendekati Ana yang sedang asyik berbincang dengan seorang lelaki yang ternyata adalah Dewa.
"Apa yang kamu lakukan di sini, Ana," tegur Furqon setelah mengikis jarak dengan Ana dan Dewa. Sontak kedua manusia beda gender itu menoleh ke arahnya.
Melihat siapa yang menegurnya, Ana reflek melepaskan genggaman tangan Dewa pada tangannya.
"U-ustaz ... kenapa Ustaz ada di sini?" tanya Ana gugup. Jantungnya tiba-tiba terpompa dua kali lebih cepat saat melihat kemarahan di wajah suaminya itu.
"Pulang sekarang juga," titah Furqon membuat Ana langsung berdiri dari duduknya. Gadis itu begitu sangat takut kalau Furqon akan menghukumnya. Hukuman yang sungguh mengerikan menurut Ana.
"Tunggu, Ana. Kita belum selesai bicara," cegah Dewa sembari meraih pergelangan tangan Ana. Hal itu tidak lepas dari pandangan Furqon dan membuatnya semakin murka. Menyadari hal tersebut, Ana segera melepaskan diri dari tangan Dewa.
"Sory, Wa. Gue harus balik ke pesantren sekarang," ucap Ana sembari beranjak.
"Tunggu, An. Siapa lelaki ini dan apa haknya memerintah elo?" Dewa masih tidak terima jika Ana meninggalkannya begitu saja. Apalagi dia belum mendapat jawaban dari gadis itu tentang ungkapan perasaannya tadi.
Mendengar pertanyaan Dewa, Furqon menatap sang istri dengan intens. Ustaz tampan itu ingin tahu apakah istri kecilnya ini akan mengakui dirinya sebagai suami di depan lelaki itu ataukah tidak. Sementara Ana bingung harus menjawab apa.
"Siapa dia, Ana? Kenapa kamu sepertinya takut sekali padanya?" tanya Dewa masih penasaran.
"Dia ... dia, ustaz gue. Iya, ustaz gue di pesantren. Udah, ya. Gue harus pulang sekarang. Makasih traktiran makannya," jawab Ana gugup, kemudian berlalu meninggalkan Dewa yang masih bengong. Sementara Furqon mengekor di belakang Ana dengan menahan amarah yang sudah menggunung.
Bisa-bisanya Ana tidak mengakui dirinya sebagai suami di depan lelaki itu. Apakah sebenarnya Ana memiliki hubungan spesial dengan lelaki itu? d**a Furqon dipenuhi kemarahan yang terkontaminasi dengan rasa cemburu. Lelaki itu kemudian menarik tangan Ana dan mengajaknya ke rumah Yuli, tempat dia memarkir mobil. Selama perjalanan, gadis itu hanya terdiam karena diliputi rasa takut. Sepertinya Furqon benar-benar murka.
"Masuk!" titah Furqon sembari membuka pintu mobil bagian depan. Ana hanya mengangguk dan mengikuti apa yang diperintahkan suaminya tanpa banyak berkata. Furqon kemudian menelepon Syifa untuk segera kembali.
"Bu Lek, saya harus pulang sekarang. Tiba-tiba ada acara mendadak di pesantren," pamit Furqon saat wanita paruh baya itu hendak menyusulnya ke Kedai. Ustaz tampan itu sengaja tidak mengajak Ana menemui Yuli agar masalahnya tidak melebar. Apalagi Furqon harus menjaga perasaan Nabila.
"Oalah, kok yo buru-buru to, Fur. Ya sudah kalau gitu hati-hati, ya. Salam buat Abah Kiai dan Bu Nyai," balas Yuli.
"Insya Allah, Bu Lek. Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam."
Furqon segera kembali ke mobil, bertepatan dengan itu Syifa datang. Gadis itu kemudian berpamitan pada Yuli dan Nabila yang masih di dapur, lalu mengikuti Furqon ke mobil.
"Lhoh kok ada Ana di sini?" tanya Syifa heran. Gadis itu urung masuk pintu depan karena sudah ada Ana duduk di situ. Melihat Furqon dan Ana kompak terdiam, Syifa pun tidak bertanya lagi. Gadis itu kemudian masuk dan duduk di jok belakang.
Mobil Toyota Alpard putih yang dikendarai Furqon meluncur meninggalkan kawasan Nglipar menuju pesantren Al Falah. Wajah Furqon terlihat merah padam menahan amarah sedangkan Ana terlihat begitu takut. Syifa berusaha mengabaikan suasana itu. Gadis itu yakin sudah terjadi sesuatu diantara keduanya. Namun, Syifa tidak ingin ikut campur.
Suasana di dalam mobil hening, hingga kendaraan roda empat itu memasuki area pesantren Al Falah. Tanpa berkata sepatah kata pun, Furqon turun dari mobil dan berjalan menuju kediaman Kiai Iskandar. Sementara Ana belum beranjak dari duduknya. Gadis itu membayangkan hukuman yang akan dia terima dari suami kanebo keringnya itu. Apalagi Furqon terlihat sangat marah membuat Ana takut untuk pulang.
"Ana, kamu tidak turun?" tanya Syifa membuyarkan lamunan Ana.
"Apapun masalah kamu dengan Kak Furqon, segera selesaikan. Mulai sekarang kamu harus berfikir dewasa. Kamu sudah jadi seorang istri," tutur Syifa sebelum meninggalkan Ana. Gadis itu benar-benar tidak ingin ikut campur urusan keduanya.
Dengan d**a yang bergemuruh, Ana turun dari mobil dan melangkah menuju rumah mertuanya. Baru kali ini dia benar-benar takut pada hukuman Furqon. Apakah kali ini kanebo kering dari kutub itu akan benar-benar melaksanakan tugas sebagai suami terhadapnya? Ah, membayangkannya saja Ana sudah ngeri. Gadis itu tidak menyangka akan melepas kegadisannya hari ini.
Ana memasuki kamar dan mendapati Furqon sedang berdiri di depan jendela kamar sambil melihat ke luar. Lelaki itu sama sekali tidak menoleh meskipun mendengar Ana sudah masuk kamar.
"Kunci pintunya," titah Furqon membuat jantung Ana hampir melompat. Apa mungkin kanebo kering dari kutub itu akan melakukannya di siang hari seperti ini?