"Tan, kita pulang sekarang," ucap Dewa lewat sambungan telepon membuat Sultan yang tadinya masih asyik mengambil gambar dengan kameranya berdecih kesal. Namun, lelaki bertubuh tinggi besar itu tidak bisa berbuat apa-apa selain menuruti kemauan sahabatnya.
"Ke mana dua kurcaci itu?" tanya Dewa saat Sultan sudah duduk di samping kemudi mobilnya.
"Kan lo tadi yang suruh mereka belanja. Ya pasti mereka masih di Mall lah," jawab Sultan enteng. Dewa langsung mengambil ponselnya dan menekan nomor Candy.
"Halo, Wa. Ada apa?" tanya Candy dari seberang telepon.
"Cepat selesaikan belanja kalian, gue tunggu di depan Mall."
"Tapi, Wa--" Dewa memutus sambungan telepon lalu menjalankan mobil Ferrari merah miliknya dengan kecepatan tinggi menuju Mall tempat Candy dan Sherly belanja.
"Apa yang terjadi, sih? Kenapa elo uring-uringan begini? Bukannya tadi lo mau makan berdua saja dengan Ana. Lo mau nembak dia, kan? Terus sekarang Ananya mana?" tanya Sultan yang heran dengan sikap Dewa yang tiba-tiba marah gak jelas.
"Diem, jangan bawel," balas Dewa sembari fokus menyetir.
"Ana nolak elo, ya?" tebak Sultan.
"Gue ditolak cewek? Gak ada dalam sejarah, ya. Gue pastikan Ana akan jadi pacar gue," tegas Dewa.
"Terus masalahnya apa?" Sultan masih tidak mengerti.
"Lelaki itu memaksa Ana pulang sebelum dia jawab perasaan gue. Yang bikin gue kesal, Ana nurut banget sama dia, semacam takut," jelas Dewa.
"Lelaki itu siapa maksud lo?"
"Ustaznya Ana?"
"Ustaznya Ana? Kenapa dia bisa ada di sini? Apa dia buntuti kita?"
"Bisa jadi. Makanya gue butuh informasi dari Candy dan Sherly tentang lelaki itu. Kenapa Ana bisa sangat takut padanya." Dewa menyunggar kasar rambutnya. Rasa kesal terhadap Furqon yang membawa Ana pergi membuat d**a lelaki itu kembang kempis menahan amarah.
Tak berapa lama kemudian, mobil Ferrari Merah milik Dewa sudah berhenti di depan Mall. Dua gadis yang menenteng beberapa paper bag sudah menunggu mereka didekat parkiran. Keduanya langsung masuk di jok belakang begitu mobil berhenti.
Candy dan Sherly membutuhkan Dewa sebagai atm hidup bagi mereka, sehingga keduanya tidak mau membuat lelaki itu marah karena menunggu mereka terlalu lama. Setelah Dewa menelepon tadi, Candy dan Sherly langsung ke kasir untuk membayar belanjaan mereka. Tentu saja dengan kartu kredit milik Dewa.
"Nih, kartu lo, Wa. Makasih banget traktiran elo hari ini," ucap Candy seraya mengembalikan kartu kredit milik Dewa.
"Kapan-kapan kami juga gak nolak kalau dipinjami kartu ini lagi," sahut Sherly sambil tersenyum.
"Kalau kalian bisa bantuin gue jadian sama Ana, apapun yang kalian minta pasti gue kasih," balas Dewa sembari menerima kartu kredit dari tangan Candy.
"Beneran, Wa?" tanya Sherly memastikan.
"Kapan gue pernah bohong pada kalian?"
"Oke, deal. Kami bakal bantuin elo jadian sama Ana." Candy terlonjak senang. Dia yakin bakal bisa meyakinkan Ana untuk menerima Dewa.
"Oh iya ... ngomong-ngomong kalian tahu nggak, kenapa Ana sekarang tinggal di pesantren?" tanya Sultan yang masih penasaran.
"Oh itu kerena papinya yang memaksa. Pak Prabu akan mencabut semua fasilitas Ana jika dia tidak mau tinggal di pesantren. Makanya Ana terpaksa nurut," terang Sherly.
"Hmm, begitu, ya. Besok bilang sama Ana, gue bisa kasih semua, asalkan dia mau jadi cewek gue. Jadi, dia gak perlu tinggal di pesantren." Dewa tersenyum menyeringai. Sementara Candy dan Sherly mengangguk menyanggupi.
***
"Ustaz, eh maksudku, Mas. A-aku tahu aku salah. Aku sudah bolos kuliah. Aku menyesal. Aku minta maaf," ucap Ana setelah mengunci pintu. Furqon masih bergeming menghadap ke luar jendela kamarnya.
"Apakah ustaz akan menghukumku?" tanya Ana lagi. Mendengar pertanyaan Ana, Furqon membalikkan tubuhnya dan menghadap ke arah istri piyiknya yang tampak ketakutan.
"Jadi, kamu bolos kuliah dan mengaku salah?" tanya Furqon dengan tatapan tajam.
"I-iya," jawab Ana gugup.
"Terus kesalahan apa lagi yang kamu perbuat selain bolos kuliah, hmm?"
Ana terdiam. Dia tidak merasa melakukan kesalahan lain selain bolos kuliah.
"Tidak ada. Hanya itu," jawab Ana.
"Jadi, menurutmu pergi berdua dengan lelaki lain itu bukan kesalahan? Pegang-pegangan tangan dengan lelaki yang bukan mahram kamu itu juga bukan kesalahan? Satu lagi, tidak mengakui aku sebagai suami itu juga bukan kesalahan, hmm?"
"Maaf, Ustaz. Maksudku ... Mas. Aku belum siap mempublikasikan pernikahan kita pada teman-temanku. Aku butuh waktu. Lagi pula kami tidak pergi berdua. Tadi ada Candy, Sherly dan juga Sultan. Aku juga gak tau kenapa mereka bertiga tiba-tiba ngilang dan ninggalin aku berdua saja dengan Dewa."
"Oh, jadi namanya Dewa? Kamu takut orang bernama Dewa itu tahu kalau kita sudah menikah? Atau jangan-jangan kamu punya hubungan spesial dengannya. Benar begitu, hmm?"
Ana terdiam, Melihat kilat kemarahan di wajah Furqon, gadis itu tahu kalau suaminya sedang cemburu. Benarkan Furqon cemburu pada Dewa?
"Jawab pertanyaanku, Ana. Ada hubungan apa antara kamu dengan Dewa?" Furqon mencengkram kedua lengan Ana dan menatap gadis itu dengan intens membuat Ana menunduk. Gadis itu tampak berpikir, jawaban apa yang akan dia berikan pada Furqon. Sepertinya hari ini dia memang tidak akan lolos dari hukuman kanebo kering dari kutub itu.
"Aku menunggu jawabanmu, Ana," ulang Furqon penuh penekanan. Tangan ustaz tampan itu menarik dagu Ana sehingga gadis itu mendongakkan wajahnya. Tampak api cemburu berkobar di kedua mata Furqon. Hal ini membuat Ana memikirkan sesuatu hal yang gila.
"Aku dan Dewa ... kami, pacaran," jawab Ana bohong membuat Furqon terkejut. Sontak lelaki itu melepasan tangannya dari lengan Ana. Kedua tangannya mengepal kuat, wajahnya dipenuhi amarah mendengar jawaban Ana. Gadis itu benar-benar tidak menghargai ikatan pernikahan mereka.
"Mas marah? Mau menghukumku? Hukum saja. Aku sudah siap. Bukankah itu yang kamu inginkan selama ini? Dasar m***m," ucap Ana mulai berani. Gadis itu perlahan membuka jilbabnya dan membuangnya sembarangan, lalu membuka satu persatu kancing depan kemejanya membuat Furqon melebarkan kedua matanya. Ustaz tampan itu mencoba menetralkan pacu jantungnya yang semakin cepat.
"Ana, kamu--" Furqon mematung saat melihat Ana membuka baju atasnya hingga tersisa bra berwarna hitam yang menutupi bukit kembar miliknya yang kencang dan menantang. Ada apa dengan gadis ini? Kenapa tiba-tiba dia menjadi sedemikian liar?
"Lakukan sekarang, Mas. Ambil hak kamu sebagai suami atas tubuhku. Kamu boleh melakukan apapun. Aku tidak keberatan. Namun, setelah itu ceraikan aku. Kita akan akhiri semua ini. Aku akan keluar dari pesantren dan kembali pada Dewa." Furqon terkejut dangan apa yang barusan diucapkan Ana. Tiba-tiba otak ustaz tampan menjadi buntu.
"Astaghfirulloh, Ana. Kenapa kamu jadi seperti ini?" Furqon semakin terkejut, saat gadis itu mengikis jarak padanya hingga tubuh bagian atas Ana yang hanya berbalut bra menempel tanpa jarak pada Furqon.
"Mas bilang tidak akan menceraikan aku sebelum menikmati maduku. Sekarang, lakukan tugasmu, lalu ceraikan aku."