Satu kenyataan sudah Jevan kantongi, tinggal Jevan cari lebih dalam. Pria itu mendekati Haura dengan terang-terangan, tidak peduli dengan status Haura yang baru saja bercerai. Sayangnya Naren berkata jika Haura sedang sibuk dengan jadwal barunya. Kakak Haura itu juga mengatakan untuk tidak mengganggu adiknya.
Akhirnya ia lebih memilih untuk kembali tenggelam dalam pekerjaannya. Semua meeting dia babat habis, agar bisa bertemu dengan Haura.
Menurutnya sudah cukup satu minggu dia tidak mengganggu Haura atas saran Naren. Kini dia sudah tidak peduli lagi.
Bahkan sekertaris serta asisten pria itu mulai kuwalahan karena Jevan yang memajukan sekua jadwal hingga dua hari kedepan. Dia memang akan memberikan bonus, namun tetap saja kedua karyawannya menggerutu.
"Pak, ini semua laporan untuk hari ini. Bisa di cek," ucap Sekertarisnya.
Tanpa banyak bicara, Jevan langsung mengambil semua map itu dan menyuruh Sekertarisnya pergi. Matanya begitu fokus sampai kehadiran Hanan tidak di ketahui olehnya.
Hanan cukup hersn kenapa Jevan menjadi gila kerja seperti itu. Memang biasanya pria itu cukup gila kerja, tapi dia masih tahu dimana batasnya.
"Kamu sedang mengejar tander atau apa?" tanya Hanan sambil duduk di sofa.
Jevan langsung mengangkat pandangannya terkejut, "sejak kapan disini?" tanyanya.
"Sejak matamu tidak lepas dari kertas-kertas itu," jawab Hanan.
"Masih tidak mau menjawab?" tanya Hanan lagi.
"Aku akan mengejar adik Naren," jawab Jevan.
Hanan yang awalnya duduk santai sekerika langsung duduk tegak. "Apa!" teriaknya.
"Berisik Hanan," tegur Jevan.
Hanan tidak menanggaoi ucapan Jevan, pria itu sedang sibuk berpikir bagaimana, apa dan kapan Jevan bertemu dengan adik Naren. Sekitar 30 menit dia terus berpikir, hingga lampu diatas kepalanya menyala.
"Ada yang cinta pandangan pertama nih," goda Hanan.
Jevan merotasikan mata dan tetap fokus pada pekerjaannya. Temannya satu itu pasti akan menggodanya sebulan penuh setelah ini.
***
"Kak Sintia," panggil Haura.
"Ada apa Hau?" tanya Sintia mendekati Haura.
"Apa kita masih ada urusan dengan Pradipa Group?" tanya Haura.
Sintia mengerut bingung, "tidak. Semua sudah selesai saat itu juga. Kenapa?"
"CEO nya menghubungi terus menerus," jawab Haura.
"Sepertinya tidak ada yang memberikan nomor pribadimu," bingung Sintia.
Semua urusan pekerjaan memang akan masuk ke dalam handphone Sintia yang di khusukan untuk bekerja. Nomor pribadinya dan milik Haura tentu saja sangat rahasia.
"Dia tahu nomorku dari mana?" tanya Haura lagi.
Sintia menggelengkan kepalanya, wanita itu juga tidak tahu bagaimana nomor pribadi Haura bocor.
"Apa yang dia katakan?" tanya Sintia akhirnya.
"Dia meminta bertemu," jawab Haura.
"Temui saja, tapi dengan kakakmu." usul Sintia.
Haura tentu tidak setuju dengan usul Sintia, namun sebelum Haura menolak usulnya Sintia berkata, "dia kan tidak tahu jika kakakmu adalah Naren, bilang saja jika dia kekasih mu," usul Sintia lagi.
Sepertinya usul managernya itu boleh juga. Haura juga yakin jika kakaknya pasti mau membantunya.
"Jadi aku setuju untuk bertemu?" Sintia mengangguk.
Akhirnya Haura membalas oesan Jevan untuk bertemu. Di seberang, Jevan bahagia mendapat balasan pesan dari Haura. Bahkan Hanan yang sedang asik dengan gamenya terkejut mendengar pekikan Jevan.
'Ada apa lagi sekarang?" bingung Hanan.
***
Jevan pulang dengan senyum merekah, Nyonya Nadine sampai bingung melihat tingkah Jevan. Dengan langkah seribu, Nyonya Nadine segera mendekati Jevan. Menempelkan punggung tangannya pada dahi Jevan.
"Mama kenapa sih?" seru Jevan.
"Kamu sakit sayang?" tanya Nyonya Nadine.
"Sehat mah, Jevan sehat." jawab Jevan sambil berlalu dari hadapan mamanya.
"Benar sehat kan?" gumam Nyonya Nadine yang masih ragu.
Jevan segera melesat ke kamarnya dan segera membersihkan diri. Setelah itu Jevan langsung memakai pakaian santai dan pergi menemui ketiga sahabatnya. Hanan meminta mereka untuk berkumpul.
"Sekarang mau kemana lagi?" tanya Nyonya Nadine yang melihat Jevan sudah rapi dengan pakaian kasual.
"Mau bertemu Hanan dan yang lainnya," jawab Jevan.
***
"Bisa tidak kalau mengajak bertemu itu jangan mendadak? Aku sibuk!" sembur Rendy yang datang bersamaan dengan Naren.
Jevan sendiri yang datang tidak lama setelah Hanan diam saja. Hatinya sedang senang, jadi dia diam saja.
Rendy sendiri memang pada dasarnya emosinya gampang tersulut. Hanan yang mendapat teriakan tepat di telinganya, menutup matanya. Bukannya sakit hati, Hanan malah biasa saja dan tertawa kecil.
"Ada hot news! Aku tidak bisa mengatakan lewat pesan atau telepon," ucap Hanan exited.
"Ada apa?" tanya Naren kalem.
"Seorang Jevano Ezekiel Pradipa bisa gila karena wanita!" ucap Hanan sambil menggebrak meja.
Naren yang tahu siapa wanita yang di maksud, diam saja. Berbeda dengan Rendy yang langsung menoleh cepat kearah Jevan.
"Siapa?" tanya Rendy penasaran.
"Adik Naren! Bahkan mereka-akh!" Hanan tidak meneruskan ucapannya karena kakinya sudah di tendang oleh Jevan.
Hanan memberikan gestur oke pada Jevan, tanda dia tidak akan melanjutkan ucapannya.
"Apa yang akan kalian lakukan?" tanya Naren dengan mata memicing.
"Tidak ada," jawab Jevan
"Sebentar! Apa hanya aku yang tidak paham sekarang?" ucap Rendy.
Akhirnya mereka menjelaskan semuanya dari awal pada Rendy. Bahkan Naren pun ikut menjelaskan.
***
"Kak, kakak!" panggil Haura dengan berlari.
"Ada apa?" tanya Naren yang baru pulang berkumpul.
"Besok temani aku ya," pinta Haura.
"Kemana?" tanya Naren.
"Besok kakak akan tahu," Haura langsung berlari peegi setelah berbicara seperti itu.
"Ada dengan mereka? Apa Jevan sudah mendekati Haura?" bingung Naren.
Naren yang tadinya ingin bertanya pada Haura, jadi urung. Melihat adiknya yang tidak mau berbicara banyak padanya.
Haura yang berada di kamarnya mulai merebahkan diri. Wanita itu mulai membuka handphonenya dan drama Korea mulai di putar.
***
"Ini mau apa?" tanya Naren.
Haura tidak menjawab dan menarik tangan Naren semakin masuk ke dalam restoran. Naren berdecak malas karena tidak mendapatkan jawaban daei Haura.
Saat semakin masuk, Naren bisa melihat siluet Jevan disana. Sekarang pria itu tahu apa yang ingin dibicarakan oleh Hanan dan di hentikan oleh Jevan.
Padahal dia sudah bilang untuk tidak mendekati adiknya dulu, tapi dia lupa siapa yang dia beri peringatan. Naren menghela nafas lelah, sudahlah dia pasrah.
Dia juga ingin tahu apa yang ingin dilakukan oleh adiknya. Kenapa adiknya itu tidak mengatakan jika ingin bertemu dengan Jevan.
"Selamat malam, Tuan Jevano." salam Haura.
"Selamat malam," jawab Jevan.
Alis Jevan terangkat saat tahu Haura datang dengan Naren. Jevan langsung menoleh kearah Haura dengan pandangan bertanya.
"Maafkan saya, kekasih saya ingin ikut." sesal Haura.
Tawa kedua pria itu langsung keluar. Bagaimana bisa Haura berkata seperti itu pada mereka. Jevano mana bisa ikut bermain peran, kalo Naren mungkin bisa. Tapi masalahnya adalah kedua pria itu berteman baik dan sangat susah untuk menahan tawa.
"Kenapa kalian tertawa?" tanya Haura bingung.
"Jika ingin membohongi ku, pastikan jika pria yang ada di hadapanmu ini tidak berteman baik dengan kakakmu," ujar Jevan dengan tawa yang masih keluar.
Naren sendiri sudah duduk dengan memegangi perutnya. Perutnya terasa kaku karena kelakuan Haura.
"Jadi maksudnya?" tanya Haura dengan nada tidak percaya.
Hancur sudah. Jika seperti ini, sudah pasti Haura akan menjadi bulan-bulanan kakaknya. Juga, dia yakin jika Jevan akan semakin gencar sekarang. Dia bukan gadis bodoh yang tidak tahu alasan Jevan terus menghubunginya.
'Mampus!' batin Haura berteriak.
***
Continued