Chapter 5 - Mengetahui Siapa Haura

1121 Kata
Perbincangan tentang adik Naren masih terus berlanjut. Keempat pria itu asik berbicara tentang Naren sambil menghabiskan makanan pesanan mereka. Tanpa mereka sadari waktu berlalu dengan cepat, sudah saatnya mereka kembali ke perusahaan masing-masing dan bekerja kembali. "Kita sudahi dari sini," ucap Naren yang bangkit dari duduknya. Naren yang pertama bangkit dan pergi, lalu di susul Rendy, lalu terakhir Jevan dan Hanan yang keluar bersama. "Kemarin aku pergi ke High Class bersama Naren, lalu dia pergi dan membawa wanita pergi dari sana. Aku bahkan ditinggal begitu saja." ujar Hanan saat mengingat kembali momen malam itu. Naren yang mengajak malah pria itu yang pergi duluan. "Dia bilang bertemu adiknya saat di High Class dengan keadaan mabuk," kaget Jevan mendengar ucapan Hanan. "Jadi yang dia bawa waktu itu adiknya? Aku kira itu wanita incarannya. Aku kaget saat melihat dia mendekati aktris," lanjut Hanan. "Aktris? Adik Hanan aktris?" Hanan mengangguk sebagai jawaban dari Jevan. "Kamu tahu siapa adiknya? Kamu melihat wajahnya?" "Tentu saja. Aku kan ada disana. Adiknya itu aktris yang begitu terkenal 5 tahun lalu, Haura." beritahu Hanan. Mata Jevan membola, jadi aktris yang akan bekerjasama dengan perusahaannya adalah adik dari sahabatnya. Pantas saja Haura memiliki aura yang kuat dan mahal. Dia terlahir sebagai putri bungsu dari Bagaskara, keluarga dengan aura mahal yang tak terbantahkan. Pantas saja keluarga Bagaskara begitu menyembunyikan berliannya. Keselamatan wanita itu pasti akan menjadi incaran, apalagi dengan wajahnya yang begitu wah itu. "Kenapa begitu terkejut?" tanya Hanan sambil bersandar pada mobilnya. Mereka saat ini berada di tempat parkir dengan bersandar di mobil masing-masing. Hanan terheran melihat wajah kaget Jevan. "Model untuk pakaian kali ini adalah Haura, aktris yang baru saja kembali setelah 5 tahun." jawaban Jevan tentu saja mengejutkan Hanan. *** Jevano semakin tertarik mengetahui siapa Haura. Pria itu kini sudah berdiri melihat sesi pemotretan yang akan di lakukan oleh Haura. Semua set sudah terpasang dan hanya tinggal menunggu wanita itu selesai dengan make up dan pakaiannya. Jevan sendiri sudah lelah menanggapi pertanyaan dari karyawannya tentang kenapa dia berada disini. Tak sampai 15 menit Haura keluar dengan dress berbahan jatuh, tanpa lengan dan bagian belakang yang terekspos. Wanita itu begitu terlihat mahal layaknya wanita kaya yang sedang menghadiri pesta besar. Benar-benar pas dengan keinginan Jevan, pria itu terlihat puas saat melihat satu persatu sesi pemotretan. Semua pakaian yang akan launching begitu terlihat mewah dan mahal dalam balutan tubuh Haura. Wajah Jevan semakin terlihat puas saat melihat semua hasil pemotretan hari ini. Haura benar-benar menepati perkataannya yang mengatakan hanya akan butuh 1 hari untuk menyelesaikan semua pemotretan. "Perfect! She's perfect!" decak Jevan kagum. *** Haura sendiri di jemput sang kakak dari kantor Jevan. Wanita yang berjalan dengan manager dan juga salah satu karyawan dari Jevan langsung berlari saat melihat kakanya yang bersidekap d**a menantinya. Naren yang melihat adiknya berlari kearahnya segera bersiap menyambut pelukan adik satu-satunya itu. "Kakak kenapa datang?" tabya Haura di pelukan Naren. "Ini pertama kalinya kamu kembali bekerja, tentu saja kakak yang harus menjemput. Asal kamu tahu kakak harus bermain gunting batu kertas dengan papa agar bisa menjemputmu." ucap Naren memberikan sedikit informasi pada Haura. Wanita itu terkekeh geli saat tahu jika papanya juga ingin menjemputnya. Sedari dulu kedua pria itu akan bermain suit untuk menentukan siapa yang menjemput atau bermain bersama Haura. Mamanya lah yang mengusulkan karena sudah lelah melihat keduanya bertengkar. "Aku sudah besar, bukan anak kecil lagi. Mau sampai kapan kalian berebut seperti itu?" kekeh Haura. "Papa masih melihatmu sebagai bayi kecilnya dan kakak masih melihatmu sebagai gadis cilik yang terus mengekori ku dengan rambut berkuncir dua." jawab Naren. Keduanya masih dalam posisi berpelukan dengan Naren yang menggoyangkan badan ke kanan kiri. Sintia yang sudah terbiasa dengan sikap Naren saat bersama dengan Haura hanya tersenyum haru. Berbeda dengan karyawan Jevan yang terkejut, dia tentu siapa Naren karena sering ke kantor menemui bosnya. Dia menoleh kearah Sintia dengan pandangan bingung. "Mereka saudar sedarah," jawab Sintia menjawab kebingungan gadis di hadapannya. Jevan yang melihat dari kejauhan semakin yakin jika keduanya adalah adik kakak. Melihat bagaimana perlakuan sahabatnya yang berbeda sudah menjawab semuanya. "Ini akan semakin mudah," monolog Jevan. *** "Ada apa?" tanya Naren yang berkunjung ke mansion keluarga Pradipa atas undangan sang putra mahkota. "Ceritakan tentang Haura," lontar Jevan tiba-tiba. "Apa maksudmu?" bingung Naren. "Jangan mencoba untuk menyembunyikan lagi, Ren. Aku tahu jika aktris yang baru saja bekerja denganku adalah adikmu." urai Jevan. "Dari mana kamu tahu?" tanya Naren. "Hanan dan saat kamu menjemputnya di kantorku. Seorang Naren tidak akan pernah memperlalukan wanita semanis itu," beber Jevan. "Alasan apa yang membuatku harus mengatakan semuanya padamu?" tantang Naren. "Simple. Aku tertarik padanya," jawab Jevan enteng. "Bagaimana bisa? Seorang Jevano Ezekiel Pradipa tertarik pada adikku? Tidak mungkin!" ucap Naren tidak percaya. Dari keempat sekawan hanya Naren dan Jevan yang paling susah untuk jatuh hati. Maka dari itu mereka sampai sekarang masih sendirian. "Sayangnya kenyataan nya begitu," Naren masih tidak percaya dengan ucapan sahabatnya. "Ayolah, beritahu aku." paksa Jevan yang sudah jengah dengan wajah kaget Naren. "Sebentar biarkan aku mencerna ini semua. Aku masih terkejut bodoh!" sembur Naren Jevan berdecak dsn membiarkan temannya yang kelewat random menikmati keterkejutan yang di buatnya. *** "Apa yang kamu ingin kamu ketahui?" tanya Naren yang sudah hilang keterkejutan nya. "Apapun. Aku butuh banyak informasi tentangnya." Jevan menyerahkan pada Naren. "Dia janda, baru saja bercerai. Bahkan dia menghilang karena menikah dengan pria pilihannya." Naren memang sengaja mengatakan itu lebih awal, karena ingin tahu reaksi alami yang di keluarkan oleh Jevan. "Kapan menikah? Kenapa tidak mengundangku?" pertanyaan yang terlontar dari bibir Jevan membuat Naren terkejut. "Kamu tidak masalah?" tanya Naren. "Aku? Tidak. Selama alasan perceraiannya bukan karena kesalahan Haura aku tidak masalah." jawaban Jevan benar-benar di luar prediksi Naren. "Kalau kamu tidak masalah, aku bisa apa. Itu hal terpenting yang harus kamu tahu, sisanya tergantung keberuntungan mu." ujar Naren. "Apa akan susah?" pesimis Jevan. "Kalau dulu sih tidak. Tapi kalau sekarang sepertinya akan susah. Dia baru saja bercerai dengan pria gila dan tidak tahu diri," emosi Naren mulai keluar saat mengingat tentan Syaril. "Aku tidak akan bertanya lagi. Aku akan mendapat semua jawaban dari Haura saja, tenangkan dirimu." Jevan segera berbicara seperti itu untuk menahan kemarahan Naren yang tiba-tiba melonjak tinggi. Sekarang Jevan jadi ingin tahu apa yang terjadi dengan runah tangga Haura, kenapa bisa sampai berujung perceraian. Melihat siapa keluarga wanita itu, tentu saja tidak mungkin ada perceraian. Naren juga tidak akan emosi seperti ini jika pria itu tidak membuat kesalahan fatal. Naren adalah pria yang jarang memperlihatkan emosinya secara gamblang. Perlu pancingan agar emosi pria itu keluar, biasanya Hanan lah yang bisa memicu emosi Naren. Kini hanya karena orang yang tidak diketahui namanya oleh Jevan, mampu membuat pria itu kebakaran jenggot. 'Apa yang sudah pria itu lakukan pada Haura? Kenapa bisa emosi Naren sampai seperti ini hanya karena membicarakannya?' batin Jevan berbicara. *** Continued
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN