"Tuan?"
"Ada apa?" tanya Jevano.
"Pihak mereka sudah mengirimkan model yang kita mau. Dia aktris yang baru saja kembali," beritahu sekertarisnya.
"Baru kembali? Apa maksudmu?" tanya Jevano tidak senang.
"Aktris itu baru saja akan kembali kedunia keartisan setelah rehat selama 5 tahun," sekertaris pria itu sudah mulai merasa hawa tidak enak keluar dari bosnya.
"Apa mereka gila! Bahkan yang mereka kirim beberapa waktu yang lalu saja membuatku sakit kepala. Apa mereka yakin jika wanita pekerjaannya bisa memuaskan?" tanya Jevano berang.
"Saya tidak tahu, tuan. Tapi saat menghubungi saya mereka terdengar begitu yakin,"
"Pergilah!" ujar Jevano.
Produk miliknya harus segera di keluarkan, tapi tidak ada model yang cocok, aktris dan model sudah dia coba satu-satu, hasilnya pakaian yang dia buat terlihat biasa saja dan tidak spesial.
"Pria tua itu memang berniat bekerja sama denganku atau tidak sih!" sebal Jevano.
***
Jevano Ezekiel Pradipa, pria berusia 31 tahun itu adalah pemilik Pradipa Group yang bergerak di berbagai bidang, mulai pakaian, barang rumah tangga, Mall dan investasi. Pria itu baru saja mewarisi perusahaan raksasa itu sekitar 3 tahun yang lalu setelah papanya memberikan banyak sekali ujian padanya.
Setelah menjabat sebagai pimpinan semakin banyak orang yang menginginkannya sebagai menantu. Karena di usianya yang sudah matang, Jevano masih sendiri. Dia tidak pernah terlihat menggandeng perempuan.
Bahkan mamanya sudah lelah untuk meminta putranya itu untuk segera mencari pendamping. Mamanya sudah lelah dengan gosip miring yang tidak pernah lepas dari putranya. Jevano memang selalu membantah gosip itu, namun tetap saja, sebagai ibu tentu saja merasa tidak tenang.
"Jika mama datang kemari bertanya tentang calon menantu mama, maka jawabannya tidak ada," ujar Jevano yang melihat mamanya memasuki ruangan miliknya.
Nyonya Nadine yang baru saja menginjak ruangan putranua berdecak tidak suka, "mama bahkan belum berbicara apapun padamu. Lagipula mama sudah bosan bertanya hal itu, terserah maumu saja. Mama malas." balas Nyonya Nadine.
Jevano memicing curiga, tidak biasanya mamanya itu menyerah. Mamanya yang Jevano tahu adalah orang yang pantang menyerah, wanita itu akan terus bertanya dan mencecar dirinya sampai keinginannya terpenuhi.
"Mama sedang tidak merencanakan sesuatu kan dari pasrahnya mama?" curiga Jevano.
"Jangan memandang mamamu dengan buruk," Nyonya Nadine sudah tidak ada tenaga lagi menghadapi Jevano. Wanita itu pasrah jika anaknya tidak mau menikah.
"Lalu ada apa mama kemari?" tanya Jevano.
Nyonya Nadine menunjukkan bekal yang ada di tangannya. Jevano mengangguk mengerti, mamanya pasti baru saja memberikan hal serupa pada adiknya, Jiandra Astine Pradipa. Mamanya memang selalu memastikan keluarganya makan dengan teratur.
Tak jarang dulu semasa sekolah Jevano dan Jiandra selalu membawa bekal dari rumah. Mamanya itu hanya membiarkan mereka tidak membawa bekal seminggu dua kali. Awalnya Jevano maupun Jiandra malu membawanya, mereka merasa sudah besar dan tidak perlu membawa bekal. Tapi ucapan ibu negara tentu tidak ada yang bisa menentang, bahkan papanya saja yang ke kantor dibawakan.
Adik Jevano satu-satunya itu kini bekerja di salah satu anak cabang Pradipa Group. Jiandra di wajibkan membuat laporan yang langsung di presentasikan tepat di depan sang kakak, itu adalah aturan yang di buat oleh Tuan Vraka Geraldo Pradipa selaku ayah mereka.
"Minggu ini pulanglah kerumah, Jian mengatakan ada yang ingin dia kenalkan," ucap Nyonya Nadine.
Wajah Jevano sudah tidak enak di pandang, wajahnya sudah memberengut sebal. Nyonya Nadine yamg tahu hanya menghela nafas.
"Adikmu hanya mengenalkan pasangannya, mama dan papa tidak menuntut mu juga." nada kesal Nyonya Nadine langsung keluar.
"Iya iya," jawab Jevano pasrah.
***
Dua hari setelahnya Jevano bertemu dengan aktris yang akan bekerjasama dengannya. Haura datang tepat pukul 10, sesuai janji.
Jevano berdiri dan menjabat tangan Haura. Mereka saling memperkenalkan diri masing-masing. Setalah itu mereka mulai membahas pekerjaan. Sekitar satu jam keduanya asik dengan konsep pemotretan dan beberapa ide yang keluar dari Haura yang di tanggapi antusias oleh Jevano.
Pandangan Jevano yang awalnya meremehkan Haura karena sudah lama menghilang, kini berubah. Wanita yang menghilang tanpa kabar dulu adalah seorang profesional di bidang pekerjaannya. Jika dia tahu wanita yang akan bekerjasama dengan dirinya adalah Haura tentu saja Jevano tidak akan berpikiran negatif.
Kali ini dia yakin jika Haura adalah model yang cocok untuk pakaiannya. Kesan mahal dan karisma Haura adalah daya tarik wanita itu. Semua barang yang di pakai Haura selalu habis terjual.
"Saya berharap banyak dari kerjasama ini," ucap Jevano sambil menjabat tangan Haura.
"Saya pun begitu Tuan Jevano," jawab Haura.
***
Jevano memanggil sekertaris nya untuk masuk ke dalam setelah Haura pergi. "Siapkan pemotretan dengan baik. Pastikan semuanya berjalan lancar, aku tidak mau ada yang kurang. Waktu launching sudah tidak banyak." perintah Jevano.
"Baik tuan," jawab sekertaris nya.
"Konfirmasi lagi tentang pakaian yang akan di pakai Haura dan juga ukuran wanita itu. Jangan sampai salah," Jevano kembali membuat perintah.
"Baik tuan," sekertarisnya hanya bisa mengiyakan semua perintah Jevano.
Setelah itu Jevano membuat gestur menyuruh sang sekertaris pergi. Mood pria itu hari ini cukup baik. Saat akan kembali bekerja dia mengingat ide yang dikeluarkan oleh Haura, dia merasa ide yang Haura berikan akan sangat membantu.
"Siapkan ruangan meeting untuk pukul 2 siang. Ada yang ingin saya bahas." ucap Jevano lewat intercom.
Sekertarisnya yang baru saja duduk langsung mendesah lelah. Wanita itu kadang jengkel dengan sikap Jevano yang suka memberi perintah terpisah. Apalagi jika pria itu dalam mood yang buruk, semuanya akan terkena getahnya.
***
"Moodmu terlihat cukup baik hari ini," ucap Naren yang baru saja datang.
Hari ini dua orang pria sukses itu sedang membuat janji makan bersama. Naren yang mengajak Jevano untuk keluar. Teman Jevano itu juga dalam suasana yang baik, makanya senyuman tidak luntur dari wajahnya.
"Pakaian terbaru perusahaanku akan segera launching dalam waktu dekat. Semua masalah sudah terselesaikan." beritahu Jevano senang
"Moodmu juga cukup bagus," ujar Jevano.
"Adikku pulang," jawab Naren
"Tunggu, adikmu? Si kuncir dua?" tanya Jevano.
Naren terkekeh lalu mengangguk. Dulu Jevano pernah bertemu adiknya yang masih sekolah dasar. Adiknya dulu memang suka sekali menguncir rambutnya menjadi dua. Haura sangat suka mengekori kemanapun Naren pergi, tapi dia tidak mau ada yang mengenalinya. Haura kecil adalah gadis pemalu, karena itu tidak ada satupun dari teman Naren yang tahu bagaimana wajah Haura dan namanya. Karena mereka selalu menyebut adik Naren itu sebagai kuncir dua.
"Bagaimana bisa?" ucap Rendy terkejut.
Rendy adalah salah satu sahabat Naren dan Jevano, ada satu lagi yang belum datang, yaitu Hanan. Mereka berempat berteman baik sejak mereka sekolah dasar.
"Membuat terkejut saja," Jevano menepuk punggung Rendy lumayan keras. Rendy meringis pelan, tepukan Jevano memang pelan namun bertenaga.
"Aku menemukannya sedang mabuk di High Class dan hampir di lecehkan," jawab Naren.
Kedua pria di hadapannya menganga. "Ada apa ini kenapa kalian begitu serius?" tanya Hanan yang baru datang.
"Adik Naren pulang," jawab Rendy.
Hanan yang terkejut hanya bisa menganga seperti kedua temannya yang lain. Tidak ada yang tidak tahu tentang kisah menghilangnya putri mahkota keluarga Bagaskara. Semua orang mungkin tidak tahu, tapi teman Naren tentu tahu.
"Bagaimana reaksi Om Gio?" tanya Hanan.
"Papa sudah tahu semuanya. Papa hanya meminta agar dia tidak mengulangi lagi." jawab Naren.
"Om Gio tidak marah? Sebuah keajaiban," heran Jevano.
Tuan besar Bagaskara itu terkenal sebagai pribadi yang kaku dan tegas, serta tidak menyukai kesalahan. Mereka tidak menyangka jika pria itu begitu lembut jika dengan putrinya.
"Papa bisa apa? Putrinya pulang saja papa sudah bersyukur. Papa mana mau membuat Hau kembali pergi." terang Naren.
"Hau? Nama adikmu Hau?" tanya Hanan.
Naren mengangguk. Pria itu lupa jika temannya tidak tahu nama adiknya, dirinya sendiri juga tidak pernah melafalkan nama adiknya di hadapan teman-temannya.
***
Continued