Chapter 3 - Kembali Pulang

1266 Kata
Mata Haura mulai membiasakan cahaya yang masuk ke retina. Wanita itu merasa tidak asing dengan ruangan yang di tempati nya. Matanya menatap seluruh oenjuru ruangan dengan mata yang menyipit. Setelah ingat, mata itu langsung membola lebar dan Haura langsung terduduk. "Tidak mungkin! Tidak mungkin!" serunya. Bagaimana bisa dia ada disini dan di ranjang ini? Bukannya dia semalam mabuk dengan managernya? Bagaimana bisa dia berada di kamar miliknya, tepatnya di rumah orangtuanya. Otak Haura sekarang tidak bisa di ajak berpikir. Haura mencoba mengais ingatannya kemarin malam yang berceceran. Hampir 10 menit berpikir akhirnya Haura mengingat semaunya. Dia mabuk dan ingin pulang, lalu saat akan pergi dia di hadang oleh p****************g dan kakaknya lah yang menolongnya. Kakaknya mengangkatnya layaknya karung beras lalu pria itu membawanya pulang. "Oh no! Apa yang harus aku lakukan? Aku belum siap bertemu mama dan papa!" seru Haura histeris. Keputusannya yang lalu membuatnya malu dan merasa bersalah pada keluarganya. Sekarang Haura sudah kalang kabut di atas ranjang. Sampai suara pintu membuatnya langsung duduk terdiam. Kakaknya masuk dengan setelan kerja dan tangan yang terlipat di depan d**a. Pria yang usianya berada dua tahun di atasnya itu memicingkan matanya. "Kakak," sapa Haura dengan nada gugup. "Sudah selesai dengan acara kaburnya?" tanya Narendra dengan nada datar. Haura langsung menundukkan kepalanya. Dia cukup takut jika Naren sudah memakai nada datar dan wajah yang datar. Kakaknya adalah orang yang hangat dan begitu memanjakannya, jika sudah tidak ada nada dan tatapan hangat, maka artinya kakaknya itu cukup kecewa dengan Haura. "Ma-maaf," ucap Haura terbata. "Maaf untuk yang mana? Kamu kabur karena tidak mau di kekang papa? Menyembunyikan kslau sudah mempunyai kekasih? Menikah diam-diam dengan kekasihmu dan tidak di perlakukan baik atau kini kamu bercerai dan kemarin mabuk-mabukan? Yang mana?" ucap Naren menjabarkan semua kesalahannya. Wanita itu cukup terkejut jika kakaknya tahu tentang kehidupannya. Rupanya memang benar jika dia tidak bisa menyembunyikan apapun dari keluarga nya. Mau kemanapun dia lari dan menyembunyikan jati dirinya, keluarganya pasti tahu kemana perginya. "Kakak tahu semuanya?" tanya Haura yang di balas tatapan tajam oleh Naren. "Bagaimana kamu bisa sebodoh itu Hau? Pria seperti itu mana bisa menjagamu seperti papa dan aku? Lihatlah hasil dari keinginanmu tanpa melibatkan kami?" tekan Naren. Haura tidak bisa membalas perkataan kakaknya dan terus menggumamkan kata maaf dengan air mata yang luruh. Naren yang tidak tega melihat adiknya menangis karena rasa bersalah, akhirnya memilih untuk mendekat dan merengkuh Haura dalam dekapan hangatnya. "Nanti jika kamu bertemu dan didekati laki-laki beritahu kakak atau papa lebih dulu. Biar tidak terjadi hal yang sama kembali. Papa dan mama sudah tahu semuanya, mereka menunggu mu untuk datang pada mereka. Tidak perlu menjelaskan, cukup minta maaf dan berjanjilah kamu tidak akan mengulangi hal yang sama." nasihat Naren. Haura mengangguk dalam pelukan kakaknya, wanita itu semakin masuk ke pelukan Naren. Rasa nyaman dan aman yang begitu dia rindukan, kini dia dapatkan lagi. "Bersihkan dirimu, pakaianmu masih tertawa rapi dan bersih di tempatnya," beritahu Naren. Pria itu akhirnya melepas pelukannya dan berlalu pergi dari kamar sang adik. Haura segera bangkit dan berjalan ke kamar mandi. *** Dengan langkah pelan Haura turun dari lantai dua, tadi pelayan di rumahnya memanggil dan memberitahu jika kedua orangtuanya dan kakaknya sudah menunggu di meja makan. Gio papa Haura dan Naren itu melihat putrinya dengan mata sendu. Karena terlalu ketat menjaga putrinya, membuat putri kesayangannya itu kabur dan menikahi pria yang tidak benar. Inez bangkit dari duduknya dan langsung memeluk putrinya. Betapa wanita baya itu merindukan putri kecilnya. Setelah acara meminta maaf dan menangis, kini keluarga yang baru saja berkumpul setelah lebih dari 5 tahun. Para pelayan merasakan hawa hidup dari mansion yang sudah lama mati. Bahkan tuan muda mereka yang biasanya hanya diam di ruang makan, kini terlihat mengobrol dengan senyum yang tidak pernah hilang. Gio tidak menyinggung sama sekali tentang suami putrinya, pria baya itu sudah tahu semua kelakuan pria bodoh itu. "Kamu kembali dengan pekerjaan lamamu?" tanya Inez. "Iya ma, aku merindukan jadwal padatku dengan Kak Sintia," jawab Haura. "Lakukan apa yang kamu mau, papa tidak akan memperketat lingkupmu," ucapan sang papa tentu saja membuat Haura senang. "Tapi kakak tetap akan mengawasimu," sela Naren. Haura mengangguk setuju. Lagipula kehidupan menjadi aktris bukanlah hal yang mudah. Di ikuti paparazi setiap hari dan beberapa penggemar fanatik, tentu membutuhkan penjagaan yang ketat. *** Kini Haura sudah berada di gedung perusahaan yang menaunginya. Setelah mengatakan hiatus dengan waktu yang tidak di tentukan, Haura menghilang begitu saja. Kini wanita itu tepat berdiri di depan bosnya. "Haura kamu kembali!" pekik bosnya senang. Tanbang emas nya telah pulang. Haura adalah aktris kebanggaannya, semua projek yang Haura kerjakan sudah pasti akan sukses dan bernilai fantastis. Karena itu saat Haura memutuskan hiatus, bosnya itu agak kecewa dengan keputusan Haura. Apalagi setelahnya wanita itu menghilang tidak ada kabar. "Aku kembali," ucap Haura. Haura kemudian di giring untuk duduk dan bosnya itu tersenyum cukup lebar. "Aku akan menyiapkan kembalimu dengan fantastis," "Tidak perlu," tolak Haura. "Aku ingin langsung berkarir saja. Tidak perlu mengadakan acara, cari saja pekerjaan yang cocok untukku." ucap Haura. "Kamu baru kembali setelah 5 tahun lebih, jadi aku merekomendasikan menjadi model. Bagaimana?" tawar bosnya. "Model?" tanya Haura. "Aku bukannya meragukan bakatmu, hanya saja ini sudah 5 tahun berlalu. Lebih baik kamu membiasakan diri kembali dengan kamera. Setelah kembalilah berakting seperti sebelumnya." Ucapan bosnya memang benar. Haura sudah terlalu lama tidak tampil di hadapan kamera, pasti ada sedikit kecanggungan nantinya. "Baiklah, dimana aku harus melakukannya?" setuju Haura. Bosnya aegera memberikan alamat sebuah perusahaan pada Haura. Bosnya juga menjelaskan jika perusahaan itu sedang membutuhkan model untuk pakaian terbaru milik mereka. Sebelumnya, perusahaan itu meminta di carikan aktris atau model yang pas untuk image mereka. Haura yang kembali tentu mencerahkan pikiran kusut sang bos. Semua model dan aktris miliknya di tolak oleh pemilik perusahaan karena merasa tidak cocok. Bosnya yakin jika Haura yang melakukan tentu saja tidak akan mengecewakan. Teman yang di minta adalah elegan classy, pada dasarnya membuat image dan gestur seperti itu cukup susah. Apa lagi perusahaan itu meminta yang memiliki bakat alami. "Aku ambil," setelah berbicara seperti itu Haura pamit pergi. Dia harus berbicara dengan managernya. *** "Apa yang akan kamu lakukan pada pria itu?" tanya Gio pada Naren. "Sedikit bermain dengan usahanya, aku rasa tidak masalah." jawab Naren. Ayah dan anak itu sedang dalam misi membuat mantan suami adiknya itu kapok karena bermain-main dengan keluarga Bagaskara. "Papa dulu sengaja tidak melakukannya karena takut adikmu hidup susah. Ternyata dia memang membuat adikmu susah. Pria itu hanya memberi uang untuk keperluan dapur dan biaya rumah, sisanya tidak ada sama sekali. 5 tahun adikmu tidak pernah membeli barang mewah, karena takut uang tabungannya habis." Gio menjelaskan semua yang terjadi pada Haura. Pria dua anak itu begitu geram dengan Syaril. Banyak mata-mata yang dia pasang di sekitar tempat tinggal putrinya. Kebanyakan tetangga Haura dulu adalah orang suruhan Gio. Bahkan ada dua pembantu disana yang juga orang-orang Gio. "Adikmu di tuduh mandul, apa mereka gila?" murka Gio. Tadi pagi saat dirinya baru saja sampai kantor, ada orangnya yang memberi laporan tentang Haura saat di rumah itu. Laporan itu agak telat karena wanita yang di pekerjakan Gio itu sibuk di runah Syaril. Apalagi dia akan keluar dari rumah itu dan kembali pada pekerjaannya yang sesungguhnya. "Di tuduh mandul, menghabiskan harta suaminya, tidak becus sampai suaminya selingkuh. Kedua orang itu terus berkata seperti itu. Bahkan si b******k itu tidak menyesal menyelingkuhi adikmu." beber Gio. Naren yang sedari tadi mendengar semuanya, tangannya mengepal erat. Emosinya sudah mencapai puncak. Rasanya dia ingin pergi kesana dan menghajar Syaril hingga tewas. Nyawanya bahkan tidak seberguna itu, pikir Naren. Pria itu memang tidak tahu detailnya, karena hanya orang papanya yang bisa masuk ke rumah itu. *** Continued
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN