Bab 7

1161 Kata
Maira pikir setelah dia mengatakan kepada Titin tentang jawaban dari lamaran Gus Renjuna. Hidupnya akan tenang sampai di sana, tidak disangka Gus Renjuna malah ingin datang membawa keluarganya ke rumah Maira dengan menanyakan alamat rumahnya yang ada di kota. Gus Renjuna justru berpikir kalau Maira mungkin ragu dengan keseriusannya. Hal itu malah membuat jantung Maira hampir copot ketika mendengar jawaban Gus Renjuna. "Yang benar saja?" "Kamu udah bilang kalau alasan aku karena kita gak cocok?" Tanya Maira masih tidak percaya, sembari mondar-mandir di depan Titin. "Sudah Titin sampaikan tidak ada lebih dan kurangnya. Mungkin memang Gus Renjuna begitu serius ingin meminang Nona Maira." "Tapi aku sama sekali gak ada kepikiran untuk menikah?" Maira gak bisa seperti ini, memang jalan terbaik dia harus bertemu langsung dengan Gus Renjuna. Bisa gila kalau Maira dihantui teror tentang jawaban dari lamaran Gus Renjuna untuknya. "Kita ke kampung kamu sekarang." Maira menyambar kunci mobilnya lalu mengenakan jaket kulit serta celana jeans. Rambutnya yang pendek bahkan potongannya mirip seperti potongan rambut lelaki, dibiarkan tergerai begitu saja. Perasaan Titin jadi tidak enak, karena Maira sudah turun tangan hendak menemui Gus Renjuna secara langsung. "Nona yakin ingin menolak Gus Renjuna?" "Yakinlah, memangnya apa yang membuatku ragu untuk menolaknya? Dia itu alim banget, gak cocok sama aku. Gak mau aku diatur-atur setelah menikah, apalagi dengan orang berlabel ustad." "Tapi Nona, Gus Renjuna adalah orang yang--" "Kalau dari hanya omongan orang, pasti akan selalu bagus. Image dia pasti akan bagus, dia anak kiyai pendiri pesantren Al-Kahfi kan? Gak mungkin dia punya image jelek. Justru aku menolaknya juga karena tau diri, kalau aku dan dia akan sulit bersama." "Nona terlalu cepat menyimpulkan, padahal belum mencoba memahami." "Titin kamu kok makin kurang ajar sama aku sih? Kenapa daritadi belanya si Ustad itu?" "Maaf ya non, tapi Titin bukannya mau membela. Hanya saja merasa sangat disayangkan keputusan Nona terlalu cepat." "Kata Bapak, jika ada orang yang datang melamarmu. Jangan langsung ditolak, karena ditolak adalah jawaban yang kurang bijak, begitu juga jangan langsung diterima, karena terlalu terburu-buru. Kenapa tidak memikirkannya lagi, lalu saling sedikit mengenal tapi tidak berpacaran." Mendengar ucapan Titin Maira terkekeh kecil. Kenapa sekarang dia merasa kalau Maira sedang sengaja menceramahi dirinya ya? Lagipula mau bagaimanapun ucapan Titin tentang Gus Renjuna. Tetap saja di mata Maira, Gus Renjuna tidak akan pernah cocok dengannya. "Titin jangan terlalu ikut campur urusan pribadiku. Walaupun aku udah nganggap kamu sebagai adik, tapi kamu harus tau batasan!" Tegas Maira. Maira semakin melajukan mobilnya dengan kecepatan kencang. Berharap kalau semua ini akan cepat berakhir. Tidak ingin berlarut-larut dalam permasalahan yang belum selesai. Titin tidak bersuara lagi karena Maira adalah orang yang keras kepala. Dia takut terlalu dalam menyinggung Maira meski Titin berusaha mengatakan yang benar. Sesampainya di sana Maira langsung masuk ke dalam wilayah pesantren, walau Titin sudah menahannya dengan mengatakan pada Maira kalau dia lebih dulu mengenakan kerudung "Kemarin aku gak pake biasa aja?" "Kita lewat belakang kemarin, dan banyak yang menyangka Titin bergandengan dengan pria yang bukan mahramnya. Jadi sekarang Nona pakai hijab dulu." "Gak bisa!" "Aku harus cepat-cepat bertemu Gus Renjuna." Karena Titin gak mau nanti Maira menanggung malu, Titin segera menarik Maira untuk kembali masuk ke dalam mobil. "Kita ke rumah Titin dulu." Pada akhirnya Maira memilih menyerah dan sekarang Titin memberikan kerudung yang sudah jadi, dengan potongan kain yang menutup bagian depan. "Aku gak mau pake ini." "Pake aja, kalau Titin kasi yang semacam hijab Titin, takutnya Nona tidak bisa pakai." "Kenapa seribet ini sih?" Gerutu Maira. Kemudian ketika dia keluar dari kamar Titin. Tampak kedua orang Titin begitu terkejut melihat Maira dengan penampilan barunya. "Masha Allah, ini Non Maira?" "Cantik sekali Nona Maira." "Beda sama yang tadi ya yah." "Betul bu." Maira akui dia masih punya rasa tersipu ketika Ayah dan Ibu Titin memujinya. Namun dengan cepat setelahnya dia pamit dan menarik Titin untuk membantunya menemui Renjuna. *** "Gus kapan-kapan ceritakan kami tentang syirah. Saya begitu suka dengan kisah-kisah sahabat Nabi, apalagi saat Gus Renjuna ceritakan tentang syirah perang badar." Salah seorang pemuda bernama Rahmat berceletuk ketika berjalan bersama dengan Gus Renjuna dan dua pemuda lainnya. Gus Renjuna hanya menarik kedua sudut bibirnya tipis ke atas. Matanya ikut menyipit, seakan turut senang jika memang apa yang dia sampaikan dipahami oleh orang yang mendengarkan. "Benar, syirah seperti ini seharusnya diajarkan kepada kami generasi milenial. Apalagi dengan belajar Syirah, kita bisa mengetahui banyak pelajaran dan semakin yakin akan iman kepada Allah SWT." "Alhamdulillah kalau begitu. Jika memang ada kesempatan, saya pasti akan menyampaikan lebih banyak tentang syirah. Kalau tidak mau menunggu saya, kalian bisa membaca langsung di buku atau sekarang menonton ceramah ustadz di Koutube." "Masha Allah, Gus Renjuna yang menyampaikan saja sudah membuat saya paham." Yusuf yang sedaritadi diam menimpali, "kalau dipikir-pikir, impostor sebenarnya di syirah perang badar itu Abu Sofyan. Kalau aja utusan Abu sofyan gak lebay mungkin aja kan perang badar itu tidak terjadi." Renjuna tersenyum, "itu semua sudah menjadi garis takdir akan ketetapan Allah yang maha kuasa. Bahkan Baginda Nabi Muhammad, sudah diberi pesan terlebih dahulu tentang hasil dari perang ini." "Subhanallah!" Tidak sengaja tatapannya menangkap sebuah mobil yang melaju ke arahnya. Kedua sudut bibir pria itu kembali terangkat ketika mengetahui siapa pemilik mobil tersebut. "Assalamu'alaikum Gus," sapa Titin dengan wajah tertunduk. "Waalaikumussalam warrohmatullahi wabarakatuh," balas keempat pemuda tersebut. Berbeda dengan Titin, Maira justru mengernyitkan dahinya ketika melihat Renjuna seakan ingin mengajak pria itu berduel secara adil di lapangan. "Alhamdulillah akhirnya yang saya tunggu datang." "Dih, jadi dari kemarin kamu nunggu saya?" Mendengar ucapan tidak sopan yang dilayangkan oleh Maira, membuat ketiga pemuda itu tampak geram dan hendak bersuara namun Gus Renjuna menahannya dengan gerakan tangan. "Ya Allah, jangan lupa kalau anda itu wanita. Bicaralah sopan jika diperlakukan dengan sopan, anda seperti orang yang tidak tau tata krama." Maira hendak kembali membalas, namun Renjuna segera menghentikannya dengan mengatakan, "mari kita bicara di rumah. Bawalah Titin sebagai orang yang menjaga kita dari perbuatan tercela." Maira mengangguk setuju seperti biasa, Maira dan Titin naik mobil sementara Renjuna berjalan kaki ditemani oleh ketiga pemuda yang tadi. "Astagfirullah, saya syok sekali gus. Gendeng lihat wanita seperti itu, tidak memiliki adab sama sekali." "Semoga segera diberi hidayah." "Sudah cukup sampai di sini, biarkan saya berbicara dengannya sesampai di rumah. Kalian jangan sampai menyebarkan masalah ini sehingga semua orang tau." "Baik Gus." Begitu sampai Maira dan Titin sudah duduk di Gazebo depan rumah. Ditemani Umi yang ternyata keluar dari rumah. "Ayu tenan jun, calon istrimu Ayu tenan," puji Uminya. Renjuna tidak membalas selain hanya menundukkan pandangan dan mendekat namun tidak lebih dari lim jengkal. Sebelumnya Gus Renjuna memberi salam. Pandangannya masih menunduk ke bawah, menjaga adab ketika berhadapan dengan lawan jenis. Saat Maira hendak bersuara, Gus Renjuna ternyata lebih dulu mencuri start. "Saya memilih kamu, atas petunjuk Allah kepada saya. Terlepas dari siapa kamu, dan bagaimana sikapmu, itu tugas saya nanti sebagai suami jika kamu memang setuju maka insyaallah semoga saya menjadi imam yang baik untukmu." Maira tertegun dengan perasaan aneh yang tiba-tiba menjalar di hatinya. Sungguh ini adalah euforia pertama yang dirasakan Maira setelah sekian lama.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN