Bab 8

1048 Kata
Perasaan Maira tergugah, apalagi mendengar nada serius yang diucapkan oleh Renjuna dihadapan umi dan juga Titin yang menjadi saksi bahwa Renjuna memang benar-benar mengatakan hal tersebut. Dihadapkan dengan dilema namun Maira pada akhirnya memilih untuk menyetujui proposal lamaran yang diajukan oleh Renjuna. Sekarang Maira mendadak gugup sendiri. Astaga, kenapa dia begitu gampang saat menyetujui lamaran Renjuna tadi? Titin malah tidak bisa menahan senyumnya, turut berbahagia karena sang majikan bisa menemukan sosok yang tepat. "Tadi aku bilang setuju?" Gumam Maira masih tidak percaya. Titin dengan cepat menganggukkan kepalanya, "itu benar, Nona setuju untuk menikah." "Astaga!" "Kenapa aku bisa langsung setuju sih?" Keluh Maira. Titin mengendikan bahunya, namun disisi lain dia sangat senang dengan kenyataan bahwa Maira setuju untuk menikah. Setidaknya Maira tidak akan kesepian lagi dan memiliki keluarga baru. Apalagi Umi adalah orang yang sangat mudah untuk diajak akrab. "Keluarga Renjuna besok dateng ya?" Karena Maira sudah setuju, maka Renjuna berniat secara resmi melamar Maira. Dia bertanya alamat Maira dan apakah minggu ini dia beserta keluarganya bisa datang berkunjung. "Bukan besok, tapi lusa Nona." "Aduh gawat!" Maira malah heboh sendiri dia segera menghubungi salah satu kakaknya terlebih dahulu, sebelum dia menghubungi sang Papa yang kini berada di dubai sana. Ketika Maira menghubungi sang Kakak pertama, malah tidak ada jawaban sama sekali. Maira yang tadinya gugup dan berdebar, mendadak kesal karena tidak ada respon. Kakak pertamanya, seorang pria yang kini menetap di belanda karena pekerjaan. Dia sudah punya dua keponakan dari kakak pertamanya, tapi Maira bahkan gak tau jenis kelamin dan juga nama keponakannya. "Ini yang aku sebelin kalau nyoba ngehubungin mereka. Tau sendiri mereka udah punya dunia masing-masing, kaya aku gak bisa lagi ikut gabung." "Nona tenang dulu," ucap Titin yang saat ini sudah berhasil menghubungi kakak kedua Maira. "Non, Tuan Hilman." Titin memberikan telepon itu kepada Maira. Terdengar suara sang kakak yang menanyakan perihal telepon dari Maira. Bukannya ditanya baik-baik, Kakaknya malah bertanya dengan nada tergesa-gesa. [Ada apa? Kamu masuk rumah sakit lagi?] Maira mendengus, "kenapa emang? Mau aku masuk rumah sakit lagi baru kalian dateng?" [Seriusan, Mas ada kerjaan ini. Kalau kamu bicarain hal gak penting Mas mau tutup] Maira menghela nafas, sebenarnya dia malas untuk mengatakannya pada Mas Hilman, tapi setidaknya Maira harus punya wali untuk menikah. "Maira mau nikah sebentar lagi, lusa keluarga calon suami Maira datang untuk melamar secara resmi," ucap Maira. Tidak terdengar respon di seberang sana. Hal itu membuat Maira semakin kesal karena sudah menduga hal ini akan terjadi. Mana mungkin mereka akan peduli pada Maira. [Kamu jangan bikin masalah lagi supaya Mas dateng ke sana ya? Kamu tau kan, kalau Mas itu sibuk] "Yang bikin masalah siapa? Sekalian kasih tau Papa kalau anak bungsunya mau nikah. Soalnya aku gak mungkin diwalikan sama Pak KUA, karena masih punya wali." [Kamu serius?] "Ada kedengaran Maira bercanda? Makanya Mas itu pulang kek, atau tinggal di sini. Kayanya kalau bukan acara penting begini, Mas Hilman, Mas Harto, sama Papa gak bakal inget kalau di Indonesia masih ada Maira." [Dek, kamu gak lagi becanda kan? Kamu masih kecil, kok cepet banget mau nikahnya?!] "Kak usiaku udah dua puluh tiga tahun, jadi udah cocok untuk nikah." Maira terkejut ketika sang Kakak malah mengira Maira masih tujuh belas tahun. Apa dia gak pernah sadar kalau mereka semua ninggalin Maira begitu lama. Tut. Sambungan terputus paksa karena Maira semakin malas mendengar keterkejutan mereka tentang mereka. Padahal di sini yang salah mereka, siapa suruh gak pernah dateng. "Non gak apa-apa?" "Gak apa-apa gimana? Ya marah lah! Mereka masih ngira aku anak SMA. Padahal aku udah lulus kuliah juga, mereka aja gak dateng pas aku wisuda." Maira gak bisa bohong kalau dia kecewa sama keluarganya. Dia selalu kesepian dan ketika acara besar seperti hari raya, ramadhan, atau pun idul adha. Mereka juga gak pernah dateng. "Mereka sebenarnya masih inget punya aku gak sih?" *** Keesokan paginya Maira dapat kabar kalau Papa sedang ada di pesawat menuju ke rumah. Begitu juga dengan Mas Hilman sekeluarga, mungkin cuma Mas Harto yang gak bisa datang. Maira tau dari Titin pas Titin dapet pesan dari Mas Hilman untuk membersihkan kamar Tuan besar, dan Kamar lainnya yang bisa digunakan. "Mereka jadi dateng?" "Nggih non, Tuan besar, Tuan Hilman sama keluarga juga datang." "Mas Harto?" Titin menggeleng pelan, Maira menghela nafas. Apa segitu bencinya Mas Harto sama Maira, karena Maira Mama meninggal? Maira memilih untuk tidak ambil pusing dan kembali tidur setelah sarapan. Tadi malam dia begadang untuk menyelesaikan lukisan, dia ingin melukiskan apa yang sedang dia rasakan. Gak butuh waktu lama sore harinya Papa sudah datang. Walau rasanya begitu canggung ketika pertama kali bertemu setelah sekian lama, setidaknya Maira bersyukur mereka masih mau datang. Begitu juga Mas Hilman yang datang setelah Papa datang. Ada Mbak Ara, istri Mas Hilman, sama Atika putri kecil mereka. "Mas kira kamu bercanda soal menikah itu." "Gak mungkin aku bercanda." "Soalnya kamu udah pernah bohong masalah kecelakaan, Mas takut banget." "Makanya Papa sama Mas, tinggal disini aja kenapa sih? Aku wisuda aja kalian gak dateng." Papa yang mendengar itu berdehem pelan, merasa tersinggung dengan ucapan putrinya. Tapi memang benar apa yang dikatakan Maira. "Papa ada tender besar waktu itu. Maafin dia karena gak dateng. Terus kamu tau sendiri, pas kamu Wisuda si Atika lahir," balas Mas Hilman seraya membela dirinya. Maira melirik Mbak Ara yang senyum canggung ke arah Maira. Maklum, mereka cuma saling nyapa sekilas itupun saat pernikahan di luar sana. Saat malam tiba Maira mendekati Papanya yang duduk bersandar menikmati istirahatnya menghadap kolam. "Pa, sebentar lagi Papa pasti seneng banget karena ngelepasin anak bungsu yang sering jadi beban dan udah bikin Mama meninggal." Maira tersenyum miris, "Maaf ya pa, mungkin kalau Maira gak lahir, Mama gak akan---" "Kamu bicara apa sih?" "Gak usah aneh-aneh, Papa pulang juga sebenarnya karena kangen rumah." "Ck, terus Papa gak kangen apa sama Maira?" "Kangen, tapi kamu mau diambil orang sebentar lagi." "Dih salah sendiri, siapa suruh ninggalin Maira lama banget." Mendengar jawaban skakmat dari Putrinya, Papa terdiam sejenak. Sepertinya sadar kalau apa yang dikatakan Maira memang benar. "Siapa calon kamu?" "Manusia," balas Maira. "Iya kalau itu Papa tau, maksud Papa bagaimana sih calon kamu, siapa namanya?" "Dia baik, alim, anak Pak Kiyai dan ngajar di pesantren di desa cangkringan. Namanya Renjuna." "Orang desa?" "Seenggaknya orang desa masih sering kumpul sama keluarga, gak kaya kita. Papa pulang aja karena tau anak perempuannya mau nikah."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN