Bab 9

1126 Kata
Hari ini keluarga Gus Renjuna akan datang. Titin sebagai perantara komunikasi antara pihak keluarga Renjuna dan juga Maira, mengabarkan tentang kedatangan Renjuna hari ini. Pihak keluarga Maira juga sudah menyiapkan beberapa hidangan dan ruang tengah yang disulap menjadi tempat berdiskusi dengan karpet tebal sebagai alas. Melihat itu semua pandangan Maira mendadak kosong. Dia tidak tau kenapa dia bisa secepat itu menerima pinangan dari Gus Renjuna. Dari awal dia pernah berpikir untuk tidak menikah. "Maira, kamu belum siap-siap juga?" Maira menoleh mendapati sang Kakak ipar yang kini tersenyum ke arahnya. Maira membalas senyuman sang Kakak ipar dan menjawab dengan gelengan. Belum ada hasrat ingin beranjak dari tempatnya. Masih ingin memantau persiapan yang sudah setengah rampung. "Ayo masuk ke dalam, nanti biar Mbak yang bantu kamu bersiap." "Gak usah Mbak, nanti Maira sendiri aja." "Nggak apa-apa, Mbak juga gak mungkin nyia-nyiain bakat untuk moles adik mbak kan?" Pada akhirnya Maira menuruti apa yang dikatakan oleh sang Kakak ipar. Dia ikut masuk ke dalam kamar dengan gamis baru yang dibeli kemarin sore di butik langganan keluarga. "Pake jilbab?" "Iya dong, masa gak?" "Apalagi calon mertua kamu itu Kiyai lho. Dan ternyata Papa tau nama Kiyai itu." "Pak Kiyai Mus." Mbak Ara tersenyum kemudian mulai memoles wajah Maira. Rambut dengan potongan pendek berusaha untuk dikuncir rapi, kemudian memasangkan dalaman jilbab. Sejenak Maira aneh menatap pantulan dirinya di kaca. Ini mungkin bukan yang pertama, tapi dengan segala dandanan di wajahnya, Maira merasa gak yakin kalau orang yang tengah duduk ini adalah dirinya. Sembari memoleskan make up, Mbak Ara sesekali bercerita. Tentang alasan dia sama Mas Hilman gak bisa pulang, padahal sebenarnya kalau bisa Mas sama Mbak tuh pengennya tinggal bareng di rumah ini. "Mas mu itu belum nemuin pengganti yang tepat untuk ngurus perusahaan di sana. Sayang kalau dibiarin, apalagi itu induk perusahaan, cabangnya masih sedikit. Mbak juga pernah bujuk sebenarnya, kalau bisa pindah cabang. Tapi kan gak bisa semudah itu," terang Mbak Ara. Maira menarik kedua sudut bibirnya tipis, "Gak apa-apa Mbak, selama ini orang yang cepet banget nerima telepon dan dateng kalau aku kenapa-napa itu Mas Hilman. Papa aja paling minta tolong sama orang suruhannya." "Tapi jujur, Mbak sama Masmu minta maaf kalau memang kami gak perhatian sama kamu. Mas mu itu juga sering khawatir sama kamu, tapi ya gitu. Terlalu gengsi buat sekedar nanyain kabar kamu, padahal Mbak sering marahin." Maira terkekeh pelan, "iya juga sih, Mas Hilman kan orangnya sok dingin, padahal hatinya hello kitty." "Nah kan, tau sendiri kamu mas Hilman gimana?" "Cuma ya kesel aja gitu, kenapa tiap di telepon selalu bilang sibuk. Ck, kenapa sih dia gak pernah peka kalau adeknya butuh kasih sayang. Gini aja, ngerasa mau kehilangan adeknya baru deh dateng terus sok-sokan nanyain masalah calon suami baik atau nggak," curhat Maira. Tanpa sadar Mbak Ara tersenyum. Kemarin memang merasa canggung karena baru pertama kali bertemu setelah sekian lama. Tapi kalau sekarang, karena waktu mereka kembali menjadi dekat. "Kamu ketemu sama calon suami kamu ini dimana?" "Awalnya Masmu itu lho misuh pas tau kamu mau menikah tapi gak ketahuan pernah pacaran." "Kenal di desa Cangkringan, tapi kayanya aku cuma tau gak pernah kenal. Dia tiba-tiba aja ngajak nikah." "Hah, seriusan?" "Terus kenapa kamu langsung terima?" Maira hanya diam, masih menjadi pertanyaan juga kenapa dia bisa menerima dengan gampang. Padahal Maira juga baru kenal Renjuna beberapa hari ini. Tok... Suara ketukan pintu yang berbunyi tiga kali membuat mereka menoleh ke arah pintu kamar. Tidak lama pintu terbuka dan tampak Mas Hilman mengintip dari balik pintu. "Rombongannya sudah mau dateng." "Masha Allah, dek tumben pakaian kamu sekarang bener. Jilbabpan terus, malah mas kira orang lain tadi." Maira mendengus sebal, "lagi muji apa lagi ngehina?" *** Keluarga Renjuna disambut dengan baik. Bahkan Papa Jaya, alias Papa kandung Maira, terlihat begitu semangat ketika menyambut rombongan calon suami, putri bungsunya. "Perjalanan ke sini lancar?" "Alhamdulillah, lancar." "Mari masuk, Maira ada di dalam bersama keluarga," sapa Papa Jaya ramah. Beberapa petugas event WO yang disewa keluarga Maira, sudah mengabadikan beberapa moment dimulai dari kedatangan sang calon mempelai, ditambah lagi sambutan oleh Pak Jaya. Sejenak Renjuna tertegun melihat bangunan mewah dihadapannya. Maha besar Allah atas segala karunianya. Lebih tertegun lagi ketika dia tidak sengaja melihat seorang wanita yang tampak begitu tidak asing. Umi sudah senyam-senyum di sampingnya. "Dia sekilas mirip laki-laki waktu kamu kenalkan, tapi setelah Umi lihat Masha Allah, Dia cantik sekali," bisik Umi. Renjuna hanya diam kemudian mulai duduk. Tidak jauh berbeda dengan Renjuna, ada Maira yang kini mendadak gugup. Bawaannya pengen masuk ke kamar mandi, buang air kecil. Dia tidak pernah segugup ini, kemudian dia mendengar suara Pak Kiyai yang mulai percakapan tentang pernikahan mereka. Jari jemari Maira ikut basah oleh keringat dingin. Tidak bisa dipungkiri kalau Maira begitu berdebar, walau rasa cinta ini belum muncul, tapi kenapa Renjuna bisa membuatnya masuk ke dalam gerbang cinta yang ingin Maira jauhi. Apalagi ketika sang Papa bertanya kepada Renjuna, kenapa ingin segera menikahi Maira? "Saya ingin menjauhi Zina, dan ingin menjadi imam yang baik untuk Maira," jawab Renjuna dengan senyum tulus. "Subhanallah," gumam Mas Hilman yang terdengar oleh Maira. "Apa kamu yakin bisa membahagiakan putri saya?" Belum selesai Papa Jaya bertanya tentang hal tersebut. Dia kembali melayangkan ucapan yang membuat Maira ingin menangis saat itu juga. "Karena dari dia remaja, saya sudah meninggalkannya sendirian. Saya sudah membiarkan dia kesepian, mengetahui ada yang ingin cepat mengambilnya dari saya ... Saya akui cukup sedih. Tapi saya sadar, kalau selama ini saya tidak menjadi Ayah yang baik untuk Putri saya. Maka saya berharap, dia bisa bertemu dengan pria yang mampu membahagiakannya dunia maupun akhirat." Maira menoleh ke arah sang Papa, matanya mendadak berkaca-kaca, karena dia tidak tau kalau Papanya begitu menyayangi dirinya. "Karena saya terbiasa mendidik anak laki-laki, maka ketika ibunda Maira tiada, saya malah kebingungan dan mendidik dia sama seperti saya mendidik kedua kakaknya." Maira memalingkan wajahnya karena bulir bening itu sudah lolos dari matanya. Mbak Ara segera menarik Maira ke dalam pelukannya, karena ikut tersentuh dengan kata-kata sang Papa mertua. "Insya Allah, tapi saya berjanji jika itu bersangkutan dengan saya, maka saya akan membuat Maira bahagia semampu saya, dengan tetap dijalan sang pencipta. Namun jika suatu saat Allah yang berkehendak akan takdir kami berdua, saya akan tetap memasrahkan kepada yang maha kuasa." "Kenapa saya harus percaya dengan kata-katamu?" Tanya Papa Jaya. "Saya merasa sudah cukup mapan, walau jauh dari kata berada dalam materi lebih. Tapi insyaallah sebagai seorang suami kelak, saya bisa membahagiakan dan menjaga Putri bapak." Setelah itu Papa mendekat ke arah Renjuna, dan memeluk Renjuna seraya menepuk pelan punggungnya. Melihat adegan itu Maira entah kenapa tidak bisa menahan air matanya yang mengalir tanpa bisa dicegah. Begitu juga Mas Hilman yang kini menatap haru ke arah adiknya dan sang Papa secara bergantian. "Saya titip Maira, tolong jaga dan bimbing dia," bisik Pak Jaya kepada Renjuna setelah melepaskan pelukannya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN