Hari dan tanggal sudah ditetapkan. Tidak butuh waktu lama untuk persiapan, dengan keadaan keluarga Maira yang sangat berada semua persiapan hanya butuh waktu satu minggu.
Dan selama itu juga baik Renjuna dan juga Maira tidak pernah bertemu. Setelah akad, baru Renjuna diperkenankan bertemu dengan Maira.
Selama hari-hari sebelum hari - H. Di kediaman Renjuna, terlihat riweh dengan acara pengajian yang digelar satu pesantren.
Belum lagi persiapan keberangkatan Saka menuju Kairo untuk melanjutkan studi. Sekalian acaranya, kalau kata umi.
Kemarin Saka juga tidak bisa menemani keluarganya dalam acara lamaran Renjuna. Dia sibuk mengurus paspor dan segala macam perlengkapan, dan akan berangkat besok.
"Mas merasa bersalah sama kamu, karena Mas tidak bisa hadir di acara spesialmu."
Renjuna menarik kedua sudut bibirnya tipis, "tidak apa-apa mas, santai saja. Semoga penerbangan besok Allah berikan kelancaran dan selamat sampai tujuan."
Saka menganggukkan kepalanya pelan, "sebenarnya masih merasa tidak enak dengan Renjuna, apalagi Mas belum melihat calon Renjuna seperti apa?"
"Nanti kalau sempat, Mas Saka santai saja."
"Terus sekarang kamu mau pergi kemana?" Tanya Saka heran.
Dia melihat Renjuna sudah rapi dengan pakaian koko berwarna cokelat tua, lalu peci hitam yang sudah bertengger di atas kepalanya.
"Mau lanjut mengajar, sekarang ada jam di madrasah."
"Lho bukannya lagi ada acara di rumah?"
"Bisa dihandle sama umi, lagipula harus tetap bertanggung jawab dengan pekerjaan."
"Tapi acara ini juga punya kita."
Renjuna hanya membalas dengan kedua sudut bibir yang diangkat tipis, lalu tetap melangkah menjauhi sang Kakak. Ya mau bagaimana lagi, Renjuna tetap Renjuna, kalau emang punya tanggung jawab yang bisa dilakukan, maka dia akan melakukan sebisanya.
Saka menggeleng pelan melihat sang Adik yang mulai menaiki motor kesayangannya untuk pergi menjauh dari pekarangan rumah.
"Adekmu mana ka?"
Suara Umi membuatnya berbalik ke belakang, kemudian kekehan terdengar. Apalagi setelah Umi berhasil mendekat ke arahnya.
"Dia udah pergi tadi."
"Kemana?"
"Mengajar."
"Waladalah, dia bentar lagi mau nikah, di rumah ada acara tetep aja pergi mengajar."
Tentu kabar tentang Renjuna yang sebentar lagi menikah membuat para santriwati banyak yang patah hati. Sekaligus merasa heran, kenapa Renjuna tidak dijodohkan sesama anak kiyai.
Banyak santriwati yang membicarakan masalah itu, hingga tidak sadar kalau Renjuna sudah hendak masuk ke dalam kelas.
Seperti biasa Renjuna mengajar dengan tatapan datar, namun jika tersenyum maka itu akan menjadi senyum terlama.
Setelah Renjuna selesai mengajar dan hendak pamit, salah satu santriwati berceletuk tentang kabar pernikahan Renjuna.
"Ustadz, beneran lagi bentar mau menikah?"
"Iya ustadz, kami patah hati nih. Mana kami gak pernah denger Ustadz mau dijodohkan."
"Betul ustadz."
Panggilan Renjuna memang Ustadz karena ketika posisinya dia adalah pengajar, maka panggil dia dengan sebutan pengajar, jika diluar itu baru panggil seperti biasa.
Renjuna menarik kedua sudut bibirnya tipis, kemudian menggeleng pelan mendengar ucapan santriwati yang dia ajar.
"Insya Allah, doakan semoga prosesnya lancar."
"Makanya kalian jangan terlalu berharap pada manusia, jangan terlalu berkhayal!" Tambah Renjuna sengaja menyindir banyak santriwati.
"Aduh Ustadz mah, kalau bicara suka benar. Kami tertohok," sahut salah satu santri.
Renjuna terkekeh kemudian pamit setelah diberi salam. Renjuna pulang ke rumah dan mendapati Uminya berdiri dengan berkacak pinggang.
"Subhanallah, umi cariin daritadi ternyata pergi ngajar?"
"Nggih umi, Renjuna punya jam tadi."
Renjuna melirik ke adaan rumah yang sudah setengah sepi, kemudian melayangkan pertanyaannya kepada umi.
"Acaranya sudah selesai mi?"
"Menurut Renjuna?"
Renjuna menyengir, menampakkan satu gigi taringnya yang tampak manis. Kemudian mencium lembut punggung tangan sang umi.
"Maafin Renjuna umi."
"Kamu ini ya, sebentar lagi mau menikah. Keluyuran terus, undangan dari Abah aja Umi tolak buat bantuin acaranya."
Renjuna terkekeh, "Ya sudah, maafkan Renjuna ya umi. Besok Renjuna tidak ada jam mengajar jadi akan berada di sini seharian."
"Gak boleh bohong lho ya."
"Nggih umi, Renjuna ndak bohong."
Setelah itu Renjuna bisa lolos masuk ke dalam kamar untuk mengistirahatkan tubuhnya. Jendela kamarnya sengaja dibiarkan terbuka, menatap hamparan sawah yang luas ditambah suasana menjelang sore.
"Allahumma yassir, wala tu'asir."
***
Acara pernikahan itu digelar dengan sangat khidmat, penuh haru. Bahkan Maira sempat lupa dia ini menangis terharu karena apa? Perasaan sedih karena lepas tanggung jawab dari sang Papa, atau karena terharu dia bisa menikah secepat ini.
Titin ikut memeluknya dengan perasaan haru. Acara dilaksanakan di pesantren Al-Kahfi tanpa resepsi, karena ini permintaan dari Maira langsung.
Dia juga tidak punya banyak teman untuk menghadiri resepsinya, sementara sang Papa juga setuju-setuju saja asal Maira senang.
Kalau pihak keluarga Renjuna, hanya mengundang beberapa perwakilan dari pesantren lain yang ada di pulau jawa. Kemudian ada beberapa pejabat daerah yang datang.
Ketika Renjuna selesai mengucapkan ijab kabul, disanalah Maira keluar dengan digandeng Mbak Ara dan juga Titin.
Tangannya gemetar hebat ketika Renjuna menyentuh tangannya. Kemudian menyentuh kepalanya dengan lembut. Walau Maira akui hiasan kepalanya cukup berat.
"Papa kepikiran buat bangun rumah di dekat sini."
"Untuk?" Tanya Hilman keheranan.
"Ya supaya kita kalau datang ke sini, bisa menginap di rumah."
"Terus ditinggal selama lima tahun rumahnya? Aduh Pa, jangan sampe Maira denger. Nanti dia marah lagi sama Papa."
"Lho kenapa? Kan semua biaya dari Papa."
"Tapi gak enak juga sama keluarga Pak Kiyai Musyidi."
Papa segera menganggukkan kepalanya paham. Walaupun sebenarnya dia ingin ada rumah tempat mereka tinggal kalau datang kemari, tanpa jauh-jauh dari Kota.
"Terus setelah Maira menikah, yang menjaga rumah di sana siapa?"
Hilman menggelengkan kepalanya, dia juga bingung. Pekerjaan tidak bisa ditinggalkan, sepertinya hanya akan dibiarkan begitu saja.
Keluarga Papa Jaya sempat insecure melihat banyaknya tamu terhormat yang datang. Walau posisinya Pak Jaya orang kaya.
Tapi percayalah orang yang kaya ilmu terlihat lebih berwibawa, walaupun Hilman beberapa kali mengatakan kalau Papanya juga terlihat sangat berwibawa.
"Subhanallah ya, Papa baru kali ini mendengarkan lantunan ayat suci yang begitu indah," ungkap Papa yang kini beralih bertanya pada Renjuna yang sudah resmi menjadi menantunya.
"Sering-sering menginap di sini pak."
"Walah kok Bapak, panggil aja Papa seperti Maira memanggil saya."
"Papa."
Pesta yang lumayan sederhana itu akhirnya usai. Meninggalkan segelintir orang yang masih bertahan, hanya beberapa keluarga dari Pihak Renjuna maupun Maira.
Papa dan keluarga kecil Mas Hilman tidak bisa pulang sekarang. Mengingat malamnya turun hujan cukup deras, seakan memberikan rahmat dan rejeki setelah pernikahan usai.
Maira tidak berani untuk sekedar menatap pria yang sudah resmi menjadi suaminya. Lebih tepatnya masih gak nyangka dan ada sedikit perasaan malu ketika bersinggungan dengannya.
"Masih agak aneh rasanya, seharusnya waktu itu aku gak terima aja lamaran Renjuna."
"Hus!"
"Kamu ngapain bicara kaya begitu? Udah kejadian, terima dan jalani jangan ngerasa gak bersyukur."
Maira mengerucutkan bibirnya, "Namanya juga masih setengah syok, jadi kaya sebagian belum menerima begitu."
"Maira."
Seketika Maira merinding karena mendengar suara Renjuna yang memanggilnya dengan lembut.
Perasaan waktu pertama kali bertemu, Renjuna terlihat galak dan sukar untuk dimengerti, sekarang kenapa mendadak berubah.