Bab 30

1116 Kata
"Allahumma yassir wala tu'asir," ucap Renjuna sebelum keluar dari kamar. Tentu saja Maira tampak penasaran dengan apa yang Renjuna baca, dia kemudian bertanya kepada Renjuna saat mereka sedang berada di luar kamar. "Apa yang kamu baca?" "Hanya doa agar Allah mempermudah segala urusan kita." Maira menganggukkan kepalanya paham, sekarang sudah masuk hari pertama MTQ diadakan, panitia diminta untuk tidak membahas masalah dalam rapat dulu, begitu kata Titin ketika Maira mengatakan kepada Titin kalau dia punya bukti korupsi. Titin menyarankan Maira untuk tidak memberikannya dihari-hari sibuk. Misalnya saat acara MTQ berlangsung. Karena memang acara bisa terganggu dan para panitia bisa saja tidak fokus. "Sekarang hari pertama lomba, bukannya kamu jadi seksi acara, sedangkan pertandingan bukan bagian dari tugas kamu?" Renjuna menoleh ke arah Maira, ketika sadar kalau Maira mengikutinya sampai di depan gerbang. "Iya memang bukan tugas saya, tapi saya harus mengajar dan setelah ini mungkin bisa bantu-bantu panitia yang lain." "Mau ikut?" Maira menyengir lebar kemudian menggelengkan kepalanya. Namun ternyata gelengan kepala itu tidak ada artinya sama sekali, karena Renjuna tetap memaksanya untuk ikut. Ketika sampai di madrasah, Renjuna langsung meninggalkannya sendiri. Ketahuilah, Maira sangat-sangat membenci kegiatan yang membuatnya merasa gabut. Renjuna mana tega ninggalin Maira yang gak tau harus berbuat apa di sini sekarang. Maira memutuskan untuk mencari kegiatan, dimana dia melihat ada sekumpulan anak SD kisaran kelas 2 atau 3 gitu kumpul di lapangan. Tiba-tiba seorang lelaki berlari ke arah Maira sembari memegang daerah perutnya, dengan wajah memelas meminta Maira membantunya. "Mbak, tolongin sebentar dong saya lagi sakit perut itu anak-anak diajak pemanasan." Lelaki tersebut langsung terbirit menuju kamar mandi. Maira yang memang pada dasarnya sedang gabut ria ya menerima dengan baik permohonan dari si orang tadi. Maira tebak sih dia guru olahraga, sekarang Maira melangkahkan kakinya menuju lapangan, kemudian menyapa satu persatu dari mereka yang ada di sana. "Assalamu'alaikum, selamat pagi semuanya!" Sapa Maira dengan ceria tentu saja. Yang dia akan ajak pemanasan anak-anak, gak ada cerita Maira mengajak anak-anak yang masih polos dengan ekspresi muram. "Waalaikumussalam, ustadzah." Sejenak Maira terdiam karena panggilan anak-anak terhadapnya adalah Ustadzah, walau sebenarnya bingung Maira tetap tersenyum. "Siapa yang mau sehat!" "SAYA!" Balas anak-anak itu dengan semangat. "Siapa yang mau Kuat!" "SAYA!" "Ustadzah Saya mau jadi PRESIDEN!" Celetuk salah satu dari mereka, tentu saja hal itu membuat Maira terkekeh kecil seraya menganggukkan kepalanya setuju. "Ustadzah, sa-saya mau kuat, mau jadi superhero," ujar salah satunya lagi yang berada di barisan paling depan. "Mana bisa, kamu ni masih b***k kicik, tak ada pun yang namanya super hero di dunia ini," sahut salah seorang bocah yang tampaknya agak songel daripada yang lain. "Si-siapa tau ada, Abdul jahat." "Eii, aku pula yang jahat." Maira hendak menahan tawanya mendengar perdebatan anak kecil. Namun sebelum perdebatan semakin panjang dia memilih untuk melerainya. "Sudah ya, mau jadi apapun asal bisa membantu sesama dan menjadi anak yang saleh dan saleha, yaudah kejar aja, siapa tau bisa terwujud." "Tapi ustadzah mana ada super hero, yang ada Imam Mahdi, soalnya nanti beliau yang memberantas Dajjal." Sebenarnya Maira tidak begitu mengetahui apa yang dikatakan oleh anak yang bernama Abdul tersebut, namun dia hanya tersenyum. "Benar, tapi sebelum itu kita olahraga dulu ya," ujarnya. Maira memberikan pengarahan pemanasan sebelum olahraga. Kalau ini sih dia sudah hapal di luar kepala apa lagi Maira sering melakukannya untuk mengisi waktu luang. "Ustadzah, susah sekali," keluh salah satu diantara mereka yang tidak bisa mengikuti gerakan Maira. "Bisa kok, sini Ustadzah bantu." Tepat saat Maira sedang membantu anak tersebut, guru aslinya datang dan tersenyum kepada Maira, merasa tidak enak karena sudah menyusahkan Maira. "Terima kasih banyak Ustadzah sudah mau membantu saya," ucapnya. "Tidak apa-apa, santai saja. Saya juga sambil nunggu suami selesai ngajar." Mendengar hal itu sang lelaki tampak terkejut bukan main, "anti bukan tenaga pendidik di sini?" Maira menganggukkan kepalanya dengan ekspresi polos, "iya, saya nungguin suami saya di sini." "Astagfirullahalazhim, maafkan saya, saya kira Anti Ustadzah baru itu." "Santai saja pak, kalau begitu saya pamit." "Anak-anak, Ibu pergi dulu ya!" Pamit Maira pada anak-anak yang menggemaskan tersebut. "Iya Ustadzah." Setelah pamit ternyata dia melihat Renjuna yang kini berdiri di ujung lorong. Entah mungkin Maira yang salah lihat, atau memang Renjuna yang tersenyum ke arahnya seraya melambaikan tangan. "Gimana rasanya?" Ternyata memang Maira yang salah lihat, karena ketika mendekat Maira hanya melihat tatapan Renjuna yang biasa saja. "Gak ada yang spesial, biasa aja. Cuma ya menggemaskan juga mereka, apalagi tadi ada yang bener-bener rasional dan kelewat pinter. Sampai dia ngejelasin soal Imam Mahdi sama Dajjal, bahkan aku gak terlalu tau soal itu." Renjuna tersenyum tipis, "kamu belum tau?" "Iya, emang itu apa sih?" "Itu tanda-tanda akhir zaman." "Astagfirullah, jangan ceritain dulu belum siap!" Ujar Maira yang mendadak panik. "Justru kamu harus tau, supaya semakin beriman kepada Allah." Maira menganggukkan kepalanya pasrah, "tapi benar juga, masa aku kalah sama si Abdul yang begitu paham tentang akhir zaman." Renjuna berbalik untuk melangkah pergi, diikuti dengan Maira yang kini berjalan berdampingan dengannya. "Saya pasti akan memberitahu kamu tentang hal itu," ucap Renjuna setelah lama terdiam. "Oke, gak masalah." *** Maira merasakan hawa yang berbeda ketika dia memasuki arena perlombaan. Tepat di arena utama saat lomba dari salah satu cabang MTQ khususnya tilawah golongan anak putra. Anak kecil lho, yang dia lihat seumuran dengan Abdul. Apa tidak insecure Maira ketika melihatnya? Maira terdiam dengan hati iri, namun ikut duduk di barisan paling belakang. Mendengarkan dengan khidmat bagaimana lantunan itu diberikan nada yang baru Maira dengar. Maira jadi bertanya-tanya, jadi selama ini dia ngapain aja? Kenapa dia gak bisa membaca Al-Qur'an dengan lancar, bahkan kalah sama anak SD. Mana ingat sekali Maira, kerjaan dia kalau tidak berkelahi dengan anak lelaki yang sebaya dengannya, Maira tidak akan pernah pulang ke rumah. "Nakal juga aku ya," gumam Maira. Wanita itu terdiam seperti sedang memikirkan sesuatu. Seakan-akan sekarang tengah mencari jati dirinya. "Aku islam, tapi tidak mengenal agamaku dengan baik." Hanya itu yang berada di pikirannya. Seseorang menepuk pundak Maira, ketika dia menoleh Renjuna tampak heran melihat Maira. "Kenapa di sini, saya mencari kamu daritadi." "Seriusan deh, aku kayanya baru pertama kali melihat ada acara seperti ini." "Acara ini sudah ada dari lama, bahkan ini baru tingkat kelurahan ada tingkat kecamatan, kota, lalu provinsi dan terakhir nasional." Mendengar penjelasan Renjuna, Maira tampak antusias, "kayanya aku pengen deh lihat anak kita nanti ikut acara ini." Renjuna sempat tertegun, namun setelahnya menoleh ke arah Maira dengan tatapan heran. "Eh, emang aku salah ya? Kan bener anak kita, aku nikahnya sama kamu." Maira menahan senyum ketika melihat telinga Renjuna memerah. Sekarang Renjuna lagi salting ya? "Tapi aku mau belajar agama dulu, karena katanya ibu itu madrasah utama. Sebenarnya dulu gak pernah kepikiran mau jadi ibu, atau ikut urusan rumah tanggalah, tapi ternyata kalau dipikir-pikir, seru juga," ujar Maira yang semakin terkekeh melihat telinga Renjuna.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN