Bab 29

1333 Kata
Maira bertanya pada Titin yang kini datang membawakan Maira pakaian yang sudah di laundry. Tentu saja tentang rapat yang tadi mereka laksanakan. Renjuna tidak mengatakan apapun ketika dia pulang dari masjid usai salat Maghrib tadi. Lalu Maira juga tidak mau menanyakan masalah ini kepada Renjuna. Terlalu malas, malu, dan juga sepertinya Renjuna sedang tidak mood. Soalnya dia tidak ada menyapa Maira walau bertanya Maira sudah salat atau belum. Karena biasanya Renjuna akan menanyakan Maira, sudah salat atau belum. Tapi kali ini tidak, bisa jadi memang Renjuna tidak bisa diganggu sekarang. "Kenapa penasaran sekali Ning?" "Iya penasaran gitu, soalnya tau sendiri kan Renjuna wajib banget negur aku, nanya udah salat atau belum. Tapi daritadi, semenjak pulang dari tempat rapat dia hanya diam dan terlihat sedang tidak mood." Maira menjelaskan dengan ekspresi yang begitu heran. Karena memang Renjuna tidak pernah seperti ini sebelumnya, mungkin pernah tapi Maira tidak tau. Titin menganggukkan kepalanya paham ketika mendengar ucapan Maira. Dia tau pasti Gus Renjuna marah besar, apalagi ini berkaitan tentang hal yang sangat tidak boleh dicurangi. "Iya seperti dugaan Ning Maira, soalnya tadi dihentikan secara paksa karena alasan satu dan lain hal." "Oleh?" "Ning Ambar." "Ck, udah aku duga sih. Kemungkinan ada kerja sama antara mereka berdua." "Astagfirullah, kita tidak boleh asal berpikir seperti itu." Maira mengendikan bahunya pelan, "kan itu kemungkinan. Lagian aneh aja gitu pas lagi panas-panasnya langsung dihentikan. Seharusnya dilanjutkan aja, kan lagi warning banget." Titin hanya manggut-manggut dan setelah itu pamit pergi karena harus mengurus beberapa hal di tempat acara. Maira masuk ke dalam kamar untuk siap-siap, di sana dia melihat Renjuna yang sudah bersiap untuk melaksanakan salat isya. Tepat ketika Maira masuk Azan isya sudah berkumandang. Hal itu membuat Maira bergerak dengan cepat mengambil air wudhu. Mengingat Renjuna pasti sedang memberikan kode kepada Maira untuk melaksanakan salat isya berjamaah. Maira hanya diam, begitu juga Renjuna. Baik salah satu di antara mereka tidak ada yang mengatakan satu patah kata. Maira masuk ke kamar mandi untuk mengganti pakaian, Kemudian keluar dan memasang jilbabnya diluar. Ketika Maira menatap pantulan dirinya di cermin, dia bisa melihat dengan jelas kalau rambutnya mulai memanjang. "Pengen potong lagi, ini mah kepanjangan." "Itu bagus, kalau kamu potong lagi sayang sekali." Maira menoleh ketika Renjuna menyahuti ucapannya dan terlihat sedang memakai peci berwarna putih miliknya. "Masa sih, kalau menurut aku malah bagusan pendek. Apalagi pake jilbab, nanti yang ada gatel kepala ini." "Itu terserah kamu, saya juga tidak bisa memaksa." Maira mengerucutkan bibirnya, kemudian berdecak kesal. Renjuna seperti sengaja sedang menyindirnya karena tidak patuh terhadap ucapan suami. "Daritadi diem terus, kenapa sih? Lagi gak mood ya?" "Siapa, Saya?" Tanya Renjuna. "Iyalah siapa lagi, masa Titin." "Oh, saya biasa saja." "Bohong, kelihatan banget kalau lagi gak mood. Mikirin rapat tadi ya, oh lupa izin akunya." Maira yang baru sadar tadi lupa izin bilang tentang sumbangan yang dia berikan untuk membantu panitia seksi konsumsi. "Sudah saya izinkan, tapi kamu pakai kartu siapa?" "Papa," jawab Maira kemudian menyengir lebar. "Hm, terus ngapain kamu izin sama saya kalau pakai kartu Papa kamu." Maira mengendikan bahunya, "seenggaknya kan udah Izin sama pak suami." Renjuna keluar kamar setelah Maira, karena dia adalah seksi acara dia sempat pamit pada Maira dan juga kedua orangtuanya datang ke tempat lebih dulu. "Maira, Renjuna kenapa? Tadi umi lihat pulang dia dari sana, wajahnya terus cemberut." Maira mengangguk paham, "tadi ada yang korupsi umi, makanya Renjuna marah besar. Gak tau kelanjutannya bagaimana?" Jawab Maira. Abah yang gak sengaja dengar, segera berbalik serta menoleh ke arah Maira, meminta jawaban yang benar dari ucapannya. "Astagfirullahalazhim, ada yang seperti itu di sini?" "Gak tau juga bah, tapi memang ada indikasi korupsi, karena dana sebanyak itu tidak cukup untuk sekedar melunasi snack yang kurang dari satu juta." Abah menggelengkan kepalanya, ada saja yang berbuat seperti itu padahal sedang mengurus acara yang bisa dibilang sangat agamis. "Nanti Abah bantu sidak, karena memang semua panitia adalah santri pondok ini. Abah tidak pernah mengajarkan mereka untuk seperti itu." "Sudah bah, ingat jangan terlalu emosi." *** Setibanya di tempat acara, memang suasana begitu ramai. Ada para warga yang menanti dengan antusias, dan juga beberapa peserta dari setiap kelurahan yang ada di kecamatan ini turut hadir. Pawai tidak bisa diadakan karena kondisi jalan yang masih dalam perbaikan, sehingga mereka langsung memulai acara pembukaan untuk MTQ yang akan berlangsung selama lima hari. Maira sempat menengok ke bawah ketika melihat Renjuna yang sedang bersiap dengan seorang wanita lainnya, namun Maira tidak kenal siapa. "Renjuna ngapain di bawah?" Tanya Maira pada Titin yang kebetulan sedang membagikan snack kepada Maira dan juga lainnya. "Kan Gus Renjuna seksi acara, yang menghandle acara adalah beliau." "Maksudmu jadi pembawa acara juga?" Titin menganggukkan kepalanya sebagai jawaban. Respon Maira awalnya biasa saja, tapi setelah mendengar Renjuna terlihat fasih dan percaya diri, jiwa introvert Maira merasa bergetar. Pantesan tadi Renjuna terlihat memakai koko panjang dengan model yang bagus, ternyata memang akan membawa acara MTQ. "Keren ya Gus Renjuna," ucap Maira tanpa sadar, mana panggilannya berubah sopan. "Lah, kamu gak tau suami kamu itu pinter banget publik speaking, saking pinternya dia pernah ditawari S3 di Maroko." "Tapi kenapa gak diambil mi?" Tanya Maira heran. "Gak tau, mungkin emang udah jodohnya sama Maira." Mendengar hal itu Maira merasa merinding sekali. Benar kata umi, kalau mungkin Renjuna ngambil S3 waktu itu, Maira dan Renjuna tidak akan bertemu, tapi Maira penasaran, apa mungkin aja dia juga bakalan tetep ketemu namun melewati jalan lain. Entahlah Maira tidak mau banyak berpikir. Ketika pembacaan Kalam ilahi sedang berlangsung, Maira kembali merasa merinding. Suara yang begitu indah, dengan pembacaan huruf yang lancar. Membuat Maira seketika merasa iri sendiri. "Masya Allah, suaranya bagus sekali." Umi kembali menoleh ketika mendengar gumaman Maira, "lantunan ayat suci memang selalu indah nak," balas Umi. "Tapi umi, Maira serius. Kenapa rasanya Maira udah rugi ya karena gak belajar agama dari Maira kecil. Melihat mereka yang pintar mengaji dan punya akhlak yang bagus, bikin Maira iri." "Atau mungkin karena Mama yang meninggal terlalu cepat, dan belum bisa menjadi madrasah pertama untuk Maira," ucap Maira lirih. Umi yang mendengar itu menatap menantunya dengan sendu, kemudian merangkul Maira dengan sayang. "Kan sekarang ada Umi, ada Renjuna ada Abah. Papa Maira tetep sayang sama Maira, cuma kan emang cara dia menyampaikan rasa sayangnya itu berbeda dari kebanyakan orang." Maira menganggukkan kepalanya pelan, dan tersenyum sendu ketika Renjuna menoleh ke arahnya. Seakan bertanya "kamu kenapa?" Maira membalasnya dengan gelengan. Wanita itu pamit meninggalkan setengah acara pergi ke kamar kecil. Sebelum pergi tadi sebenarnya Maira pengen pipis dulu, tapi karena Abah sama Umi sudah menanti Maira jadi tidak enak meninggalkan mereka. Baru aja Maira melangkahkan kakinya untuk pergi ke kamar kecil. Samar-samar dia mendengar suara seseorang sedang bertengkar hebat. "Kamu kenapa ngambil uang itu? Jelas-jelas aku udah percaya sama kamu buat ngurus." "Lho memangnya kenapa? Kan uangnya kesisa banyak, daripada gak kepake mendingan aku yang pakai." "Astaga! Terus gimana kalau semuanya ketahuan?" "Gak tau, aku juga bingung. Ini gara-gara si Rani s****n! Dia ngapain pake Ngaduin masalah ini segala!" Maira mendengus sebal, dia sudah duga dalangnya pasti mereka berdua. Sayang suasana sedang malam, dan mereka berdua berdebat tepat di bawah pohon, dekat dengan kamar mandi darurat yang disediakan panitia, mengingat acaranya berada di lapangan. "Pokoknya ini masalah kamu sendiri ya, jadi selesai sendiri. Gak usah bawa-bawa nama aku." "Gak bisa gitu dong, kan dari awal kamu yang nyuruh. Ingat gak, nyebarin berita itu?" Maira menggeleng dengan raut wajah sinisnya, setidaknya Maira sudah rekam dan setelah itu dia menanti kedua wanita itu pergi baru Maira kembali lagi ke tempatnya bersama umi dan abah. Rasa-rasanya memang Maira tidak jadi buang air kecil. Setelah ini Maira akan mengatakan semuanya kepada Renjuna. Setelah acara selesai, Maira ikut dengan Abah dan umi bersilaturahmi dengan keluarga kiyai lainnya. Kebetulan ada empat keluarga yang datang. "Wah cantik sekali, sudah besar ya sekarang. Dulu kamu masih kecil," ucap salah satu wanita tua baya yang bahkan Maira gak tau namanya. Umi dengan segera mengambil alih, "ini bukan adiknya Renjuna, tapi istrinya." "Astagfirullahalazhim, saya kira adiknya Renjuna." Maira diam-diam menahan tawanya. Jelas, itu berarti Maira masih sangat muda bukan kelihatannya?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN