Bab 32

1337 Kata
Renjuna sedang sibuk, dan itu membuat Maira kesal bukan main. Jika Renjuna sibuk, maka Maira bisa lebih sibuk dari ini. Memikirkan tentang kejadian tadi malam membuat hati Maira panas sendiri. Bertepatan dengan itu tamunya datang. Maira setidaknya merasa lega karena alasan dia marah bukan karena cemburu. Emang lagi sensitif karena tamu datang. Baru saja Maira hendak melukiskan sesuatu, Umi datang mendekat ke arahnya. "Lho Maira, gak mau pergi ke madrasah?" "Memangnya ada apa umi?" "Gak ada, di sana ada lomba kaligrafi. Seperti melukis, menulis indah Al-Qur'an siapa tau Maira mau melihat-lihat disana." Maira menggeleng dengan cepat, dia sedang tidak mood untuk keluar rumah. Tamunya sedang datang dan perutnya nyeri-nyeri kecil karena datangnya tamu tersebut. "Ya sudah kalau tidak mau, oh iya umi ada buat capcay seafood, Maira nanti makan itu ya." Maira menganggukkan kepalanya pelan, kemudian melanjutkan melukis di ruang tengah, walau agak aneh karena moodnya sedang ada di ruang tengah. Maira perlahan-lahan menggoreskan lukisan tersebut ke kanvas berukuran kecil. Kalau kali ini dia gak akan jual, tapi mau dijadikan pajangan di kamar. Umi juga menemani Maira sembari menonton televisi dengan volume suara sedang, takut mengganggu Maira melukis. "Umi, Maira enaknya pergi bulan madu sama Renjuna kemana?" "Lho, baru kepikiran mau bulan madu?" "Gak ada sih, cuma kemarin Papa nawarin dia mau bayarin Maira sama Renjuna pergi bulan madu keluar negeri." Umi tampak menganggukkan kepalanya setuju, "itu tergantung keputusan kamu sama Renjuna. Umi tidak bisa memberikan saran soalnya umi juga gak tau tempat yang bagus." Maira terkekeh pelan pas inget Renjuna bilang apa sama Papanya soal bulan madu keluar negeri. Hal itu langsung membuat Papanya tidak setuju. "Umi, mau tau gak Renjuna bilang apa waktu Papa tanya soal bulan madu?" Ujar Maira. "Apa, memangnya Renjuna bilang apa?" "Renjuna bilang umroh aja, terus Papa jawab hahaha aduh kalau Maira inget ini pasti ketawa terus." "Kalau lagi umroh gak boleh berbuat aneh-aneh, berati kalau Maira sama Renjuna pergi umroh ntar anaknya gak jadi-jadi," tambah Maira kemudian tertawa dengan kerasnya. Umi yang mendengar itu juga terkekeh kecil. Renjuna memang ada-ada aja. Tapi umi jadi ragu sendiri, apa Maira dan Renjuna sudah ... Astaga, kenapa dia mengurusi hal itu. "Terus gimana, umi lihat Maira sama Renjuna sekarang sering pergi sendiri-sendiri, gak biasanya Renjuna membiarkan kamu sendiri." Maira mengendikan bahunya pelan, "kalau itu Maira juga gak tau, tapi memang sih sekarang Renjuna lagi sibuk-sibuknya." "Iya juga, Umi pernah mergokin dia pulang malam." Maira tiba-tiba saja penasaran dengan satu hal. Kalau tidak salah dia mendengarnya dari Titin. Ini tentang Ning Ambar dan juga Renjuna. "Umi memang benar ya, Renjuna sama Ning Ambar pernah dijodohkan?" Umi tampak terkejut mendengar ucapan dari Maira, kemudian bertanya pada Maira darimana Maira tau berita tersebut. Maira tersenyum kecil, "gak apa-apa umi santai aja, kan ujung-ujungnya Maira yang menikah dengan Renjuna. Tapi kalau boleh tau, berita itu benar ya?" Umi menganggukkan kepalanya dengan pelan, "itu benar, hanya saja dulu. Waktu mereka masih sama-sama sekolah. Tapi semenjak kejadian yang menimpa kakaknya Renjuna, Umi jadi yakin kalau cara itu memang kurang baik." Malampun tiba, tapi kali ini Maira berhasil menanti kedatangan Renjuna, di mana dia pulang dan langsung makan karena rasa lapar yang mendera. Sebenarnya Renjuna tengah mengantuk dan dia kurang memperhatikan apa yang dia ambil, tapi dia ingat ucapan Maira tentang tidak boleh telat makan, dan Renjuna menuruti. Ketika Maira datang dan berdiri di samping Renjuna, pria itu sempat menarik Maira dan menyandarkan kepalanya di perut Maira. Ketahuilah rasanya begitu geli dan aneh, Maira hendak menjauhkan kepala Renjuna namun melihat dia yang begitu lelah, Maira mengurungkan niatnya. Tanpa banyak bicara dan Maira juga tidak ingin bertanya, Renjuna menghabiskan makannya lalu masuk ke kamar disusul dengan Maira. "Ck, aku baru tau kalau dia itu ternyata gampang sekali lelah." *** Keesokan pagi tepatnya selepas salat subuh, Renjuna tiba-tiba saja merasa gatal. Bahkan ketika Maira menatap Renjuna, banyak bintik merah di sekitar lehernya, tidak sampai wajah untungnya. "Merah ya?" Tanya Renjuna pada Maira. Wanita itu menganggukkan kepalanya, "bentar aku minta bedak gatal sama umi." Renjuna menganggukkan kepalanya, kemudian membuka bajunya tepat di depan Maira, sontak Maira dengan cepat berbalik dan pergi mencari umi. "Ada apa?" "Renjuna umi, badannya merah gatal-gatal dia." "Astagfirullah, dia habis makan apa semalem?" "Kayanya, capcay seafood?" "Astagfirullahalazhim, Renjuna alergi sama udang." Mendadak Maira bingung dan terkejut, sejenak dia panik dan bingung harus bagaimana namun Umi menepuk pundaknya pelan. "Ini kasih bedak, nanti badannya mungkin akan panas. Maira bisa kompress Renjuna kan?" "Tapi kayanya dia bisa sendiri," tambah Umi setengah berpikir. "Baik umi, nanti Maira yang kompres." Sampai di kamar Maira sudah melihat tubuh Renjuna tepatnya punggung suaminya terlihat merah dan bentol-bentol. "Bawa bedaknya?" Maira menelan ludahnya gugup. Renjuna gak pernah kelihatan olahraga, tapi kok badannya setengah atlet? "Astagfirullah," gumam Maira pelan. "Sudah bawa kok ini, gimana gatelnya masih keras gak?" Tanya Maira khawatir. "Pasti, tapi takutnya kalau dipaksa garuk nanti akan berbekas." Maira segera mendekat menyembunyikan kekagumannya sejenak, karena dia harus menbantu Renjuna mengusapkan bedak gatal tersebut. "Kenapa kamu gak bilang kalau alergi seafood, kemarin capcay yang kamu makan itu capcay seafood, pantas aja Umi cuma suruh aku makan." "Kamu gak pernah tanya sih," ujar Renjuna. Maira berdecak sebal ketika mendengar jawaban Renjuna, "kamu ya, tiap ditanya pas udah kejadian, pasti jawabannya begitu terus. Ya masa terus-terusan aku yang inisiatif, kamu juga dong." Renjuna terkekeh pelan sembari sesekali meringis karena merasa perih setiap bedak yang Maira taburkan di punggungnya. "Iya maaf, saya juga gak terlalu memperhatikan tadi malam karena terlalu mengantuk." "Tumben ngalah." "Sekarang saya ngalah, salah?" "Gak juga sih, udah nih ditabur semuanya." Setelah itu Maira menempelkan tangannya di dahi Renjuna. Merasa kalau tubuh Renjuna sudah mulai sedikit hangat. "Hari ini jangan datang dulu ya," pinta Maira. "Kenapa?" "Kata umi kamu kalau alergi nanti habis gatal-gatal pasti badannya panas." Renjuna terdiam karena memang benar apa yang dikatakan oleh Maira tentang dirinya. Namun yang aneh sekarang adalah tatapan Maira melembut, selembut kapas yang paling lembut. Bahkan nada bicaranya juga merendah. Maira khawatir padanya? Apakah ini rasanya? Renjuna tidak yakin dan tidak pasti. "Aku sebenarnya gak pernah ngurusin orang sakit, soalnya aku kalau lagi sakit juga pasti diurusin sama Titin. Makanya Titin itu berjasa banget di hidup aku, kadang dia kaya kakak kadang dia kaya adek." "Jadi seenggaknya kamu juga bisa nganggap dia sebagai saudara aku." Renjuna menganggukkan kepalanya, kemudian pelan-pelan dia merasa tangan Maira kembali menyentuh punggungnya, hal itu membuat Renjuna merasa ada gelenyar aneh ketika tangan Maira menyentuh punggungnya. "Tunggu sebentar, aku mau ngambil kompres dulu." "Badan kamu udah mulai anget," tambahnya. Renjuna berbalik untuk melihat punggung Maira yang mulai menjauh. Mendadak dia merenung, merasa beberapa hari belakangan ini dia mengabaikan Maira. Bahkan dia tidak menepati janjinya pada Maira tentang apa yang ingin dia sampaikan dan bagi tentang agama. Setelah Maira kembali membawa sebaskom air dan juga lap kecil yang dia dapat dari umi tadi. "Perih gak?" Renjuna menjawab dengan gelengan, "astaga kenapa bisa merah semua, harusnya kemarin aku cek. Eh tapi aku gak tau kemarin kalau kamu alergi seafood." Renjuna berdehem pelan, "sudah jangan terlalu dipikirkan lagi, saya juga tidak apa-apa kok." "Badan kamu gak bisa bohong, masih bilang tidak apa-apa, setelah ini istirahat. Terus juga banyak makan, roti masih banyak nanti aku bawain." Renjuna tertegun kembali, apa ini benar-benar Maira? Wanita yang Renjuna rasa sering mengacuhkannya. Renjuna merasa semakin tidak enak saja, apalagi ketika dia tau kalau Maira begitu memperhatikan dirinya. Saat Maira hendak pergi, tangan Renjuna segera menahannya. Hal itu membuat Maira mengernyitkan dahinya bingung. "Butuh sesuatu?" "Tidak, tapi saya rasa cukup ada kamu." Maira malah tampak menatap bingung ke arah Renjuna, sembari menggeleng pelan, "sepertinya efek alerginya sedang bekerja." Renjuna terkekeh, "bukan begitu, saya hanya ingin minta maaf, karena beberapa hari belakangan ini saya kurang memperhatikan kamu." Maira terkekeh pelan mendengar ucapan Renjuna, "memangnya aku anak kecil yang harus terus diperhatikan?" "Bukan begitu, tapi saya tau kamu benci kesepian, dan saya sudah membuat kamu kesepian beberapa hari ini." Maira menelan ludahnya gugup ketika tatapan mereka bertemu satu sama lain. Renjuna benar-benar pria yang bertanggung jawab, dan tatapannya begitu tulus serta serius. "Banyak hal yang saya janjikan namun semuanya belum terlaksana dengan benar." "Maafkan saya."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN