Pertikaian

1070 Kata
𝓗𝓪𝓹𝓹𝔂 𝓡𝓮𝓪𝓭𝓲𝓷𝓰 𝓰𝓪𝓪𝓲𝓲𝓲𝓼𝓼 🥰🥰 Suasana meja makan pagi itu begitu tegang, jangankan berbicara Cara Ciara maupun Jasmine tidak berani menegakkan kepalanya untuk menatap Manda, umi mereka yang sedang di puncak kemarahan Sarapan pagi ini benar-benar berantakan, akibat ucapan Jasmine yang tak sengaja mengusik ketenangan uminya yang selama ini berusaha bungkam dan tutup mata Berahim juga sejak tadi berusaha menenangkan istrinya yang sudah tidak bisa ia kendalikan, emosi Umi benar-benar meledak-ledak pagi itu "Untuk apa menikah bertahun-tahun kalau memang tidak ingin mempunyai keturunan, umi dan papah itu semakin hari semakin tua, kamu juga udah kepala tiga, terus kapan kami akan menimang cucu, nunggu kami mati" "Umi udah gak tahan melihat tingkah istri kamu, kamu harus tegas dong Rehan, mau sampai kapan seperti ini terus, kalau memang seperti itu mending kalian cerai, kamu menikah dengan Aisyah" "Manda!" "Kamu itu sudah kelewatan, aku di sini kepala keluarga, kamu anggap apa aku ini, haa!" "Bukan seperti itu menjadi orang tua memberikan solusi pada anak, kamu tau hukumnya tidak memecah belahkan rumah tangga orang terlebih anakmu sendiri, istighfar kamu!" Bukan hanya Ciara dan Jasmine saja yang terjangkit dari tempat duduknya, Umi juga langsung menangis dan beristighfar mendengar nada suaminya meninggi, belum pernah sebelumnya Papah Berahim semarah ini pada umi Biasanya papahnya selalu berkata lembut, dan penuh kasih sayang pada umi. Sekarang sudah seperti api yang disiram oleh bensin, menyambar-nyambar Di seberang umi tempat Rehan duduk, laki-laki itu tetap santai memakan sarapannya, ia seperti tidak terusik sama sekali atas keributan di depannya itu Apapun yang dikatakan oleh umi nya itu semuanya benar, tetapi umi tidak berhak memutuskan bagaimana akhir pernikahannya dengan Erina, itulah sebabnya yang membuat papahnya Berahim murka "Gak ada harga dirinya aku di rumah ini" Brakkk Berahim pergi meninggalkan meja makan, setelah menggebrak meja itu kuat, membuat Rehan berhenti makan dan menatap Berahim tajam, sementara Ciara dan Jasmine dan juga umi lagi-lagi kaget dengan sikap papah berahim, seperti kerupuk disiram air, umi diam seribu bahasa, air matanya terus saja terjun bebas membasahi pipinya "Rehan pergi dulu" Tidak ada yang berani bergerak dari tempat duduk mereka antara Jasmine maupun Ciara, sampai umi mereka itu berjalan ke kamarnya, masih menangis malahan tangis hanya lebih keras dibandingkan tadi *** Setelah pulang ngampus tadi, Ciara tidak mengantarkan Jasmine, gadis itu ternyata tidak masuk kuliah Ciara juga tidak berniat datang kerumah Jasmine, suasana rumah itu begitu panas rasanya, Ciara cukup sadar diri saja, ia adalah orang luar yang seharusnya tidak melihat pertikaian pagi tadi di keluarga Berahim Ting Mas Rehan [Sayang, mas ada di depan rumah kamu] Ciara yang tidak percaya setelah membaca pesan Rehan yang baru masuk itu, langsung lari menuju cendala kamarnya. Benar saja, mobil Rehan sudah terparkir di luar pagar tinggi rumahnya yang masih tertutup "Kok mas di sini, emang di kantor gak sibuk" "Lagi free sayang, aku kangen sama kamu" Sebenarnya siapa yang bucin disini, perasaan Ciara yang menyimpan rasa pada Rehan bertahun-tahun, tetapi lihatlah sekarang, laki-laki itu sudah seperti anak kecil yang menginginkan sesuatu pada ibunya, nemplok di d**a Ciara, memeluk gadis itu, sesekali mengendus tulang selangka Ciara "Mas nanti di liat satpam" Ciara yang kaget, berusaha menahan wajah Rehan yang semakin liar mengendus-endus lehernya "Gak akan sayaang, sayang lupa ya kaca mobil mas itu gelap, jadi aman" Rehan malah mencium leher Ciara dan menjilatnya "Mas jangan di kulum gitu, nanti berbekas gimana" "Ish, aku mau buat tanda, kalau kamu punya aku sayaang" Rehan yang Ciara kenal dengan laki-laki coll, pendiam, jarang bercanda, laki-laki yang hidupnya flat, malah seperti anak kecil sekarang "Aduh mas" "Hehehee, maaf" "Sayang boleh pegang ini gak" Rehan menunjuk buah d**a Ciara, meminta izin apakah ia boleh memegang barang berharga milik kekasihnya itu, Ciara yang dimintain izin malah menutup matanya, wajahnya merah merona, ia sangat malu sekali Begini rasanya pacaran dengan om-om, isi pikirannya tidak jauh-jauh dari kata m***m "Yaaang, boleh atau gak mamas pegang ini sayaang" Rehan menggoyang-goyang lengan Ciara, menempelkan telunjuknya pada d**a kanan Ciara "Mas ih, malu" Bukannya melanjutkan aksinya, Rehan hanya mencium singkat d**a Ciara sebelah kanan, setelah itu ia melajukan mobilnya, ntah kemana ia mengajak pacarnya itu siang-siang seperti ini "Mas Jasmine telpon" Ciara susah payah menempel pada dinding mobil dekat pintu mobil, agar Jasmine tidak mengenali mobil Rehan, ia berbohong pada sahabatnya itu, kalau ia sedang pergi bersama papannya Jasmine mengaduh jika umi nya terus-menerus menangis, ia menjadi merasa bersalah atas kesedihan Yang dirasakan umi nya Malam hari Rehan dan Ciara masih betah berduaan di rumah Ciara, menonton acara TV dengan beberapa cemilan yang Caira ambil dari dapur Rehan merasa bebas, dikarenakan Erina tidak ada di rumah, jadi ia bisa sesuka hatinya bermain bersama pacar kesayangannya, kalau Ciara menerima Rehan ke rumahnya, itu karena ia sudah meminta izin oleh Danu, membawa teman laki-laki ke rumahnya, karena papahnya itu sedang berada di Singapura Sedang asik-asiknya menikmati siaran TV, mereka berdua yang saling bergelendotan, ponsel ciara berdering, nama Jasmine terlihat jelas di sana "Iya halo Jas" Di sebrang sana, suara Jasmine yang terdengar jelas sekali menangis tersedu-sedu, dan suara laki-laki yang meninggi, dapat Ciara pastikan itu Berahim, papahnya Jasmine Mendengar pengaduan Jasmine barusan, ia langsung beranjak dari duduknya, mengabaikan Trhan yang menatapnya penuh tanya Mengambil jaket Jodie yang oversize miliknya dan menyambar kunci mobil kesayangannya "Mau kemana sayang" "Ke rumah kamu, sekarang mas pulang deh, di rumah lagi gak baik-baik aja" "Kenapa sayang" Rehan menghentikan langkah Ciara yang hampir meraih daun pintu "Papah sama umi berantem mas, tadi aku denger suara papah keras banget, aku mau nyusul Jasmine kesana, lagian kamu dihubungi kenapa gak bisa si" Ucapnya yang tak kalah panik, mendengar kalau sahabatnya itu menangis dan ketakutan Rehan yang merogoh saku celana kerjanya, melihat ponselnya ternyata mati, sangking fokus dan nyamannya ia bersama Ciara, sampai lupa dengan sekitar Ciara yang tidak jadi ke rumah Jasmine, ia dilarang Rehan untuk menyusul adiknya, karena malam juga sudha larut, kasihan jika gadis itu harus menyetir mobil malam-malam di jalanan Setibanya Rehan di rumah, orang tuanya saling berpelukan, dengan Berahim yang duduk di sofa, umi meminta ampun atas ucapnya yang mungkin kasar dan menyinggung suaminya itu Memang seperti inilah keadaan orang tuanya, memberikan contoh baik pada kedua anak mereka, umi yang selalu meminta maaf dan ampun pada papah mereka, takut dosa yang ia dapatkan jika ia tidak mendapatkan ridho dari suaminya, jika ia melakukan kesalahan, sebaliknya pun seperti itu Hanya saja anak-anak mereka masih terbilang jauh dari kata agamis, Rehan maupun Jasmine seperti terjun pada dunia bebas, meskipun Jasmine masih terbilang dalam pengawasan orang tua dan Kakak laki-lakinya ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN