Part 21 Hari-hari berjalan seperti biasa. Aku berangkat ke puskesmas, dan Restu berangkat ke balai desa. Sejak insiden pembakaran foto wanita kesayangannya, Restu terlihat murung. Aku abai saja. Aku seorang bidan desa, tapi tugasku alhamdulillah masih di desa sendiri. Sehingga tidak perlu menginap di polindes. Dan tempat itu digunakan oleh bidan desa yang satunya lagi. Dia hendak pindah, tinggal menunggu surat mutasi turun yang sepertinya tidak sampai sebulan. “Isna ….” Aku yang sedang membuat teh untuk menghangatkan tubuh di malam yang dingin, terpaksa menoleh. Ibu sudah berdiri di samping kulkas sambil menatapku tanpa kedip. “Ya, Bu,” jawabku santai sambil kembali fokus mengaduk gula yang ada di gelas agar larut. “Ibu mau bertanya sesuatu hal. Tapi, jawablah dengan jujur!” Perkataan

