Part 22 Aku menatap sebuah undangan di atas meja reseptionis puskesmas rawat inap. Hari ini piket siang yang jamnya sampai malam, dan pasien sedang sepi. Masih terngiang jelas ucapan Restu semalam, menjadikanku lebih pendiam dari biasanya. Godaan dari beberapa rekan yang berbau urusan dewasa hanya aku tanggapi dengan senyum sekadarnya. Undangan dari pihak kecamatan pada petugas puskesmas atas kunjungan bupati yang akan diadakan beberapa hari lagi, membuatku berpikir bimbang. Yang hadir tentu saja mereka yang tidak ada jadwal piket. Namun, bukan masalah itu. Keterangan yang tertera di sana, kepala desa beserta istri, itu yang membuat aku semakin tidak enak. Berharap sekali, saat hari itu tiba, aku yang jadwal piket jaga di puskesmas. Sehingga tidak perlu menghadiri acara tersebut. “Udah

