Part 24 Segera. Kualihkan pandangan pada teman-teman pria yang sedang bercanda. Ternyata, Deni sudah terlibat dalam perbincangan yang kelihatannya seru. Sesekali mereka tertawa. Aku jadi pikun, entah berapa lama terlalu menikmati lalu lalang orang, sehingga ketinggalan ikut merumpi. Kesempatan yang bagus! Segera kurapatkan tubuh pada mereka. Berusaha ikut tertawa meski tidak paham apa yang tengah dibicarakan. Hanya ingin agar terlihat asyik di mata Restu. Agar dia tahu, jika di luar, aku punya kehidupan yang menyenangkan. “Kamu apaan sih, Is, ikut tertawa gak jelas gitu?” Deni menyenggol lenganku. “Idih, kenapa, biasanya juga aku gini,” “Ya tapi aneh, ini kamu gak tahu apa yang kami bahas, lho. Kamu malah langsung tertawa gitu, aneh.” “Gak papa, Den, sebelum tertawa dilarang. Sebelum

