Ciuman Adrin benar-benar payah. Bukan berarti aku pernah mencium atau dicium seseorang, tetapi seharusnya saat mendapatkan ciuman seharusnya ada sensasi “kupu-kupu terbang dalam perut” atau apalah. Yup, aku tidak merasakannya. Sama sekali. Adapun yang aku rasakan hanyalah kesal setengah mati. Beraninya dia mencium pipi Moira yang semulus porselen China!
Lupakan Adrin dan fokus ke permasalahan lain.
Aku tidak begitu saja memercayai informasi yang diberikan Adrin. Halo, tok tok tok. Dia itu Adrin. Iya, Adrin. Musuh Caden. Karakter yang diciptakan dengan satu tujuan: Menjadi penghalang Caden. Namun, permintaan mengenai buruh dan pertanian kemungkinan besar bisa saja benar. Lima puluh banding lima puluh. Aku bisa saja mengabaikannya. Abaikan dan anggap saja Adrin tidak pernah mendatangiku. Semudah itu.
Akan tetapi, lebih baik mengecek kebenaran yang berjumlah lima puluh itu dalam perbandingan. Aku tidak ingin mempertaruhkan keselamatan Caden. Sebisa mungkin sebelum meminta bantuan Caden, aku akan mencari tahu kebenaran terkait buruh dan pertanian yang dimaksud oleh Adrin.
Saat ada pertanyaan, Google bisa membantu. Namun, di sini tidak ada internet. Tidak ada ponsel. Tidak ada televisi. Tidak ada servis telekomunikasi. Alhasil aku harus memutar otak. Putar otak dan coba memikirkan jalan keluar.
Oke, perpustakaan bisa menjadi salah satu penyelamat.
Kenapa tidak langsung bertanya kepada Caden?
Jawaban: Satu, Caden cukup mengurus urusan lain yang dibebankan kepadanya oleh menteri, duke, dan mungkin sekelompok orang yang ingin diperhatikan olehnya. Dua, Moira hanya putri boneka. Hiasan. Tidak lebih. Sejauh ini tidak ada undangan minum teh yang dialamatkan kepada Moira. Itu bisa diartikan bahwa bangsawan Albastar tidak menaruh minat terhadap Moira. Sialan! Tiga, segala sesuatu harus dikerjakan secara hati-hati. Seperti sedang berjalan di atas permukaan es. Salah langkah, BUUUUM!
Oleh karena itu, begitu pelayan selesai mendadaniku, aku bergegas menuju perpustakaan istana. Awalnya pegawai perpustakaan terkejut ketika melihat kedatanganku. Coret, kedatangan Moira. Selama ini mereka berasumsi bahwa Moira tidak tertarik dengan literasi, budaya, pemerintahan, pokoknya segala hal yang berbau cendekiawan. Dengan kemunculanku di sini, di perpustakaan, mitos bahwa Moira alergi perpustakaan pun terpatahkan. Musnah!
Heidi mengekor ke mana pun aku menuju. Hari ini dia terlihat lebih bahagia daripada terakhir kali aku ajak ke kediaman Gundry. Mungkin karena ia merasa aman dan jauh dari ancaman senjata tajam.
Sejauh mata memandang rak-rak buku tampak tinggi menjulang. Buku-buku bersampul kulit tampak angkuh dalam jejeran rak. Sejauh ini aku menghabiskan waktu membaca geografis daerah selatan. Daerah yang letaknya berdekatan dengan pantai. Sebagian besar mata pencaharian penduduknya ialah dari perikanan dan perkebunan. Kelapa, cengkih, tembakau, rumput laut, garam, ikan asin. Pokoknya segala hal yang biasa ditemui di daerah pesisir ada di sana.
Awalnya penduduk lokal secara mandiri mengolah dan menjual hasil perkebunan dan perikanan. Namun, setelah kedatangan beberapa kelompok dagang yang memutuskan membangun pabrik dan memonopoli usaha dagang; penduduk lokal mulai terpinggirkan karena kalah saing dalam hal distribusi dan teknologi pengolahan. Alhasil sebagian dari mereka memutuskan untuk merantau dan sebagian lagi bertahan sebagai buruh.
Hanya sampai di sana saja informasi yang aku dapatkan.
Coba aku pikirkan kemungkinan buruk yang terjadi:
‒ Monopoli dagang berarti penduduk lokal bekerja sebagai buruh alias b***k kapitalis. Mereka akan membanting tulang siang malam, tetapi hasilnya hanya cukup demi memenuhi urusan pakan.
‒ Pengusaha membayar pajak kepada kerajaan sebagai bagian dari aksi suap. Mereka akan mengakali upah buruh sebagai upaya memotong pengeluaran.
‒ Pencemaran akibat limbah.
‒ Penyerobotan tanah sebagai perluasan pabrik.
Aha, aku mengerti maksud ucapan Adrin. Dia ingin menyelamatkan penduduk di daerah selatan, tetapi tidak mampu melawan kelompok dagang yang berdiri di sana.
Apabila Caden berhasil menyelesaikan masalah ini, maka kepercayaan rakyat terhadap Hoshana akan menguat. Namun, dukungan finansial dari pedagang juga tidak bisa diabaikan.
“Kenapa dulu aku tidak mengambil jurusan perpajakan?”
Aku mendesah, kesal. Cuaca di luar perpustakaan terasa hangat dan mengundangku untuk bermalas-malasan. Sekian jam mengahabiskan waktu duduk di dekat jendela, membaca berlembar laporan dan sejarah, membuatku merasa tua sepuluh tahun lebih awal.
Oh kulit mulus Moira, maafkan aku. Sungguh tidak ada niatan membuatmu keriput, tetapi aku harus melakukan sesuatu demi Caden.
“Yang Mulia, apa Anda membutuhkan sesuatu?”
Seorang petugas istana mengantarkan sejumlah buku. Dia lelaki muda berusia sekitar dua puluhan. Rambut merah, wajah pucat dengan bintik-bintik cokelat di pipi, amat kurus.
“Terima kasih,” kataku.
Hatiku terenyuh membayangkan perjuangan hidup si penjaga perpustakaan.
Heidi membantu si penjaga memindahkan buku ke meja, setelahnya ia kembali berdiri di belakangku. Tampaknya ada aturan terkait pelayan tidak boleh duduk semeja dengan majikan. Urusan monarki ini sungguh amat mengesalkan.
“Saya akan mencoba mencarik buku-buku yang mungkin bisa membantu Anda.”
Penjaga yang satu ini tampak bersemangat. Dia bahkan tidak menunggu responsku dan langsung melenggang pergi begitu saja.
Mungkin pengaruh kecantikan Moira memang sehebat itu. Gaun biru tua yang didesain sesuai dengan lekuk tubuh, hiasan mutiara dan permata hitam, lalu sepasang sepatu kaca. Aku, uhuk maksudku, Moira memang cantik.
“Bagaimana cara menyelamatkan buruh, tetapi tidak merugikan pengusaha?”
Aku mengusap dagu, kedua mataku menyusuri catatan sejarah, dan rasanya orakku tidak mengerti. Nol besar. Nihil, Kawan-kawan.”
“Dengan cara membuat peraturan baru,” sahut seseorang.
Eric Hoshana. Sosok yang tidak terduga.
“Saat lewat, saya melihat Anda ada di perpustakaan,” jawabnya sembari menunjuk jendela. “Karena itu, saya menyempatkan diri menyapa Anda.”
Sontak percakapan antara Caden dan Eric kembali bergaung.
Putri Eric. Pria ini berusaha mengambil kembali putrinya dari tangan Caden.
Sekali lagi, setelah merasa kasihan kepada si petugas perpustakaan, aku merasa kasihan terhadap Eric. “Silakan duduk,” kataku menunjuk kursi. “Tidak ada minuman dan manisan. Namun, kita bisa menghabiskan waktu bersama. Kalau Anda tidak keberatan.”
Seulas senyum tersungging di bibir Eric. Seolah ajakanku merupakan berita bagus yang tidak layak diabaikan olehnya. Begitu ia duduk, aku pun langsung berkata, “Anda pasti baru saja menemui Kakak.”
Kali ini senyum cemerlang di bibir Eric perlahan memudar. “Ya.”
“Aku tidak sepintar Kakak, tapi mungkin Anda bisa membantuku.”
“Putri, Anda ingin menolong buruh?”
Aku berkedip beberapa kali, mencoba menjernihkan pengelihatan. “Apa tidak boleh?”
“Bukan tidak boleh,” koreksinya, ia mengambil salah satu buku dan memperhatikan sampulnya. “Namun, sulit. Kerajaan butuh pemasukan sementara pengusaha bukanlah badan amal yang serta merta bisa menolong pekerjanya begitu saja.”
Aku menganguk-angguk. “Tapi, pasti bisa dicarikan jalan tengah. Bukan begitu?”
“Orang selatan terkenal dengan perangai keras,” Eric menjelaskan. “Mereka juga dikenal sebagai pekerja keras.”
“Anda bisa memberikan solusi?” Sekali lagi, aku tidak mengerti urusan pajak, ekonomi, dan Matematika. Lebih baik orang lain mengulurkan bantuan kepadaku dan dengan begitu posisi Caden aman. “Solusi agar semua pihak merasa aman dan senang.”
“Tergantung dari tuntutan kedua belah pihak.”
“Ya?”
“Gaji? Fasilitas? Tapi, Anda juga harus mendengarkan permintaan dari pihak pengusaha. Sebab bila pengusaha menarik aset mereka dari daerah selatan, maka angka pengangguran akan bertambah. Seperti yang kita ketahui bahwa daerah selatan kini dimonopoli oleh beberapa pedagang besar.”
Oke.
Oke.
Oke.
Aku tidak mengerti.
Sama sekali.
Ternyata urusan dagang, pajak, dan sebagainya jauh dari kemampuanku.