Daftar rencana menghindari takdir buruk milik Moira:
1. Menjadi adik berbakti. √
2. Menghabiskan waktu bersama Caden. √
3. Menjauhkan Caden dari Ciara. √
4. Menghindari kelompok pendukung Adrin. √
Gampang.
Tidak ada yang perlu aku risaukan selama mengikuti setiap langkah demi langkah pencegahan kehancuran Caden dan Moira. Lagi pula, kiamat keluarga Hoshana terjadi lantaran obsesi terhadap Ciara.
Seharusnya setiap tokoh Be My Lover belajar mengendalikan libido agar tidak memicu pertikaian. Andai mereka pernah membaca akhir tragis Raja Pandu, mungkin acara bunuh-membunuh tidak perlu terjadi.
Albastar, kerajaan tempat Caden berkuasa, merupakan salah satu negeri dengan sejarah pertumpahan darah yang didominasi sengketa antara saudara sedaging. Tidak terlalu jelas penggambaran masa lalu Albastar dalam novel; jumlah selir raja terdahulu, jumlah keturunan Hoshana, dan mungkin jumlah simpanan yang melahirkan haram jadah. Tampaknya penulis hanya tertarik menceritakan kegilaan keturunan Hoshana. Mungkin penulis sedang dalam semangat juang menggebu. “Wohooo! Mari kita ciptakan karakter gila dan tambahkan bumbu sensualitas.” Seperti itu.
Berhubung aku merasuki tubuh Moira, dengan senang hati diriku menyabotase takdir Caden, Ciara, Adrin, dan segelintir karakter pendukung. Aku tidak mau dijadikan tumbal plot demi mempersatukan Adrin dan Ciara. Enak saja. Tidak masalah bila Moira yang asli mau kembali dan mengambil alih takdir, tetapi bila aku yang berada di posisinya ... permisi, aku tidak sudi.
Tidak perlu malu-malu. Sekarang saat yang tepat memulai revolusi!
Seperti sekarang. Pertama-tama aku harus memperlihatkan kesungguhanku mengenai merusak reputasi Moira. Halo, sebagai arwah gentayangan yang tersangkut di tubuh yang tidak tepat, aku masih berharap keluar dari sini. Persetan dengan kekayaan kalau setiap hari harus mencemaskan riwayatku.
Oleh karena itu, berhubung cuaca amat cerah dan udara pun sejuk; aku sengaja mengajak Caden piknik di dekat pohon ceri. Duduk di alas ditemani hidangan biskuit dan teh, paduan sempurna mengagumi kumpulan bunga merah muda yang tengah mekar di pohon ceri.
“Kakak, jangan terlalu memaksakan diri.” Kali ini aku mengenakan gaun putih dengan hiasan bunga-bunga biru. Rambutku dikepang menyamping. Tidak ada perhiasan apa pun selain jepit rambut bertatahkan safir biru. “Pekerjaan bisa membuatmu mengalami kebotakan dini.”
Dalam hati aku berkata, “Hoho, Moira. Apakah kau mulai berubah pikiran? Ayo cepat kembali sebelum reputasi tersohormu kuhancurkan habis-habisan!” Pasalnya Moira, entah mengapa, tidak terlalu memiliki kedekatan dengan Caden. Demi merusak jalan cerita dan memaksa Moira kembali, aku akan mengubah citra si antagonis gendeng.
“Begitukah?” Kali ini Caden mengenakan busana bernuansa biru tua dan hitam. Cravat biru muda melingkari leher dan sebutir berlian tersemat di bagian tengah cravat.
Aku ingin berguling di rerumputan sambil menangisi nasib. Kenapa aku harus jadi Moira dan bukannya tokoh sampingan? Apa gunanya aku dekat Caden si-tampan-antagonis-seksi-pujaan-hati kalau tidak bisa modus? Percuma!
Aku mengangguk. “Kakak, bolehkah aku menata rambutmu?”
“Kenapa?”
“Agar kau terlihat tampan,” jawabku. Tanpa menunggu kesediaan Caden, aku langsung duduk di belakangnya. Pelayan menghela napas (mungkin mereka mendoaakan keselamatanku). “Rambut seindah ini jangan sampai rusak.”
Untungnya Caden diam saja. Dia membiarkanku melepas pita rambut miliknya. Tidak seperti Moira, rambut Caden lurus dan setiap helainya tampak seperti benang perak. (Tiba-tiba aku ingin mencabut beberapa helai rambut Caden dan menjualnya ke klub penggemar Caden di duniaku. Pasti laku keras.) Menggunakan jari, perlahan aku menyisir, mengepang, dan mengikat rambut.
“Belum selesai,” kataku. “Kakak tidak boleh ke mana-mana. Janji?”
Caden terkekeh. “Aku akan duduk di sini,” ujarnya, manis. “Menunggumu.”
Aku memetik beberapa kuntum aster, baby breath, dandelion, dan mawar. Hampir saja tersandung gara-gara rok gaun-ningrat. Namun, untungnya sepelukan bunga yang aku kumpulkan aman.
“Bunga?”
“Kakak diam saja,” kataku sembari menjatuhkan bunga ke alas duduk. Pertama-tama aku menjalin beberapa kuntum bunga dalam satu rangkaian kemudian mengikatnya sebagai mahkota. Namun, sebelum memasangkan mahkota bunga, aku terlebih dahulu menyelipkan beberapa dandelion dan baby breath ke kepangan rambut. “Dengan ini aku nyatakan Kakak sebagai raja musim semi.” Perlahan mahkota bunga kuletakkan di kepala Caden.
Sepertinya pelayan dan pengawal berusaha menahan tawa agar tidak dijatuhi hukuman penggal sebab tubuh mereka bergetar dan wajahnya memerah.
Aduh! Apa aku keterlaluan? Tapi, aku, maksudku Moira, kan, adiknya. Mana mungkin dia tega? Benar, ‘kan?
“Kakak?”
Tolong jangan mengamuk. Tolong jangan mengamuk. Pokoknya jangan mengamuk.
Keheningan Caden membuatku berpikir ulang mengenai posisi pria berbahaya dalam lingkaran iblis milik Moira.
Telanjur basah. Aku mempertahankan senyum di wajahku, berjuang agar topeng kepura-puraan milikku tidak retak.
“Kenapa kau tidak ingin menikahi Adrin?” tanyanya, kedua mata Caden tampak seperti danau di musim dingin. Aku bisa merasakan permukaan es yang kupijak amat tipis sehingga satu-satunya yang bisa kulakukan hanyalah diam di tempat. “Moira, apa yang membuatmu berubah pikiran?”
Tidak mungkin aku menjawab: “Karena kalau aku menikah dengan Adrin, maka kita semua akan mati.” Akhirnya aku hanya bisa mengarang alasan yang tidak membahayakan keberadaanku. “Karena aku ingin menikmati kebersamaanku bersama Kakak.” Sekuntum dandelion tampak rapuh dalam genggamanku. Seperti hidup milik Moira—indah, tapi hanya sesaat. “Lagi pula, dia tidak penting.”
Seekor kupu-kupu hinggap di mahkota bunga, sayapnya bercorak biru dan hitam. “Hanya karena itu?”
Walau posisi Moira sebagai seorang putri, tetapi segala urusan kerajaan jatuh ke tangan Caden. Dia tidak membantu dalam administrasi atau apa pun. Kehidupan Moira hanya berputar di sekitar kesenangan. Mungkin Caden toleransinya akan sifat Moira amat mencengangkan hingga bersedia menuruti segala permintaan, termasuk mengikat Adrin dalam tali pernikahan.
Sekarang, aku tidak akan membiarkan Caden melirik Ciara.
Sekarang, aku akan memastikan Adrin kehilangan motivasi menggulingkan Caden.
Sekarang, AKAN AKU BUAT MOIRA MENYESAL KARENA MEMBUATKU MEMBERESKAN MASALAH HIDUP!
“Kakak lebih penting daripada Adrin,” kataku menyanjung. Ayolah, kau harus takluk pada rayuan maut. Dengarkan aku dan jadilah tokoh baik hati. “Pokoknya Kakak yang terbaik.”
Urat maluku sudah putus. Terserah bila pelayan dan pengawal yang ada di sini menganggapku tidak tahu diri.
“Paduka, Lord Eric memohon audiensi.”
Untung ada yang menyela. Pelayan istana mengantar seorang pria yang aku tahu (berdasarkan deskripsi novel) bernama lengkap Eric Hoshana. Dalam cerita dia berusia sekitar 45 tahun. Rambut perak, mata hijau, dan perawakan tegap. Dia mungkin anak salah satu selir terdahulu. Amat mengejutkan ayah Caden ternyata memiliki saudara tiri dan mungkin daftarnya akan bertambah mengingat hobi lelaki Hoshana.
Tolong, aku ingin pergi dari sini.
“Salam kepada permata Albastar. Semoga kemuliyaan selalu memberkahi Anda,” katanya kepada Caden.
Caden, maafkan aku. Bukan maksudku membuatmu terlihat aneh.
“Aku tidak ingin menemui siapa pun,” kata Caden, dingin. Tatapan yang ia arahkan kepada Eric amat menusuk. Namun, di luar dugaan, lelaki itu tidak berjengit. Dia tetap bergeming di tempat. “Paman, aku tidak suka diganggu.”
Caden bangkit, sama sekali tidak terganggu dengan penampilannya.
“Saya yakin,” kata Eric sembari melirikku. “Kabar mengenai kesehatan Putri Moira telah menyita perhatian Anda.”
“Kakak....”
“Moira, kembali ke kamar.”
Aku mengabaikan tatapan Eric. Hawa dingin menusuk tengkuk dan membuatku ingin lari secepat mungkin meninggalkan kedua Hoshana. Bahkan saat aku meninggalkan Caden bersama Eric, rasa tidak menyenangkan itu masih mengikutiku.