Kai memang sengaja tidak langsung menuju jalan pulang. Dengan seenaknya, dia melewati rute terpanjang menuju kota. Bahkan sekarang, dia memarkirkan kendaraannya masuk ke area rumah makan yang kelihatan ramai. "Ayo kita sarapan dulu," katanya begitu selesai memarkir mobilnya bersama dengan deretan kendaraan lain. Vera menghela napas panjang, "Kai, bolehkah nanti aku saja yang menyetir. Aku ragu kita akan sampai ke rumah hari ini kalau kamu yang menyetir." "Jangan begitulah," Kai keluar dari mobilnya, "aku perhatian ini, kita harus sarapan tepat waktu." "Menyebalkan, aku tidak lapar," bantah Vera begitu keluar sambil memeriksa wajahnya di depan spion, merapikan rambutnya yang mirip leher singa, lalu menepuk pipinya agar tidak terlalu kusut. Dia bertambah galau karena tampangnya yang sang

