Penasaran yang aneh

1392 Kata
^^ Aneh banget, tuh, cewek. Ketika di luaran sana banyak yang ngantri pengen kenalan sama gue, dia malah mrmbisu.  °Abraham° *** "Ok! Akan gue coba," ujar Abraham mantap. Ia langsung berdiri dari tempat duduknya dan melangkahkan kakinya menuju wanita bercadar yang ada di seberangnya. Baru beberapa langkah Abraham berjalan, tiba-tiba Samuel meneriakinya.  "WOI, BRO! MAU KEMANA, LO?" teriak Samuel. Namun, teriakan dari sahabatnya itu tidak digubris sama sekali oleh Abraham. Langkah demi langkah ia jalani. Hingga akhirnya, Abraham sudah hampir dekat dengan tempat duduk dari wanita bercadar. Tinggal dua langkah lagi ia akan sampai di tempat wanita itu. Namun, tanpa diduga olehnya, wanita bercadar itu menoleh dan menatapnya sekilas.  Deg!  Anjir! Kenapa banyak suara drum di hati gue? batin Abraham. Tanpa menghiraukan detak jantungnya yang berdebar, Abraham langsung duduk di depan wanita bercadar. Namun, tidak ada respon sama sekali dari wanita itu membuat suasana menjadi hening seketika. Satu detik ... Dua detik ... Tiga detik .... Suasana hening seperti ini lah yang sangat tidak disukai oleh Abraham. Sehingga, ia pun mengeluarkan kata-kata mutiaranya. *eh ralat, maksudnya kata-kata perkenalan alias basa-basi untuk memecahkan keheningan.  "H-Hai ..." sapa Abraham dengan gugup. Eh, anjir!  Gugup, kok, nggak bilang-bilang? Turun sudah image gue sebagai cowok paling ter ter di kampus ini, batin Abraham. Dengan sedikit berdehem untuk menetralkan kegugupannya. Abraham menyapa wanita itu dengan datar. "Hai, nama lo siapa?"  Namun semua perlakuan itu sama sekali tidak direspon. Wanita itu hanya menjawab dengan menatap aneh ke arah Abraham. Ok! Tatapan aneh itu tidak sesakit pas ditinggal gitu aja, guys! batin Abraham.  Abraham menatap punggung wanita bercadar itu dengan mengernyitkan dahinya. Aneh. Satu kata itu lah yang tiba-tiba muncul dalam pikirannya. "Gila! Gue dikacangin, gitu?" gerutunya.  Abraham sempat menatap matanya. Satu kata yang pertama terlontar dari hatinya, Indah.  Ya, bagaimana tidak indah, lensa matanya yang berwarna biru hazel dan bulat, serta bulu mata yang panjang dan lentik, semua mata yang melihatnya pasti akan terhipnotis. "BHAHAHAHA..."  Suara gelak tawa secara tiba-tiba itu langsung membuyarkan pikiran Abraham. Entah kapan sahabatnya itu berada di sampingnya, karena sedari tadi fokus Abraham hanya tertuju pada wanita bercadar. "Gila! Seorang Abraham Shandika Pratama. Laki-laki paling ter ter di kampus, banyak wanita yang terpesona dengan wajahnya, dan banyak pula yang mengantri untuk berkenalan dengan Abraham. Namun, ketika seorang Abraham mengajak kenalan terlebih dahulu malah dicuekin gitu aja? Seriously? Mana wanita ini bercadar lagi! Ngakak gile gue, Bro!" cerocos Samuel di tengah tawanya. Pletak!  "Yap, pas!" ucap Abraham datar. Satu buah pulpen sangat pas mendarat di kening sahabatnya itu. Samuel sendiri hanya mampu meringis kesakitan dengan tangan yang mengusap keningnya. "Gile! Sakit, Dodol! Fix, aku yang tersakiti ini. Abwang ... tega banget sih cama dedeq main nimpluk-nimpluk aja pake pulpen," rengeknya dengan suara yang dibuat manja. Abraham yang mendengar suara Samuel hanya bergidik ngeri. Gila banget gue bisa bertahan sama ni spesies! batin Abraham. "Heh! Tutup botol! Abis kerasukan apaan, sih, lo? Geli gue denger nada bicara lo yang kek gitu!" ketus Abraham. "Lagian. Sakit tahu, kasian banget ni kepala kes—" "Bacot, lu! Balik kelas aja dah mending," ajak Abraham yang langsung bergegas meninggalkan Samuel. "Eeh ... Abwang tungguin dedeq ..." rengek Samuel.  Semua orang yang berada di kampus dibuat aneh oleh tingkah Samuel. Namun, sebagiannya lagi ada yang dibuat gemas oleh tingkahnya. Bahkan, terdengar bisikan-bisikan dari para rakyat kampus ketika ia melewati lorong-lorong kampus. "Iiih ... Tuh Samuel ngapain, sih, ngomong kek gitu geli gue dengernya!" "Untung Abraham mau nerima Samuel jadi sahabatnya." "Alaaah! Palingan Abraham cuma kasihan aja tuh sama Samuel!" "Aaa ... Sam kok gemaz, ya, ngomongnya. Pengen gue cubit." "Itulah kelebihan Samuel yang bisa membuat Abraham mertahanin persahabatannya, karena Samuel bisa menghibur Abraham ketika badmood." Dan masih banyak lagi perkataan yang keluar dari mulut orang-orang, tapj Samuel sama sekali tidak pernah menggubrisnya. Ia tetap bangga dengan dirinya sendiri tanpa memikirkan perkataan orang lain. Samuel semakin mengejar Abraham dengan berlari yang dibuat-buat (kalian tahu, kan, maksud lari yang dibuat-buat? Itu, loh, yang kek di film-film ... tau lah, ya, pasti) Ok lanjut! "Abwang ... Jangan tinggalin dedeq cendili dong ..." ujar Samuel setelah berhasil memeluk lengan Abraham dengan manja.  Haish! Ini nyokapnya si Samuel ngidam apaan, sih, pas hamil dia? Malu-maluin banget sumpah! Kok, gue bisa bertahan ya, sahabatan sama dia? umpat Abraham dalam hatinya. "Iya sayang ... Abwang nggk bakal ninggalin dedeq sendirian, kok. Abwang bakal setia nemenin dedeq sampai bila-bila," jawab Abraham lembut. Tangannya terulur untuk membalas pelukan Samuel. Abraham dan Samuel berpelukan layaknya teletubis di tengah lorong kampus. Sehingga, kini mereka menjadi pusat perhatian orang-orang yang sedang berlalu lalang. "Woi, Bang!! Lo ketularan ma ni anak, ya? Najis gue liatnya. Kalian ini sama-sama ganteng, tapi Gay! Nggk malu apa, dilihatin banyak orang?" cerocos Seyra yang entah kapan berada di depan mereka. Spontan Abraham dan Samuel melepaskan pelukannya, karena ternyata banyak orang-orang yang menahan tawanya karena melihat mereka berpelukan. "Cie... Ayank Eyra cembulu, ya?" ucap Samuel sambil mencolek dagu Seyra. "Hih, ogah banget! Siapa juga yang cemburu?" ketus Seyra. "Udah, lah, yayank Seyra ngaku aja kalo cemburu. Ya nggk, Abr— loh si Abra mana, nih? Ye! Ninggalin gue, lagi! Ini semua gara-gara lo yayank Seyr— lah! dia juga ninggalin gue? Fix, gue ditinggal oleh dua kakak beradik yang sama-sama tenar di kampus ini!" cerocos Samuel. Seyra hanya menjulurkan lidahnya dihadapan Samuel dengan mengacungkan jari jempol kebawah. *** Tidak terasa bel pulang untuk jam pelajaran kedua sudah berbunyi, semua Mahasiswa/i berhamburan keluar kelas, termasuk Abraham dan Samuel. Kini, mereka berjalan menuju parkiran. Di sana sudah terlihat Seyra yang sedang bersandar di mobil Abraham.  Ya, Seyra menunggu Abraham yang masih ada pelajaran mata kuliah di jam siang dengan berduduk santai di kantin kampus. "Hai, bebeb Eyra..." sapa Samuel yang hanya dijawab gumaman kecil oleh Seyra.  "Dah, Bang! Yuk, pulang! Capek gue ngeladenin ni, Curut. katanya nggk terpesona sama gue tapi malah ngejar-ngejar gue!" ketus Seyra.  "Lah ... siapa yang ngejar-ngejar, lo? Gue, kan, lagi berdiri dihadapan lo, Sey." "Serah dah, serah! Bang, yok, cabut! BYEE!" ucap Seyra dengan mengibaskan rambutnya ke wajah Samuel.  Abraham hanya bisa menuruti kemauan Seyra. Di samping malas mendengarkan perdebatan antara adik dan sahabatnya itu, ia juga sudah mulai merasa lelah dan ingin beristirahat. Di dalam mobil hanya ada keheningan, Seyra merasa aneh kenapa Abangnya ini tiba-tiba diam? Karena biasanya Abraham paling rame jika sedang berada di dalam mobil.  "Bang!" panggil Seyra.  "Hmm." "Abang!" "Hmm." "ABANG ABRAHAM SHANDIKA PRATAMAAA!" pekik Seyra menggelegar di dalam mobil.  "Apa sih, Dek? Gue nggk budeg kali! Telinga gue masih normal. Yang ada setelah lo teriak-teriak gitu, kuping gue jadi nggk normal!" cerocos Abraham dengan ketus.  "Lagian, Abang, dipanggil malah jawab Hmm dan Hmm mulu," rajuk Seyra.  "Hmm." "Ish, tuh, kan, hmm lagi. Kenapa sih, Bang? Kagak biasanya deh seorang Abraham, kakak terganteng dari Seyra diam seribu bahasa ketika di dalam mobil. Biasanya lo yang paling rame,"cerocos Seyra. "Ok, gue cerita. Gue kesel, Dek! Masa coba, ya, seorang Abraham laki-laki ter ter di kampus, laki-laki yang membuat semua wanita terpesona sama kegantengan gue, laki-laki yang banyak antrian perkenalannya, giliran gue yang ngajak kenalan ke cewek malah dicuekin, dan yang lebih parahnya lagi, dia malah ninggalin gue pas gue lagi sayang-sayangnya. Eh ralat, maksudnya ninggalin gue tanpa sepatah kata apapun. Coba, Dek, bayangkan!" jelas Abraham dengan nafas yang menggebu-gebu akibat rasa kesalnya. Hening ... Hening ... Hening.  Namun seketika ... "Bwahahahaha," Terdengar suara tawa menggelegar dari adiknya itu. "Ngakak gue!" ujar Seyra di tengah tawa menggelegarnya.  Abraham yang ditertawakan seperti itu langsung merubah raut wajahnya menjadi datar kembali. "Nah, kan, pasti ketawa. Nyesel gue cerita sama lo, Dek."  "Ye ... Santuy, Bang! Lagian tumben banget lo dicuekin sama cewek. Gila! Kok, bisa? Emang ceweknya kek gimana? Jadi penasaran gue," ujar Seyra dengan pandangan menerawang.  "Ya, gitu. Dia pake cadar dan yang keliatan cuma matanya doang." "Hah! Tumben lo, ngajak kenalan ke cewek alim? Kesambet apaan, dah?" "Yey, jangan salah paham dulu. Gue sebelum skripsi ada tugas tambahan. Nah, tugasnya adalah mewawancarai Mahasiswa/i di kampus kita. Nah, si Sam nyaranin gue buat mewawancarai cewek bercadar. Katanya cewek yang kek gitu bakal jarang diwawancarai oleh orang-orang," jelas Abraham.  "Dan, cewe bercadar yang kek gitu bakal susah buat diwawancarai, Bang!" sambung Seyra datar. Mendengar ucapan dari adiknya, Abraham langsung menatap aneh ke arah Seyra.  Hadeuh, kalau beneran susah gimana? Mana sekarang gue jadi penasaran sama tuh, cewek. Mana tugas wawancaranya cuma dua minggu. Mana tugas skripsi belum beres. Ribet amat ya Allah mau wisuda juga, batin Abraham.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN