Bablas

1486 Kata
^^ Baru kali ini ada cewek yang cuek sama gue. Diajak kenalan malah pergi. Aneh memang tuh cewek° Abraham° *** Setelah sampai rumah, Abraham langsung masuk ke dalam kamarnya. Ia merebahkan tubuhnya di kasur King Size miliknya. Matanya menatap langit-langit kamar dengan tatapan kosong. Pikirannya menerawang memikirkan kejadian tadi siang di kampusnya. "Baru kali ini ada cewek yang cuek sama gue. Diajak kenalan malah pergi, aneh memang tuh, cewek," gumam Abraham. Terdiam sejenak, hingga akhirnya dia tersenyum sendiri, "Hmm, ok! Kita liat saja nanti. Gue yakin, lama-kelamaan tuh cewek bakal terpesona sama gue. Secara gitu, ya, gue adalah laki-laki terpopuler di kampus. Bahkan, semua cewek langsung mendekat tanpa gue pinta. Jadi gue yakin suatu hari nanti, tuh, cewek bercadar bakal terpesona juga sama gue," lanjutnya dengan sangat percaya diri.  "Abang. Buruan turun. Mau makan, kagak?" teriakan Seyra dari bawah membuat lamunan Abraham buyar. Tanpa menjawab pertanyaan dari adiknya, ia langsung turun ke bawah dengan santai dan gaya stay coolnya. "Mommy sama Daddy belum pulang, Dek?" tanya Abraham setelah duduk di meja makannya. "Belum, masih ada kerjaan katanya," jawab Seyra tak acuh. Tidak ada obrolan lagi setelah itu. Suasana menjadi hening. Hanya terdengar dentingan sendok dan piring. Setelah selesai makan, Seyra langsung membereskan piringnya ke dapur dan mencucinya. Sedangkan Abraham, ia langsung ke ruang tengah dan menyalakan TV. Menonton film kesukaannya, sambil makan cemilan.  "Ellah, udah gede, juga.Tontonannya tetep aja, Upin Ipin. Nggak malu, tuh, ama umur?" ledek Seyra setibanya ia di depan TV dan langsung duduk di samping Abraham. "Biarin, napa! Toh, Upin Ipin filmnya rame. Dari pada, lo, nontonnya drakor mulu!" ujar Abraham membalas ledekan dari adiknya. Mendengar pembalasan dari kakaknya, seyra langsung menatap tajam kearah Abraham. Sedangkan yang ditatap hanya acuh tak acuh.  "Eh, Bang! Mending, lo wawancaranya ama gue. Kan, gue juga sekampus ama, lo. Dari pada wawancara sama tu, cewek bercadar. Gue yakin, tu cewek kagak bakal mudah lo wawancarai," ucap Seyra tiba-tiba, membuat perhatian Abraham terpindah. "Iyey, itu sih maunya, lu! Lagian, apa, sih, yang mau diwawancarai dari seorang Seyra? dan untuk cewek bercadar itu, gue yakin lama-kelamaan juga bakal kesemsem sama gue. Secara, kan, gue—" "Ganteng? Populer di kampus? Semua cewek-cewek pada mendekat tanpa diminta. Iya, kan? Lu mau ngomong gitu, kan, Bang?" potong Seyra yang hanya dijawab dengan cengiran oleh Abraham. *** Keesokan harinya, Abraham berangkat ke kampus seperti biasa. Berangkat dengan adiknya yang bernama Seyra yang memang kebetulan jam pelajarannya sama-sama di pagi hari. Tidak lupa, mereka sarapan terlebih dahulu. Abraham dan Seyra memang sangat hangat dan akrab, selalu terbuka satu sama lain, dan selalu saja harmonis. Bahkan terkadang, orang-orang mengira bahwa mereka adalah sepasang kekasih. Gayanya yang sama-sama stylish, sama- sama populer di kampus, dan terlihat Abraham yang selalu melindungi Seyra dari laki-laki buaya. Sesampainya di kampus, Abraham dan Seyra langsung turun dari mobil sportnya, dan sudah menjadi kebiasaan bagi keduanya yang selalu menjadi pusat perhatian semua Mahasiswa/i di kampus ini. "Hallo, Beb Eyra, dan Abang ipar!" sapa Samuel tiba-tiba dengan mengedipkan sebelah matanya. Sudah biasa bagi Samuel yang suka datang tiba-tiba tanpa sepengetahuan keduanya. Macam apa?? Oh, ya. Samuel memang sering bersikap seperti itu. Dia bertingkah seperti itu hanya untuk mencairkan suasana dan memang menjadi ciri khasnya di kampus. Namun, ada saatnya Samuel bisa bersikap serius dan cool. Mungkin, orang lain hanya melihat sisi anehnya saja, tanpa melihat keseriusan di dalam diri Samuel. Namun bagi Abraham dan Seyra, mereka sudah mengetahui sifat asli Samuel. "Eh, lu, Rut! Kebiasaan, deh! Datang tiba-tiba, kek hantu aja tahu, nggk? Itu suara juga, plis deh jangan dibuat manja gitu, geli gue dengernya!" cerocos Seyra ketus. Entah kenapa, jika berdekatan dengan Samuel suasana hati Seyra langsung badmood. "Rut? Apaan, tuh, Rut? Ish ... kan, bebeb Eyra udah tahu sifat asli gue kek mana? Sikap asli gue bikin lo kesemsem sama gue, kan?" ujar Samuel sambil menaik turunkan alisnya. "Iyey! Kebiasaan deh lo pedenya ting—" "Heh! Udah, napa! Kebiasaan, kalau ketemu selalu aja ribut, pusing gue dengernya. Nanti kalau jodoh baru tahu rasa, dah!" potong Abraham yang jengah dengan sikap Samuel dan Seyra. "Ya, kalau jodoh, ya, gue seneng lah. Lo juga seneng, kan, Kalau berjodoh sama gue?" ucap samuel dengan percaya dirinya. Matanya menatap penuh harapan dari Seyra.  "Au, ah! Bang, gue duluan , bye!" pamit Seyra. Ia langsung pergi menuju kelasnya. Meninggalkan Samuel dan Abraham yang masih berada di tempat parkiran. Entah, lah, akan seperti apa hubungan Samuel dan Seyra, karena setiap bertemu mereka selalu saja ribut seperti Tom and Jerry. "Heh! Mau ke kelas kagak, lo?" tanya Abraham sedikit menaikkan suaranya, karena Samuel masih serius melihat kepergian Seyra. "Eh! Iyalah! Ya, kali, gue di parkiran mulu? Dikira gue kang parkir, apa? Masa ganteng-ganteng gini disebut kang parkir," ujar Samuel. Abraham yang mendengar tingkat percaya diri Samuel yang terlalu berlebihan pun semakin membuatnya jengah. "Serah dah, serah! Semerdekanya lo aja, Sam." Abraham langsung berjalan menuju kelas dengan diikuti Samuel dari belakangnya. Memulai pelajaran seperti biasanya, dan mendengarkan penjelasan yang disampaikan oleh guru. *** Jam pelajaran akhirnya selesai. Setelah ketemu dengan wanita bercadar kemarin, Abraham selalu semangat untuk datang ke kantin yang disediakan di kampus, ia tidak akan menyerah untuk membuat wanita bercadar itu terpesona kepada Abraham. Melihat sahabatnya menjadi semangat ke kantin membuat Samuel aneh, karena Abraham yang paling malas ke kantin, kini berubah 180° menjadi semangat. Samuel langsung berpikir, mungkin ini semua karena wanita bercadar tersebut. "Tumben, lo semangat ke kantin? Biasanya juga ogah-ogahan," ucap Samuel datar. "Gue penasaran sama tu cewek bercadar yang kemarin dan gue akan terus berusaha mendekatinya, membuat dia luluh sama gue!" ujar Abraham tersenyum miring. "Terus, kalau dia udah luluh, gimana? Mau tanggung jawab nggk, lo?" tantang Samuel. "Ya kagak, lah! Gue cuma penasaran aja, gue akan buat dia luluh sama gue, terus gue tinggalin," ujar Abraham dengan sangat santai. "Gila, lo! Awas aja, nanti lo kemakan sama omongan lo sendiri. Gimana kalau nanti, justru lo yang bakal suka beneran sama tuh, cewek?" "Ya kagak, lah! Cewek tertutup kek gitu, bukan tipe gue. Lu tau, kan, gue jarang serius ama cewek?" "Serah lu dah, Abra! Bingung gue ama lu." Seperti biasa di pojok yang bersebrangan dengan Abraham dan Samuel, terlihat  wanita bercadar seperti kemarin. Kenapa mereka bisa seyakin itu? Ya, karena wanita bercadar itu memakai jam tangan yang sama, jam tangan berwarna maroon di tangan kanannya. Tanpa bertanya kepada Samuel, Abraham langsung melangkahkan kakinya menuju meja wanita bercadar itu. Sedangkan Samuel yang melihatnya hanya bisa menggelengkan kepalanya. Samuel tahu, bagaimana sifat Abraham yang selalu membuat wanita jatuh pada pesona yang dimiliki oleh sahabatnya itu. Sampailah Abraham di meja wanita bercadar dan seperti biasa Abraham selalu diacuhkan oleh wanita bercadar itu. "Hai, Gue Abraham. Lo tahu, kan? Gue itu laki-laki terpopuler di kampus ini. Nama lo, siapa?" tanya Abraham seperti biasa dengan menjulurkan tangannya, namun apa? Tetap saja perlakuan Abraham tersebut diacuhkan oleh wanita bercadar itu. Ok, Abra sabar. Terus berusaha, terus, batinnya menyemangati dirinya sendiri. "Ok! Kalau lo nggk mau ngasih nama lo, nggk papa. Oh iya, lo jurusan apa?" Lagi dan lagi hanya keheningan yang terjadi, ketika Abraham bertanya. "Lo kenapa, sih, selalu nggk jaw—" belum sempat Abraham menyelesaikan perkataannya, wanita bercadar itu sudah berdiri dan berniat melangkahkan kakinya untuk pergi. Melihat itu, dengan sigap Abraham menarik tangan wanita bercadar itu sekuat tenaga. Otomatis perlakuannya itu membuat si wanita bercadar limbung dan berakhir menabrak d**a bidang Abraham. Melihat itu, Abraham langsung mengambil kesempatan  untuk memeluk wanita bercadar. Aneh memang Abraham ini! Sontak perlakuan Abraham yang di luar nalar itu membuat semua orang yang berada di kantin menatap mereka dengan tatapan yang berbeda-beda, ada yang cengok, ada yang iri, dan yang lainnya. Plak!! Sebuah tamparan keras mendarat di pipi Abraham tanpa ia kira. Ya, wanita bercadar itu langsung menampar pipi Abraham dan berlari menjauh dari kantin. Abraham hanya meringis sakit di pipinya. Lagi dan lagi, perlakuan wanita bercadar itu menjadi pusat perhatian banyak orang. Aneh, itulah yang ada di pikiran banyak orang, karena menurut mereka, seharusnya wanita bercadar itu senang karena bisa dipeluk oleh seorang Abraham yang menjadi idaman para wanita lain. Tiba-tiba tangan Abraham ditarik oleh samuel keluar dari kantin dan menuju rooftop kampus. "b*****t, lo!" kata u*****n itulah yang keluar dari mulut Samuel dengan suara bentakan. "Gila, tuh, cewek! Berani banget nampar gue!" desis Abraham sambil mengusap-usap pipinya. "Ya, lo, yang salah, Bambank! Namanya cewek alim kek gitu, mana mau dipeluk sama laki-laki sembarangan! Kenapa juga, sih, lo harus meluk dia?" geram Samuel. "Ya, habisnya, gue kesel tuh, ama dia. Gue udah nanya dengan lembut beberapa kali kagak dijawab. Untung gue sabar sama sikapnya yang cuek, dan tadi tuh, gue belum beres bicara dia udah mau pergi gitu aja? Kesel gue nggk dihargain sama sekali. Ya udah, gue tarik aja tangannya," gerutu Abraham. "Dan gue yakin, setelah kejadian ini, lo akan semakin sulit untuk ketemu sama dia!" sambung Samuel. Sedangkan disisi lain, wanita bercadar tadi menangis di taman belakang kampus, ia tidak menyangka dengan kejadian tadi. Dia merasa gagal menjaga dirinya, sampai-sampai dia bisa dipeluk dan dipermalukan oleh laki-laki yang bukan mahramnya. Aku nggk akan pernah mau ketemu lagi sama dia, dan kejadian ini membuatku benar- benar tidak suka padamu, batin wanita bercadar.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN