Kehilangan

1243 Kata
^^ Ternyata, tanpa hadirnya dirimu hanya beberapa hari membuatku merasakan kehilangan.  Dan apakah itu benar? Aku sudah mulai mencintaimu? °Abraham° *** Tiga hari belakangan ini, Abraham sudah tidak pernah melihat keberadaan wanita bercadar di dalam kantin. Ada sedikit rasa kehilangan di dalam hatinya, karena tidak melihat wanita bercadar itu. Abraham pun merasa bersalah atas apa yang dilakukannya tiga hari yang lalu di kantin kampus. Maka dari itu, Abraham menjadi tidak semangat dalam belajar dan membuat skripsi.  Meski nyatanya waktu terus berlalu dan pengumpulan skipsi tinggal beberapa hari. Belum lagi tugas wawancara akan dikumpulkan dua hari lagi.  Bruaak!!  Dengan tiba-tiba, meja Abraham di gebrak begitu saja. "Abraham! Apa kamu mengerti apa yang saya sampaikan tadi?" tanya Pak Santo membuat Abraham terkejut. Ia mengumpat dalam hatinya, "Anjir! kaget gue!" batin Abraham.  "Abraham!" ujar Pak Santo kembali membuat Abraham benar-benar tersadar.  "Eh, a-anu, Pak. Sa-saya ngerti Pak, ngerti," jawab Abraham terbata-bata.  "Coba kalau kamu ngerti, ulangi kembali apa yang saya sampaikan," titah Pak Santo santai.  "Eh, kok gitu, Pak?" tanya Abraham terkejut. Bisa kena amuk besar kalau ia ketahuan ngelamun.  "Gitu, apa? Bukannya kamu sudah mengerti?" "Eh anu, Pak. Ternyata saya lupa lagi," jawab Abraham dengan cengirannya. Tangannya menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.  "Lain kali, kalau saya sedang menjelaskan tentang pelajaran, usahakan fokus, jangan melamun. Kamu ini, biasanya juga paling khusuk ketika mendengarkan penjelasan dari saya. Sebentar lagi kamu juga sidang skripsi, kan? Jangan kebanyakan melamun," pesan dari Pak Santo dengan senyum ramahnya. "Eh, iya, Pak. Maaf, lain kali saya tidak akan mengulanginya lagi," ujar Abraham penuh sesal.  "Ok, anak-anak, mungkin pembelajaran kita hari ini dicukupkan sekian. Sebelumnya, ada yang ingin ditanyakan?" tanya Pak Santo.  "Tidak, Pak." "Ok. Kalau begitu, bapak keluar dulu. Kamu Abra, saya tidak ingin melihatmu kembali melamun di pelajaran saya selanjutnya. Baik, Assalamu'alaikum," pamit Pak Santo dan keluar dari kelas.  "Wa'alaikumussalam."  *** Ini kali pertama Abraham tidak fokus dalam belajar, karena biasanya, Abraham itu paling khusuk dalam mendengarkan apa yang Dosen sampaikan, tapi kenapa sekarang dia melamun? Entahlah, pikir Abraham. Abraham juga termasuk Mahasiswa yang pintar di kampus ini. Banyak Dosen yang kagum terhadapnya.   Ok! Abraham, lo harus fokus. Kenapa juga, sih, lo harus melamun?  batin Abraham.  "Woy, Bro! Kenapa sih, lu? Tiga hari belakangan ini lo kagak semangat. Kelihatan banyak melamunnya tahu, nggak? Kenapa, sih? Kenapa?" tanya Samuel tiba-tiba membuat Abraham kembali terkejut.  "Anjir! Kaget, gue. Apa sih, lo?" umpat Abraham.  "Lagian, akhir-akhir ini lo kebanyakan melamun. Takut gue, asli!" ucap Samuel. Ia menepuk bahu Abraham. "Mau ke kantin nggk, lo?" sambung Samuel.  "Kagak. Lo aja sana ke kantin. Gue mau ke rooftop." Meskipun bingung, Samuel tetap mengiyakan jawaban dari Abraham. Ia tidak bisa memaksa sahabatnya untuk ikut ke kantin. Ia hanya melangkahkan kakinya menuju kantin. Berlawanan arah dengan Abraham.  Ternyata, tanpa hadirnya dirimu membuatku sedikit merasakan kehilangan. Kenapa dengan gue? Kenapa gue merasa kehilangan di saat lo nggk hadir di depan gue? Apa ucapan Samuel ada benarnya? Gue udah kemakan omongan sendiri? Ah, entahlah. Bingung gue, gumam Abraham sedikit kesal.  --- Di dalam mobil hanya ada keheningan yang melanda. Abraham masih tetap fokus memikirkan suasana hatinya. Sedangkan Seyra, dia merasa aneh dengan Abangnya yang hanya melamun selama di perjalanan. Namun, Seyra tidak menanyakan apapun ke Abraham, karena ini sedang berada di dalam mobil. Mungkin, gue akan tanya ketika sampai rumah, pikir Seyra.  Beberapa menit berlalu. Kini, mobil sport milik Abraham sudah terpakir di pekarangan mansion orang tuanya. Benar saja dugaan Seyra, Abraham langsung membukakan pintu mobilnya dan bergegas masuk ke dalam rumah tanpa sepatah kata apapun.  Seyra semakin geram dengan tingkah Kakaknya itu, ia langsung mengikuti Abraham dari belakang dengan mulutnya yang senantiasa berkomat kamit. Entah apa yang diucapkan oleh Seyra. Namun, intinya ia sedang merasa kesal dengan tingkah Abangnya.  Ok! Mungkin sekarang suasana hati Abraham sedang tidak mood untuk ditanya. Seyra memutuskan untuk bertanya nanti, setelah suasana hatinya mereda.  Tidak terasa malam sudah tiba. Mentari sudah berganti dengan rembulan. Mungkin, ini saat yang tepat untuk Seyra menanyakan sikap Abraham hari ini.  Tok... Tok... Tok... "Bang!!" panggil Seyra setelah mengetuk pintu kamar Abraham.  "Buka aja, Dek. Pintunya nggk dikunci," teriak Abraham di dalam kamarnya. Mendengar jawaban seperti itu, ia langsung membuka pintu kamar abangnya dan duduk di samping Abraham.  "Bang!" "Hmm." Seyra langsung mendengus kesal ketika jawaban Abraham hanya datar dan dingin.  "Bang. Ih ... kebiasaan, deh, sifat dingin dan datarnya kambuh lagi," rengek Seyra.  "Apaan sih, Dek? Gue biasa aja, kok. Lo aja yang berlebihan," bantah Abraham dengan wajah kesalnya.  "Apa benar, ya, apa yang dikatakan sama Kak Sam? Akhir-akhir ini Abang banyak ngelamun?" gumam Seyra. "Apa, sih? Dusta dia, tuh!" elak Abraham.  "Jangan gengsi untuk mengakui, napa. Tadi gue kebetulan aja ketemu sama Kak Sam yang duduk sendirian di kantin. Ya udah gue samperin deh, si Kak Sam." Flashback on Seyra Pov Lah, bukannya itu Kak Sam, ya? Tumben sendirian, biasanya nempel mulu ama abang gue. Apa gue samperin aja, ya? Tapi gengsi, dong, kalau gue samperin si Kak Sam. Nanti malah ke ge-eran, lagi. Tapi, gue juga penasaran, sih, kemana Abang gue? Bodo dah gue samperin aja tuh bocah.  "Hallo, Kak," sapa gue.  "Eh, ada bebeb Eyra. Tumben, lo, kesini? Kangen, ya, ama gue? Tumben juga lo pake embel-embel, kak?" jawab Samuel dengan percaya dirinya.  Kan, bener dia ke ge-eran. Hadeuh, nyeesel gue.  "Nggk usah ge-er sekali aja bisa, nggk? Lagian gue kesini mau nanya, Abang gue kemana? Biasanya, kan, lo selalu nempel ama abang gue." Kesel gue ama ni spesies, sumpah!  "Oh, ya udah, sih. Gue bukan ge-er, tapi lebih ke PD. Kalau masalah Abang lo, dia ada di rooftop. Males ke kantin katanya," dia ngomongnya kok tak acuh gitu, sih. Lah, bodo amat!  "Lah, tumben bener Abang gue kagak ke kantin?" "Kagak tau, galau kali. Kan, nggk ada wanita bercadar itu." "WHAT? Abang gue nggk ke kantin gara-gara wanita bercadar itu?" Kaget, dong, gue.  Heran gue, Abang bisa-bisanya galau cuma gara-gara cewek? Tumbenan amat.  "Iya, kali. Mungkin udah mulai suka tuh, si Abra. Udah, ah, gue mau balik kelas. Jangan kangen, ya, bebeb Eyra. Aku akan selalu ada di hati kamu. Bye, bebeb Eyra." Anjir! Najis, lah, si Curut! Percaya dirinya terlalu tinggi. Tapi, kenapa gue deg-degan, ya, kalau deket sama tuh, Curut. Ah, bodo!  Flasback off "Emang bener, Bang? Lo galau karena nggk ada wanita bercadar itu?" tanya Seyra hati-hati.  "Anjir, lah! s****n si Sam. Sembarangan banget kalau ngomong," umpat Abraham.  Si abang, mood nya bener-bener rusak, batin Seyra.  "Ya ... Jangan marah ke Kak Sam juga kali, Bang!" Eh, kenapa gue belain tuh, Curut? Ah, bodo,  batin Seyra tak acuh.  "Huft ... Iya. Gue dari kemaren-kemaren mikirin wanita bercadar itu. Gue hanya merasa bersalah aja sama dia," dan merasa kehilangan karena dia yang tiba-tiba menghilang, lanjutnya dalam hati.  "Emang lo buat kesalahan apa, Bang?" tanya Seyra penasaran.  "Gue meluk dia waktu di kantin kampus," jawabnya santai, kelewat santai malah. Watados. Dasar Abraham.  "What?" pekik Seyra.  "Apa, sih, Dek? Biasa aja kali, nggk usah teriak-teriak kek gitu." "Biasa aja kata lo, Bang? Gila! Gue yakin, dah, tuh cewek bercadar bakal langsung benci ama lo," tukas Seyra.  "Kata siapa, lo?" ujar Abraham seperti tidak menerima atas jawaban dari adiknya.  "Ya iyalah, Bang. Mungkin, cewek lain senang pas lo meluk dia, tapi nggak dengan yang ini. Cewek bercadar kek gitu, tuh, suka menjaga dirinya supaya tidak kesentuh pria lain. Pasti pas lo meluk dia, lo langsung ditampar, kan?" tebak Seyra tepat sasaran.  "Kok lo tahu, Dek? Lo ada di sana pas waktu kejadian?"  "Gue nebak aja, Bang. Kalau lo udah ditampar kek gitu, itu berarti dia bener-bener nggk mau lo sentuh, karena dia sangat menjaga dirinya hanya untuk suaminya aja." Tumben bener, ni Adek gue tau masalah beginian, dari mana? pikir Abraham.  "Mungkin, lo udah jatuh Cinta sama dia, Bang. Pesan gue, jika lo bener Cinta sama dia, jaga dia, Bang. Jaga dia dengan cara menikah dengannya. Gue balik kamar, Bang." Setelah mengucapkan itu, Seyra langsung keluar dari kamar Abraham.  Sedangkan Abraham, ia masih mencerna setiap kata dari adiknya. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN