Bagian 27

1704 Kata
Sehari berlalu. Vele yang belum mendapat kabar mengeni keberadaan Vale pun masih terus khawatir. Albus dan Cale diberitahu mengenai ini. Easter mengeluarkan mereka dari bawah tanah agar bisa menemani Vele. Dia tahu, yang dibutuhkan gadis itu adalah keluarganya. Jika kalian bertanya apakah Albus dan Cale tahu mengenai keadaan Vale, maka jawabannya adalah iya. Vele dan Easter yang memberitahu mereka mengenai gadis itu. Tentu keduanya terkejut. Albus terlebih lagi, karena dia sangatlah mengenal putrinya. "Vele. Apakah ada alasan yang mendasari Vale pergi? Dia tak mungkin pergi begitu saja tanpa sebuah alasan," tanya Cale. Vele menggeleng. "Dia saat itu hanya kesal kepadaku Bu karena aku tidak jujur mengenai dirinya. Aku terpaksa melakukan itu agar Vale aman. Dan ini juga atas perintah Raja. Aku tak pernah berpikir jika Vale akan pergi karena hal ini," jawab Vele kala itu. "Ayah, apakah Ayah tahu di mana tempat-tempat yang biasanya Vale kunjungi? Mungkin dia ada di sana sekarang untuk menenangkan diri," tanya Vele kepada pria paruh baya itu. "Tempat yang biasanya dia kunjungi adalah rumah pohon. Tetapi, kita semua tahu jika rumah pohonnya sudah rusak. Jadi, tidak mungkin Vale ke sana," jawab Albus. Vele mengangguk paham, Albus benar. Lagi pula jaraknya cukup jauh untuk ditempuh. Namun, pikiran Vele tertuju kepada sosok Gerry. Pria itu sangatlah ingin Vale dibebaskan pergi dari kerajaan ini. Bisa saja Gerry yang membawa paksa alias menculik Vale sekarang. Sama seperti pria itu yang membawa Vele saat di hutan. "Ayah, Ibu, aku permisi untuk bicara dengan Raja," pamit Vele yang diangguki oleh kedua orang tuanya. Easter sendiri sedang berbicara dengan Jake dan beberapa prajurit yang sudah pulang. Dia memerintahkan mereka untuk menuju ke sisi lainnya di mana kemungkinan besar jika Vale ada di sana. "Raja. Aku ingin berbicara sesuatu," ungkap Vele langsung. Easter mengangguk dan langsung memerintahkan para prajuritnya untuk segera kembali melakukan pencarian, begitu juga dengan Jake. "Ada apa?" tanya Easter kemudian di mana mereka hanya bicara berdua di sana. "Aku memiliki perasaan jika Gerry lah dalang di balik hilangnya Vale. Pria itu menginginkan dan tertarik pada Vale, Easter. Dia pasti menggunakan cara liciknya untuk membawa dan menculik Vale sekarang." Easter mengangguk paham. Dia juga mengira demikian karena kamar Vale tercium aroma aneh ketika di geledah. "Kamu tenanglah, aku pastikan kita akan segera menemukan Vale sebentar lagi. Gerry tidak mungkin tinggal diam, dia pasti akan muncul nanti untuk menekan kita dengan menggunakan Vale." Vele pun mengangguk paham. Jadi, mereka harus mengikuti permainan Gerry sekarang. "Apakah sekarang kau hendak berubah pikiran?" tanya Gerry ketika mendapati gadis yang dibawanya ini tampak gelisah. Vale menggeleng. Cesse bahkan memaki dirinya karena tak memiliki pendirian yang kuat dan kembali ragu-ragu. "Apakah kau yakin mereka tak akan menemukan kita?" Gerry mengangguk penuh. Dia menuangkan segelas air untuk Vale dan memberikannya pada gadis itu. "Kau tenanglah. Di sini kita sangatlah aman. Mereka tak akan mudah menemukan kita. Aku sarankan dua atau tiga hari ini kau tidak keluar karena aku yakin prajurit masih berkeliaran di luar sana," perintah Gerry. Vale mengangguk mengerti. "Gerry, bolehkah aku bertanya?" Inilah yang Gerry suka dari Vale. Gadis ini masih saja bersikap sopan dengan meminta ijin lebih dulu untuk bertanya. Ya, meskipun ini hanyalah hal kecil. "Boleh. Kau bebas bertanya padaku sekarang, Vale. Kita sangatlah aman di sini," jawab Gerry. "Kenapa kau tidak membangun kerajaan dan duniamu sendiri? Masksudku kenapa kau harus menyerang Raja Easter? Padahal bisa dibilang kita sangatlah berbeda dengan mereka. Apakah kamu tidak pernah berpikiran untuk membangun dunia yang isinya orang-orang seperti kita? Itu lebih baik dari pada harus melakukan p*********n dan banyak korban yang berjatuhan nantinya." "Ya, aku sempat berpikir sama sepertimu, Vale. Tetapi kembali lagi kepada rasa dendam. Apakah kau tidak tau jika Raja tidaklah sebaik apa yang dilihat? Dialah yang paling banyak membunuh di sini, dan makhluk incarannya adalah seperti kita. Lagi dan lagi itu semua karena dia ingin membalas orang yang telah membunuh kedua orang tuanya," jelas Gerry. "Dengan begitu tidak ada bedanya dirimu dengan Raja saat ini. Kalian sama-sama mengorbankan makhluk lain hanya karena sebuah rasa dendam. Dendam tidak akan menghilangkan apa pun kecuali nyawa." "Aku sekarang tidak peduli lagi, Vale. Keputusanku tetaplah sama. Kau boleh bergabung atau tidak, itu semua keputusanmu. Tujuanku saat ini masih sama." Bisa dilihat jika kesetiaan Vale masihlah pada sosok Easter di sini. Namun, Gerry tak mudah terpengaruh oleh kata-kata yang dikeluarkan oleh seorang gadis. "Sekali lagi aku tekankan jika Raja tidaklah sebaik yang kau pikir. Dia sangatlah jahat dan penuh muslihat. Dan sepertinya saudaramu alias Ratu kita sudah terpengaruh olehnya. Jika dia tidak mendengarkan Raja, dia tak mungkin melakukan ini semua padamu, bukan?" Vale terdiam. Dia membenci ketika semua fakta yang Gerry katakan mengenai Vele adalah benar. Haruskah Vale percaya kepada pria ini? Melihat keterdiaman gadis itu membuat Gerry gembira. Selangkah lagi dia pasti bisa membuat Vale setuju bergabung. Dengan begini dia siap menyerang kerajaan vampir bersama dengan Vale. "Vale?' Vele terkejut mendapati sosok sang kembarang berada tepat di tepi tebing yang curam dan di bawahnya terdapat jurang yang dalam. "VALE!" Sembari berteriak, gadis ini mencoba menggapai tempat Vale berada. Vale berbalik dan segera mencegah Vele untuk mendekat. Dia mengancam akan berjalan mundur jika Vele meneruskan langkahnya. Vele pun tak memiliki pilihan lain, dia mengalah di sini. "Vale, apa yang kamu lakukan di sini? Kembalilah. Ini sangatlah berbahaya," pinta Vele saat itu. Vale pun tertawa sumbang di tempatnya. "Berbahaya? Kamulah yang berbahaya untukku, Vele," cecar Vale kemudian yang tak Vele pahami. "Apa maksudmu?" "Vele, apakah kamu tidak sadar jika aku begini karenamu? Kamu sudah mengambil semuanya dariku. Ayah dan Ibu lebih menyayangimu, dunia ini menginginkan dirimu. Bagaimana denganku? Ayah dan Ibu pasti membenciku dan menyesal memiliki anak seperti diriku. Seluruh dunia membenciku jika mengetahui semuanya." Vele menggeleng pelan. "Tidak, Vale. Semua itu tidaklah benar. Aku, Ayah, dan Ibu sangatlah mencintai dan menyayangimu. Kami merindukan kenangan yang kita buat dulu, Vale." Kenangan? Bahkan Vale sedikit pun tak ingin mengingat kenangan itu. Karena kenangan itu membuatnya benar-benar terluka. "Kembalilah, Vale. Kita bangun keluarga kita kembali. Ayah dan Ibu sangatlah mengkhawatirkanmu sekarang." "Tidak ada lagi tempat untukku. Di sana hanyalah kamu yang mereka butuhkan. Aku benar-benar kecewa dan membencimu, Vele. Tanpa kamu sadari, kamulah yang sudah menyakitiku. Kamu yang tega berkhinat kepadaku. Jika begini, dulu lebih baik aku tidak menolongmu dari kejaran vampir brutal itu. Dengan begitu kita tak mungkin bertemu satu sama lain." Perkataan Vale terdengar menyakitkan bagi Vele. Vele pun tak kuasa menahan tangisnya. Dia tak pernah berharap hubungannya dengan Vale berakhir buruk seperti ini. "Aku tidak bermaksud mengkhianatimu, Vale. Kami melakukan ini karena ingin melindungimu dari ancaman di luar sana," jelas Vele mencoba menguatkan hatinya. "Ancaman di luar? Bukankah akulah yang menjadi ancaman dunia? Untuk itulah kalian mengurungku di sana." "Tidak, Vale. Kamu salah paham." "Salah paham atau tidak, semuanya sudah terjadi, Vele. Bagiku kamu tetaplah orang paling jahat dalam hidupku." "Vale, aku mohon jangan seperti ini. Jika aku salah, tolong maafkan aku. Aku ingin menebus semuanya. Ayo, kita kembali dan bangun keluarga kira bersama Ayah dan Ibu. Aku janji akan menuruti semua permintaanmu setelahnya." "Benarkah? Apakah kamu benar-benar akan mengabulkan permintaanmu?" tanya Vale memastikan. Vele pun mengangguk penuh. "Baiklah, apakah kamu bisa meninggalkan mate mu setelah ini?" Vele terkejut mendengar permintaan saudaranya. Meskipun dulunya dia membenci dan menentang takdirnya bersama Easter, tetapi sekarang semuanya berbeda. Perlahan Vele sadar jika dia membutuhkan Easter dalam hidupnya. "Lihatlah, bahkan kamu tidak bisa mengabulkan permintaan pertamaku," sindir Vale membuat Vele bertambah sedih sekarang. "Vale, maafkan aku. Dia adalah mate ku." "Bukankah dulu kamu membenci dan tak menginginkannya? Kenapa sekarang, Vele? Apakah kamu sudah berubah pikiran? Kamu saja tidak bisa meninggalkanmu mate mu. Lantas kenapa kamu tega membiarkan aku terkurung dan tak bertemu dengan mate ku." "Vale, aku mohon jangan seperti ini." "Sudahlah. Aku memberimu kesempatan terakhir. Katakan apa yang ingin kamu katakan sebelum aku pergi," ucap Vale terdengar seperti kata-kata terakhir. Vele mengembuskan napas beratnya. Dia tak ingin hubungannya dengan Vale berakhir buruk seperti ini. "Vale. Aku hanya ingin kamu tau jika kamu semua sangatlah menyayangimu. Tidak peduli seberapa berbahayanya dirimu, aku, Ayah, dan Ibu tetaplah keluargamu dan kamu sangatlah menyayangimu melebihi apa pun. Dan aku harap kamu mau memaafkanku jika aku memiliki salah." Terdengar menyedihkan, tetapi Vale tak ingin terpengaruh. "Kata-katamu memang manis di depanku, Vele. Tetapi kali ini aku tidak ingin terjebak olehmu lagi. Selamat tinggal." Vale berbalik dan langsung terjun ke jurang. Vele langsung berlari untuk mencegah tindakan berani saudaranya. "VAALLLLEEEE!" Easter terus mengguncang bahu Vele berharap gadis itu segera terbangun dari mimpi buruknya. Tentu Easter terkejut saat mengetahui Vele yang gelisah dan sedikit kejang-kejang. Usaha Easter berhasil ketika kedua mata gadis itu terbuka lebar dengan dadanya yang naik turun. Easter langsung memberikan minuman untuk Vele agar lebih tenang. "Minumlah dan tenangkan dirimu dulu," perintahnya. Vele tak menjawab. Dia masih mengatur napasnya. Sekitar sepuluh menit Easter memberikan waktu untuk gadis ini. Setelahnta, Easter pun mulai mengajukan beberapa pertanyaan. "Kamu boleh menceritakan mimpi buruk apa yang kamu alami barusan. Jika tidak ingin bercerita juga tidak apa-apa. Aku tidak akan memaksamu." Vele menoleh kepada pria yang selalu berada di sampingnya ini. Seketika dia merasa bersalah kepada Easter. "Aku bermimpi tentang Vale," ungkap Vele kemudian. Easter mengangguk paham. Ini sering terjadi kepada orang-orang yang saling menyayangi satu sama lain. "Itu hanyalah mimpi yang belum tentu ada kebenarannya. Kamu bisa menganggapnya seperti bunga tidur. Yang tumbuh dalam alam sadar kita ketika tidur dan tentu itu tidaklah nyata," jelas Easter. Pandangan Vele masih kosong. Pikirannya terus tertuju kepada mimpi itu. "Easter, bolehkah aku bertanya?" "Boleh." "Apakah menurutmu aku adalah saudara yang jahat?" Easter paham. Di keadaan seperti ini pasti Vele terus menyalahkan dirinya sendiri atas hilangnya Vale. Pria itu membawa Vele ke dalam dekapannya untuk memberi kenyamanan pada gadis ini. "Tidak. Kamu adalah saudara terbaik di dunia ini. Berhentilah berpikir jika kamu jahat, Vele. Kita semua tau jika apa yang kita lakukan kepada Vale untuk hal baik bagi semuanya. Berhentilah menyalahkan diri sendiri. Jika ada yang ingin disalahkan, salahkan saja aku." Vele pun semakin bersalah sekarang karena keadaan sudah buruk, dan dia semakin menambah beban pikiran Easter. Di tempat Vale dan Gerry pun keduanya juga sama-sama berisitirahat. Sama dengan Vele, gadis ini pun juga mengalami mimpi buruk. Semua ini adalah ulah Gerry yang mana membuat kedua bersaudara ini mulai melunturkan kepercayaan masing-masing. Misi Gerry adalah membuat Vale berpihak padanya. Sekali melakukan aksi, dia mendapatkan untung yang banyak. Benar-benar licik.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN