Ketukan di pintu membuat Vale terkejut. Pasalnya di dalam kamar miliknya masih ada sosok Gerry. Jika orang di luar melihat pria itu, maka Vale akan dianggap sebagai pengkhianat. Ya, walaupun Vale belum terpikirkan untuk berkhinat pada rajanya.
"Vale. Aku mohon buka pintunya. Ini aku Vele."
Teriakan dari luar membuat Vale sadar jika kembarannya itu pasti ingin berbicara dengannya. Kepala Vale tertuju pada sosok Gerry yang terlihat sangat santai. Ya, pria itu benar-benar menguji kesabaran Vale.
Sembari berkacak pinggang, Vale menghampiri tempat Gerry duduk. "Hei, tidak bisakah kau sadar jika di luar ada Vele? Pergilah sebelum semua orang tau keberadaanmu," usir Vale dengan halus.
Gerry mengangguk. Dia berdiri dari duduknya dan berjalan menuju ke jendela besar tempat di mana dia masuk pertama kali. Vale memastikan pria itu benar-benar pergi dari kamarnya, barulah dia akan menemui Vele di luar. "Oh iya, di hutan aku tinggal sendirian, jadi mungkin aku akan sering berkunjung ke kamarmu. Kalau bisa, jangan kunci jendela ini," katanya.
"Kau gila?!" seru Vale sembari melotot di sana. Gerry tertawa kecil sebelum dia benar-benar pergi. Dirasa Gerry sudah tidak ada, Vale pun membukakan pintu untuk saudaranya.
"Hai," sapa Vele mencoba mencairkan suasana. Vale hanya menjawabnya dengan anggukan saja. "Bolehkah aku masuk?" ijin Vele sembari memperhatikan kamar Vale diambang pintu.
"Tidak. Aku berencana ingin istirahat lebih cepat hari ini. Latihan kali ini benar-benar menyita tenagaku," jawab Vale. Vele terlihat sedih mendapat penolakan ini, tetapi sebisa mungkin dirinya menampilkan senyum terbaiknya.
"Baiklah. Kamu bisa lanjutkan istirahatmu," kata Vele mengalah. Vale mengangguk. Kembarannya berbalik, Vale pun menutup pintunya. Vale tampak bimbang dengan keputusannya. Apakah semua ini terasa benar untuk dilakukan?
Vele berjalan menuju ke perpustakaan milik ibunya Easter. Sudah lama dia tak ke sana. Suasana hatinya sedang tidak baik. Mungkin, mencari beberapa buku untuk ia jadikan bahan bacaan di dalam kamar bukanlah ide yang buruk.
Vele menyusuri tiap rak dan meneliti buku-buku yang menurutnya menarik. Baru lima belas menit, dia sudah mendapat lima buku. Baiklah, sepertinya ini sudah lebih dari cukup. Vele tersenyum senang. Namun, kesenangannya terhenti karena mendengar suara pintu yang ditutup dengan keras. Seperti dibanting.
Buru-buru Vele pun menuju ke pintu keluar yang mana tadinya terbuka sekarang tertutup. Dia mencoba menarik knop pintu, tetapi tidak bisa. Dia mendorong pintu itu, tetapi hasilnya tetap sama. Alhasil, Vele pun menggedor pintunya berharap ada seseorang yang mendengar teriakannya.
"Tolong! Siapa pun di luar sana tolong bukakan pintunya!" seru Vele.
"Jangan Anda paksa pintu itu, Ratu. Dia tidak akan terbuka sebelum saya yang memerintahkannya," ucap Gerry yang ternyata dialah dalang di balik itu semua. Vele menggunakan mode waspadanya lagi. Gerry sungguh berani menampakkan diri di kerajaan ini. Apakah pria ini tidak takut dengan Easter?
"Apakah Anda sudah memberitahu Raja apa saja yang kita obrolkan kemarin?"
Vele menggeleng. "Aku kira Anda sudah mendiskusikannya dengan Raja yang mana saya tidak perlu repot untuk terus melakukan p*********n," lanjut Gerry.
"Pergilah. Aku masih berbaik hati padamu dengan tak memanggil Raja," usir Vele saat itu.
"Tolong beri aku waktu sedikit untuk mengobrol dengan Anda, Ratu. Begini, keinginanku tetaplah sama. Aku ingin Anda membiarkan Vale keluar dari kerajaan. Bayangkan bagaimana tersiksanya dia terkurung di dalam sini. Bukankah seseorang akan lebih baik jika berkumpul dengan kawanannya? Anda adalah mate dari Raja, tentu Anda akan sangat mudah beradaptasi. Bagaimana dengan Vale?"
"Kau tidak perlu mengguruiku, Gerry. Aku tau apa yang terbaik bagi semuanya. Dan menurutku keputusan Raja adalah benar. Jika Vale pergi, dia akan membahayakan makhluk lain. Aku tidak bisa menjamin dia akan tidak dikejar oleh semua orang," sembur Vele. Gerry tersenyum licik di sana. Vele sudah masuk ke dalam perangkapnya.
"Apakah Anda akan terus mengurung Vale di sini?"
"Sudah aku katakan jika kami tidak mengurungnya. Kami hanya ingin yang terbaik untuk semua orang. Dan pilihan terbaiknya adalah tak membiarkan Vale pergi," sahut Vele dengan lantang.
"Jadi maksud Anda adalah seumur hidup Vale tak akan bisa bertemu dengan mate nya?"
"Dia tidak akan tahu siapa mate nya. Dia adalah pencuri. Pencuri bisa mencuri mate orang lain. Untuk menemukan mate sejati tentu akan sangat sulit untuk Vale lakukan."
Pencuri? Wow. Gerry baru mengetahui fakta ini. Sejujurnya dia hanya tahu jika Vale termasuk ke dalam golongan seperti dirinya, tetapi dia tidak tahu apa kelebihan dari gadis itu.
"Baiklah. Saya mengerti. Terima kasih karena sudah menjawab semua pertanyaanku, Ratu," ucap Gerry menyudahi pembicaraan mereka. Hell! Sudah? Vele mengernyit.
TanpaVele sadari, sejak tadi diam-diam di balik pintu ada sosok Vale di sana. Ya, setelah kepergian Vele tadi, Gerry kembali masuk. Dia mengajak Vele untuk membuktikan sesuatu. Awalnya Vale tak ingin pergi, tetapi Gerry meyakinkan jika tempat yang akan mereka kunjungi masih berada di dalam kerajaan. Vale pun setuju untuk ikut.
Dan, dia tentu syok mendengar percakapan Gerry dan Vele di balik pintu itu. Akhirnya dia mengetahui segalanya sekarang. Dia tak percaya jika Vele tega melakukan ini kepada dirinya. Sebelum hubungan Vele dan Easter membaik, dulu Vele sangatlah anti mendukung keputusan raja. Tetapi sekarang semua terasa berbeda.
Vale dengan cepat mengemasi bajunya. Gerry benar, dia seharusnya pergi dari sini sejak lama. Dan Cesse juga setuju dengan keputusan ini. Cesse tentu merasa sakit hati ketika tahu bagaimana Vele tega membuat dirinya dan Vale terkurung selamanya di kerajaan ini.
"Apa yang kau lakukan?"
Itu suara Gerry. Pria itu kembali datang ke kamar Vale. Gadis itu diam dan terus melanjutkan kegiatannya mengemasi baju-baju miliknya. Setelah ini dia akan kabur ke tempat yang jauh agar Easter dan Vele tak bisa menemukannya.
"Vale tenanglah dulu. Kau mau ke mana?" serbu Gerry mencegah tindakan gegabah gadis ini. Dia memindahkan baju-baju Vale sedikit jauh dari jangkauan gadis itu. Vale memandang nyalang Gerry karena mengganggu kegiatannya.
"Enyahlah. Aku sedang malas berdebat kali ini," kata Vale yang tanpa ekspresi sedikit pun di wajahnya. Senang? Tentu saja Gerry senang ketika Vale mau untuk pergi dari tempat ini. Tetapi, sebenarnya ini bukanlah waktu yang tepat untuk pergi. Ya, meskipun tadinya dia meminta Vele untuk membebaskan Vale.
"Apakah kau benar-benar sakit hati sekarang?"
Pertanyaan boodoh itu terlanjur terucap dari bibir Gerry. "Aku bukan hanya sakit hati, aku kesal, marah, kecewa. Semuanya menjadi satu," jawab Vale.
"Hei, tenanglah. Aku benar-benar tak tahu jika Ratu akan menjawab semua pertanyaanku seperti tadi. Apakah tidak sebaiknya jika kamu mengkonfirmasi kepada Ratu sendiri?" usul Gerry. Tentu dia sengaja menasihati Vale agar gadis itu mempercayainya.
Vale tertawa sinis. "Menanyainya langsung? Aku yakin dia tak akan jujur kepadaku. Dan ya, setelah tadi mendengar pengakuannya, rasa percayaku benar-benar pudar sekarang. Bahkan aku tak tahu mana yang harus aku percayai sekarang," kata Vale miris. Bahkan dia yakin jika Jake tak ada bedanya dengan Vele saat ini. Semua orang benar-benar membohonginya.
"Jadi, kau benar-benar akan pergi sekarang?" Vale mengangguk mantab. "Ke mana kau akan pergi?" tanya Gerry lebih lanjut.
"Ke mana saja. Asal bukan di sini," jawab Vale yang sudah selesai berkemas.
"Jika mau, kau bisa tinggal di tempatku. Masih cukup ruang jika kau ingin tinggal," tawar Gerry. Vale terdiam, mempertimbangkan penawaran pria ini. Jika dipikir-pikir, apa yang Gerry katakan sejak waktu itu Vale tak pernah percayai. Tetapi, setelah semuanya terbongkar, Gerry ternyata tak berbohong.
"Baiklah. Tapi, dengan setujunya aku dengan penawaranmu, itu bukan berarti aku ingin ikut dengan misi yang kau lakukan. Keputusanku tetaplah sama, aku tidak akan ikut menyerang Raja Easter," putus Vale. Ia rasa dia ingin dipihak netral saja.
Gerry tersenyum. Senyum berbeda dari biasanya. "Tentu. Kau bisa tinggal di tempatku tanpa perlu mengikuti rencana yang kubuat. Ini murni kebaikan sebagai sesama makhluk yang memiliki nasib yang sama tentunya," papar Gerry.
Vale memutar bola matanya malas. Gadis itu bergerak menuju ke jendela tempat biasa Gerry masuk. "Hei, Nona. Apa yang akan kau lakukan?" tanya Gerry mengikuti langkah gadis itu.
Vale menatap horor bagian bawah kerajaan ini. Kamarnya berada di atas, tentu ini cukup tinggi jika dia memaksa meloncat. "Aku sarankan jangan meloncat dari sini ke bawah. Aku pernah mencobanya sekali, dan itu cukup sakit. Entahlah jika itu dirimu," jelas Gerry.
Vale memandang pria itu dari samping. Lantas, dari mana Gerry turun biasanya jika bukan dengan meloncat?
Gerry tertawa menangkap ekspresi bingung Vale. "Jika kau tanya aku datang dan pergi dari mana, jawabannya adalah tali ini," jelas Gerry memperlihatkan sebuah tali tambang yang cukup tebal.
"Bagaimana? Apakah kau berminat untuk turun? Jika ya, aku akan memberikanmu sarung tangan agar tanganmu tidak terluka," kata Gerry.
Vale terdiam, mencoba mempertimbangkan segalanya. "Sepertinya kau harus memutuskannya dengan cepat. Aku mendengar suara langkah kaki mendekat ke kamarmu," sela Gerry. Vale mengembuskan napas beratnya. Itu pasti Jake atau Vele.
"Baiklah, aku akan turun sekarang," putus Vale. Gerry mengangguk. Dia memberikan kaos tangan miliknya yang masih baru. Sedangkan dia menggunakan sarung tangan yang sudah bolong di sisi dekat jempol.
Vale tak berani melihat ke bawah. Dia terus berusahan menyeimbangkan tubuhnya dan turun dengan pelan. Gerry ikut menyusul di atas sana. Pria itu malah lebih cepat dibandingkan Vale karena memang dia sudah terbiasa.
Keduanya sudah turun di atas tanah. Gerry langsung menarik Vale bersembunyi di balik pilar dekat sana. Dia melihat siluet tubuh prajurit. Dan benar saja, datang dua orang prajurit yang tampak berkeliling.
"Hei. Apakah kau tidak mendengar? Ketua memanggil kita," kata salah satu prajurit itu kepada temannya. Keduanya pun berbalik dan segera masuk ke bagian dalam kerajaan. Dirasa aman, Gerry pun melepaskan Vale. Mereka hampir ketahuan.
"Ayo. Kita harus segera keluar dari sini sebelum mereka tahu jika kau tidak ada di kamar," ajak Gerry langsung. Keduanya segera melesat ke arah timur istana. Vale mengernyit, seingatnya pohon tempat Gerry bernaung ada di sebelah timur kerajaan ini.
"Aku sudah memindahkan persembunyianku. Mereka sudah pernah menemukanmu di wilayah barat. Itu artinya kemungkinan mereka akan mencari kita di sana. Tenang, aku sudah mengatur rencana agar mereka mengira kita sudah kabur ke wilayah lain."
Vale tak menjawab. Keduanya sangat leluasa melewati pintu gerbang di timur karena memang prajurit tidak di tempatkan di sana. Gerbang itu memang sudah dikunci sejak lama. Untuk itulah tak perlu ada penjaga di sini.
Lagi-lagi hal pertama yang Vale temukan adalah hutan. Ya, ini persis seperti penjara. Yang mana seluruhnya di kelilingi hutan dan hanya menyisahkan satu jalan untuk menuju ke desa.
"Ayo, kita harus cepat bergegas," ucap Gerry. Vale mengikuti langkah lebar pria itu. Sesekali dirinya menengok ke belakang. Dia meyakinkan dirinya sendiri jika ini adalah keputusan yang tepat. Cesse bahkan mendukung dirinya.
Di dalam istana sendiri sedang timbul kegadugan. Vele yang mengetahui jika Vale kembali menghilang pun terlihat khawatir. Easter sudah mengerahkan para prajurit untuk mencari gadis itu di hutan. Dan Jake menyarankan untuk fokus ke bagian barat karena dia pernah menemukan Vale di sana. Easter pun menyerahkan sepenuhnya misi pencarian ini kepada Jake.