Sepertinya Easter tahu danau yang Vele maksud. Kedua orang ini pergi ke sana dengan kekuatan Easter. Sembari menggendong Vele, dia berlari menggunakan kecepatan vampirnya. Vele cukup senang ketika rambutnya beterbangan ke sana ke mari. Di hutan hanya ada dua danau. Dan seperti yang Vele sebutkan tadi, maka danau yang menjadi tujuan Easter mendekat ciri-ciri itu.
"Wah! Ini memang danaunya. Kamu pintar sekali," puji Vele kepada pria itu. Easter menurunkan gadis ini pelan di sebuah batu besar. Bahkan tempat mendarat mereka sama seperti tempat Vale dan Vele kunjungi. Ini membuat Vele semakin merindukan saudaranya itu.
"Bagaimana? Kamu suka?" tanya Easter. Vele mengangguk cepat. Dia menyiprat-nyipratkan air di sana. "Apakah kamu mau berenang?" tawar Easter.
Vele menoleh, memandang Easter dan danau itu bergantian. Kemudian dia menggeleng pelan. "Aku tidak bawa baju ganti," jelasnya. "Kamu pun juga sama," sambungnya.
Easter tertawa. Di tempatnya, pria ini langsung membuka baju yang dia pakai. Menyisakan celana panjang di kakinya. Mata Vele membulat sempurna. Dengan cepat dia menutupi pandangannya.
"Yak! Kenapa kamu membuka bajumua sembarangan? Dasar tidak sopan!" tegurs Vele. Perilaku Easter tidak baik bagi dirinya. Bukannya menjawab, pria ini malah kembali tertawa.
"Aku ingin berenang. Seperti katamu, kita tidak membawa baju ganti, jadi aku membuka bajuku agar tidak basah. Jika mau, kamu bisa melakukannya juga."
Vele refleks mundur beberapa langkah di mana tanpa dia sadari di belakangnya sudah terpampang danau. Easter refleks menarik pinggang gadis itu karena Vele hampir saja jatuh ke air. Vele pun terkejut dibuatnya. Kulitnya bersentuhan dengan d**a bidang Easter. Vele menatap pria itu tak berkedip. Easter menampilkan senyum semiriknya. "Menikmati pandangamu, Nona?" tegur pria itu.
Seakan sadar, Vele pun melepaskan kaitan tangan Easter di pinggangnya dengan mundur beberapa langkah. Kemudian dia membelakangi tubuh pria itu. Easter mengedikkan bahunya, dia langsung menceburkan diri ke air. Vele menatap iri bagaimana Easter bisa leluasa berenang di sana.
"Aku menunggumu. Jika mau, kita akan berenang bersama. Aku rasa di sini tak akan ada orang selain kita," ucap Easter yang mana tubuhnya sudah berada di air dan hanya menyisakan bagian kepala.
Vele menggeleng sembari memeluk tubuhnya. Dia tak mungkin melakukan hal gila seperti Easter dengan membuka bajunya di sini. Walau bagaimanapun, ini di luar istana, dan siapa tau ada orang yang datang tiba-tiba.
"Kenapa? Kamu masih malu padaku? Hanya membuka bajumu dan menyisakan baju dalammu dan bawahan itu bukanlah masalah. Atau kamu tetap bisa pakai baju yang kamu pakai sekarang. Nanti ketika pulang kamu pakai bajuku saja," usul Easter.
"Bagaimana denganmu? Kamu nanti tidak memakai baju?"
"Ya tentu saja. Bajuku kan dipakai olehmu," jawab Easter.
"Tidak! Apakah ini memang sudah niatmu untuk memamerkan tubuhmu di depan para maid?" sindir Vele. Easter tertawa di sana, membuat air di sekitarnya bergelombang. Dia suka ketika Vele menunjukkan kecemburuannya.
"Kalau begitu, jangan biarkan aku bertelanjang dadaa nantinya," sahut Easter yang langsung berbalik dan memulai acara berenangnya.
Vele duduk di atas batu. Easter terus berenang ke sana ke mari. Itu membuat Vele semakin iri. Kalau saja tadi dia membawa baju ganti.
Aku rasa di sini tak akan ada orang selain kita.
Vele memandang sekitar danau. Memang di sini sepi dan hanya terlihat Vele dan Easter. Vele memandang air di danau. Dia ingin sekali berenang di sana. Apalagi ketika bisa mengajak Vale juga. Lagi-lagi pikirannya tertuju kepada sang kembaran. Padahal dia sudah berjanji pada Easter untuk tidak larut dalam kesedihan. Vele kembali memandang Easter yang berenang di danau. Easter sudah mau mengalah dan menekan egonya, kenapa Vele tak bisa?
Gadis itu berdiri, senyum di wajahnya pun terpancar. Dengan gerakan cepat, dia meloloskan bajunya dan hanya menyisakan dalaman serta celana pendeknya. "EASTER!" teriak Vele membuat si pria berhenti dan langsung menoleh. Seketika mata pria itu membulat sempurna melihat penampilan Vele. Vele pun langsung menceburkan diri ke danau. Easter dengan cepat menuju ke tempat gadis itu dan menarik pinggang Vele erat.
"Apa yang kamu lakukan?" tanya Easter. Dia tak serius tadi meminta Vele ikut berenang apalagi dia benar-benar menanggalkan bajunya. Vele benar-benar membuat Easter khawatir sekarang.
Vele berpegangan pada kedua bahu pria ini. "Aku ingin ikut berenang," jawabnya.
"Kamu melepaskan bajumu, Vele," ingatkan Easter. Gadis itu lantas mengangguk mengiyakan. Bahkan tubuh keduanya yang berhimpitan membuat Easter dapat merasakan sesuatu di bagian dadanya.
"Kamu yang menyuruhku tadi. Dan katamu di sini hanya ada kita berdua. Jadi, aku putuskan untuk ikut berenang," jelas Vele. "Apakah aku salah?" tanyanya kemudian.
Easter menutup matanya sebentar, pandangannya fokus kepada gadis yang ia dekap ini. "Aku mengatakannya karena aku tau kamu pasti tidak akan melakukan itu. Ternyata malah sebaliknya. Bagaimana jika tiba-tiba ada yang datang ke sini?"
Mata gadis itu kembali membulat. "Kamu tadi bilang--"
"Aku hanya mengatakan itu dengan sengaja, tetapi aku juga tidak yakin."
Bolehkah Vele membunuh pria yang sudah mempermainkannya ini?
"Sudahlah. Sudah terlanjur juga kamu basah. Jadi, lebih baik memang kita berenang. Tapi, tetap berada di dekatku karena kita tidak tahu bahaya apa yang ada di sekitar," putus Easter. Mau tidak mau Vele pun menurut, sudah kepalang basah juga kan.
Easter memberi jarak dari Vele. Keduanya kemudian berenang bersama meskipun Vele tak pandai dalam hal berenang. Dan tak lupa juga Easter menajamkan indranya untuk tetap waspada.
Vele senang buka main. Air di sini benar-benar segar. Bahkan dia bisa beraktivitas dengan leluasa tanpa takut malu karena di sini memang hanya ada dirinya dan Easter.
"Sudah cukup," ujar Easter menghentikan kegiatan gadis itu. Mereka baru berenang belum setengah jam lamanya.
"Tapi kita masih sebentar berenangnya," protes gadis itu. Easter menggeleng. Dia tak ingin Vele sakit karena berlama-lama di dalam air.
"Sudah cukup, Vele. Nanti kamu bisa sakit," kata Easter. Jika Easter berenang berapa lama pun tidak apa-apa karena dia adalah seorang vampir, sedangkan Vele adalah wizard yang pada dasarnya tubuhnya hampir sama dengan manusia.
Gadis itu tampak tidak terima, tetapi dia menurut saja ketika pria ini menggiringnya menuju ke batu tempat di mana baju keduanya berada.
Easter membantu Vele naik, di mana dia harus menahan segala yang ada pada dirinya karena melihat tubuh menggiurkan sang mate. Vele buru-buru memakai bajunya. Karena tubuhnya masih basah dan langsung memakai baju, maka baju yang dipakainya pun tampak basah di beberapa bagian.
Easter mengembuskan napas sabarnya. "Pakai ini," titahnya memberikan baju miliknya. Dia tak ingin tubuh mate nya menjadi bahan pandangan makhluk lain. Dia tak suka berbagi.
"Aku sudah memakai bajuku. Kamu pakailah bajumu," tolak Vele. Hawa dingin memasuki kulitnya, Easter tau gadis ini kedinginan sekarang.
"Kamu lebih butuh sekarang. Lihatlah, tubuhmu mengigil. Dan seharusnya kamu sadar jika bajumu basah sekarang," tutur Easter yang membuat Vele reflek mengamati baju miliknya. Seketika dia pun menjadi malu. Karena tak kunjung dipakai, Easter pun membantu Vele memakai baju miliknya. Dengan begini tubuh gadis itu tak akan dinikmati oleh makhluk lain.
"Terima kasih."
"Aku peringatkan untuk tidak melakukan hal ini dengan siapa pun selain dengan diriku," kata Easter. Pria ini tak ingin menanggung resiko. Vele pun mengangguk patuh.
"Jika tubuku cukup kering, kita bisa pulang setelahnya," kata Easter lagi. Vele mengangguk. Gadis itu terus menundukkan pandangannya dan tak berani menatap pria ini secara langsung. Easter tahu jika sang mate masih malu-malu di dekatnya.
"Kamu masih malu kepadaku?" tanya Easter.
Vele menggeleng dengan tak yakin. "A-aku hanya belum terbiasa," jawabnya.
Pria itu mengangguk paham. "Setelah menikah nanti, cobalah untuk terbiasa," kata Easter. Menikah? Menyebutnya saja membuat Vele tampak sedikit malu sekarang.
"Emmm, baiklah." Kemudian terjadi keheningan di antara keduanya. Jika Easter tidak bisa mengendalikan diri, mungkin sejak tadi dia sudah mencumbu Vele dan mengklaim gadis ini. Tetapi, dia masih cukup sadar jika Vele masihlah belum siap.
"Easter, bolehkah aku bertanya?"
"Boleh."
"Kenapa tubuhmu selalu terasa dingin dan kulitmu terlihat putih dan bersih meskipun kamu tidak mandi?"
Seharusnya Easter tertawa ketika mendapat pertanyaan seperti itu dari sang mate. Namun, dia tak mungkin membuat Vele malu di depannya.
"Aku adalah seorang vampir. Memang beginilah yang aku miliki," jawab Easter. Vele mengembuskan napas beratnya, dia iri kepada para vampir. Easter mengernyit melihat respon itu dari sang mate. "Kenapa kamu bertanya itu?" lanjut Easter.
"Tidak. Hanya saja aku iri. Lihatlah kulit kita, milikmu lebih putih dari pada aku," papar Vele sembari membandingkan tangannya dengan tangan pria ini. Easter pun sudah tak bisa menahan tawanya lagi. Vele pun mengerucut sebal.
"Setiap makhluk memiliki keunikannya sendiri. Apakah kamu pikir menjadi vampir itu mudah? Bahkan aku tidak bisa merasakan panas atau kehangatan. Yang ada hanyalah dingin di sekitar," jelas Easter. Vele mulai memandang bangsa vampir berbeda sekarang.
"Dulu, aku pikir vampir adalah makhluk yang menyeramkan--"
"Apakah aku terlihat tidak menyeramkan?" potong Easter.
Vele tersenyum kecil. "Tidak," jawab Vele cepat. Easter pun senang akhirnya Vele tak merasa takut kepadanya. Dia mengusap pelan rambut gadis itu yang masih lembab akibat berenang tadi.
"Sebaiknya kita pulang sekarang," putus Easter yang mulai berdiri. Vele mengangguk dan ikut berdiri. Dengan sigap pria itu membawa sang mate ke dalam gendongannya. Lagi dan lagi Vele terkejut karena belum terbiasa.
"Tenanglah, nanti kamu akan terbiasa. Kita harus pulang cepat agar maid tak melihat tubuh indahku ini," kata Easter dengan pede. Vele pun dibuat tertawa olehnya.
Ketika Vele tampak asyik menghabiskan waktunya bersama Easter, diam-diam Vale ternyata ada di sekitar danau itu. Ya, sama seperti Vele yang mencoba mengenang kenangan mereka, Vale pun sama. Dan sangat disayangkan Vale mendapat pemandangan yang tak biasa. Dia melihat bagaimana Vele dan Easter saling tersenyum dan tertawa. Bahkan tak ada kekhawatiran dan kesedihan di mata Vele ketika Vale pergi. Ini semakin menguatkan gadis ini jika Vele sudah tak membutuhkan dirinya.
"Apakah yang dikatana Gerry itu benar?" tanya Vale kepada dirinya sendiri. Gadis itu tak jadi ke danau, dia memilih mencari tempat lain saja. Tentunya arahnya berlainan dengan Vele dan Easter.