Bagian 30

1599 Kata
Dua minggu berlalu. Vale masih belum juga ditemukan. Easter berencana untuk menghentikan pencarian, namun dia melihat Vele yang akan kembali sedih jika Vale tak kunjung ditemukan pun memilih untuk tetap melanjutkan pencarian. Meskipun Jake sering sekali melaporkan jika tak ada tanda-tanda Vale di hutan. Sejujurnya kedua pria ini bertanya-tanya ke mana Vale pergi, dan ke mana Gerry menyembunyikan gadis itu. Tidak mungkin keduanya lenyap dari muka bumi ini. Vele sedang merias wajahnya di dalam kamar. Katanya akan ada pertemuan para orang penting di kerajaan, jadi dia harus berpenampilan dengan baik. Vele sengaja melakukan segala sesuatunya dengan sendiri tanpa bantuan maid. Lagi pula dia tak nyaman jika berias secara berlebihan. Untungnya Easter tak pernah mempermasalahkannya. Baru saja Vele menyelesaikan acara mempercantik bibirnya, dia dikejutkan suara benda jatuh di dekat jendela. Lantas dia pun menoleh dan tak menemukan siapa pun di sana. Vele melangkah pergi untuk mengecek langsung. Kakinya seperti menginjak sesuatu di dekat pinggiran kursi. Sebuah gumpalan kertas. Vele mengambilnya dan membuka batu yang dibungkus kertas yang berisi sebuah kalimat pendek. Seketika gadis itu memandang tak percaya apa yang ditemukannya ini. Sebuah pesan yang ditulis langsung oleh Vale yang ingin menemui Vele secara pribadi. Vele pun bergerak menuju ke tepian jendela untuk mengecek baragkali Vale ada di luar sana. Kosong, tidak ada siapa pun. Vele sekali lagi memandang kertas itu. Apakah ini benar-benar dari Vale? Bagaimana jika ini jebakan? Dan apakah Vele harus memberitahu Easter mengenai ini? Gadis itu menggeleng pelan. Tidak, dia tak ingin menyusahkan mate nya lagi. Kali ini Vele bertekad untuk menemui Vale sendiri. Lagi pula saudaranya itu menginginkan bertemu dengannya di tempat biasa Vale dan Jake berlatih. Itu masih di dalam istana yang aman. Vele pun bergegas keluar kamar untuk mendampingi Easter dalam pertemuan. Sebenarnya tugasnya hanya mendampingi saja, selebihnya dia akan tetap diam di sana memperhatikan segalanya. "Vele, bisakah kamu menunggu di kamar sebentar? Aku akan bicara penting dengan Jake dulu," pinta Easter setelah pertemua usai. Vele pun mengangguk setuju. Lagi pula dia ada pertemuan juga dengan Vale di lapangan. Setelah semua tamu pergi dan Easter serta Jake menuju ke ruangan Raja, barulah Vele bergerak. Dia sengaja menunggu Easter pergi agar tak mencurigakan. Vele tampak tak keberatan menggunakan gaun miliknya. Padahal ini cukup berat juga sebenarnya. Vele meneliti lapangan itu dengan seksama. Tidak ada siapa pun di sana. Apakah dia sedang dikerjai seseorang? Tapi siapa? "Vele!" Sebuah panggilan dari arah belakangnya membuat Vele langsung menoleh. Dari jarak cukup jauh dia melihat sosok sang kembaran. Benar. Itu adalah Vale. Vele pun tak kuasa menahan segala tangisnya. Dengan segera gadis ini berlari dengan penuh usaha karena baju yang dipakainya cukup berat. Dia berusaha untuk menggapai tempat Vale berada. Vale yang tahu jika saudaranya cukup susah berjalan pun ikut berlari ke sana. Setelah berhadapan, Vele langsung memeluk Vale dengan erat, dia pun kembali menangis haru. Vele tak menyangka akhirnya bisa melihat Vale kembali. "Vale ... kamu kembali," lirih Vele dengan sesenggkannya. "Ya, Vele. Aku kembali," jawab Vale sembari mengusap punggung gadis ini dengan pelan. Vele melepaskan pelukannya, dia menghapus air matanya yang ada di wajah. "Vale, kamu ke mana saja? Kami semua mencarimu sejak lama. Aku mengkhawatirkanmu," papar Vele. "Aku sedang ingin sendiri, Vele. Maafkan aku karena membuatmu khawatir," jelas Vale. Vele pun mengangguk paham. "Vale, aku ingin minta maaf kepadamu atas kesalahanku waktu itu. Tidak seharusnya aku menyembunyikan semuanya darimu. Aku benar-benar merasa bersalah," ungkap Vele yang malah kembali menangis. Vale langsung menarik Vele ke pelukannya untuk menenangkan gadis ini kembali. "Semua sudah berlalu, Vele. Kamu tidak harus menyalahkan  dirimu sendiri. Aku sadar kamu melakukan itu semua untuk melindungiku." Vele mengangguk. Ini bagus jika Vale memaafkannya. Dia pun membalas pelukan hangat dari saudaranya. Pada dasarnya pelukan itu tidaklah tulus diberikan oleh Vale. Di balik punggung Vele, gadis itu tersenyum licik. Tentu kata maaf tak akan bisa menghilang sakit hati dan kekecewaan yang Vale terima. Dia sudah memutuskan untuk bergabung dengan Gerry untuk menghancurkan Vele dan Easter. Ya, dia sama sekali tak peduli jika harus menghadapi saudaranya sendiri. "Ayo kita masuk. Semua orang pasti senang kamu kembali. Ayah dan Ibu pasti senang, Vale," ajak Vele dengan penuh semangat. Vale pun menampilkan senyum terbaiknya. Senyum yang pada dasarnya hanyalah berisi kepalsuan semata. Sembari menggandeng Vale, calon ratu dunia ini menyebarkan aura yang positif. Dan kebetulan sekali di lorong istana ada Jake dan Easter yang sama-sama berjalan. Kedua pria itu tampak terkejut melihat keberadaan Vale yang berada tepat di samping Vele saat ini. "Easter. Jake. Lihatlah, Vale sudah pulang," seru Vele dengan semangat. Jake dan Easter saling pandang. Vele mengernyit ketika melihat respon yang diberikan oleh kedua pria ini. "Kenapa? Apakah kalian tidak senang jika Vale kembali?" cecar Vele langsung. "Bukan begitu, Vele. Kami masih terkejut," jelas Easter. "Sama. Aku pun juga. Aku masih terkejut jika Vale sudah pulang. Tapi, berita baiknya adalah Vale telah kembali sekarang. Jadi, kita semua tidak perlu khawatir lagi. Kamu bisa menarik prajurit untuk kembali ke kerajaan, Easter," sahut Vele. Easter mengangguk, dia langsung memerintahkan Jake saat itu juga. Jake pun langsung bergegas pergi. "Easter ... bolehkah aku menghabiskan waktu bersama Ayah, Ibu, dan Vale hari ini?" ijin Vele. Easter memandang keduanya bergantian. Padahal dia memiliki rencana lain untuk menghabiskan waktu bersama sang mate. Membicarakan masa depan misalnya. Tunggu dulu. Vale sudah kembali, itu artinya inilah kesempatan bagi Easter untuk memiliki Vele seutuhnya. Meskipun dia merasa ganjal dengan pulangnya Vale yang tiba-tiba, tetapi itu bisa dipikirkan nanti. "Boleh. Jika lelah, segera kembali ke kamar," jawab Easter. Vele mengangguk setuju. Dia dengan segera membawa Vale pergi untuk menemui kedua orang tua mereka. Easter memandang kepergian keduanya dengan pandangan aneh. Vele mengetuk pintu kamar Albus dan Cale. Easter memang sudah menempatkan keduanya di kamar yang ada di istana. Tentunya Vele senang mengetahui jika cepat atau lambat peraturan itu akan dihapuskan. Vale cukup terkejut ketika mengetahui jika Albus dan Cale sudah kembali bersama dan tidak ditempatkan di ruang bawah tanah lagi. Kepergiannya membuat beberapa perubahan di sini. Albus dan Cale yang melihat Vele membawa Vale pun ikut terkejut. Respon Cale sama dengan Vele tadi. Wanita itu menangis terharu sembari memeluk putrinya. Albus juga sama memeluk putri yang ia besarkan selama 20 tahun lamanya ini. "Lihatlah, Vale. Kami semua benar-benar merindukanmu," ungkap Vele yakin. Cale dan Albus mengangguk setuju. Vale pun tersenyum hangat di sana. Sekali lagi senyum penuh kepalsuan itu dia keluarkan. Keempatnya pun duduk di kursi yang ada di dalam kamar Cale dan Albus. "Vele, bagaimana kamu bisa menemukan Vale?" tanya Albus. "Aku dan Vale bertemu di lapangan. Awalnya aku tidak yakin itu Vale, tapi aku menyadari jika ini nyata dan itu adalah Vale, Ayah," jawab Vele. "Aku sengaja menemui Vele lebih dulu karena aku cukup malu untuk kembali ke sini apalagi berhadapan dengan Raja. Dan sepertinya aku sudah menyusahkan semua orang ketika pergi," ucap Vale dengan nada bersalah. "Vale. Raja tak akan menghukummu jika kembali. Kami malah senang jika akhirnya kamu pulang. Kami tau jika kamu pasti butuh waktu sendiri untuk berpikir. Dan di saat waktu berpikirmu sudah selesai, maka kamu akan kembali. Lihatlah sekarang, kamu sudah kembali," kata Vele yang disetujui oleh Albus dan Cale. Keempatnya pun saling memeluk satu sama lain seperti sebuah keluarga. Hari ini Vele tak pernah melunturkan senyum di wajahnya. Dia menghabiskan waktu sepanjang hari bersama keluarganya. "Jake, apakah kau memikirkan apa yang sedang aku pikirkan sejak kedatangan Vale?" tanya Easter di dalam ruangannya. "Iya, Raja. Jika saya tidak salah, kedatangannya yang tiba-tiba ini sangat mengganjal. Dan dia juga memberikan alasan yang tidak masuk akal." Tidak salah Easter menjadikan Jake sebagai orang kepercayaannya. Karena hanya Jake lah yang memiliki pemikiran hampir sama dengannya. "Kepulangan gadis itu kurang bisa aku terima karena kecurigaanku sangatlah kuat. Tetapi, dengan dia pulang, maka pernikahanku dengan Vele akan segera terjadi. Jadi Jake, bisakah kau memberiku saran terbaik untuk ini? Antara pernikahan atau mengungkap keganjalan ini lebih dulu?" Tatapan Easter sepenuhnya pada bawahannya itu. Jake menunduk hormat, dia sama sekali tak merasakan beban jika dijadikan sebagai kepercayaan Easter. "Menikahi Ratu adalah hal penting, Raja. Tetapi, mengungkap apa yang sebenarnya dan tujuan Vale kembali jauh lebih penting. Bukan tidak mungkin, ketika kita lengah lagi, hal buruk terjadi di kerajaan." Easter setuju dengan jawaban Jake. Jadi, ini artinya dia harus menunda pernikahannya? Entah apa yang harus Easter jelaskan kepada Vele nanti. Padahal dia sudah berjanji jika Vale kembali, maka mereka akan segera menikah. Vele memeluk saudaranya sebelum kembali ke kamar. "Selamat malam, Vale. Aku hanya ingin mengatakan jika aku senang kamu kembali. Mari kita saling melupakan yang telah berlalu dan bangun hubungan kita kembali," kata Vele. Vale tersenyum hangat sembari mengangguk setuju. "Kamu juga harus membangun hubungan baik dengan Raja," sahut Vale. Vele tersenyum malu. "Vale, aku belum menceritakan tentang kami ke Ayah dan Ibu. Bisakah kamu menjaga rahasia ini?" lirih Vele dengan suara kecil. Vale mengangguk, dia akan menjaga rahasia saudaranya. "Raja dan aku akan segera menikah. Peraturan itu akan segera Raja hapuskan," ungkapnya. Vale terlihat terkejut dalam seperkian detik di mana dia harus mengubah mimik wajahnya. "Selamat untukmu, Vele. Akhirnya kalian akan bersatu juga," ucap Vale sembari memeluk sang kembaran. "Terima kasih, Vale. Aku tidak menyangka akhirnya kita akan menikah. Setelah ini, aku akan berbicara dengan Raja mengenai dirimu. Ingat, kita adalah saudara. Meskipun aku telah menikah, kita akan tetap berjuang bersama, ok?" Vale mengangguk setuju. "Kembalilah ke kamar, Vele. Raja pasti sudah menunggumu sejak tadi," ujar Vale. Vele melepaskan pelukannya. Dia berbalik sembari melambaikan tangannya kepada Vale. Vale pun ikut membalas sembari tersenyum hangat di sana. Sampai akhirnya punggung Vele sudah tak terlihat lagi, barulah wajah asli Vale terlihat. Dia menatap tajam saudara kembarnya dari jauh. Menikah? Vale kembali dan Vele akan segera menikah. Betapa sempurnanya kehidupan saudaranya itu. Apakah kamu pikir aku akan membiarkanmu bahagia?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN