kecurangan

1289 Kata
Winda benar-benar tidak pulang dan ia terpaksa mengikuti ucapan Dimas untuk libur bekerja. Winda di buat terheran-heran dengan sikap Dimas yang begitu lembut dan penuh perhatian terhadapnya. Tetapi Winda tak mau ambil pusing dengan masalah ini,ia hanya menganggap kalau semua perlakuan Dimas hanya bentuk dari rasa tanggung jawabnya saja. "Nona apa anda butuh sesuatu?" Tanya Anita kepada winda. Anita adalah salah satu asisten di rumah Dimas,dan dia di tugaskan untuk menjaga dan memenuhi semua kebutuhan Winda. Winda yang tak terbiasa di layani merasa sungkan karena Anita memperlakukannya layaknya majikan. "Tidak kak,saya hanya ingin pulang saya kawatir ibu saya akan mengkhawatirkan saya." Ucap Winda lembut,sungguh Winda merasa tidak enak karena merepotkan semua orang yang ada di situ jadi dia pikir akan lebih baik dia pulang dan beristirahat di rumahnya. "Maaf nona,tuan tidak mengijinkan anda keluar dari rumah ini sebelum anda benar-benar sembuh. Untuk masalah ibu nona tidak perlu kawatir soal itu tuan sudah mengurusnya." Jelas Anita panjang lebar. Winda mendesah kecewa dengan jawaban Anita,kenapa ia terkesan di kurung di rumah sebesar ini. "Oh...iya dimana tuan Adimas,sedari pagi saya belum melihatnya?" Tanya Winda yang memang belum melihat Dimas dari pagi sampai sekarang. "Tuan masih di kantor nona,katanya ada yang harus ia kerjakan sebab itu tuan meminta saya untuk menjaga dan memenuhi apa yang nona inginkan." Jawab Anita Winda hanya manggut-manggut mendengar penjelasan dari Anita, "Kak...tidak bisakah kakak memanggil namaku saja?" Tanya Winda pada gadis yang ada di depannya. "Maaf nona saya tidak berani,karena tuan menyuruh saya untuk menghormati anda." "Huft...terserahlah,kakak boleh pergi aku mau istirahat." Ucap Winda kesal pasalnya dia merasa benar-benar tidak bebas,dia ingin segera keluar dari rumah ini. ??? Sementara itu Dimas tengah sibuk dengan beberapa dokumen yang harus ia tanda tangani. Tok...tok... Suara ketukan pintu mengalihkan Dimas dari berkas yang ia pegang. "Masuk..." Perintah Dimas Setelah mendengar intruksi dari pemilik ruangan,Raka asisten Dimas masuk dan membungkuk sebagai tanda hormat. "Pak saya sudah menyelidiki tentang masalah potong gaji." Ucap Raka. "Katakan...." Perintah Dimas menatap Raka "Ternyata memang benar selama satu tahun terakhir ini pak Burhan memberi peraturan itu hanya untuk kepentingan dirinya sendiri." Brak... "Kurang ajar,kenapa tidak ada yang melaporkan kecurangannya?apa tidak ada yang melapor?" Tanya Dimas geram. "Mereka diancam jika berani mengadu atau melaporkan maka tak segan-segan pak Burhan akan memecat mereka." Jelas Raka lagi. "Sialan...lelaki tua itu semakin menjadi saja,pecat Burhan jangan biarkan dia lama-lama berada disini,kenyamanan semua karyawan harus di utamakan." Perintah Dimas Burhan adalah suami dari bibinya Dimas,bibi Dimas adalah kerabat jauh dari ibunya. Jika bukan karena bibinya maka Dimas tak ingin memperkejakan Burhan di perusahaanya,bukan dia tidak tahu jika Burhan sering melakukan kecurangan,tetapi kali ini ia tak bisa membiarkan hal ini terus terulang lagi. Raka mengangguk dan pamit untuk segera keluar dan melaksanakan perintah bosnya itu. Dimas menghembuskan nafas kasar,lalu dia melirik ponselnya. Tiba-tiba senyumnya merekah saat mengingat Winda sedang berada di rumahnya. Tanpa pikir panjang Dimas mencari nomor Anita dan menelponnya. "Aku ingin bicara dengan winda." Ucapnya saat sudah tersambung. "Baik tuan..." Anita segera melangkahkan kakinya menuju kamar yang di tempati Winda. "Nona tuan ingin bicara." Ucap Anita. "Aku kak?" Tanya Winda bingung,Anita mengangguk dan menyodorkan ponselnya lalu meninggalkan sendirian. "Ha-halo..." "Bagaimana keadaanmu?" Tanya Dimas "Em...saya baik-baik saja tuan." "Tunggu aku,setelah selesai aku akan segera pulang."Dimas berucap lembut. "Tapi tuan saya ingin pulang,sekarang." "Tunggu saya pulang,setelah itu kita bicarakan." "Baiklah..." Setelah mengatakan itu Dimas mengakhiri pembicaraan mereka. Dimas tersenyum ketika membayangkan wajah cemberut Winda pasti terlihat sangat menggemaskan. Brak... Pintu di buka secara kasar,oleh seseorang. Dimas menatap tajam ke arah pelaku. "Apa anda tak mempunyai sopan santun tuan Burhan?" Tanya Dimas datar "Kenapa kau memecatku?bukankah aku tidak melakukan kesalahan?" Tanya Burhan tanpa dosa Dimas tersenyum remeh, "anda bilang tidak punya kesalahan? Apa dengan memotong gaji karyawan yang tidak masuk kerja dengan ijin sakit apa itu tidak kesalahan?dan kau juga sering menggunakan uang perusahaan untuk kepentingan dirimu sendiri apa itu juga bukan kesalahan?selama ini aku diam bukan berarti aku tidak tahu dengan apa yang kau lakukan,dan bahkan aku memberi kesempatan entah berapa kali tetapi kau selalu saja melakukan kecurangan di perusahaanku. Jika bukan karena bibi maka sudah lama aku memecatmu." Tekan Dimas Burhan terdiam tak dapat mengelak semua ucapan Dimas,yang dikatakan Dimas benar kalau dirinya selama ini ia telah melakukan kecurangan. "Kenapa diam?tidak bisa mengelak?jadi lebih baik anda cepat keluar dari sini atau saya akan memenjarakanmu." Tunjuk Dimas tepat di wajah Burhan,Dimas menatap tajam tepat pada kedua bola mata itu. "Kamu boleh menang sekarang Dimas,tapi ingat aku akan membalas sakit hati ini kapadamu nanti." Ucap Burhan lalu meninggalkan Dimas dengan amarah yang sudah berada di puncak. "Sialan pasti ada yang mengadu tentang ini,aku akan cari tahu siapa yang mengadu,aku akan memberinya pelajaran." Ucap Burhan dengan amarah. Dimas hari ini memutuskan untuk pulang lebih awal,biasanya dia akan pulang larut untuk mengalihkan pikiranya yang selalu memikirkan kekasihnya yang gak kunjung di temukan. tetapi tidak untuk saat ini, dirumah ada Winda gadis yang begitu mirip dengan Nadia gadis yang selama ini ia rindukan. sungguh ia sudah tidak sabar melihat wajah cantik Nadia,bukan wajah cantik Winda tepatnya. tetapi ia tak mempermasalahkan hal itu,dia hanya menganggap kalau Nadia sudah kembali dan dia akan segera mengikatnya. tak butuh waktu lama mobil yang di tumpangi oleh Dimas sudah sampai di depan rumahnya,ia berjalan dengan langkah lebar karena sudah tidak sabar ingin segera menemui Winda. "tuan anda sudah pulang?" sapa Anita saat melihat sang tuan mulai memasuki rumahnya. Dimas hanya mengangguk menanggapi, " dimana Winda?" hal pertama yang ia tanyakan tidak lain adalah gadis yang bernama Winda dan mempunyai kemiripan dengan Nadia. "nona sedang beristirahat tuan," jawab Anita sopan. Dimas mengangguk dan segera berjalan menuju kamar yang ditempati oleh Winda. Dimas mengetuk pintu kamar tersebut saat sudah berada di depan pintu kamar. tok...tok.... ceklek....tak butuh waktu lama,Winda membuka pintunya,ia melihat sosok yang sedari tadi ia tunggu. "tuan anda sudah pulang?" tanya Winda "ya,bagaimana keadaanmu?" "saya baik tuan,anda sudah pulang berarti saya harus segera pulang." ucap Winda menatap wajah tampan Dimas. "tidak,kamu belum boleh pulang sekarang,besok baru boleh." ucap Dimas, "tapi saya tidak enak berada disini tuan,..." belum sempat Winda menyelesaikan ucapanya Dimas langsung memotong "kenapa apa kamu tidak betah disini?" tanya Dimas kawatir. "bukan,bukan tidak betah tuan tapi saya kawatir kalau ibu saya akan mengkhawatirkan saya,karena sudah dari kemarin saya belum pulang." Dimas mengangguk,dan memberi isyarat kepada Winda untuk masuk ke dalam kamarnya dan duduk di sofa kamarnya. Winda yang mengerti dengan isyarat itu langsung menurutinya. Winda menatap ke arah Dimas yang sedang memainkan ponselnya,membuat kedua alis Winda mengkerut. "hallo assalamualaikum Bu..." sapa Dimas sopan, kala telponya tersambung. Dimas sengaja menload speaker agar Winda juga mendengarkan. "iya nak Dimas,ada apa?Winda baik-baik saja kan?' tanya sang ibu kawatir. "tidak Bu,Winda hanya ingin bicara sama ibu katanya rindu." ucap Dimas. "oalaah...sekarang mana anaknya?" tanya sang ibu. Dimas menyodorkan ponsel miliknya kepada Winda sambil tersenyum,sementara Winda hanya tersenyum kikuk menerima telpon itu. "hallo Bu,..." "hallo Winda gimana keadaanmu sekarang?ingat kamu harus mendengar apa kata dokter agar bisa cepat pulang dan gak ngrepotin pak Dimas." nasehat sang ibu. "ibu gak kawatir ya sama Winda,pergi berdua dengan lelaki yang bukan mahramnya apalagi menginap." ucap Winda kesal. "ibu itu kawatir sama kamu,lah bagaimana ibu mau jenguk orang kamunya di rawat di luar kota,lagi pula pak Dimas itu kan bos kamu,dia juga baik dan sopan jadi tidak mungkin dia macam-macam." "tapi Bu..." "sudah jangan berpikiran yang macam-macam cepat sembuh,ibu matikan dulu ya ibu harus pergi nganterin cucian tetangga." ucap sang ibu lalu mematikan sambungannya tanpa mendengar jawaban dari winda. Winda membrengut kesal kala ibunya mematikan telponya tanpa mau mendengarkan nya. Winda mengulurkan tangan mengembalikan ponsel Dimas. "sebenarnya tuan bicara apa sama ibu,hingga beliau mengijinkan bapak membawa saya menginap di rumah bapak,dan juga kenapa bapak bilang ke ibu kalau saya di rawat di luar kota?" tanya Winda beruntun. Dimas tersenyum penuh arti,dan matanya tak pernah lepas dari wajah ayu Winda.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN