"apa kau benar ingin tahu apa yang aku katakan pada ibumu,hingga kau di perbolehkan disini dan bahkan ibumu tidak datang menjengukku!" ucap Dimas tersenyum.
Winda mengerjabkan matanya,terlihat lucu bagi Dimas.
"tentu saja aku ingin tahu,tidak biasanya ibu seperti itu?" ucap Winda masih penasaran.
"aku bilang ke ibumu,kalau setiap karyawan di tempatku bekerja akan mendapatkan fasilitas kesehatan,dan kebetulan kakimu terkilir dan butuh perawatan yang harus segera di tangani dan butuh beberapa hari di rawat. dan ibumu setuju tentang itu!" jelas Dimas.
"tapi kenapa ibu tadi bilang kalau aku ada di luar kota?"tanya Winda yang mulai penasaran.
"aku bilang ke ibumu,kamu sekarang naik pangkat dan menjadi asisten pribadiku dan harus ikut denganku bekerja ke luar kota sekalian mau mengobatimu."
Winda melongo mendengar penjelasan Dimas, "huh....dasar licik." Winda mencibir,dan masih terdengar oleh Dimas.
"apa kau bilang?" tanya Dimas sambil mendelikkan matanya.
"tidak ada pak,kalau begitu kapan saya boleh pulang?"tanya winda.
"kamu belum boleh pulang,karena besok kamu harus ikut saya untuk menghadiri acara pembukaan cabang baru di Bandung." ucap Dimas santai.
"tapi,saya kan cuman seorang OG pak,kenapa saya harus ikut?" tanya Winda heran.
"memang kamu seorang OG,tapi mulai besok kamu saya pecat dan saya pindah tugaskan menjadi asisten pribadi saya."
Winda melongo mendengar ucapan Dimas,dia benar-benar tak habis pikir kenapa dia begitu mudah mengangkatnya sebagai asistenya,sementara dirinya baru bekerja tiga bulan yang lalu.
"saya menjadikanmu sebagai asisten saya,karena saya melihat kinerjamu begitu baik." ucap Dimas sebelum Winda melontarkan pertanyaan.
Winda semakin di buat melongo karena Dimas seperti tahu pertanyaan yang ada di otak kecilnya itu.
"jangan terkejut begitu. semuanya sudah jelas saya mau mandi dulu dan kamu cepat turun untuk makan malam temani saya." perintah Dimas tak terbantahkan
Dimas langsung beranjak menuju kamarnya,membiarkan Winda yang masih setia terdiam melihat kelakukan Dimas. sungguh ia tak mengerti dengan sikap Dimas,tetapi di lain sisi dia senang karena dirinya naik jabatan,itu berarti dia bisa memenuhi kebutuhannya dengan ibunya dan dia bisa membayar hutang-hutang yang di tinggalkan ayahnya.
pagi-pagi sekali Winda sudah bangun,dia ingin meminta ijin untuk pulang terlebih dahulu,karena dirinya ingin mengambil beberapa lembar baju.
"kak....pak Dimas sudah bangun?" tanya windaa saat sudah berada di dapur.
"biasanya beliau sedang berolahraga,nona." jawab Anita.
"tempatnya dimana kak?" tanyanya lagi.
"mari saya antar!" Anita berjalan terlebih dahulu,lalu di ikuti Winda dari belakang.
"maaf tuan,nona Winda ingin bicara." ucap Anita kepada Dimas.
Dimas hanya mengangguk dan memberi isyarat agar Anita meninggalkan mereka berdua.
Winda masih terpaku menatap penampilan Dimas, dia terlihat berbeda memakai kaos tanpa lengan sehingga mempertontonkan lenganya yang kekar,kulitnya yang putih bersih terlihat sangat kontras dengan warna kaos yang di kenakan.
Dimas meminum air,yang sudah di siapkannya. Winda meneguk ludahnya susah payah karena melihat jakun Dimas yang naik turun sungguh terlihat sangat seksi.
"katakan apa yang ingin kau bicarakan." ucapan Dimas sontak membuat lamunan Winda buyar,
"aaa...mmmm,saya ingin meminta ijin pulang pak,karena saya ingin mengambil beberapa baju untuk di bawa ke luar kota."
"tidak perlu kita akan membelinya disana nanti."
"tapi...."
"pergilah bersiap-siap sebentar lagi kita akan berangkat." ucap Dimas memotong ucapan Winda.
Winda hanya membrengut kesal,pasalnya Dimas selalu saja berbuat seenaknya sendiri.
"kenapa masih diam di situ,apa mau saya gendong?" tanya Dimas.
Winda melotot mendengar ucapan Dimas,dia langsung menggeleng dan segera pergi dari tempat itu.
Dimas hanya tertawa melihat Winda yang salah tingkah. setelah Winda pergi Dimas berjalan menuju kamarnya untuk membersihkan dirinya dan bersiap-siap.
Winda keluar dari kamar mandi menggunakan kimono,dia lupa kalau dirinya belum mempunyai baju untuk dia kenakan.
saat Winda yang kebingungan karena tak memiliki baju,tiba-tiba pintu kamarnya di ketuk.
"nona ini baju untuk anda kenakan nanti." Anita menyodorkan sebuah paperbag saat Winda membukakan pintu.
"makasih ya kak..."ucap Winda menerima paperbag
"apa anda perlu bantuan?" tawar Anita.
"tidak kak,terima kasih..." tolak Winda halus,Winda menutup pintunya ketika Anita sudah berpamitan.
Winda membuka dan melihat sebuah dres berlengan panjang berwarna putih,sebatas lutut.
tanpa pikir panjang Winda memakai dres itu dan sepatu hak tinggi yang sudah di siapkan. setelah memastikan penampilannya sudah rapi,barulah Winda keluar dari kamarnya dan berjalan menuju mobil yang sudah sedari tadi menunggunya.
Dimas yang sedang menunggu Winda berdiri menyenderkan tubuhnya di mobil miliknya,dan bermain ponsel untuk membuang rasa bosannya.
Dimas mengalihkan perhatiannya saat mendengar suara sepatu saling beradu mendekatinya,sejenak Dimas terpaku melihat Winda yang terlihat sangat cantik dengan dres pilihannya.
"pak...ayo kita berangkat." ucap Winda membuyarkan lamunan Dimas.
"kamu cantik sekali Winda...." pujinya,
mendengar pujian itu sontak membuat Wajah winda bersemu merah,
"terima kasih pak,bisa kita berangkat sekarang?" ucap Winda.
"baiklah ayo...." ucap Dimas membuka pintu mobil untuk Winda
selama perjalan banyak hal yang di tanyakan oleh Dimas kepada Winda,dia penasaran dengan kehidupan gadis yang mirip dengan kekasihnya. ia benar-benar tak menyangka jika kehidupan Winda begitu berat berbanding terbalik dengan Nadia kekasihnya. jika Nadia sejak kecil selalu hidup berkecukupan tidak dengan Winda yang harus bekerja keras untuk memenuhi kebutuhan hidupnya dan membantu ibunya untuk membayar hutang-hutang ayahnya.
"apa kamu memiliki kekasih?" tanya Dimas tiba-tiba.
Winda yang mendengar pertanyaan itu sontak menatap Dimas heran.
"aku hanya ingin tahu,jangan berpikiran macam-macam."
"aku tidak memiliki kekasih,bagiku itu hanya akan membuang-buang waktu dan akan menguras pikiran." ucap Winda jujur,karena memang begitu yang ia lihat dari beberapa temanya yang memiliki kekasih .
Dimas hanya mengangguk paham,setelah percakapan itu mereka saling diam dan Winda lebih memilih melihat ke arah luar jendela,dan Dimas sibuk mengecek beberapa email yang masuk di iPad miliknya.
"Winda tolong kamu catat apa yang akan saya baca ini." ucap Dimas tanpa melihat ke arah Winda.
tetapi Winda tak menjawab ucapan Dimas.
"Winda..." Dimas yang tak mendapati jawaban dari winda menoleh,dan dia tersenyum saat melihat Winda tengah tertidur.
Dimas meletakkan iPad yang dia pegang dan meraih kepala Winda agar bersender di bahunya,dan supaya Winda merasa nyaman.
Dimas mengecup puncak kepala Winda dengan lembut,dan membelai pipi gadis itu.
"rasanya aku sudah tak sabar ingin memilikimu." gumam Dimas mengelus kepala Winda.
sungguh melihat Winda yang tengah terlelap benar-benar mengingatkanya kepada Nadia,tidak ada celah sedikitpun bagi mereka saking miripnya. hanya yang membedakan mereka hanyalah warna bola matanya. jika Nadia warna matanya berwarna coklat , sementara Winda berwarna hitam pekat.
Winda bergerak memeluk tubuhnya karena merasa kedinginan,dengan sigap Dimas memberikan jasnya dan menutup tubuh Winda agar tetap hangat,bahkan ia memeluk Winda dengan sangat erat.,