BAB 5 - PELAKOR ITU ... DIA

1113 Kata
Bersama Sherly dan juga Ferdi, adik kandung Rendra, yang memutuskan ikut, Naya masuk ke dalam hotel dan melangkah langsung ke dalam lift. Sherly yang sebelumnya sudah memesan satu kamar, membuatnya memiliki kartu akses untuk bisa leluasa masuk ke sana. Sherly menempelkan kartu di samping pintu lift, lift terbuka, ketiganya langsung masuk dengan emosi menggebu-gebu. Sherly melirik ke Naya yang sejak tadi hanya diam seribu bahasa, tatapannya tajam ke arah pintu lift yang tertutup. "Kamu yakin, Nay?" Naya menoleh ke arahnya. "Siapkan saja handphone kamu, rekam dan share ke media sosial. Aku ingin buat pelakor itu malu. Soal Rendra, aku sudah tidak peduli." Sherly menganggukkan kepala. Tidak berapa lama, pintu terbuka dan ketiganya ke luar dengan langkah tegap menuju ke satu kamar bernomor 466. Ingatan Naya tertarik ke belakang, dua jam sebelum langkah pastinya. Naya yang sempat meminta izin pada sang mertua sembari menitipkan Aisha, membuat wanita dan pria berusia enam puluh tahunan itu menangis. Mereka tampak kecewa mengetahui sang anak sulungnya melakukan hal itu. Bahkan Ferdi yang hanya berjarak satu tahun dengan Rendra, tampak menundukkan kepala tanpa berkata apa-apa. "Maaf, Bu, Naya harus melakukannya. Kalau saja mereka tidak berhubungan intim, mungkin Naya bisa memaafkannya, tapi kenyataannya mereka sudah melakukannya. Dan semua itu, dilihat langsung oleh sahabat Naya." "Anak itu, benar-benar memalukan!" geram Bapak yang membuat Ferdi langsung menenangkannya. Ferdi mencoba mengingatkan tentang penyakit jantung yang dia derita. Sedangkan sang istri hanya bisa menangis terisak. "Pergilah, Nak, Bapak dan Ibu izinkan kamu memergoki Rendra dengan cara kamu," ucap Bapak setelah lebih tenang. Naya lega mendengarnya, lantas beralih ke sang ibu yang duduk di hadapannya. "Bu," panggil Naya sembari menggenggam tangannya. Dia tampak hancur, mencoba menenangkan tangisnya, namun berulang kali gagal. Bapak yang duduk di sampingnya, mengusap pelan punggungnya mencoba menenangkan. Perlahan, wanita yang masih tampak cantik dengan hijabnya itu ditambah dengan beberapa kerutan di wajahnya, tampak mulai lebih tenang. Dia menatap Naya sembari mengusap rambut sang menantu. "Kamu anak Ibu juga, Nay, Ibu juga gak izin kalau anak perempuan Ibu disakiti seperti ini." Ibu berusaha tersenyum. "Lakukanlah, Ibu ikhlas." Naya menghentikan langkahnya tepat di hadapan pintu bertuliskan angka 466. Naya menghembuskan napasnya kasar, melirik ke Sherly yang sudah siap dengan handphone di tangannya. Sherly mengangguk, Naya mulai menekan bel pintu berulang kali. Sengaja menutup lubang di pintu untuk celah melihat siapa yang datang dengan tangan kirinya, agar siapa pun yang ada di dalam, tidak tahu ada dirinya di depan pintu. Suara kunci pintu terdengar. Tidak berapa lama, pintu terbuka dan menampilkan pemandangan yang cukup menyakitkan kedua mata Naya. Ada Rendra di hadapannya yang hanya memakai kimono putih selutut, yang diikat asal di pinggang. Kedua mata Rendra terbelalak mengetahui sang pengusiknya di malam hari yang indah adalah istrinya sendiri. Dengan cepat, Rendra berniat menutup kembali pintu, namun pintu malah terasa didorong seseorang yang membuat Rendra terlempar mundur beberapa langkah ke belakang. Betapa kagetnya Rendra saat melihat ada Ferdi bersama Naya, dan terlihat juga Sherly di belakang keduanya sembari mengarahkan kamera di handphonenya ke arahnya dengan tersenyum sinis. Butiran air mengalir di wajah Rendra. Dia terjebak, bukan hanya dengan Naya, melainkan juga adiknya sendiri. "Siapa yang datang, Sayang?" Terdengar suara seseorang wanita dari dalam. Tidak berapa lama, Nayalah yang terkejut bukan main saat melihat seorang wanita dengan pakaian kimono putih hadir dan berdiri di samping Rendra. Semula wanita itu tampak kaget, namun perlahan senyuman tipis hadir di bibirnya walau hanya sesaat. Seakan adegan ini adalah adegan yang dia nanti-nantikan sudah sejak lama. "Terpampang nyata wajah Lo!" seru Sherly yang membuat Narumi sadar akan kamera yang terus menyorot ke arahnya. Narumi mundur beberapa langkah, lantas menyembunyikan wajahnya di balik tubuh Rendra. Kali ini dia tampak cemas. "Nay, Mas bisa jelaskan semuanya," ucap Rendra sembari mendekati Naya dan berniat menggenggam kedua tangannya. Dengan cepat Naya mengangkat tangannya, enggan bersentuhan dengan lelaki di hadapannya. Tak butuh waktu lama, secara tidak diduga, Naya malah menonjok wajah Rendra hingga membuatnya terjatuh ke lantai. Akibatnya, hidung Rendra berdarah. Naya berjongkok di hadapannya. "Jangan sentuh aku, Mas, tanganmu kotor," ucap Naya dengan nada tenang namun terasa ada penekanan di nadanya. Naya menarik tatapannya ke Narumi yang tampak ketakutan, berdiri lantas mendekatinya sembari tersenyum tulus. "Pria tampan, tinggi semampai, pekerja kerja, bertanggung jawab, dan romantis, semua kriteria yang pernah kamu ucapkan, sama seperti suamiku, aku benar kan?" tanya Naya dengan tatapan tajam walau senyuman tidak pernah lekang di bibirnya. "Aku gak nyangka, kamu akan jadi sosok wanita yang dulu pernah mengusik kehidupan Ibu dan Bapak. Apa sensasinya lebih bisa kamu nikmati ya, saat bermain dengan lelaki yang sudah punya istri? Segitu hebatnya sensasinya sampai kamu lupa, lelaki ini adalah suami dari saudari kandungmu sendiri?" Narumi tertawa kecil yang membuat Naya mengerutkan kening. Bukannya menyesal, Narumi malah seolah-oleh berubah jadi sosok iblis pengusik rumah tangga. "Ternyata benar, kamu sama seperti Ibu, BODOH!" maki Narumi yang langsung mendapatkan hadiah tamparan dari Naya. Narumi sempat menjerit kesakitan bertepatan dengan melayangnya tangan Naya ke pipinya. Namun bukannya menyesal, Narumi malah langsung menatap tajam ke Naya. "Aku gak nyangka, kebiasaan kamu yang sejak dulu suka memakai semua barang-barang bekasku, ternyata bertahan sampai sekarang." Naya melirik ke Rendra yang sudah berdiri di belakangnya sembari memegangi hidung yang masih berdarah. Naya berbalik, kembali menghampiri Rendra dengan kedua mata berembun. Entah kenapa, rasa sakit selalu hadir di hatinya setiap kali melihat wajah Rendra. Hatinya sendiri masih belum bisa terima kalau pujaannya itu, menjadi orang selanjutnya yang berhasil membuatnya percaya bahwa cinta tulus tidak pernah ada. Dulu cinta pertamanya yaitu sang Bapak, dan sekarang cinta yang Naya harapkan menjadi terakhir baginya malah melukainya. Siapa lagi kalau bukan Rendra. "Nikmatilah malam ini, Mas, aku janji, Aisha gak akan tau soal ini dan soal perselingkuhan yang Ayahnya lakukan. Tapi aku minta maaf, karena aku tidak akan pernah bisa memaafkan kamu sampai kapan pun." Air mata Naya meluncur melintasi pipinya. Naya yang sudah tidak kuat lagi, langsung melangkah melewati Rendra yang berusaha menghentikannya. Rendra urung mengejar saat Ferdi menghalanginya. "Kamu mengingkari janji kita dulu, Mas, kalau aku tau hal ini akan terjadi, aku gak akan pernah ngelepasin peganganku dari tangan Naya, walau pun dia gak akan pernah berbalik menggenggam tanganku!" Ferdi melangkah pergi, menutup pintu dari luar dengan setengah membantingnya lantas menyusul Naya dan Sherly yang sudah berdiri di depan pintu lift. Naya menangis sejadi-jadinya di pelukan Sherly, sedangkan Ferdi hanya bisa menatapnya tidak tega. "Andai aku orangnya, aku gak akan membuat satu tetes air matamu jatuh sampai kapan pun, Nay," umpat Ferdi dalam hati sembari mengepal tangannya. "Sher, bisa bantu aku?" tanya Naya di sela tangisnya. "Apa pun, Nay, aku pasti membantumu." Naya menatap Sherly dengan tatapan pilu. Kebingungan hadir di kepala dan hatinya. Antara harus menceraikan Rendra atau malah tetap bertahan dan berpura-pura terus bodoh melupakan semuanya yang terjadi di depan matanya, demi Aisha.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN