Naya masuk ke dalam rumah bersama Ferdi. Kedua orang tua Rendra yang sejak tadi menanti di ruang tamu, langsung beranjak mendekati Naya yang tampak hancur dengan tatapan lurus ke depan, dan wajah dipenuhi sisa lintasan air mata. Bapak melirik ke Ferdi yang berdiri di belakang Naya, Ferdi hanya menggelengkan kepala seolah mengatakan semua tidak baik-baik saja. Sedangkan Ibu langsung menyentuh kedua pipi Naya.
"Nak, kamu gak apa-apa, kan? Bicara sama Ibu, jangan diam saja."
Naya memegang kedua tangan Ibu, lantas menurunkannya. Perlahan dan tanpa bicara, Naya melangkah meninggalkan ketiganya menuju ke lantai dua tempat kamarnya dan Aisha berada. Ibu berniat menyusul, namun dengan cepat Bapak menahannya yang membuat Ibu tidak bisa berbuat apa-apa.
Naya sendiri masuk ke dalam kamar. Tampak Aisha berbaring di sana dengan ditemani boneka panda kesayangannya. Naya mendekat, duduk di sampingnya sembari mendaratkan kecupan di kening sang anak. Air matanya kembali mengalir. Sekuat tenaga Naya menahan suaranya agar tidak terisak dan malah membangunkan Aisha. Namun gagal, Aisha malah terbangun sembari melihat ke Naya.
"Bunda kok nangis?" tanya Aisha yang membuat Naya kaget lantas dengan cepat menghapus air matanya.
"Gak, Sayang, Bunda gak nangis."
Aisha memeluk Naya. "Bunda, apa itu selingkuh?" tanya Aisha tiba-tiba yang jelas saja membuat Naya kaget bukan main.
"Isha dengar dari mana kata itu?"
"Nenek tadi, saat Nenek dan Kakek bicara di bawah. Isha dengar dari atas. Nenek marah-marah dan bilang kalau Ayah sudah menyakiti Bunda dengan cara selingkuh." Aisha melepaskan pelukannya dan menatap Naya. "Ayah udah jahat sama Bunda ya? Sampai buat Bunda nangis?"
Naya menggeleng. "Gak kok, Ayah sama Bunda cuma bertengkar kecil. Aisha jangan mikir yang enggak-enggak ya?"
"Bunda dan Ayah gak bakalan nyuruh Isha milih antara ikut Bunda atau Ayah kan?"
Naya kembali dibuat kaget bukan main. Dia tidak menyangka, gadis kecil seperti Aisha yang baru berusia tujuh tahun, malah melontarkan kalimat seperti itu padanya. Aisha yang terus menatapnya, membuat Naya harus memutar otak untuk membuat Aisha tidak sedih karena masalahnya bersama Rendra.
"Isha tau dari mana lagi hal itu? Nenek?"
Aisha menggeleng. "Orang tua Vina, teman Isha di sekolah, Ayah Bundanya nyuruh Vina buat milih itu, Bunda. Ayahnya bilang, jangan ikut Bunda, karena Bunda jahat. Tapi ternyata Vina baru tau kalau Ayahnya bawa Bunda baru buat Vina. Kasihan Vina, Bunda, sampai sekarang Ayahnya dan juga Bundanya yang baru gak ngasih izin Vina untuk ketemu sama Bundanya." Aisha menepis poninya yang hampir menutupi mata. "Bunda dan Ayah gak bakalan minta Aisha buat milih kan?"
Naya hanya bisa memeluk Aisha tanpa memberikan jawaban. Hatinya semakin sakit bukan main mendengar pertanyaan anak sekecil itu. Semua yang dikatakan Aisha benar adanya. Perceraian, pilihan dan bunda baru akan dia alami. Dan Naya belum siap menerima jawaban Aisha jika dia lebih memilih ikut Rendra yang sejak dulu, lebih dekat dengannya dibandingkan Naya sendiri sebagai ibu.
Pelukan itu terhenti saat tiba-tiba Ferdi datang dengan ekspresi panik. Naya melepaskan pelukannya dari Aisha, mendekati Ferdi yang terengah-engah akibat harus berlarian menaiki tangga.
"Ada Mas Rendra di depan, Nay!" bisik Ferdi.
Naya berusaha tenang saat mengingat ada Aisha di belakangnya. Dia berbalik, lantas tersenyum ke Aisha.
"Isha di kamar dulu ya, Bunda dan semua orang dewasa lainnya mau bicara penting. Jangan ke luar kamar, oke?" pinta Naya yang langsung dijawab anggukan oleh Aisha.
Bersama Ferdi, Naya bergegas ke luar dari kamar dan tidak lupa menutup pintunya agar Aisha tidak mendengar kalau-kalau ada pertengkaran nantinya di lantai satu.
Apa yang dikatakan Ferdi benar, ada Rendra di sana, berdiri menundukkan kepala di hadapan Bapak dan Ibu yang menatapnya tajam. Ibu tampak mencoba menenangkan Bapak yang tampak emosi.
"Siapa yang ngajarin kamu buat berselingkuh!!!" bentak Bapak. "Jawab!!!"
Rendra menangis mendengar bentakan Bapak. Untuk pertama kalinya, Bapak membentaknya seperti itu. Selama ini dialah yang selalu menjadi anak terbaik. Bahkan Ferdi sering mengalah demi mengedepankan Rendra. Namun kini semua berbalik. Rendra mengangkat sedikit kepalanya saat menyadari ada Naya di hadapannya, tepatnya di belakang kedua orang tuanya.
"Anak gak tau diri!" Bapak mengangkat tangan kanannya, berniat memukul Rendra. Namun dengan cepat Ibu menghalangi dengan memasang badan di hadapan Bapak. Bapak mengurungkan niatnya, lantas menghembuskan napas kasar sembari berbalik. Enggan menatap sang istri yang selalu membela Rendra sejak kecil.
"Jangan kotori tangan Bapak dengan memukulnya, Pak. Tangan Bapak sudah mengajarkannya berjalan, jangan lakukan itu."
"Bela saja anakmu itu!" bentak Bapak tampak tak peduli.
Perlahan Ibu berbalik, menatap Rendra yang memanggilnya lirih. Ekspresinya seolah meminta bantuan padanya yang sejak dulu, tidak pernah membiarkannya sendiri. Ibu mengarahkan pandangannya ke Rendra, kedua matanya berembun, bahkan beberapa tetes air mata sudah berhasil melesat melintasi pipinya.
Namun, hal tak terduga terjadi. Tanpa disangka-sangka, sebuah tamparan keras menghantam pipi kanan Rendra melalui tangan sang ibu sendiri. Semua terperanjat kaget, terutama Bapak yang spontan berbalik melihat adegan itu.
"Siapa kamu berani menyakiti anak perempuanku?" tanya Mirna, sang ibu. "Kamu sudah berjanji akan menjaga anakku dengan baik, berjanji gak akan membuatnya menangis apa lagi menyakitinya, kenapa kamu malah melakukannya!!"
"Ibu ...."
"Jangan panggil aku Ibu!!!" potong Mirna dengan nada suara tinggi. "Kau bukan anakku lagi!"
Bagai tersambar petir Rendra mendengar ucapan Mirna. Rendra mengemis memanggilnya, namun Mirna malah mendorongnya ke luar dari rumah. Rendra yang belum mau menyerah, langsung berlari mendekati Naya melewati kedua orang tuanya. Ferdi berniat menghalangi, namun dengan cepat Naya mencegahnya. Naya menarik tatapannya ke Rendra yang sudah berdiri di hadapannya sembari menangis.
"Maafkan aku, Nay, aku tau semua ini kesalahanku, aku khilaf." Rendra menyatukan kedua tangannya memohon ampun. "Pulanglah bersamaku, Nay. Kita pulang ke rumah kita dan selesaikan semuanya bersama."
Rendra menggenggam tangan kanan Naya, menariknya pelan menuju ke pintu depan. Semua orang tampak berniat mendekat, namun Naya melarang dan tetap mengikuti langkah Rendra menuju pintu.
Namun saat langkah Naya hampir melewati pintu depan, Naya menahan tarikan Rendra hingga membuat lelaki itu berhenti dan berbalik. Rendra sudah berada di luar pintu, sedangkan Naya masih berada di dalam. Naya tersenyum tipis.
"Rumah yang mana, Mas?" tanya Naya yang spontan saja mengerutkan kening Rendra. "Apa bangunan yang selama ini tempat aku dan Aisha berteduh itu yang kamu sebut rumah kita?" Naya menggelengkan kepala. "Bukankah dua tahun lalu saat membelinya, kamu yang bersikeras membuat nama kamu di sertipikatnya? Apa jangan-jangan di tahun itu juga kamu sudah bermain dengannya, makanya kamu takut rumah itu jadi milikku?"
"Nay, bukan gitu."
"Ini rumahku, Mas," potong Naya. "Pulanglah, entah ke bangunan itu, atau balik ke hotel tempat kamu meninggalkannya demi sebuah kata maaf dari kami semua. Kasihan dia, dia pasti sudah membayangkan bisa berpesta semalaman denganmu."
"Aku mencintaimu, Nay!"
"Ini bukan soal cinta! Sejak tadi gak ada yang membahas cinta," ucap Naya dengan linangan air mata, namun senyuman terkembang di bibirnya. "Dua tahun lalu, kamu sudah mulai tidak mencintaiku, dan hal itu dibuktikan dengan ketertarikan kamu pada Narumi, adikku!" Naya tersenyum sinis. "Kamu heran bukan, dari mana aku tau?"
Rendra mencoba mengingat-ingat dari mana sumber itu bisa didapatkan Naya. Semua sudah dia tutup rapat, bahkan Narumi sendiri sudah dia minta untuk membungkam mulutnya selagi masih berhubungan dengannya. Namun anehnya Naya malah tahu semuanya tanpa diduga-duga.
"Aku akan kasih tau semuanya nanti, di pertemuan terakhir kita. Aku harap kamu bisa meluangkan waktu kamu untukku."
"Nay, jangan gini, aku mohon."
"Permisi ya, kami sekeluarga mau tidur. Assalamualaikum."
Naya langsung menutup kedua pintu perlahan. Masih terdengar suara memohon Rendra memanggil namanya dari luar. Namun Naya terus saja menutup pintu hingga menguncinya dari dalam. Naya berdiri di belakang pintu, menundukkan kepala sembari meneteskan air mata.
"Tunggu aku di tempat terakhir, Mas, akan aku berikan hadiah terakhir dariku sebagai hadiah anniversary kita yang terakhir kalinya."