BAB 7 - SOSOK IBLIS DI DIRINYA

915 Kata
Naya mengeluarkan secarik kertas, meletakkannya di atas meja, lantas menggesernya ke hadapan Rendra yang duduk di hadapannya. Cafe tempatnya kini duduk menjadi tempat yang dipilih Naya untuk kembali bertemu dengan Rendra, setelah satu Minggu berlalu tanpa saling tegur dan tatap. Cafe yang menjadi saksi bisu akan pertemuan pertama keduanya tanpa disengaja, dan kini akan kembali menjadi saksi atas perpisahan kedua sejoli yang sudah menghabiskan waktu bersama, selama delapan tahun. Rendra meraihnya, membacanya dengan seksama lantas menatap Naya tak percaya. Dia tampak kacau, itulah yang kini bisa dikoreksi Naya tentang sosok yang masih berstatus suami sahnya. Kedua matanya nampak cekung, seolah sudah tidak teratur tidur. Tubuhnya kurusan, dengan gaya pakaian yang tidak serapi dulu. Sejujurnya, Naya kasihan melihatnya. Namun mengingat apa yang sudah dia lakukan, membuat rasa iba Naya berubah kembali menjadi kebencian. "Surat cerai?" tanya Rendra dengan nada suara ditekan. Naya mengangguk. "Ini hadiah anniversary kita yang ke delapan. Kamu memberikanku hadiah perselingkuhan, dan aku membalasnya dengan perpisahan. Impas kan?" Sakit, itulah yang kini dirasakan Naya di dalam hatinya. Keputusannya untuk berpisah dari lelaki yang sudah memberikannya anak perempuan yang cantik dan lucu itu, sebenarnya tidak sejalan dengan hatinya. Hati Naya menginginkan pernikahan itu terus berlanjut, dengan Naya yang harus memaafkan Rendra, namun otaknya malah sebaliknya. "A-aku gak mau!" jawab Rendra menggeser kertas itu ke tengah meja. "Aku gak mau kita pisah, Nay, aku benar-benar minta maaf atas semua yang sudah aku lakuin. Aku khilaf." "Khilaf sampai dua tahun?" tanya Naya, Rendra menunduk. "Kamu sadar gak, kamu berhubungan dengan adikku sendiri, kamu sadar gak? Atau otak dan hati kamu sudah tertutup sama cinta dari Narumi? Apa saat bermain dengannya, kamu gak ingat ada anak dan istri kamu di rumah?" "Aku minta maaf, Nay." "Kamu jelas-jelas sudah berzina, Mas. Itu dosa besar!" Naya mulai terpancing. "Aku tau aku salah, Nay, tapi tolong maafkan aku, kita perbaiki semuanya." "Perbaiki? Gampang banget kamu bilang perbaiki. Apa yang harus diperbaiki? Kalau seandainya keadaannya di balik, apa kamu bisa maafkan aku?" Rendra menatap Naya memelas. "Aku bisa adil, Nay." Naya mengerutkan keningnya. Kalimat balasan dari Rendra membuatnya menaruh curiga. "Adil? Maksudnya?" Rendra mengeluarkan sesuatu dari saku celananya. Dan betapa kagetnya Naya saat melihat dua buah buku yang sama seperti miliknya di rumah. Naya kembali menatap Rendra bingung. "Aku sudah menikah dengan Narumi, satu tahun yang lalu," jawab Rendra seakan tanpa dosa sama sekali. Naya kehabisan kata-kata. Jawaban Rendra berhasil membuat napasnya tidak beraturan. Dunianya gelap seketika, Naya berusaha menenangkan dirinya sendiri dengan menutup kedua matanya, mencoba mengatur napas lantas kembali membuka mata saat sentuhan Rendra terasa di kedua tangannya. "Tetaplah bersamaku, Nay, aku janji bisa berlaku adil." Naya menarik tangannya kasar, menatap Rendra dengan kebencian yang luar biasa. Cinta yang selalu dia rasakan untuk Rendra, seketika lenyap. Dia jijik, bahkan ingin meludahinya saat itu juga. "Kamu sakit jiwa, Mas!" "Pernikahan ini sah, Nay, bahkan Bapak kalian hadir menjadi wali Narumi." "Bapak?" tanya Naya kembali dihujam kenyataan pahit. "Kami menikah di Malang, tempat Bapak berada. Dan agar kamu tidak tahu tentang ini." Rendra menatap Naya penuh kesedihan. "Aku tidak berzina, Nay, aku benar-benar tidak berzina." "CUKUP!!!" bentak Naya hingga membuat beberapa pengunjung menatapnya kaget. Naya yang menyadari semua tatapan itu, langsung menarik napas dalam-dalam lantas menghembuskannya perlahan. "Tanda tangani saja surat ini, dan semua selesai," ucap Naya yang langsung dibalas Rendra dengan gelengan cepat. "Semua bukti dari laptopmu, akan tetap bersamaku. Akan aku tunjukkan di pengadilan nanti. Dan soal rumah, mobil bahkan semuanya, aku tidak akan menuntut apa pun. Aku hanya minta hak asuh Aisha, berada di tanganku." Naya mengatakannya dengan kepala tertunduk. Dia benar-benar kaget luar biasa hingga enggan menatap Rendra yang masih terdiam sembari menjuruskan pandangan ke surat cerai di hadapannya. "Aku tunggu secepatnya." Naya langsung berdiri dan berniat pergi. Namun urung saat Rendra memanggilnya lirih. Naya kembali menatapnya. "Kalau ini yang kamu inginkan, aku akan kabulkan, tapi tidak dengan Aisha," ucap Rendra sembari mengarahkan pandangannya ke Naya yang masih berdiri di hadapannya dengan ekspresi kaget. "Aisha akan ikut aku, dan akan diurus sama ibunya yang baru. Ini semua bukan karena aku jahat, tapi karena ibunya sendiri yang jahat karena tega meninggalkan ayahnya." "Mas!" Rendra berdiri, membawa kertas itu lantas menatap Naya dengan tatapan tajam. Anehnya dia tampak berubah drastis seperti menjadi sosok yang lain. Sosok yang tidak dia kenal sebelumnya. Tatapan tajamnya, membuat Naya takut bukan main. "Ternyata Narumi benar, dia lebih baik darimu. Ajakannya untuk mengulang kisah lama hingga persis seperti cerita Bapak kalian yang kini hidup bahagia bersama istri barunya, akan aku terima. Nasib ibumu yang merana, akan terjadi kembali padamu, Naya." Rendra tersenyum sinis. "Aku mencintaimu, sampai kapan pun akan tetap sama. Sampai jumpa di persidangan." Rendra melangkah pergi meninggalkan Naya yang menatapnya dengan tubuh gemetar dan air mata yang jatuh. Naya benar-benar ketakutan. Sementara Rendra yang baru saja ke luar dari cafe, terhenti saat Ferdi menghalanginya yang ingin masuk. Rendra tersenyum sinis. Rendra mendekati bibirnya di telinga Ferdi dan berbisik sesuatu. Ferdi terbelalak, lantas menatap penuh emosi ke Rendra yang sudah menjauh darinya sembari tersenyum jahat. Dia pergi diiring tawanya yang menggelegar. Ferdi langsung masuk ke dalam dan melihat Naya sudah duduk dengan tangis yang tak tertahankan. Seorang pelayan cafe tampak menenangkannya. "Naya," panggil Ferdi. "Antar aku ke Aisha, Fer. Tolong antar aku. Dia mau ambil Aisha dariku!" Ferdi mengangguk lantas memapah Naya menuju ke luar cafe dan mobilnya yang terparkir di parkiran. "Sialan kau, Mas, ucapanmu barusan takkan pernah kumaafkan! Kau tunggu saja kehancuranmu. Akan kubuat kau menyesal sudah mengatakan hal itu!" umpat Ferdi dalam hatinya setelah mengantarkan Naya masuk ke dalam mobil.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN