Setelah selesai bertelepon dengan adiknya, Aaron pun berjalan kembali menuju perempuan asing yang saat ini terlihat tengah menunggunya dengan cemas.
“Ternyata kau benar-benar teman Emily,” kata Aaron sembari menyimpan ponselnya ke dalam saku.
Gadis di depan Aaron langsung terlihat lega. Wajah tegangnya kini sudah berganti dengan senyum cerah di wajahnya―Aaron bahkan bisa melihat lesung pipit yang timbul di salah satu sudut pipi gadis itu.
“Jadi, kau tidak akan melaporkanku ke polisi?” tanya Lily penuh harap.
“Tidak.”
“Tapi kau harus tetap pergi dari sini, detik ini juga,” lanjut Aaron yang seketika melunturkan senyum di wajah Lily.
“Se-sekarang juga?” tanya Lily mulai khawatir.
“Ya,” tegas Aaron.
Lily terlihat khawatir di tempatnya. Diam-diam ia melirik ke arah pria di depannya, pria itu terlihat melipat kedua lengannya di depan d**a―terlihat sangat arogan dan menakutkan di mata Lily. Ia ingin meminta sedikit kelonggaran untuk tetap tinggal satu malam lagi, namun dia tidak punya keberanian untuk itu.
Lily menarik nafasnya dalam-dalam, kemudian menghelanya dengan perlahan. “Bolehkah aku menginap di rumahmu satu malam lagi?” tanya Lily setelah berhasil mengumpulkan keberanian dalam dirinya.
“Aku masih belum tau harus pergi kemana hari ini. Aku berasal dari London, aku kesini untuk berlibur tapi tasku dicuri orang, semua barang berhargaku ada disana dan aku juga tidak punya kenalan disini. Aku tidak tau harus meminta tolong kepada siapa. Bisakah kau membiarkanku―”
“Tidak,” ujar Aaron memotong ucapan Lily. Gadis itu belum sempat menyelesaikan kalimatnya, namun Aaron langsung memotongnya begitu saja.
“Kalau kau berpikir dengan menceritakan semua ini bisa membuatku kasihan kepadamu, maka kau salah. Asal kau tau, rasa empatiku tidaklah setinggi itu,” ucap Aaron begitu dingin.
Lily menatap pria di depannya dengan pandangan kecewa. Lily tidak menyangka ada orang yang berhati dingin seperti pria di depannya ini―yang bahkan secara terang-terangan mengaku tidak memiliki empati sama sekali. Lily ragu jika Aaron memang benar-benar kakak Emily. Sifat keduanya benar-benar bertolak belakang, rasanya tidak mungkin gadis sebaik Emily memiliki kakak yang kekejamannya setara dengan Hitler.
“Kemasi barang-barangmu dan cepat pergi dari sini.”
Sejujurnya berat bagi Lily untuk menuruti perintah Aaron. Namun dia juga harus tau diri. Aaron adalah pemilik rumah ini, dia yang berhak untuk memutuskan apakah Lily bisa tinggal atau tidak. Dan keputusan Aaron adalah dengan tidak membiarkan Lily tinggal, jadi mau tidak mau dan meskipun itu berat, Lily harus mematuhi perintah tersebut.
Kepala Lily terlihat menunduk dalam. Dia akan menuruti perintah Aaron untuk pergi meninggalkan rumah ini, meski dengan resiko dia akan luntang-lantung di jalanan Paris tanpa tujuan. Kakinya sudah berniat untuk melangkah pergi menuju kamarnya, namun niatnya terhenti begitu mendengar suara gaduh dari luar sana. Dan keadaan menjadi semakin rumit begitu Lily dan Aaron mendapati sesosok wanita paruh baya yang tiba-tiba saja memasuki dapur dan menatap mereka berdua dengan tatapan penuh tanya.
“Mama?” gumam Aaron yang juga terkejut dengan kedatangan ibunya yang tiba-tiba.
“Sejak kapan Mama di Paris?” tanya Aaron kepada ibunya.
Ibunya selama ini tinggal jauh di New York bersama keluarganya yang lain termasuk juga dengan Emily―adiknya. Sesekali ibunya memang akan mengunjunginya di Paris, namun itu juga tidak sering. Selain itu ibunya juga akan selalu mengabarinya terlebih dahulu jika ingin kemari dan bukannya mendadak seperti ini.
“Tadinya Mama ingin memberimu kejutan, tapi sepertinya gagal,” ucap Deana―Mama Aaron sembari tertawa canggung. Niatnya yang ingin memberi kejutan kepada anaknya, namun ternyata justru Deana yang dibuat terkejut dengan keberadaan sesosok wanita di rumah anaknya.
“Ngomong-ngomong ini siapa?” tanya Deana yang tidak tahan dengan rasa penasarannya.
Deana memandangi Lily dari atas ke bawah hingga berulang kali yang tanpa ia sadari telah membuat gadis itu tidak nyaman. Namun Deana memang tidak pernah bisa melawan rasa penasarannya. Dia sangat terkejut ketika mendapati sesosok perempuan di dalam rumah anaknya sepagi ini. Belum lagi dengan pakaian yang dikenakan gadis itu yang merupakan piyama tidur. Deana bisa menyimpulkan jika gadis itu memang bermalam disini bersama dengan Aaron―anaknya.
“Ah, apa dia kekasihmu?” ujar Deana mengambil kesimpulan sendiri. Melihat segala kemungkinan yang ada, sepertinya tebakannya memang benar.
Lily yang mendengar hal itu pun langsung melototkan matanya terkejut. Gadis itu terlihat ingin meluruskan, namun dia mengurungkan niatnya. Dia merasa ini bukan kapasitasnya, menurutnya akan lebih tepat jika Aaron yang menjelaskan. Namun detik demi detik berlalu, namun Aaron tidak terlihat seperti ingin meluruskan. Lily menunggu dengan harap-harap cemas. Selang satu menit berlalu, namun Aaron masih setia dengan sikap diamnya―hingga membuat Lily mulai khawatir.
“Kenapa kau tidak pernah mengatakan kepada Mama kalau kau sudah punya kekasih? Tau begitu Mama tidak perlu repot-repot menyuruhmu datang ke kencan buta yang sudah Mama siapkan untukmu,” ujar Deana yang semakin membuat segalanya rumit.
“Ya, dia kekasihku. Namanya…”
“Lily,” ujar Aaron begitu berhasil mengingat nama gadis asing di sampingnya.
Lily menatap Aaron dengan tatapan tidak percaya. Dia sungguh terkejut dengan jawaban yang diberikan pria itu kepada ibunya. Padahal tadinya Lily sudah ingin meluruskan kesalahpahaman ini, namun sayangnya ia kalah cepat dengan Aaron. Dan kini Aaron telah berhasil membuat segalanya semakin rumit.
“Nama yang cantik,” respon Deana dengan mata yang berbinar-binar.
“Kau memiliki pacar secantik ini, tetapi kenapa tidak pernah mengenalkannya kepada Mama?” ujar Deana yang mulai mendekat ke arah Lily.
Lily sendiri masih belum bisa merespon apa-apa. Gadis itu masih terlihat bingung dan tatapannya saat ini masih setia mengarah ke Aaron seolah sedang meminta penjelasan.
“Bonjour, je suis Deana Smith, la mère d’Aaron,” ujar Deana mencoba memperkenalkan dirinya kepada kekasih anaknya.
Sejujurnya kemampuan Deana dalam berbahasa Perancis tidaklah terlalu bagus. Dia hidup dan tinggal di New York, bahasa sehari-harinya adalah bahasa inggris. Namun semenjak Aaron memutuskan untuk menetap di Paris demi mengelola anak perusahaan milik ayahnya yang berada di Perancis, maka mau tidak mau Deana pun ikut mempelajari bahasa Perancis. Setidaknya ketika Deana datang ke negara ini untuk mengunjungi anaknya, dia bisa mengerti dengan bahasa orang-orang disini.
“Aku ingin berbicara dengan Lily sebentar, bisa Mama menunggu di luar?” pinta Aaron kepada Deana.
“Sure, Mama akan menunggu di ruang tamu. Take your time, dear…” ujar Deana penuh pengertian.
Setelah dilihatnya Deana yang sudah berjalan keluar, Aaron pun kemudian langsung memusatkan perhatiannya kepada gadis yang sedari tadi sudah menatapnya dengan tatapan yang seakan mampu melubangi kepalanya. Aaron bisa merasakan jika gadis itu kesal.
“Jelaskan kepadaku!” sembur Lily dengan wajah garangnya. Padahal sebelumnya dia sangat takut kepada pria di depannya, namun kali ini ketakutan itu sudah hilang digantikan dengan kekesalan yang menggunung.
“Berani sekali kau meneriakiku.”
“Kenapa aku harus takut?” tantang Lily lagi.
Aaron terlihat menghela nafasnya―mencoba untuk sabar. Saat ini dia harus menahan emosinya. Dia punya suatu rencana dan rencana itu harus atas persetujuan gadis di depannya ini. Jika ia mau semuanya berjalan dengan lancar, maka dia harus berhasil membujuk gadis ini.
“Begini, aku punya rencana yang pastinya akan menguntungkanmu juga,” ujar Aaron mengawali proses negosiasinya.
Lily masih menatap Aaron dengan begitu garang. Tatapannya terlihat penuh dengan kecurigaan.
“Berpura-puralah menjadi kekasihku dan sebagai gantinya aku akan membiarkanmu tinggal disini selama yang kau mau,” kata Aaron mengejutkan Lily.
Sejujurnya Aaron juga agak terkejut dengan keputusannya yang sebenarnya cukup gegabah. Sebelumnya Aaron tidak pernah mengambil keputusan tanpa pertimbangan yang matang terlebih dahulu, ini seperti bukan Aaron. Tadinya Aaron tidak berniat untuk membuat skenario seperti ini, namun kalimat itu muncul tanpa bisa dicegah olehnya. Mendengar bahwa ibunya akan berhenti untuk mengirimnya ke acara kencan buta terasa seperti angin segar bagi Aaron. Hal itulah yang membuat Aaron bertindak secara impulsif seperti ini.
Aaron kemudian menatap gadis di depannya yang terlihat sedang berpikir keras. Sebenarnya ini bukanlah sesuatu yang sulit diputuskan, tawaran yang diberikan Aaron cukup menggiurkan―apalagi gadis itu juga sedang membutuhkan tempat tinggal saat ini. Namun gadis itu masih saja terlihat berpikir, entah apa sebenarnya yang membuatnya ragu.
“Aku akan membayarmu juga,” kata Aaron menambah penawarannya.
“Aku tidak butuh uangmu,” balas Lily yang cukup membuat Aaron terkejut.
“Tapi kau butuh uang.”
Lily tidak menyangkalnya, dia memang membutuhkan uang saat ini. Namun dia bukan peminta-minta. Selain itu dia juga tidak ingin mendapatkan uang dari hasil menipu orang.
“Jangan munafik, katakan berapa yang kau minta dan aku pasti akan memberikannya,” tutur Aaron yang terdengar begitu arogan di telinga Lily.
Lily diam mencoba mempertimbangkan, namun memang benar yang dikatakan Aaron, dia memang akan diuntungkan dengan penawaran ini―bahkan bisa dibilang sebenarnya dia sangat membutuhkan penawaran ini.
Jika dia menolak sudah pasti Aaron akan langsung mengusirnya saat ini juga. Dan jika nanti ia benar-benar diusir, kemana Lily akan pergi? Dia tidak punya siapa-siapa disini. Dia butuh tempat untuk tidur, setidaknya untuk beberapa hari kedepan sampai dia bisa memikirkan rencananya kedepan. Lily kembali menatap pria di depannya dengan tatapan yang sulit diartikan. Saat ini dia benar-benar merasa bingung. Sejujurnya dia enggan berhubungan lebih jauh dengan pria arogan di depannya ini, namun Lily tau jika saat ini ia tak lagi punya pilihan.