bc

Kau Tak Akan Terganti

book_age18+
1
IKUTI
1K
BACA
revenge
HE
love after marriage
opposites attract
second chance
submissive
heir/heiress
drama
sweet
bxg
bold
city
like
intro-logo
Uraian

Kavi Giandra Adriana, tak pernah menyangka akan memilih Venus Putri Angkara menjadi istri. Seluruh kota tahu, Venus perempuan sombong yang digilai banyak lelaki.Lebih buruk lagi, Venus bukanlah kriteria calon istri idaman sang mama bahkan Kavi telah ditunangkan dengan perempuan lain. Semua pertanda itu tidak membuat Kavi mundur, tetapi justru semakin mantap memperistri Venus. Akibatnya, Kavi terpaksa menyembunyikan pernikahannya dari keluarga dan publik.ketulusan cinta yang Kavi berikan mampu mengubah Venus menjadi istri dan ibu yang baik. Ketika kebahagiaan mereka mencapai puncak kesempurnaan, badai besar datang menghantam.“Mulai detik ini, aku, Kavi Giandra Adriana menutup rapat pintu hati sampai mati.”Tiada manusia yang sempurna pasti ada salahnya, begitu pula Venus. Namun, Kavi pergi begitu saja meninggalkan Venus. Hatinya sudah dipenuh rasa benci, tiada ruangan maaf yang tersisa lagi.

chap-preview
Pratinjau gratis
1. Siap Mati Demi Cinta
Banyak lelaki di dunia ini tergoda akan kecantikan dan kemolekan tubuh seorang perempuan. Ia pun mendekati kata sempurna, hampir tak ada celah. Namun, kesempurnaan itu tidak mampu membuat lelaki yang memilikinya merasa beruntung. Ketika bersamanya merasa cukup, ketika mencintainya merasa bersyukur. Rasanya tidak ada. Sejauh ini, ia tak lagi berekspektasi tinggi untuk memiliki pasangan impian. Seperti malam ini, ia sudah terbiasa. Tidak ada lagi keraguan dalam hatinya meskipun itu akan membuat nilai dalam dirinya berkurang. "Aku mandul," ungkap perempuan itu, nada suaranya sangat datar. Kalimat yang terlampau sering diulang-ulang. Lelaki di depannya reflek mundur ke belakang. Kata-kata itu seperti palu godam yang menghantam langsung jantung tanpa ampun. Sakit tak berdarah. Bahkan suara bising orang-orang di sekitar cafe menghilang yang terdengar hanyalah detak jantung lelaki itu. "Jangan bercanda, Sayang. Kali ini nggak lucu." Lelaki itu menelan ludah. Sorot matanya yang berusaha memastikan pengakuan itu hanyalah sebuah candaan belaka sang kekasih. Tidak ada tawa dan senyum yang menandakan perempuan itu sedang bergurau. Biasanya setelah mengatakan yang aneh, kekasihnya akan tersenyum sambil mengangkat dua jarinya sebagai permintaan maaf. Kini yang ada hanya sepasang mata penuh misteri terus menatap tanpa berkedip. "Enam tahun lalu, aku kecelakaan. Dan dokter memvonisku mandul. Sekarang terserah kau. Akhiri sekarang atau menyesal selamanya?" Sekilas perempuan itu menyimpan sebuah beban di hati, tetapi raut wajahnya segera berganti datar. Sesaat lelaki itu terpaku. Ingin menolak pengakuan berani perempuannya, tetapi ombak besar terlanjur menenggelamkan semua harapan yang sempat dirajut beberapa menit yang lalu. Tangan yang sejak tadi menyimpan sepasang cincin. Sebuah kejutan dihari jadi mereka. Terpaksa digenggam kuat olehnya. B*birnya sedikit terbuka, hendak berbicara. Namun, tak satu katapun yang mampu diucapkan. Terlalu syok. B*bir itu kembali mengantup rapat bersama langkanya yang perlahan pergi menjauh dari meja itu. Sementara itu, sang perempuan sama sekali tidak mengejar kekasihnya yang kian mendekati pintu keluar. Ia hanya duduk diam di kursi, menatap kosong ke cangkir kopi di depannya, ujung jari menari di atas tepian cangkir. "Axel Jovanka, kau sama saja dengan yang lain." Senyum tipis itu terukir di wajahnya bukan sebuah kebahagiaan, bukan pula kesedihan. Semenjak malam itu, tak ada kabar mengenai Axel Jonvaka. Lelaki yang katanya siap mati demi cinta. Kenyataannya hanya bualan kosong. Perginya Axel bukan menjadi akhir dari kisah asmara seseorang walau dalam hati perempuan itu telah berjanji. Tak akan mengijinkan siapapun menyentuh hatinya kembali. *** Bulan ke tiga berikutnya di kota Bandung. Di bawah teriknya matahari, toga melekat di kepala Venus Putri Angkara. Ia telah menyelesaikan pendidikannya di perguruan tinggi. Satu-satunya yang bisa dibanggakan olehnya selain predikat playgirl selama menjadi mahasiswi. "Aku iri padamu, Ve!" seru Nora diiringi tarikan napas yang terengah-engah. Mata yang terus berbinar saat melihat banyak hadiah yang dibawanya. "Banyak lelaki yang menyukaimu. Kau beruntung." Venus yang berdiri di belakang Nora hanya melipat tangan di d**a, menatap hadiah-hadiah itu dengan tatapan biasa saja. Tidak seperti Nora yang antusias. Dengan nada setengah mengejek, ia berucap, "Hadiah murahan ini tidak cocok untukku. Selera mereka norak sekali mana pantas untuk aku. Jadi, kau ambil saja. Kau kan suka barang murahan dan norak. Lagian kalau beli kau nggak mampu. Berterima kasih lah padaku yang berbaik hati." Seketika, ucapan Venus tadi terasa menusuk, menghimpit d*da Nora seperti beban yang tiba-tiba bertambah berat. Wajah Nora memerah, bukan karena marah, melainkan karena rasa malu yang perlahan menjalar. Terdiam, menundukkan kepala beberapa detik, membiarkan perkataan Venus menggema di dalam pikiran. Dengan sikap tenang, Nora mengangkat wajahnya. Kemudian tersenyum. "Aku memang norak dan jujur saja, aku nggak mampu beli barang sebagus ini." Selanjutnya tubuhnya berbalik, menghadap Venus. "Adikku ada tiga orang, Ve. Orang tuaku tidak bisa membelikan kami barang mahal. Untuk makan saja kami sudah bersyukur." Nora melangkah lebih dekat, senyumnya penuh makna. "Berkat kau, aku gak perlu khawatir lagi sekarang. Baju-baju bekasmu dan hadiah yang kau dapatkan, menyelamatkan keluargaku. Sekarang adik-adikku punya baju dan barang-barang bagus, kau juga membantu biaya sekolah adik-adikku di desa. Semua karena dirimu. Bagaimana aku tidak bersyukur memiliki sahabat sepertimu, Ve? Kau orang baik. Aku selalu berharap dipanjangkan umur agar bisa balas kebaikan kau suatu hari nanti." Venus tidak bermaksud ucapannya terdengar jahat, nyatanya memang kedengarannya seperti itu. Kini, ia merasa sedikit jahat atau memang sangat jahat. Perkataan Nora, sungguh mengusik. Kadang Nora mencoba memahami sisi lain yang disembunyikan Venus. Di balik sifat buruk Venus yang diketahui banyak orang. Si mulut jahat. Si sombong. Jari telunjuk Venus menekan bahu Nora cukup kuat hingga perlahan membuat sosok bertubuh berisi itu mundur selangkah. "Jangan coba-coba mengubahku menjadi seperti kau dengan kalimat-kalimat menggelikan itu. Dasar perempuan naif! Aku si mulut jahat! Kau harus ingat itu!" Nora menggeleng, menolak predikat buruk yang menempel pada kawan sejak lama. "Hanya orang yang berhati baik bisa melihat kelembutan yang tersembunyi dari hatimu. Mereka yang bilang kau si mulut jahat atau apalah sebenarnya adalah orang yang aslinya dengki melihat kau begitu beruntung." "Beruntung? Kau tak tau apa yang telah aku lewati sampai keberuntungan ini kudapatkan." Nora mendekat, duduk di sebelah Venus. Memandangi wajah temannya yang sedang melihat langit-langit rumah. Nora tidak tahu apa yang membuat ekspresi Venus jadi menyedihkan. Hatinya tergerak untuk bertanya. Selama kenal Venus, Nora sama sekali tidak tahu apapun. "Kau bisa cerita apa saja padaku. Kau tahu segalanya tentang aku bahkan kau kenal keluargaku. Tapi aku sama sekali tidak tahu kau siapa dan bagaimana kau dulu." "Nggak ada yang perlu aku ceritakan." Nora menghela napas, merasa ada sesuatu yang dirahasiakan darinya. Namun, ia enggan memaksa Venus untuk jujur. "Kapanpun kau siap untuk cerita, aku selalu siap untuk mendengarkannya. Kau harus ingat aku ini sahabatmu. Dan terima kasih untuk hadiah-hadiah ini. Kau memang yang terbaik." Venus memalingkan wajah, mendesah kasar. Perasaan hangat semacam ini mengusik sudut hati gelapnya. Baginya, ketulusan hanyalah kedok. Sesuatu yang digunakan orang untuk mendapatkan keinginannya. Hari ini mereka bersikap manis, besok bisa saja mereka menikam dari belakang. "Selesai mandi aku nggak mau lihat barang-barang norak ini lagi di kamarku," ucap Venus berjalan menuju pintu kamar mandi. Sebelum Nora melakukan protes, Venus kembali memerintah. "Jangan lupa tutup pintu." Nora tertawa kecil disertai gelangan pelan setelahnya. “Kau ini benar-benar. Mereka pasti menangis kalau tau hadiah ini kau berikan padaku.” Venus hanya mengangkat bahunya tanpa peduli. “Itu masalah mereka, aku nggak pernah minta." Venus menutup pintu. Senyum lebar terukir di bibir Nora, tak ada kebencian terpancar di matanya. Sekalipun kalimat kasar menjadi makanan sehari-hari. Justru terasa aneh jika Venus mendadak lembut. Andai itu terjadi, pastilah Nora akan mengira Venus sedang kerasukan malaikat. “Entah bagaimana kau bisa terdampar di kota ini seorang diri?” batin Nora memandangi sedih pintu kayu yang sudah termakan usia. Nora memutuskan beres-beres sebagai tanda terima kasihnya. Namun, tanpa sengaja tangannya menyenggol tumpukan novel milik Venus. Novel itu jatuh berserakan di lantai. Buru-buru ia berjongkok, mengumpulkan novel-novel tersebut. Ada yang menarik perhatiannya. Salah satu halamannya terbuka dan di sana terselip sebuah foto dijadikan pembatas buku. Matanya terpaku. Dalam foto, tampak dua orang remaja berdiri membelakangi sebuah gedung sekolah elit. Venus adalah salah satunya. Akan tetapi, ada yang berbeda. Ekspresi Venus difoto itu ... bukan Venus yang dikenalnya. Matanya bercahaya. Senyumannya lembut. Sesuatu yang tak pernah sekalipun Nora lihat selama bertahun-tahun. Nora menelan ludah, berulang kali mengedipkan mata sambil mengangkat foto itu lebih dekat ke wajahnya, agak sedikit tercengang. "Siapa pemuda tampan disebelah Ve? Saudara atau pacar?" Segelintir pertanyaan berputar dalam kepala Nora, tetapi sebelum ia menerka-nerka lebih dalam, pintu kamar mandi terbuka. Venus memucat di ambang pintu kala melihat apa yang dipegang Nora. Sama halnya Nora pucat pasi seperti orang ketahuan mencuri padahal, ia tidak sengaja menemukan foto itu. Tubuh Nora membeku di tempat. "Ve, aku—" Tatapan Venus begitu menakutkan, membukam Nora. Ada amarah dan kepanikan. Hendak menelan hidup-hidup Nora. “Nor,” panggil Venus pelan, tetapi bukan sebuah panggilan biasa melainkan peringatan keras. "Aku nggak bermaksud. Aku nggak sengaja!" Terlambat. Dalam sekejap Venus telah berdiri di depan Nora. Foto itu telah berpindah tangan. Cepat, secepat tarikan napas, sampai Nora tak menyadari kapan foto itu berpindah. "Tunggu! Biarkan aku jelasin dulu." “Jangan pernah menyentuh barang-barangku lagi!" ujar Venus dingin, tetapi tajam. Nora mengangguk pelan, tidak berdaya di bawah tatapan mata Venus. “Sorry.” "Keluar sekarang!"

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
193.8K
bc

Kali kedua

read
221.9K
bc

Bukan SEX-retaris Simpanan

read
4.6K
bc

Dinikahi Karena Dendam

read
236.3K
bc

TERNODA

read
201.7K
bc

Istri Lemah, Pengacara Kejam

read
1.1K
bc

Terpaksa Menjadi Istri Kedua Bosku

read
22.7K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook