Dua insan anak manusia sedang mendengarkan musik favorite mereka 'Christina Perry - a thousand years' yang sedang mengalun merdu. Andre yang sedang terpejam berbaring di ranjang milik Clara bersebelahan dengan gadis itu yang sedang tertelungkup dengan mata terpejam dan beralaskan kedua kepalan tangannya yang berada di bawah dagunya.
"Dre..." panggil Clara.
"Hmm..." gumam Andre.
"Bagaimana ya rasanya bisa hidup ribuan tahun?"
"Mana aku tahu Ra."
"Kalau aku bisa hidup seribu tahun, kamu akan pilih menemani aku atau tidak?"
Andre membuka kedua matanya menatap langit-langit kamar sahabatnya, "Menurut kamu?"
Clara memutar bola matanya, "Kamu pasti memilih tidak."
Setelah mendengar tebakan Clara, Andre memiringkan tubuhnya menghadap Clara dengan berbantalkan sebelah tangannya.
"Karena Sonya tidak hidup ribuan tahun," lanjut Clara dengan senyum pahitnya yang sukses membuat Andre tertegun mendengar perkataan yang keluar dari bibir Clara.
***
Saat ini mereka bertiga Clara, Andre dan Pak Budiman sedang membicarakan kerja sama yang akan mereka lakukan pada proyek selanjutnya. Andre selaku arsitek mencatat mengenai denah dan kriteria bangunan yang Pak Budiman deskripsikan kepadanya. Clara juga mencoba fokus melakukan pekerjaannya, mencoba bersikap biasa saja dihadapan Andre. Bagaimanapun ia telah memutuskan untuk menuruti permintaan Andre, bukan keinginannya.
Jam makan siang tiba, Pak Budiman mempersilahkan kedua orang yang berperan penting dalam pekerjaannya untuk beristirahat.
Setelah pamit, Clara melangkah keluar lebih dahulu dari ruangan Pak Budiman disusul Andre. Pria itu sedikit bingung dengan sikap Clara yang mendadak dingin tapi bukankah ini kemauanmu sendiri? Hatinya mengingatkan.
Andre dapat melihat tubuh langsing Clara yang terbalut indah di balik blazer dan rok pensilnya dari belakang. Gadis itu benar-benar telah berubah dalam lima tahun ini. Andre masih dapat mengingat dengan baik bahwa dulu Clara tidak mempunyai satu high heels pun di dalam koleksi sepatunya. Tapi sekarang Andre dapat melihat gadis itu berjalan dengan lihainya di atas stilleto heels-nya.
Tiba-tiba gadis itu menghentikan langkahnya dan membalikan tubuhnya. Refleks Andre juga menghentikan langkahnya. Jarak mereka hanya berbeda sekitar tiga meter.
Clara membasahi bibirnya sebelum berkata, "Satu hal yang perlu kuberitahukan padamu bahwa aku tidak membututimu atau mencari tahu tentang pekerjaanmu. Semua ini di luar kendaliku."
Andre menatap wajah Clara. "Ya, aku tahu."
Clara menelan salivanya, ia harus bisa terlihat tegar kali ini. Jangan perlihatkan sisi lemahmu Ra.
"Okay. Kalau begitu saya permisi dulu Bapak Andre." Clara membalikkan tubuhnya dan berjalan lebih cepat meninggalkan Andre yang masih terdiam di tempatnya.
***
Seorang pria tampan dengan wajah tampan berkat turunan dari ayahnya yang berasal dari negeri Paman Sam berdiri di pintu utama kedatangan bandara Soekarno-hatta.
Pria berkacamata hitam itu meraih ponselnya dan menekan nomor satu pada layar ponselnya. Terdengar nada sambung dan sesorang menjawabnya pada nada sambung ketiga.
"Hai babe, where are you?" sapa pria itu.
"...."
"Tega sekali kau tidak menjemputku di bandara. Padahal aku sudah memperingatkanmu dengan mengirimimu email beberapa kali agar kau menjemputku di bandara," protes pria itu.
"..."
"Okay. I got it. Aku akan mengunjungimu sekarang. Just tell me where are you now." Terdengar protes dari seberang sana tapi pada akhirnya suara itu menyebutkan sebuah alamat.
"Ok. Aku akan ke sana sekarang, byee.." Pria itu menyentuh tulisan end call di layar ponselnya. Lalu ia menghentikan sebuah taksi. Ia memasukkan kopernya lalu masuk ke dalam taksi. Pria itu menyebutkan alamat yang ia dapatkan tadi kepada supir taksi tersebut.
***
Clara menatap kesal layar ponselnya. Ia tidak menyangka seorang Melvin Fidel akan datang mengunjunginya ke Indonesia.
Clara menarik nafas dalam dan kembali berjalan menuju kafe yang terletak di lantai dasar gedung kantor ini. Setibanya ia langsung memesan cappucino dan croissant untuk memenuhi rasa lapar perutnya.
Clara mengambil tempat di pojok dengan kaca tebal tembus pandang di sisinya sehingga ia dapat melihat pemandangan di luar gedung dari tempat duduknya.
Tak lama kemudian Andre memasuki kafe tersebut. Tatapan mereka bertemu ketika tanpa sengaja Clara melirik ke arah pintu, namun dengan cepat pula gadis itu memalingkan wajahnya. Clara mulai memakan sedikit croissant miliknya tanpa mencoba melirik Andre yang berada satu ruangan dengannya.
Karena saat itu jam makan siang maka semua meja di kafe itu telah berpenghuni. Clara yang sejak tadi memandang keluar gedung tidak menyadari bahwa saat ini di hadapannya ada seseorang yang berdiri dihadapan mejanya.
"Ehem.." Clara menolehkan kepalanya ke sumber suara.
Andre berdiri tegak di hadapanny dengan sebuah nampan. "Boleh aku duduk disini?"
Ada apa dengan otak pria ini? Pikir Clara.
"Tentu saja. Kau bisa memakai meja ini. Aku sudah selesai. Clara hendak bangkit dari tempatnya. Ia tidak mau duduk berduaan dengan Andre. Lagipula bukankah itu yang pria ini inginkan? Menjauhi dirinya.
Andre meletakkan nampannya di atas meja dan mencekal lengan Clara sehingga gadis itu menatap lengannya yang berada dalam genggaman Andre, lalu beralih menatap mata pria itu dengan tajam.
"Makananmu belum habis."
"Aku sudah kenyang. Dan kamu bisa duduk di tempat ini. Sekarang lepaskan aku."
"Bagaimana jika aku tidak mau melepaskan tanganmu sampai kamu duduk kembali di tempatmu," sahut Andre.
Clara menatap Andre dengan jengkel. Ia tidak habis pikir apa sebenarnya yang Andre inginkan darinya.
"Itu tidak akan terjadi. Kamu bisa lepaskan aku sekarang. Lagipula kamu tidak ingin kita jadi tontonan gratis, bukan?" ujar Clara sinis.
"Aku tidak peduli. Yang aku inginkan kamu duduk kembali di tempatmu."
"Kamu tidak bisa memerintahku semau kamu. Sekarang lepaskan aku," pinta Clada ketus.
"Hey! Kalian sedang syuting drama bukan?" seru sebuah suara. Seorang pria berdiri tegak berdiri dengan kedua tangannya yang berada di dalam saku coat cokelatnya. Sekarang Clara yakin mereka benar-benar menjadi pusat perhatian pengunjung kafe. Andre membalikkan tubuhnya, menoleh ke sumber suara. "Mana kamera dan sutradaranya?" lanjut pria itu.
Pria itu mengedarkan pandangannya ke dalam kafe. Seolah-olah sedang mencari kamera dan crew yang sedang bersembunyi. Lalu pandangannya berhenti pada Clara.
"Hai babe!" sapanya. Clara yakin saat ini matanya benar-benar ingin meloncat dari rongganya. Begitu juga Andre yang mendengar dua kata yang baru saja keluar dari bibir pria itu. Andre memperhatikan penampilan pria itu dari atas hingga bawah. Wajahnya terlihat blasteran. Rambut cokelatnya sedikit bergelombang, hidungnya mancung, serta mata berwarna senada dengan rambutnya. Tubuhnya lebih tinggi sedikit dari Andre. Lalu pandangan andre berpindah pada sebuah koper besar berada di sampingnya.
Pria itu menatap lengan Clara yang masih berada dalam genggaman Andre. Ia melangkah mendekati kedua pasangan itu.
"Are you okay?" Pria itu tersenyum, senyum yang mampu melelehkan para wanita terukir di bibirnya.
Clara memutar kedua bola matanya jengkel. Melvin, temannya dari Singapore, memang terkadang suka menjengkelkan. Tapi ia adalah salah satu teman terbaiknya saat Clara tinggal di sana.
Clara menatap pria itu dan berkat, "Can you help me now, please? Lebih cepat lebih baik."
Pria itu tertawa, "Ini pertama kalinya kamu memohon padaku." Clara akan berpura-pura tidak mendengar itu saat ini.
Andre yang masih terdiam dalam posisinya mengerutkan keningnya. Ternyata Clara mengenal pria ini.
"Okay my lady. Hey bung, kau mendengarnya bukan? Ia meminta kau melepaskan tangannya. Lagipula sejak tadi aku mendengar ia memintamu melepaskan tangannya tapi kau tidak mengindahkannya. Well, sejujurnya aku cinta damai. Tapi aku juga petarung yang handal jika memang itu satu-satunya cara agar kau mau melepaskan tanganmu dari gadisku."
Gadisku, apa ia tidak salah dengar?
Akhirnya Andre memutuskan melepaskan lengan Clara dari genggamannya. Bukan karena ia takut dengan pria yang baru saja mencari perhatian ini. Tapi ia masih tahu diri di mana ia berada sekarang. Andai saja mereka berada di atas ring tinju dengan senang hati Andre akan menghajar wajah tampan pria itu. Tapi siapa dan ada hubungan apakah antara Clara dengan pria itu?
***