Mami Clara memandang Ansel dengan senyum ramah. "Ayo masuk, Ansel."
"Terima kasih tante. Tapi aku nggak lama kok. Cuma mau anterin kue dari mami buat tante, om dan kak Clara."
Ansel memberikan sebuah kotak putih yang berada di tangannya kepada Mami Clara.
"Terima kasih. Oh..iya , tolong bilangin mama kamu kalau tante belum mencoba resep baru dari mama kamu. Soalnya Clara lagi sakit jadi tante belum sempet deh," sesal Laura.
"Oke tante! Nanti aku bilangin ke mama. Aku pamit dulu kalau begitu." Setelah pamit, Ansel masuk ke dalam mobil Andre. Saat ini ia sedang meminjam mobil kakaknya itu.
Sebenarnya, Andre-lah yang awalnya dimintai oleh Riri. Namun anak itu menolak mentah-mentah permintaan mamanya. Tentu saja Riri tahu penyebabnya. Akhirnya Ansel-lah yang menjadi korban ibu dan kakaknya. Padahal ia sudah ada janji sejam lagi dengan teman-teman kuliahnya. Memang nasib kalau menjadi yang termuda di dalam keluarga, batin Ansel.
Ansel melempar kunci mobil kakaknya yang langsung ditangkap Andre. Pelototan matanya membuat Ansel tertawa. Belum puas dengan ulahnya tadi, Ansel menghampiri mamanya yang sedang merapikan meja makan. Karena sebentar lagi jam makan siang. Dan mereka akan makan siang bersama sebelum melakukan aktifitas mereka masing-masing.
"Oh iya ma! Tadi tante Laura bilang, beliau belum sempat membuat kue dari resep yang mama kasih. Soalnya kak Clara sedang sakit parah." Ansel menekan kata 'sakit parah' dan melirik kakaknya yang mendadak tegang di tempat duduknya. Dalam hati Ansel tertawa puas.
"Clara sakit? Sakit apa memangnya?" tanya Riri.
"Emm..nggak tahu ma. Penyakit apa dong yang parah?" sahut Ansel asal.
"Kamu itu kalau ditanya malahan bertanya balik. Percuma ngomong sama kamu. Ya udah nanti mama telepon langsung maminya Clara aja," putus Riri pada akhirnya.
***
Malam itu Andre tidak dapat tidur. Ia sedang berbaring di atas tempat tidurnya. Matanya memandang lurus pada langit-langit kamarnya. Perkataan Ansel terus berputar-putar di kepalanya. Sakit parah, separah itukah gadis itu? Pasti gara-gara hujan deras kemarin.
Ada sedikit rasa penyesalan hadir di dalam hatinya. Tapi dengan cepat Andre menepisnya. Jangan sampai tubuh dan hatinya mengkhianatinya. Ia mencoba mengalihkan pikirannya dari gadis itu. Mengingat apa yang terjadi di kedai siang itu bersama Sonya. Pikirannya mulai kembali pada kejadian itu.
Wajah cantik itu menatapnya dengan serius. Tak ada candaan dalam guratan wajahnya.
"Sonya.." ucap Andre pelan. "Kamu tahu kalau kita sudah tidak bisa bersama lagi."
"Kenapa?" tanya Sonya tidak mengerti. Tapi tak ada jawaban dari bibir Andre. Yang terjadi adalah pria itu memalingkan wajahnya. Raut sedih dan kecewa tertulis jelas di wajahnya.
"Ah...rasanya aku tahu jawabannya. Kamu tak perlu menjawab kalau begitu," ujar Sonya cepat. Gadis itu menelan salivanya dengan sulit. "Aku yakin jawaban kamu masih sama seperti lima tahun yang lalu."
Cairan bening mulai menggenang di pelupuk matanya. Ia memutar kedua bola matanya ke atas. Berharap air mata miliknya tidak jatuh di hadapan Andre.
"Maafkan aku..."
"Aku tidak mau mendengar kata maaf darimu lagi! Aku butuh jawaban yang berbeda dari bibirmu itu, Dre."
Andre benar-benar merasa dirinya pria b******k. Ia telah mengecewakan bahkan menyakiti dua wanita yang berada di dekatnya.
"Ayo kita pergi dari sini. Kamu sudah mulai kehilangan kendali akan diri kamu sendiri," ajak Andre. Melihat Sonya yang masih terpaku di tempatnya membuat Andre menunggu dengan sabar hingga gadis itu bangkit dari duduknya. Dan akhirnya ia pun ikut menyusul gadis itu lalu membayar semua makanan dan minuman itu dan beranjak pergi dari situ.
Andre mengusap wajahnya diiringi helaan nafasnya. Hanya satu yang dapat ia lakukan saat ini. Andre berharap kedua wanita itu mendapatkan pria yang jauh lebih layak dari dirinya. Ia merasa dirinya tidak pantas mendapatkan salah satu dari wanita itu.
***
Awalnya Clara belum ingin menyerah tapi permintaan yang keluar dari bibir Andre menyakiti hatinya terlampau membuat dirinya memutuskan untuk memenuhi keinginan pria itu.
Clara mematutkan dirinya di cermin. Hari ini, seminggu setelah ia terbaring sakit adalah hari pertama ia mulai bekerja. Clara mengenakan blazer dan rok pensil berwarna senada, burly wood. Dipadu kemeja putih di balik blazernya. Clara membuka kancing teratas kemeja itu sehingga memperlihatkan kulit lehernya yang putih dan jenjang. Sebuah stilleto berwana senada dengan tinggi sekitar delapan sentimeter siap menemani langkah Clara menemui orang-orang baru yang akan ditemuinya nanti.
Sesampainya di kantor, Clara langsung menemui Bapak Budiman. Beliau adalah pemilik developer tempat Clara bekerja. Lalu Pak Budiman memperkenalkan Clara kepada seluruh pegawai di kantor itu. Ada beberapa orang yang kira-kira seumuran dengannya. Gadis itu berharap dapat berhubungan baik dengan semuanya.
Ketika perkenalan itu berakhir, Clara yang mengisi posisi manajer di kantor itu diajak bertemu dengan seseorang yang menurut Pak Budiman, karena hasil karya orang inilah banyak orang menyukai hasil karyanya sehingga itu menambah nilai dalam penjualan tahun ini.
Clara berjalan menuju sebuah ruangan Pak Budiman. Menurut perkataannya, orang tersebut telah menunggu di dalam ruangannya sejak tadi.
Pak Budiman yang berperut buncit itu membuka pintu ruangannya. Clara dapat melihat seseorang sedang duduk memunggungi mereka di kursi tamu meja kerja Pak Budiman.
"Pak Andre!" teriak Pak Budiman. Pria yang dipanggil namanya itu bangkit dari duduknya dan menoleh menatap pria gemuk di hadapannya.
Andre? Nama Andre tidak hanya dimiliki satu orang Ra, batin Clara meyakinkan dirinya sendiri.
"Maaf membuat Pak Andre menunggu."
"Tidak apa-apa kok. Saya juga baru datang."
"Ah..begitu. Syukurlah kalau begitu. Saya tidak mau anda kapok datang kemari," ucap Pak Budiman lega yang disambut tawa kecil dari tamunya.
"Mari saya perkenalkan dengan Bu Clara yang mulai hari ini bekerja dengan perusahaan kami."
Clara yang belum sempat melihat wajah tamu bernama Andre itu karena terhalang tubuh Pak Budiman, bersiap memasang senyum terbaiknya. Namun ketika tubuh Pak Budiman memberikan celah agar Clara dapat bertemu langsung dengan tamunya. Tubuh Clara menegang di tempatnya ketika ia melihat wajah tamunya Pak Budiman.
Andre juga tidak kalah terkejut dengan pemandangan di hadapannya. Gadis yang selama seminggu ini telah benar-benar pergi dari kehidupannya lagi, sekarang berada tepat di hadapannya.
Clara memberanikan diri menatap pria di hadapannya, begitu juga Andre. Tanpa pria itu sadari sejak tadi pandangannya tak lepas memperhatikan Clara dari ujung rambut hingga ujung kaki. Clara mengulurkan tangannya berinisiatif lebih dahulu memperkenalkan dirinya. Bagaimanapun ia harus bersikap profesional ketika bekerja.
"Senang dapat bertemu dengan anda, bapak Andre Hardiansyah." Belum ada sambutan dari pria itu. Namun matanya masih melekat menatap wajah Clara.
"Hm...bapak Andre?" panggilan Pak Budiman berhasil menyadarkannya.
"Saya juga." Tangannya menyambut uluran tangan Clara. Tapi dengan cepat Clara menariknya lebih dulu. Karena debaran di jantungnya semakin menjadi-jadi. Dan ia takut baik Andre maupun Pak Budiman mengetahui hal itu.
Clara menarik nafas dalam-dalam. Ketika ia telah memutuskan untuk menuruti permintaan Andre untuk menjauhinya. Namun, kenapa Tuhan sepertinya sedang mempermainkannya dengan mempertemukan mereka kembali dalam keadaan seperti ini?
***