45

366 Kata

" Rumm! " Pikiran fokus ku tiba - tiba buyar saat suara yang memanggil namaku begitu menggrna. Suara itu berasal dari belakang aku. Dalam beberapa detik, aku coba untuk mentralkan ekspresi ku. Karena ya, tentu saja, saat aku mendengar suara Argentum, rasanya akh benar - benar bahagia. " Apaan? " tanyaku mencoba berekspresi datar. Mungkin, suatu saat nanti, akan aku ceritakan mengapa aku harus tetap menjadi image Aurum yang dingin. " Apaan apanya? Emang gue manggil lo? " Aku mengangkat sebelah alisku. Berpikir sejenak dan mengingat - ngingat kembali. Benar. Argentum memanggil ku tadi, kok. " Lo emang manggil gue! " jawabku. Cowok itu, cowok yang mengenakan sweater beige itu mendadak merangkulku dan menuntun langkahku untuk jalan ke depan menyusuri koridor. " Gue bukan manggil Aurum, t

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN