Meskipun aku tahu hatiku belum sepenuhnya memihak cowok itu, akan tetapi aku sangat beruntung karena dipertemukan dengan Argentum. Terlepas dari sifat dan tingkahnya yang seperti anak kecil dan begitu clingy. Tapi dia benar - benar partner yang sangat cocok untuk diajak berdiskusi. Aku harap … Aku bisa bersamanya di waktu yang lama. Aku harap aku tidak kehilangan Argentum nantinya. " Ngapain senyum - senyum sendiri?! Sudah gila, kamu?! " Tanganku yang hendak menarik gagang pintu agar pintu rumah terbuka itu langsung membeku seketika. Yang tadi bersuara adalah ibu. " Aurum cuma keinget sama temen dsn beberapa hal lucu, bu, " jawabku dengan santai. Ibu melirik ke arshku dengan begitu tajam, seolah omonganku tadi benar - benar salah menurutnya. Dia juga memberikan satu plastik berisi sayur

