Menahan amarah adalah kelebihanku. Sekarang pun, aku berusaha melakukan itu. Entah sudah berapa banyak amarah dan rasa kesal yang aku pendam. Entah sudah berapa tumpuk masalah yang hanya aku diamkan. Yang jelas, semua itu mulai membuat aku mati perlahan, menggerogoti semua jiwaku. Dan tidak tahu kapan semua itu akan aku luapkan. Membuka pintu rumah dengan perlahan, aku coba membuat sebuah lengkungan kecil di bibirku. Aku tak ingin menunjukkan rasa kesalku kepada ibu maupun ayah. Aku tak ingin mereka tahu. Berjalan pelan masuk ke dalam rumah, memperhatikan keadaan isi tempat berteduh yang minimalis itu. Aku mengambil napas panjang, mengeluarkannya sekaligus dengan mengeluh. Rumah ini begitu berantakan. Panci kecil, baskom, alat makan plastik bertebaran di lantai. Di meja depan juga terda

